Serana

Serana
Diperpanjang


__ADS_3

"Gavin?"


Gavin yang tadinya sibuk menekuri layar laptopnya sontak menoleh ke arah Kalea. Sampai malam ini, mereka masih tidur di ranjang yang terpisah. Dan Gavin sama sekali tidak merasa keberatan untuk tetap tidur di kasur lantai yang sebenarnya agak membuat badannya sakit.


"Kamu butuh sesuatu?" tanyanya.


Alih-alih menjawab, Kalea yang sedang duduk di atas kasur malah menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya, membuat Gavin berpikir keras untuk mencerna apa maksudnya.


"Kamu mau saya naik ke situ?" tanyanya untuk memastikan. Tidak mau mengartikan sendiri kode yang Kalea berikan, karena takut salah dan membuat hubungan mereka semakin renggang.


Kalea mengangguk, kemudian menggeser duduknya sedikit ke kiri unuk menciptakan ruang kosong yang lebih banyak.


"You sure?" tanya Gavin lagi.


"Iya, Gavin."


Kemudian, Gavin menutup laptopnya dan mencampakkan benda itu di atas kasur lantai ketika dia bergegas naik ke atas kasur.


"I think our baby wants you to stay here with me," jelas Kalea, yang menemukan Gavin masih terlihat bingung karena dia tiba-tiba meminta lelaki itu untuk naik ke atas kasur.


Gavin menurunkan pandangan, terpaku menatap perut Kalea yang masih rata. Rasanya, masih seperti mimpi. Dia masih belum bisa sepenuhnya percaya bahwa di dalam perut itu, telah hidup seorang bayi manusia.


"Can I touch your tummy?" tanyanya. Tatapannya naik, tepat memaku pada manik boba Kalea.

__ADS_1


Kalea mengangguk tanpa ragu. Jadi, Gavin mengulurkan tangannya, menyentuh perut rata Kalea dari balik baju tidur yang dikenakan perempuan itu. Masih belum terasa ada pergerakan apa-apa, tapi dengan menyentuhnya saja, Gavin sudah merasakan dadanya bergemuruh hebat.


"Am I really gonna be a Daddy soon?" tanyanya, dengan tatapan yang lurus ke arah perut Kalea.


"Iya." Kalea menjawab pelan. Pandangannya ikut turun, namun fokusnya tidak terpaku pada perut ratanya sendiri, tetapi pada tangan kekar Gavin yang menyentuh perutnya.


Untuk beberapa lama, mereka sama-sama terdiam. Sampai kemudian, Kalea membuka suara lebih dulu dan membuat Gavin tidak cuma menarik tangannya dari perut Kalea, tetapi juga menarik pandangannya untuk dilabuhkan ke wajah istrinya itu.


"Tolong tetap jadi suami aku, Gavin." Kata Kalea lagi. Mengulangi apa yang sebelumnya telah dia katakan, dengan suara yang lebih terdengar keras dan yakin.


Gavin masih belum menjawab. Sebenarnya, dia tidak tahu harus menjawab perkataan itu dengan kalimat seperti apa.


Sampai akhirnya, Kalea menambahkan kalimat lain yang semakin membuat Gavin tidak bisa berkata-kata. Perasaannya campur aduk. Antara senang dan sedih menjadi satu. Antara ingin memeluk Kalea erat-erat, atau tetap menjaga jarak supaya tidak menyakiti perempuan itu lebih banyak.


Ketika tatapan mereka semakin terasa intens dan manik-manik mata mereka saling berkejaran, semakin dalam dan jauh, Kalea kembali membuka mulutnya.


"Aku nggak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah. Karena itu, tolong tetap jadi suami aku sampai anak ini lahir. Setelah itu, kamu bebas untuk kembali ke Irina, yang memang sudah sejak awal menjadi rumah kamu."


Padahal rumah yang sesungguhnya mau saya tuju itu adalah kamu, Kal. Namun Gavin tidak mengatakannya secara langsung. Cuma bisa menggaungkan kalimat itu di dalam dadanya dengan perasaan perih yang kentara.


Akhirnya, Gavin cuma bisa menganggukkan kepala. Memilih bungkam dan menyimpan rapat semua hal yang ingin dia sampaikan secara jujur kepada Kalea di dalam kepala, dan mungkin tidak akan pernah berhasil mengatakannya.


...****************...

__ADS_1


Sepanjang malam, Kalea merasa resah karena dari dalam dirinya muncul dorongan aneh untuk membaur ke dalam pelukan Gavin yang kini berbaring di sebelahnya.


Dia tidak yakin apakah ini memang keinginan si jabang bayi, atau dia hanya sedang menipu dirinya sendiri dengan beranggapan bahwa ini adalah salah satu bentuk ngidam, padahal sesungguhnya dia lah yang menginginkan pelukan itu.


"Kamu butuh sesuatu?" pertanyaan yang selalu sama, yang sayangnya kali ini tidak bisa Kalea jawab dengan mudah.


Untuk mengatakan bahwa dia ingin dipeluk oleh Gavin di saat hubungan mereka masih berada di titik abu-abu bukanlah sesuatu yang mudah.


"Bilang aja, Kal. As long it's about the baby, kamu bisa suruh saya lakukan apapun." Gavin berusaha meyakinkan.


Dan pada akhirnya, Kalea tidak bisa lagi menahan dorongan begitu kuat dari dalam dirinya. Dia menyerah, dia mengalah. Dengan gerakan yang teramat pelan, dia memiringkan tubuhnya menghadap Gavin, menatap lelaki itu lekat-lekat.


"Anak kita mau dipeluk sama ayahnya," Kalea berucap dengan suara yang teramat pelan. Masih asik bergelud dengan diri sendiri bahkan ketika senyum tipis telah terbit menghiasi wajah tampan Gavin.


"Kamu mau Papa peluk, Sayang?" Gavin mengulurkan tangannya, mengusap pelan perut rata Kalea tanpa tahu kalau hal itu telah berhasil membuat perasaan Kalea semakin campur aduk.


Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, Gavin menarik pelan tubuh Kalea ke dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh perempuan yang dicintainya itu, melabuhkan kecupan di puncak kepalanya selagi tangganya bergerak pelan menguap lengan perempuan itu yang telanjang.


"Here you go, Honey." Bisiknya, semakin mengeratkan pelukan ketika dia merasakan lengan Kalea terulur untuk membalas pelukannya.


"Papa will do anything for you, Sayang. So promise me that you won't hurt Mama, okay? Tolong jangan bikin Mama sakit lagi, janga bikin Mama mual-mual sampai nggak bisa makan, ya?"


Dan dialog-dialog lain terus keluar dari bibir Gavin selagi lengannya memeluk erat tubuh Kalea. Dia yakin jabang bayi yang sedang tumbuh di dalam perut istrinya itu akan mengerti semua yang dia katakan. Gavin yakin, anak mereka tidak akan membuat Kalea kesulitan lagi setelah ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2