Serana

Serana
Ayah Karel


__ADS_3

Hari-hari menjadi seorang wanita hamil ternyata benar-benar berat. Sudah tiga hari setelah dia pindah ke rumah Mama, kondisi tubuhnya malah semakin lemah. Mual yang dia rasakan semakin parah dan ngidam yang dia alami juga semakin aneh-aneh saja dari hari ke hari.


Kemarin, dia tiba-tiba saja ingin melihat Karel muncul di hadapannya dalam balutan kostum salah satu karakter di film Frozen, Anna, yang tentu saja membuat laki-laki itu uring-uringan meskipun pada akhirnya tetap menuruti keinginannya.


"Hari ini, jangan ngidam yang aneh-aneh lagi!" peringat Karel, bahkan sebelum dia menyapa lelaki itu yang baru saja datang menghampirinya ke halaman belakang.


Matahari sedang bersinar sangat terik. Tapi anehnya, Kalea jurtru mendudukkan dirinya di pinggiran kolam renang. Yang otomatis membuat tubuhnya terkena terpaan sinar matahari secara langsung.


"Baru juga sekali aku minta turutin ngidam aku." Kalea cemberut. "Lagian kan, ini demi keponakan kamu, Rel." Lanjutnya, sedikit merengek ketika Karel akhirnya ikut duduk di sampingnya setelah marah-marah mengatakan bahwa pinggiran kolam terasa panas.


"Demi keponakan sih demi keponakan, tapi nggak harus dandan jadi Anna juga, kali! Mau ditaruh mana muka gue kalau sampai ada yang tahu, seorang Karelino Gautama cosplay jadi Anna Frozen?!" omel Karel.


Tiba-tiba saja dia menjadi kesal saat mengingat kembali tampilan dirinya yang kemarin. Padahal ototnya sudah segede harapan orang tua, tapi Kalea malah membuatnya mengenakan kostum untuk perempuan.


"Ya udah sih, yang ikhlas. Lagian kan udah lewat juga kejadiannya."


"Ikhlas, mbahmu!" Karel menyentil pelan kening Kalea, sehingga membuat perempuan itu meringis seraya mengusap keningnya yang sedikit memerah.


"Nak, kalau kamu laki-laki, nanti pas besar nanti tolong kamu tendang burung-nya Om Karel, ya? Soalnya dia udah jahatin Mama." Adu Kalea pada jabang bayi yang ada di dalam perutnya.


"Jangan dengerin Mama kamu," sela Karel. Ikut-ikutan menatap perut rata Kalea.


"Kalau kamu laki-laki, dan nanti udah besar, Ayah akan ajak kamu jalan-jalan keliling dunia buat nonton pertandingan bola. Soalnya papamu cupu, nggak suka main bola." Oceh Karel, seolah jabang bayi yang ada di dalam perut Kalea benar-benar sudah bisa diajak berkomunikasi.


Kalea yang mendengar ada yang aneh dari cara Karel menyebut dirinya sendiri pun sontak memicingkan mata, lalu menggeplak bahu lelaki itu keras-keras.


"Sakit!" pekik Karel, dengan mata yang melotot.


"Kenapa kamu nyuruh anak aku panggil kamu Ayah?" tanya Kalea, sedikit sewot.

__ADS_1


"Lah, suka-suka gue, lah." Karel dengan gaya tengilnya yang biasa.


"Mana bisa gitu?! Ini anak aku, aku dong yang berhak menentukan dia harus panggil kamu apa?!"


"Nggak, lah. Gue yang bakal dipanggil sama dia, jadi gue yang berhak menentukan anak ini harus panggil gue apa. Dan gue maunya dipanggil Ayah, titik."


"Nggak bisa!"


"Bisa! Udah, lo diem, gue mau ngajak ngobrol si Chocoball dulu." Karel menempelkan jari telunjuknya di bibir Kalea, hanya untuk membuat perempuan itu melotot dan menepis kasar tangannya.


"Chocoball siapa?!" ketusnya.


"Ini, yang di dalam perut lo." Karel menunjuk perut Kalea.


"Kenapa Chocoball?"


"Karena lo suka banget sama kinderjoy, jadi dia gue namain Chocoball." Karel menjelaskan, lalu tidak membiarkan Kalea melayangkan protes apapun lagi karena dalam sekejap saja dia sudah mengobrol dengan si jabang bayi.


"Choco, apa kabar? Kamu sehat-sehat aja kan di dalam perut Mama?"


"Choco jangan nakal, ya. Jangan bikin Mama mual-mual, jangan bikin Mama ngidam yang aneh-aneh karena Ayah yang bakal kesusahan. Pokoknya Choco harus jadi anak baik, supaya nanti pas kamu lahir ke dunia, Ayah bisa kasih kamu hadiah karena udah jadi anak baik selama di perut Mama."


Tanpa sadar, Kalea tersenyum. Mendengar Karel mengajak bicara bayi di dalam perutnya membuat hatinya sedikit tenang. Karena setidaknya dia tahu, bahwa setelah lahir nanti, anak ini masih punya orang-orang yang sangat menyayanginya, meskipun nanti ayah dan ibu kandungnya tidak akan ada lagi di dalam satu ikatan pernikahan.


Sampai saat ini, Kalea masih tetap bulat pada tekadnya untuk bercerai dengan Gavin setelah anak ini lahir. Karena setiap kali dia melihat wajah Gavin, dia selalu menemukan bayang-bayang Irina di sana. Tidak terbayangkan bagaimana akan tersiksanya dia jika memaksa untuk terus melanjutkan hidup dengan lelaki itu.


"Mama kamu ini cengeng, Choco. Jadi, kamu jangan bikin mood Mama kamu jelek, ya. Kasihan ... "


"Ini kalau ada yang lihat, mereka bisa mikir kalau kamu adalah ayah kandungnya Choco, Rel." Celetuk Kalea, sudah secara tidak sadar ikut menyebut janinnya dengan sebutan yang Karel berikan.

__ADS_1


Karel terkekeh, kemudian kembali menegakkan badannya dan mengangkat tangannya dari perut Kalea.


"Emang harusnya gue, sih, yang jadi bapaknya Choco."


"Ngawur!" lagi-lagi Kalea mendaratkan sebuah pukulan di bahu Karel. Tapi kali ini, Karel menerimanya dengan senang hati, menanggapinya dengan sebuah tawa renyah yang praktis membuat Kalea ikutan tersenyum.


"Makasih, ya, Rel."


Karel menoleh, menatap Kalea dengan sedikit kebingungan. "Buat?"


"Everything. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana jadinya hidup aku. You've been here, always stay in my worst and my best. Kayaknya, terima kasih aja juga nggak akan cukup deh untuk membayar semua yang udah kamu kasih ke aku."


Sejenak, Karel terdiam. Kemudian dia menyunggingkan senyum seraya mengusap kepala Kalea pelan.


"Lo nggak perlu lakuin apa-apa, Kaleo. Ngeliat lo bahagia dan menikmati apa yang sekarang lo punya aja udah cukup buat gue."


"Jadi, tolong tetap bahagia, ya?"


Kalea merasakan sesak itu kembali merambati dadanya ketika Karel menggenggam tangannya erat dengan senyum tulus yang kian terkembang.


Padahal, orang-orang di sekitarnya hanya ingin dia bahagia. Tetapi, dia tidak bisa memenuhinya karena kini yang dia rasakan justru kesedihan yang teramat dalam. Yang diakibatkan oleh seseorang, yang barangkali bisa dia cegah kalau dari awal dia berusaha menolak kehadirannya sedikit lebih keras.


"Kal?"


"Iya," ucapnya. Terpaksa menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyum palsu agar Karel berhenti menatapnya khawatir.


"Aku akan selalu bahagia, Rel." Imbuhnya.


Ya, semoga saja. Semoga setelah pernikahannya dengan Gavin berakhir, dia memang akan menemukan kebahagiaan yang orang-orang inginkan untuk dia rasakan. Semoga dia tidak akan hancur, agar orang-orang yang menyayanginya juga tetap bisa berdiri kokoh di sampingnya, memberikannya dukungan untuk setiap fase kehidupan yang dia lewati.

__ADS_1


Semoga saja, semoga.


Bersambung


__ADS_2