Serana

Serana
What If


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan kembali menuju apartemen Irina, Taruna tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu hanya fokus mengendarai mobil sambil sesekali melirik ke arah Irina yang menyandarkan kepala di jendela. Perempuan itu tampak melemparkan pandangan ke luar, entah apa yang begitu menarik perhatiannya di luar sana.


Langit yang semula cerah berubah mendung. Tepat ketika Taruna berhasil memarkirkan mobil, rintiknya jatuh. Bising yang tercipta dari tetes hujan yang jatuh tidak lagi mengganggu, sebab saat ini pikiran Taruna menjadi jauh lebih berisik ketimbang sebelumnya. Terlebih saat ia menyaksikan bagaimana Irina bergerak pelan melepaskan seatbelt dan turun dari mobil dengan gerak lunglai. Irina memang lebih banyak diam dalam beberapa kesempatan, tapi keterdiaman perempuan itu kali ini lumayan mengusik Taruna sebab ia yakin ada begitu banyak keluh-kesah yang ingin perempuan itu ungkapkan sekarang.


Dengan langkah pelan, Taruna mengikuti Irina dari belakang. Sesekali menghela napas berat saat menyaksikan perempuan itu nyaris tersandung kakinya sendiri.


"Fokus, Rin! Fokus!" teriak Taruna saat Irina nyaris menabrak pintu di depannya. Dengan sigap Taruna menarik lengan Irina, membawanya berdiri di samping tubuh tingginya.


"Jalan di samping aku." Kata Taruna dengan nada datar. Namun Irina tahu, perkataan lelaki itu tidak dapat dibantah. Jadi, ketika Taruna menautkan jemari mereka, Irina hanya menurut.


Langkah mereka terayun pelan. Melewati lorong panjang menuju unit apartemen Irina. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka di sepanjang lorong tampak acuh. Seperti biasa, orang-orang itu tidak punya cukup banyak waktu untuk peduli pada penghuni lain di komplek apartemen ini. Bukankah ada yang bilang bahwa waktu adalah uang? Dan orang-orang itu sepertinya menerapkan kalimat itu dengan baik sekarang.


Sampai di depan pintu apartemen milik Irina, Taruna mengulurkan tangan. Memasukkan enam digit angka hingga pintu di hadapan mereka terbuka. Perlahan, Taruna masuk lebih dulu, menarik tubuh Irina agar mengikuti langkahnya yang sengaja dibuat pendek.


Pintu di belakang mereka kembali tertutup dan Taruna melepaskan genggaman tangannya. Ketika menoleh pada Irina, ia menemukan perempuan itu menundukkan kepala.


"Di kulkas masih ada bahan makanan nggak?" tanyanya mengawali pembicaraan.

__ADS_1


Irina hanya menggeleng. Masih enggan mengangkat kepala walau Taruna sudah bersusah payah berbicara dengan nada yang biasa saja.


"Nanti gue isi, sekalian gue masakin buat makan malam. Sekarang lo istirahat, gue mau ke supermarket dulu." Taruna hendak berbalik, tapi pergerakannya terhenti karena Irina menahan lengannya.


Taruna memandangi tangan Irina di lengannya, kemudian menghela napas setelah pandangannya naik dan menemukan Irina sedang menatapnya sendu dengan sepasang mata kelabu yang tampak berkabut.


"Kenapa lagi?" tanyanya pelan. Sejujurnya Taruna ingin menarik tubuh ramping itu dan memeluknya erat tanpa banyak bertanya, tapi ketika ia ingat kembali percakapan terakhir mereka di atap gedung yang tidak berakhir baik, Taruna memutuskan untuk tidak lagi bertindak seenaknya. Mulai hari ini, barangkali ia akan mulai membatasi diri untuk tidak menerobos garis batas yang sudah ada. Doakan saja semoga ia mampu.


"Jangan marah, Na. Aku takut." Suara Irina terdengar bergetar. Perempuan itu terlihat menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis yang tinggal menunggu waktu untuk ditumpahkan.


Awalnya, Taruna tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya terus menyanggupi keinginan Irina untuk beradu tatap dengannya. Menyelami manik kelabu itu sedikit demi sedikit walau pada akhirnya ia tidak pernah sampai di dasar.


Kalimat itu tidak dikatakan dengan bumbu kebencian dan kekesalan sama sekali. Sumpah demi Tuhan, Taruna mengatakannya dengan tulus. Sesuai apa yang ada di dalam hati dan kepalanya saat ini. Tapi entah mengapa, setelah kalimat itu selesai, Irina justru menangis.


Taruna benci melihat seorang perempuan menangis. Lebih benci lagi ketika dirinya lah yang menjadi penyebab air mata itu jatuh. Tapi di saat seperti ini, Taruna tidak punya banyak opsi untuk dilakukan. Jadi yang bisa dia lakukan cuma tetap berdiri di tempatnya, menunggu sampai isakan itu mereda agar mereka bisa melanjutkan sisa obrolan yang tertunda.


Detik demi detik, menit demi menit berlalu begitu saja tanpa ada percakapan lain yang berhasil dimulai kembali. Isakan yang keluar dari belah bibir Irina juga sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Hari ini, entah kenapa pasokan air mata yang Irina punya seperti lebih banyak dari biasanya. Sebab, sudah banyak yang ia tumpahkan dan sekarang alirannya masih saja deras bagai keran air yang rusak.

__ADS_1


Pada akhirnya, kesabaran Taruna sampai pada batasnya. Setelah mengembuskan napas panjang, lelaki itu menarik tubuh Irina yang bergetar ke dalam pelukan. Ditepuk-tepuknya pelan punggung perempuan itu demi membantu meredakan isakannya.


"Gue tahu apa yang lo takutkan." Bisiknya kemudian. Dengan hati yang perih, Taruna masih bisa mengusahakan sebuah senyum yang walau ia tahu Irina tidak bisa melihatnya, tetap ia sunggingkan. "Itu nggak akan terjadi. Gue nggak akan kemana-mana. Kalau lo memang harus menunggu sampai Gavin yang minta lo untuk pergi, maka gue akan di sini menemani lo sampai saat itu tiba. Supaya lo nggak merasa sendirian." Sungguh demi apapun, Taruna betulan akan melakukannya. Dia akan tetap berada di sisi perempuan ini sampai akhir. Sampai segala dendam dan luka yang ia pendam sendirian menemukan balasan yang setara. Sampai api amarah yang perlahan-lahan membakar habis semua sisi kemanusiaannya perlahan-lahan padam dan ia bisa memulai kembali apa yang masih tersisa.


"Gue janji nggak akan kemana-mana." Ulangnya, lebih lantang, lebih tegas.


Irina tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengeratkan pelukan. Tangisnya tidak kunjung mereda, malah semakin menjadi ketika ia membenamkan wajah di dada bidang Taruna. Menyesapi aroma maskulin yang menguar dari pakaian laki-kaki ini.


Kemudian, ketika aroma itu perlahan-lahan masuk ke dalam rongga pernapasannya, sebuah pemikiran acak muncul di kepala. Bagaimana jadinya jika Taruna lah yang menyelamatkannya malam itu? Bagaimana jika Taruna lah yang bertemu dengannya lebih dulu dan berhasil membuatnya jatuh cinta? Apakah Irina akan merasa lebih baik? Karena kalau boleh jujur, dalam beberapa kesempatan, Irina menemukan sosok Taruna berdiri jauh lebih dekat dengannya ketimbang Gavin. Taruna ibarat seorang teman yang berada di satu titik yang sama dengannya, yang tangannya bisa ia gapai dengan mudah tanpa harus banyak berusaha.


Sementara Gavin ada di titik yang sedikit berbeda. Ada beberapa kesempatan yang membuat Irina merasa tangan Gavin terlampau jauh untuk digapai, terlalu sulit untuk digenggam dan ia berakhir merana sendirian.


Namun di tengah pemikiran acak itu, ada suara yang lebih lantang menggaung di kepalanya. Yang mengatakan bahwa, jika bukan Gavin orangnya, maka tidak akan ada Irina yang sekarang.


Dengan begitu saja, tangis Irina kembali tumpah ruah. Biar dulu begini. Biar ia nikmati kesedihan ini sampai nanti tiba pada batas yang sudah ditentukan. Biar ia menangisi setiap kesedihan yang ada, sampai nanti ia rela dengan sendirinya.


Di dalam pelukan Taruna yang hangat, Irina cuma bisa berdoa : jika nanti tiba saat ia harus benar-benar melepaskan Gavin, semoga caranya bisa baik-baik dan tidak meninggalkan bekas yang harus membuat mereka saling membenci satu sama lain. Semoga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2