Serana

Serana
Mau Mandi


__ADS_3

Sore hari, hujan turun lagi, membuat Kalea terpaksa gigit jari karena keinginannya untuk jalan-jalan di taman rumah sakit tidak dapat terealisasi. Gavin jelas menolak ide nekatnya untuk tetap jalan-jalan menggunakan payung. Dan karena sebelumnya dia telah berjanji untuk tidak nakal lagi, maka Kalea hanya menurut ketika kini Gavin menyuruhnya duduk di atas ranjang sembari menikmati jus jambu yang dibawakan oleh Karel.


Iya, pemuda itu masih nekat berada di rumah sakit walaupun telah melewati kejadian mengerikan yang nyaris merenggut seluruh kewarasannya. Kekhawatirannya terhadap kondisi Kalea berhasil mengalahkan gidik ngeri yang merambat ke seluruh tubuhnya karena telah menjadi saksi percumbuan Gavin dan Kalea tadi siang.


"Kamu nggak mau pulang dulu buat ganti baju?" tanya Gavin sembari melirik Karel yang berdiri di sampingnya. Penampilan pemuda itu acak-acakan sekali, mirip gembel.


"Nanti. Gue masih mau di sini." Sahut Karel seadanya. Sama seperti Gavin, Karel juga cuma berdiri diam sambil memperhatikan Kalea yang sedang menyedot jus jambunya.


"Saya ada bawa beberapa baju, kamu mau pakai punya saya buat ganti?"


Karel menoleh dengan satu alis yang terangkat naik. Batinnya, tumben sekali Gavin mau menawarkan sebuah kebaikan kepadanya. Apakah ini adalah bentuk rasa bersalah karena sudah membawanya ke dalam situasi tidak mengenakkan dengan memperdengarkan suara decapan menyebalkan siang tadi? Atau... Gavin hanya sedang berusaha membangun image laki-laki baik hati supaya membuat Kalea semakin jatuh hati?


Tapi berbanding terbalik dengan otaknya yang sibuk menerka-nerka niat terselubung di balik tawaran Gavin tadi, Karel justru menganggukkan kepala tanpa ragu.


"Sebentar, saya ambilkan dulu."


Karel manggut-manggut lagi. Dia memperhatikan Gavin yang berjalan menuju lemari penyimpanan barang di sebelah kanan ranjang Kalea sampai akhirnya laki-laki itu kembali ke sampingnya sambil menyodorkan setelan kaus dan celana pendek warna hitam kepadanya.


"Sabun udah ada di kamar mandi. Sikat gigi juga ada, saya beli beberapa tadi."


"Niat banget, udah kayak mau nginep lama aja lo segala beli-beli peralatan mandi yang baru." Cibir Karel. Namun tak urung meraih baju dari tangan Gavin dan segera berjalan menuju kamar mandi.


Setelah sosok Karel menghilang di balik pintu kamar mandi, Gavin kembali mencurahkan perhatian kepada Kalea yang kini menatapnya serius.


"Apa?" tanyanya. Dia tahu Kalea punya pertanyaan yang ingin disampaikan, tapi sepertinya perempuan itu masih sedikit takut kepadanya.


"Aku harus dirawat di sini sampai kapan?"


"Selama mungkin, sampai kamu benar-benar sembuh."


"Tapi aku bosen."


"Mendingan bosen daripada sakit."

__ADS_1


"Gavin..."


"Nurut aja apa kata dokter, biar cepat sembuh dan bisa segera keluar dari sini."


Setelah itu, tidak ada lagi protes yang keluar. Kalea kembali menyedot jus jambunya dengan khidmat. Sementara Gavin masih terus memaku tatap seolah tidak ingin kecolongan lagi dalam hal mengawasi Kalea.


Lima belas menit berselang, Karel sudah keluar dari dalam kamar mandi. Rambut pemuda itu setengah basah dan aroma sabun menguar memenuhi ruangan ketika dia berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Pakaian kotornya taruh aja di sana, nanti saya yang urus." Perintah Gavin sembari menunjuk keranjang baju kotor di pojok ruangan dekat pintu kamar mandi menggunakan dagunya.


Karel menoleh ke arah yang Gavin maksud, kemudian tanpa banyak tanya melakukan apa yang Gavin perintahkan. Ini aneh. Karel sendiri tidak mengerti kenapa dia jadi menurut pada Gavin. Padahal, hobinya adalah mencari ribut dengan laki-laki itu.


Setelah melemparkan baju kotor ke dalam keranjang, Karel kembali lagi ke sisi ranjang Kalea. Kali ini dia berdiri di sisi kiri, berseberangan dengan Gavin yang berdiri di sisi kanan. Sekarang, Kalea tampak seperti seorang putri kerajaan yang dikawal oleh dua ksatria paling hebat di seluruh negeri. Mengharukan.


"Mama ke mana, ya?" tanya Kalea setelah menghabiskan jus jambunya. Gavin dengan sigap meraih cup kosong dan langsung membuangnya ke tong sampah dekat ranjang.


"Pulang sebentar ambil baju ganti." Jelas Gavin. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya kemudian.


Gavin mengangkat wajah, melayangkan tatapan ke arah Karel dan mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik. Sampai akhirnya, Gavin menarik kembali pandangannya dan menunduk menatap Kalea.


"Sama Bunda aja, mau?" tawarnya.


"Bunda masih di sini?" tanya Kalea heran. Sebab dia pikir mertuanya itu sudah pulang sejak tadi.


"Masih. Mau sama Bunda? Kalau mau, biar saya panggilkan."


Kalea tampak berpikir sejenak. Bunda memang baik dan begitu telaten saat mengurus dirinya. Hanya saja, Kalea belum terlalu dekat dengan mertuanya itu. Apakah tidak apa-apa kalau dia meminta Bunda untuk membantunya mandi?


Tapi belum selesai dia mempertimbangkan, Gavin sudah lebih dulu melesat pergi dari sana. Mungkin laki-laki itu terlalu tidak sabar menunggu Kalea yang terlalu lama berpikir.


"Aku belum selesai mikir." Gumam Kalea saat Gavin sudah tidak terlihat lagi dalam jangkauan pandangnya.


"Laki lo emang sat-set sat-set begitu, ya? Bagus, sih, tapi kadang serem anjir." Karel ikut-ikutan menggerutu.

__ADS_1


Setelah itu, mereka saling berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang secara berbarengan.


...****************...


Ketika Gavin keluar dari kamar rawat Kalea dengan maksud untuk mencari keberadaan Bunda, Gavin malah disuguhi pemandangan yang membuatnya sakit kepala.


Dari kejauhan, Bunda berjalan ke arahnya bersama dengan seseorang yang dia harap tidak perlu hadir sekarang.


Iya, orang itu adalah Papa.


Sejak laki-lali itu mengatakan akan menyempatkan diri datang ke sini menjenguk Kalea, Gavin sama sekali tidak berharap kalimat itu lebih dari sekadar basa-basi. Tapi ternyata keinginan laki-laki itu untuk cari muka rupanya besar juga, sehingga rela meninggalkan pekerjaan yang selama ini dia dewa-dewakan untuk datang ke sini.


"Bunda dari mana?" tanya Gavin saat Bunda sudah sampai di hadapannya. Dia sama sekali tidak mau berbasa-basi menyambut kedatangan Papa.


"Dari depan, jemput Papa." Jawab Bunda dengan senyum hangat yang seperti sudah diatur secara otomatis. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?"


"Kalea mau minta tolong ditemani mandi." Kata Gavin langsung pada intinya. Dia sempat salah fokus pada buket bunga Lily yang ada di tangan Papa sebelum akhirnya dia mencurahkan fokus sepenuhnya kepada Bunda.


"Emang udah boleh mandi? Nggak mau lap-lap aja pakai air hangat?"


"Kata Dokter nggak apa-apa kalau mau mandi, asal pakai air hangat. Lagian Bunda tahu sendiri Kalea anaknya bandel, nggak akan mau dia kalau cuma disuruh lap-lap badan doang."


"Ya udah, nanti Bunda temani dia mandi."


Gavin tidak menyahut lagi. Dia segera putar badan dan berjalan kembali ke ruang rawat Kalea tanpa berniat mempersilakan Papa untuk masuk.


Di belakangnya, Jonathan cuma bisa menghela napas panjang melihat sikap Gavin yang demikian. Tidak ada yang bisa disalahkan juga dari sikap kurang ajar Gavin tersebut, karena dia jelas tahu sikap Gavin yang sekarang adalah bentuk dari kekecewaan yang terpendam selama belasan tahun silam.


"Ayo, Mas."


Jonathan menerima uluran tangan sang istri, mereka pun berjalan beriringan menyusul Gavin masuk ke kamar rawat Kalea.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2