Serana

Serana
Atraksi


__ADS_3

Puas menangis, hari tahu-tahu sudah mejelang malam. Melalui ponsel yang sesekali dia lirik, Kalea tahu kalau sekarang sudah hampir setengah tujuh.


Kesedihannya perlahan-lahan menyingkir berkat pelukan yang Gavin berikan. Tetapi kini, Kalea justru merasa hampa, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang ikutan terlepas seiring dengan tangan besar Gavin yang menjauh dari tubuhnya.


"Jangan nonton film yang sedih lagi,"


Kalea menoleh ke arah Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lelaki itu kini mendudukkan dirinya di atas kasur lantai, menatapnya serius.


Kalea mendengus, kemudian kembali menatap layar televisi yang kini menampilkan serial kartun yang lebih cocok untuk ditonton oleh anak-anak usia dibawah belasan tahun.


"Kamu mau coba makan nasi lagi, nggak?" tawar Gavin.


Kalea menggeleng tanpa perlu berpikir. "Takut mual lagi, sayang apel yang udah aku makan dengan susah payah kalau harus keluar lagi." Katanya dengan tatapan lurus ke layar televisi.


"Kalau makanan yang lain, gimana? Kamu nggak lagi pengin makan sesuatu?"


Kalea menoleh lagi, tampak berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. "Ada," ucapnya.


"Apa?" tanya Gavin antusias. Dia sudah bersemangat untuk mencarikan apapun yang Kalea sedang ingin makan saat ini.


"Aku mau makan martabak manis, yang rasa keju."


"Oke!" seru Gavin. "Kita pesan lewat aplikasi, ya?" dia sudah bersiap untuk memesan melalui ponselnya, namun gerakannya terhenti ketika Kalea menggelengkan kepala.


"Aku maunya kamu yang beli langsung," ucap Kalea. Tiba-tiba saja, raut wajahnya berubah memelas. Entah karena perempuan itu sedang berusaha untuk merayunya agar mengiyakan kemauannya, atau karena alasan lain yang barangkali perempuan itu sendiri pun tidak ketahui.


Akhirnya, karena toh dia tidak punya pilihan lain, Gavin pun mengangguk. Kemudian, dia bangkit dan segera menyambar kunci motor yang ada di atas nakas.


"Kamu jangan ke mana-mana, di kamar aja. Kunci pintunya, nanti saya telepon kamu kalau saya udah balik." Pesan Gavin. Dia menunggu sebentar sampai Kalea menganggukkan kepala, kemudian buru-buru melenggang pergi.

__ADS_1


Gavin berjalan menuju carport dan mengeluarkan motor matic yang sudah lama tidak dia pakai, hanya sesekali dia panasi di pagi hari agar mesinnya tetap berfungsi dengan baik.


Gavin memutar kunci, men-stater motornya dan siap menarik tuas gas, ketika ponselnya tiba-tiba bergetar dan dia terpaksa mengeluarkannya dari dalam saku celana.


Di layar ponsel itu, hanya tertera sederet nomor tanpa nama. Tetapi karena Gavin sudah terlanjur menghafal nomor itu di luar kepala, dia tahu siapa pemiliknya. Dia agak heran saat mendapati nomor itu menelepon ke ponselnya yang ini, tetapi pada akhirnya dia tetap menggeser log hijau.


"Halo, Rin?" sapanya.


"Gavin," suara Irina terdengar lirih dan sedih.


"Kenapa, Rin?"


"Aku kepeleset di kamar mandi ... nggak bisa bangun, Vin, kaki aku keseleo. Bisa, nggak, kamu ke apartemen aku sekarang? Aku nggak tahu mau minta tolong ke siapa." Rengek Irina. Dari suaranya yang sedikir terdengar bergetar, Gavin menduga kalau rasa sakitnya memang separah itu.


Gavin tidak segera menjawab. Dia membisu dengan kepala yang kembali ribut. Di satu sisi, dia tidak tega kalau harus membiarkan Irina menahan sakit seorang diri. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa meninggalkan Kalea. Satu minggunya yang berharga dengan Kalea tidak boleh terbuang sia-sia untuk hal lain, itu yang selalu Gavin gaungkan di kepala sejak pertama kali Kalea setuju untuk memberinya satu minggu ini.


"Vin?"


...****************...


"Halo, Rin?"


Ketika suara Gavin mengudara, Irina buru-buru mengubah ekspresi wajahnya yang semula datar menjadi sendu. Padahal kalau dipikir-pikir, Gavin juga tidak akan bisa melihat itu. Dia hanya ingin totalitas saja dal menjalankan rencananya malam ini.


"Gavin," panggilnya lirih. Dengan suara sedih yang dibuat-buat untuk menarik simpati Gavin.


"Kenapa, Rin?"


"Aku kepeleset di kamar mandi ... nggak bisa bangun, Vin, kaki aku keseleo. Bisa, nggak, kamu ke apartemen aku sekarang? Aku nggak tahu mau minta tolong ke siapa." Suaranya semakin dibuat-buat, karena dia tahu, Gavin tidak akan pernah tega melihatnya kesakitan.

__ADS_1


Berani bertaruh, laki-laki itu pasti sedang kalang kabut sekarang, dan tidak akan berpikir panjang untuk bergegas menghampirinya.


Tetapi, di saat dia berharap Gavin akan segera menyanggupi tanpa perlu menciptakan jeda dari saat dia mengatupkan bibirnya, Irina justru dibuat keheranan saat lelaki itu tak kunjung bersuara.


Saking tidak percaya pada respon yang Gavin berikan, Irina sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga hanya untuk memeriksa karena barangkali teleponnya terputus. Tapi ternyata teleponnya masih tersambung, Gavin masih ada di seberang sana.


"Vin?" panggilnya, mulai tidak sabar karena Gavin masih saja membisu.


"Tunggu, ya."


Nah, kan. Apa katanya? Gavin pasti tidak akan tega menolak permintaannya. Karena selama bertahun-tahun, lelaki itu telah terbiasa memenuhi semua keinginannya.


Dia dan Gavin saling terhubung dan bergantung satu sama lain, itu yang membuatnya tetap yakin untuk mempertahankan hubungan ini meskipun Taruna telah menamparnya dengan fakta kalau Kalea juga sama penting untuk Gavin.


Telepon ditutup sebelum dia sempat menjawab, membuat hatinya semakin berbunga-bunga dan angannya melambung setinggi langit.


Dengan sabar, Irina menunggu kedatangan Gavin. Dia sama sekali tidak berpindah dari posisinya yang terduduk di lantai dengan kedua kaki yang diluruskan. Pergelangan kakinya yang sebelah kanan terlihat memerah dan sedikit bengkak.


Iya, dia tidak bohong soal kakinya yang keseleo. Hanya saja, dia telah melakukan sedikit atraksi untuk menciptakan luka itu. Di mana sebetulnya, dia tidak benar-benar mendapatkannya karena terpeleset di lantai yang licin.


Gila? Memang. Katanya, cinta memang bisa membuat orang menjadi gila dan kehilangan akal pikiran. Irina yakin dia tidak sendirian. Di dunia ini, pasti ada banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk mempertahankan orang yang mereka cintai.


Irina menunggu sambil bersenandung riang. Menggulir layar ponselnya, menonton beberapa video lucu di media sosial miliknya dan terbahak-bahak karenanya.


Setelah menunggu selama beberapa lama, Irina akhirnya mendengar suara seseorang yang sedang memasukkan kode keamanan di pintu apartemen miliknya.


Irina melupakan ponselnya, tersenyum lebar selama beberapa saat sebelum kembali mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat sedih dan sendu.


"See? Gavin masih dan akan selalu datang buat aku."

__ADS_1


Bersambung


Kapan kelar ini cerita?!! capek banget tolong😭😭


__ADS_2