
Berkat kerelaan hati Karel untuk menemani Kalea, Gavin bisa tidur setidaknya selama lima jam sebelum akhirnya terbangun karena ponselnya terus berdering nyaring.
Ketika pertama kali membuka mata, dia melihat Karel sedang tertidur di kursi dengan kepala terkulai di ranjang pasien. Sementara Kalea masih terlelap di ranjangnya dengan satu tangan yang bersemayam damai di kepala Karel.
Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Gavin meraih ponsel yang terjatuh di lantai dan masih menggonggong minta diberi perhatian itu. Satu alisnya terangkat naik saat menemukan nama Gitta, sekretaris di kantornya menelepon.
Karena tidak mau kebisingan yang ditimbulkan oleh dering ponsel miliknya akan mengganggu tidur Karel dan Kalea, Gavin segera menggeser log hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga sembari berjalan keluar dari ruangan.
Gavin mendudukkan dirinya di kursi depan, menunggu Gitta berbicara sembari mengusap pelan wajahnya beberapa kali untuk menarik sebagian kesadaran yang masih belum mau kembali.
"Halo, Pak Gavin?" sapa Gitta dari seberang.
"To the point aja, Git. Ada apa?" todong Gavin. Dia memang paling malas berbasa-basi.
"Maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya cuma mau menyampaikan beberapa hal terkait proyek terakhir yang sedang kita kerjakan. Dengan berat hati, saya harus menyampaikan bahwa proyek itu terpaksa ditunda untuk sementara waktu karena ada permasalahan yang muncul."
Gavin menegakkan punggungnya setelah Gitta sampai pada akhir kalimat. "Masalah apa?" tanyanya kemudian. Karena setahunya, proyek terakhir mereka sudah di handle dengan baik dan sama sekali tidak ada masalah.
"Saya nggak bisa jelaskan secara rinci melalui sambungan telepon, Pak. Jika Bapak berkenan, saya akan menjelaskan kepada Bapak secara langsung di kantor."
"Kamu tahu saya lagi ambil cuti, Git. Istri saya masih dirawat di rumah sakit."
"Saya tahu, Pak. Tapi masalah ini cukup serius, dan kita harus diskusikan dengan tim terkait."
Gavin mengusap kasar wajahnya kemudian menghela napas panjang sebelum bangkit dari kursi. Dia berpikir sebentar, mempertimbangkan resiko mana yang lebih besar antara meninggalkan proyek ini untuk sementara waktu atau meninggalkan Kalea untuk mengurusi permasalahan di proyek ini.
Kemudian, setelah melalui banyak pertimbangan, Gavin akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor dan memeriksa masalah apa yang sebenarnya Gitta maksud.
"Oke, saya akan ke kantor. Tapi saya perlu pastikan dulu istri saya ada yang jaga."
"Baik, Pak. Saya tunggu kedatangan Bapak."
Telepon terputus. Gavin bergerak cepat men dial nomor Bunda meskipun sempat ragu untuk merepotkan wanita itu lagi.
Percobaan pertama, gagal. Bunda tidak mengangkat teleponnya. Gavin mencoba lagi dan lagi. Sampai akhirnya telepon tersambung di percobaan ke-tujuh.
"Halo, Vin? Maaf, tadi Bunda lagi di dapur nyiapin sarapan buat Papa. Ada apa, sayang?" sapa Bunda dengan suara yang terdengar panik.
"Gavin mau minta tolong sama Bunda."
__ADS_1
"Minta tolong apa, Nak?"
"Tolong jagain Kalea. Gavin harus ke kantor untuk urus beberapa hal. Nggak akan lama kok, Gavin usahakan nggak sampai sore."
"Boleh, sayang. Nanti Bunda ke rumah sakit sekalian Papa berangkat kerja, ya."
"Iya, Bun. Terimakasih."
"Sama-sama, sayang."
Gavin menutup telepon dan langsung menyakui kembali ponselnya. Dia berjalan masuk ke dalam ruang rawat Kalea, dan langsung disambut oleh tatapan penuh tanya dari Karel begitu dia membuka pintu.
"Lo dari mana?" tanya Karel dengan suara serak. Mata pemuda itu tampak sayu dan sedikit memerah.
"Habis angkat telepon." Jawab Gavin seadanya. Dia melirik ke arah Kalea, dan ternyata perempuan itu masih tidur.
"Rel," panggilnya dengan tatapan yang masih tertuju pada Kalea.
"Apa?" sahut Karel agak galak. Sejujurnya, dia masih mengantuk, jadi dia berharap Gavin segera mengutarakan maksudnya tanpa banyak basa-basi.
"Saya boleh titip Kalea sebentar? Saya harus ke kantor karena ada sedikit masalah. Bunda saya lagi on the way ke sini, jadi selagi Bunda saya belum sampai, tolong jagain Kalea dulu. Bisa?"
"Bisa." Karel menjawab mantap. "Nggak usah lo titipin juga gue pasti jagain Kalea." Sambungnya.
"Ya udah, sana buruan mandi. Lo nggak mungkin ke kantor dalam keadaan mata penuh belek begitu, kan?"
Kalau situasinya tidak sedang serius dan dia sedang tidak terburu-buru, Gavin pasti akan melemparkan sandal yang sekarang ini dia pakai ke wajah Karel. Tetapi berhubung dia harus bergegas, Gavin mengiyakan saja perkataan Karel dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Saat dia membuka mata, Kalea tidak menemukan keberadaan Gavin. Sebagai gantinya, dia melihat Karel sudah ganteng dengan setelan baju baru (yang dia jelas tahu kalau itu juga milik Gavin). Lelaki itu sedang duduk anteng di sofa sembari mengunyah buah apel beserta degan kulitnya. Matanya fokus menatap layar televisi yang menampilkan serial kartun.
"Jam berapa sekarang?" tanya Kalea sembari mendudukkan dirinya.
Karel menoleh, melirik jam di pergelangan tangan kirinya kemudian berkata, "Setengah sepuluh." Dengan mulut setengah penuh.
"Udah siang banget. Kok kamu nggak bangunin aku?"
"Dih, buat nidurin lo aja gue susah, harus nyanyi belasan lagu sampai suara gue serak. Terus lo nanya kenapa gue nggak bangunin lo?" seperti biasa, Karel selalu menanggapi sebuah pertanyaan sederhana dengan sewot. Tidak usah heran, wataknya memang sudah di setting seperti itu.
__ADS_1
"Ngomel mulu kerjaannya." Gerutu Kalea dengan bibir yang nyaris terkatup rapat.
Sebenarnya Karel mendengar dengan jelas apa yang Kalea katakan, tetapi dia memilih untuk berpura-pura tidak mendengar agar mereka tidak terlibat perdebatan tidak penting. Lagipula, suaranya benar-benar serasa habis setelah menyanyikan belasan lagu untuk Kalea semalam. Jadi, dia mau menghemat suara emasnya ini agar bisa digunakan untuk waktu yang cukup lama.
"Rel,"
Karel cuma berdeham. Matanya kembali fokus menatapi layar dan mulutnya sibuk mengunyah apel yang sisa setengah.
"Gavin ke mana?"
"Kerja." Sahut Karel cepat.
Kalea mengerutkan kening. Kerja? Bukannya Gavin sedang mengambil cuti? Dan, kenapa laki-laki itu tidak pamit kepadanya?
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh." Sela Karel yang mencium gerak-gerik mencurigakan dari Kalea. Kalau sudah diam dengan tatapan kosong dan dahi yang berkerut-kerut begitu, sudah pasti Kalea sedang overthinking.
"Tadi pagi dia terima panggilan dari kantor, katanya ada masalah yang harus diselesaikan, makanya dia pergi ke kantor sekarang." Karel berusaha menjelaskan seperlunya. Setidaknya supaya Kalea tidak berpikir macam-macam.
"Untung semalam dia sempat tidur." Kalea menghela napas lega.
"Berkat gue." Celetuk Karel dengan bangganya.
Kalea mendengus sebal, tapi kemudian tetap menganggukkan kepala. Karena biar bagaimanapun, Karel memang telah berjasa dalam hal ini.
"Lo mau ke kamar mandi, nggak? Biar gue bantu." Tawar Karel setelah menyelesaikan gigitan terakhirnya pada buah apel. Setelah mengelap tangannya menggunakan tisu yang tersedia di atas meja, dia berjalan menghampiri Kalea. "Atau lo butuh sesuatu? Mau minum? Makan? Nyemil? Kinderjoy lo masih ada enam di kulkas, mau gue ambilin?"
Kalea menggelengkan kepala pelan mendengar Karel yang nyerocos macam burung beo. Nah, kalau dipikir-pikir lagi, julukan burung beo itu lebih tepat disematkan kepada Karel, bukan dirinya.
"Aku mau minum aja, haus."
Karel mengangguk, kemudian dengan sigap dia menuangkan air ke dalam gelas dan menyodorkannya ke arah Kalea.
Kalea menyambut gelas itu dengan senang hati dan segera menenggak isinya sampai tandas. Setelah itu, dia kembalikan gelas yang telah kosong kepada Karel.
"Makasih, Karel."
"Sama-sama."
Karel baru akan meletakkan kembali gelas ke atas nakas ketika rungunya menangkap suara ketukan di pintu. Dia menatap Kalea sebentar sebelum mereka berdua serempak menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Siapa?" gumamnya.
Bersambung