
Kalea tidak bisa menyembunyikan kegugupannya ketika kaki kecilnya melangkahkan menuju altar bersama Papa yang menggenggam tangannya erat. Berkali-kali Kalea menarik dan menghela napas demi menormalkan kembali detak jantungnya, namun hal itu tidak terlalu membantu ketika pada akhirnya manik boba miliknya bersirobok dengan Gavin yang sudah lebih dulu berdiri di depan sana, menunggunya dengan senyum tipis yang menambah kegugupan Kalea berkali-kali lipat lebih parah daripada sebelumnya.
"Relax." Bisik Papa ketika merasakan tangan Kalea yang berada di dalam genggamannya mulai bergeringat dan terasa sedikit bergetar.
"I'm trying." Balas Kalea dengan suara pelan nyaris berbisik.
Langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin dekat dengan Gavin. Dan ketika pada akhirnya ayunan langkah itu terhenti, dengan gerakan pelan, Papa mengoper tangan Kalea yang berada di dalam genggamannya kepada Gavin. Lelaki itu pun menyambutnya dengan senang hati, menuntun Kalea untuk berdiri di sebelahnya.
Selanjutnya, ketika prosesi pernikahan dimulai, Gavin mulai terpikirkan banyak hal. Ada ragu yang tiba-tiba menyeruak di dadanya ketika matanya sempat bersirobok dengan Irina yang datang sebagai tamu undangan, duduk di barisan paling depan dalam balutan gaun yang telah ia pesan dari desainer yang sama tempat ia dan Kalea memesan gaun pengantin. Apalagi, saat bibir tipis Kalea mulai mengucap janji suci lebih dulu, Gavin merasa ia telah menjelma menjadi manusia paling jahat sedunia.
Gavin tahu ada banyak laki-laki baik di luar sana yang jauh lebih pantas untuk bersanding dengan Kalea. Tapi sekarang, perempuan itu harus terjebak bersamanya karena keegoisannya untuk tetap menggenggam dua tangan orang yang ia sayang tanpa berniat melepaskan salah satunya.
"I choose you, Mahesa Gavin Cakraditya. I choose you to be my husband. I will love you in word and deed. I will laugh with you, cry with you, scream with you, grow old with you, and craft with you. To be your kin and your partner in all life's advantures is all I could hope for in the world. Loving what I know of you and trusting what I don't know yet. I give you my hand, I give you my love, I give you myself; the good, the bad, and the yet to come. I will always love you, my forever husband, Mahesa Gavin Cakraditya."
Pada bagian ketika Kalea menyebut namanya dua kali, di awal dan di akhir perempuan itu mengucapkan janji suci, Gavin merasakan dadanya perih. Kalau ada satu lagi kesempatan untuk merubah satu kejadian dalam hidupnya di masa lalu, ia ingin bagian itu adalah momen ketika ia pergi meninggalkan Kalea tanpa sepatah pun kata pamit.
Gavin bukannya tidak bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan Irina sebagai gantinya saat dunianya sedang runtuh dan jiwanya nyaris melayang pergi karena rindu kepada Kalea yang begitu besar membelenggu. Hanya saja, kalau ada yang bisa dirubah, setidaknya Gavin ingin merubah sedikit cara mereka berpisah agar tidak ada rasa bersalah yang membayanginya hingga bertahun-tahun kemudian.
Tapi, waktu tidak bisa diputar kembali. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dirubah kembali. Lebih dari itu, ia telah berjalan sejauh ini. Telah menyakiti hati Irina sebanyak yang tidak pernah ia duga. Jadi yang bisa Gavin lakukan sekarang cuma fokus untuk gantian mengucap janji sucinya. Janji yang ia sendiri khawatir tidak akan bisa memenuhinya karena di satu sudut hatinya yang lain, jelas masih dihuni oleh Irina.
Walau begitu, Gavin tetap mengucapkan janji suci miliknya.
__ADS_1
"I vow to always protect you from harm. To stand with you against your troubles. And to looking for you when I need protection. You are loved more than any metaphor can ever try express. I promise to not only listen but to hear. Not only to be honest but to trust. And not only to love but to be loved. I love you, Kalea Dimitria."
Setelah janji suci itu terucap, satu tetes air mata jatuh. Tapi bukan dari mata Kalea maupun Gavin, melainkan dari mata Irina yang harus mati-matian menahan sesak menyaksikan laki-laki yang ia cintai setengah mati akhirnya mengucapkan janji suci dengan perempuan lain, tepat di depan matanya dan berpasang-pasang mata lain yang menyambut penyatuan dua insan itu dengan suka cita. Berbanding terbalik dengan dirinya yang terkapar sendirian di sudut kesedihan tanpa seorang pun datang menyelamatkan.
...****************...
Setelah beberapa tamu undangan meninggalkan venue, Kalea melepas tautan tangannya dengan Gavin yang tengah asik mengobrol dengan salah satu kolega. Tujuannya hanya satu, ia ingin menghampiri Irina yang terlihat sendirian dengan segelas wine di tangan. Pandangan perempuan itu terlempar jauh, entah pada segerombolan bestman yang sedang mengobrol beberapa meter di seberang, atau pada Karel yang tengah menggoda bocah perempuan berusia enam tahun yang merupakan anak dari salah seorang tamu undangan. Kalea tidak yakin Irina tengah memandang ke arah mana, tapi perempuan itu tampak begitu serius.
"Irina!" panggil Kalea setelah jaraknya cukup dekat dengan Irina.
Yang dipanggil menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang berpadu cantik dengan iris kelam yang tampak berbinar. Kalea balas tersenyum. Kemudian ia merasa bagaikan baru saja menemukan satu bunga yang mekar paling indah di tengah taman luas ketika Irina menarik tubuhnya ke dalam pelukan, mengusap punggungnya pelan. Rasanya hangat dan nyaman, seperti pelukan yang diberikan oleh seorang teman lama yang datang untuk memberikan ucapan selamat paling tulus.
Senyum Irina semakin terkembang. Kadang kala, ia merasa heran kepada diri sendiri yang begitu ahli menyembunyikan sakit hati. Padahal, jauh di dalam sana, rasanya sangat tidak nyaman. Ada sesak yang mendesak untuk diledakkan keluar agar tidak semakin menjadi-jadi. Pikiran gilanya bahkan berbisik menyuruhnya menampar pipi Kalea karena telah lancang merebut satu-satunya laki-laki tang ia cintai sepenuh hati. Tapi pada akhirnya Irina tidak bisa melakukan semua itu. Karena ia sadar, Kalea bahkan tidak tahu situasi apa yang tengah mereka bertiga hadapi kini. Jadi lebih dari sekadar sakit hati, Irina lebih merasa kasihan pada Kalea yang terus tersenyum cerah padahal ada badai besar yang bisa menerpa hidupnya kapan saja.
"Aku udah janji untuk datang, so here I am."
"Tapi kamu pasti sibuk. Aku jadi nggak enak karena udah maksa kamu buat bikin janji waktu itu." Terselip sebuah perasaan bersalah di dalam nada suara Kalea, jadi Irina buru-buru menggelengkan kepala agar perempuan di hadapannya ini tidak semakin bermuram durja.
"Aku senggang. Thanks to that daging rumor, kerjaan aku jadi banyak yang rescheduled." Irina terkekeh di akhir kalimat, berbeda dengan Kalea yang justru memanyunkan bibirnya dengan gerak kesal.
"Emang kurang ajar yang buat berita itu!"
__ADS_1
Irina tidak bisa menahan diri dari kekehan yang lebih keras ketika Kalea dengan gamblang mengungkapkan kekesalannya. Padahal, mereka tidak sedekat itu sehingga Kalea bisa bersikap sekesal ini atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Biasalah, harus ada berita biar cuan tetap mengalir sampai jauh seperti sambungan pipa rucika."
Setelah kalimat itu selesai, keduanya praktis tergelak. Irina menertawakan ekspresi Kalea yang seketika berubah dari kesal menjadi ekspresi ceria yang indah, sedangkan Kalea menertawakan bagaimana Irina menanggapi rumor kencan yang merugikan itu dengan cara yang santai dan menyenangkan.
"But," sela Irina di tengah gelak tawa mereka.
Kalea segera menghentikan tawanya. Kini sepenuh mencurahkan perhatian pada apa yang akan Irina katakan selanjutnya.
"I just found out that you're the daughter of my boss. Kebetulan yang menarik."
Senyum Kalea kembali terbit. "Aku juga baru tahu kalau kamu ternyata salah satu model di perusahaan Papa. Kayaknya selama ini aku memang terlalu acuh sama dunia sekitar."
"Not that bad." Sela Irina, menyesap sedikit wine yang masih ia pegang. "Kadang kita memang harus agak membutakan pandangan dari dunia sekitar."
"Iya juga, sih." Kalea menyengir di akhir kalimat.
Belum sempat Kalea membuka mulutnya kembali, sebuah suara menyela, membuatnya dan Irina sontak menolehkan kepala secara serempak. Beberapa langkah di depan mereka, berdiri seorang lelaki bertubuh tegap dengan senyum yang mengembang sampai ke telinga.
"Boleh gabung?" ucap si lelaki.
__ADS_1