Serana

Serana
Hari Pertama


__ADS_3

Kalea tidak tahu kenapa dia memutuskan untuk setuju pada apa yang Gavin usulkan. Setelah tiga jam lebih membiarkan Gavin terus mengoceh dari balik pintu, dia akhirnya turun dari ranjang, berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu sehingga kini mereka bisa kembali berhadap-hadapan.


Gavin bangkit dari duduknya, tanpa membawa serta dua ponsel yang dia biarkan teronggok tak berdaya di tempatnya. Kalea menyadari keberadaan dua ponsel itu, dan tanpa perlu dijelaskan sekalipun, dia sudah tahu kalau ponsel itu pasti juga turut menjadi saksi kebohongan Gavin selama ini.


"Kal," panggil Gavin pelan. Kalea bisa melihat lelaki itu berusaha keras menahan diri untuk tidak berjalan semakin dekat, dan tetap menciptakan jarak.


"Satu minggu." Kalea berucap datar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia kembali berani menatap mata Gavin. "Cuma satu minggu," ulangnya.


Gavin mengembuskan napas pelan, kemudian mengangguk meskipun dengan berat hati. Batinnya, tidak apa-apa. Setidaknya dia memiliki satu minggu untuk dihabiskan bersama Kalea. Satu minggu yang akan dibuat se-spesial mungkin agar bisa dia ingat untuk waktu yang cukup lama.


"Kamu mau makan apa sekarang? Cumi rica? Atau apa? Bilang aja, biar saya langsung buatkan."


"Nggak usah, aku makan aja apa yang ada di dapur." Tolak Kalea. Sebenarnya, dia bisa saja meminta Gavin untuk memasak apapun karena lelaki itu pasti akan menurutinya, tetapi egonya masih tinggi sehingga dia memilih untuk tidak menuntut apa-apa dan membiarkan Gavin melakukan semua hal berdasarkan inisiatif lelaki itu sendiri.


"Saya cuma masak nasi merah sama ayam goreng, nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa," ucap Kalea, lalu dia berjalan mendahului Gavin, menuruni anak tangga dengan gerakan pelan karena sejujurnya langkahnya mulai agak tidak seimbang.


Gavin mengekor di belakang setelah mengambil dua ponsel miliknya dan memasukkannya ke dalam saku celana. Di setiap langkah yang dia ambil, Gavin terus meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa, semua yang terjadi memang merupakan konsekuensi atas ketidakmampuannya untuk memilih. Sekarang, dia hanya harus memanfaatkan waktu seminggu yang Kalea berikan sebaik mungkin.


Sampai di dapur, Kalea mendudukkan dirinya di kursi, sementara Gavin bergerak cepat menyiapkan makanan untuknya. Tidak butuh waktu lama bagi lelaki itu untuk membawa piring berisi nasi merah, ayam goreng dan sambal terasi lalu disuguhkan ke hadapannya. Tidak lupa segelas air putih pun turut disediakan.


"Makan yang banyak,"


Kalea tidak menjawab. Dia hanya mulai menyendokkan nasi ke dalam mulut lalu mengunyahnya dengan gerakan pelan. Sepenuhnya mengabaikan Gavin yang mulai asik memandanginya.


Suapan demi suapan Kalea habiskan meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama daripada biasanya karena lagi-lagi tenggorokannya terasa tercekat.


Lalu saat perutnya sudah tidak bisa lagi menerima makanan lagi, Kalea menghentikan suapannya. Dia dorong piring yang masih berisi lebih dari setengah nasi dan ayam, menyambar gelas dan langsung menenggak air dari dalamnya untuk membilas tenggorokannya yang sedikit terasa serak karena minyak dari ayam goreng.


"Makasih makannya, aku mau balik ke kamar." Kalea bangkit dari kursi, hendak berjalan meninggalkan meja makan namun Gavin dengan cepat menahan tangannya.


Kalea menarik napas dalam-dalam sebelum menoleh ke arah Gavin yang masih duduk di kursinya. Dia tidak mengatakan apa-apa, memutuskan untuk menunggu sampai Gavin membuka mulutnya.


"Mulai malam ini sampai seminggu ke depan, tidur di kamar kita, ya? Please."


Kalea membuang napas kasar, melepaskan genggaman tangan Gavin kemudian segera berlalu dari sana tanpa mengatakan apa-apa. Dia terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lantai dua dan ... masuk ke kamar mereka. Iya, pada akhirnya Kalea kembali ke kamar itu. Dengan berbekal pemikiran bahwa dia hanya harus bertahan selama seminggu lagi.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Kal. Cuma seminggu,"  bisiknya kepada diri sendiri.


...****************...


Entah sudah berapa lama Kalea berusaha memejamkan matanya, namun usahanya berakhir sia-sia karena bukannya mengantuk, dia malah semakin merasa segar.


Malam ini, tanpa alasan yang jelas, Kalea merasa gelisah. Dia terus-menerus mengubah posisi tidurnya. Dari yang semula miring ke kiri memunggungi Gavin yang tidur di kasur lantai, telentang, sampai akhirnya miring ke kanan di mana dia bisa melihat tangan Gavin yang menjulang ke atas memegang ponsel.


"Gavin," panggilnya pelan setelah menimbang selama beberapa saat.


Gavin, yang memang dasarnya selalu gercep, malam ini menjadi semakin gercep lagi. Laki-laki itu langsung bangkit dari tidurnya, terduduk di atas kasur lantai dan menatapnya serius.


"Kamu butuh apa?"


Sial. Kalea mengumpat di dalam hati. Ini bahkan baru hari pertama, tapi dia sudah dibuat tak berdaya kala manik kelam Gavin menatapnya dengan sorot yang begitu lembut. Seolah kebencian dan kekesalan yang memenuhi dadanya selama seminggu lebih menguap entah kemana.


"Kamu butuh apa?" tanya Gavin lagi saat Kalea tidak kunjung bersuara setelah sekian lama.


"Aku ... "


"Ya?"


"Ada." Gavin menjawab tanpa ragu.


"Serius ada? Jam setengah satu pagi, masih ada yang jualan jagung bakar?" Kalea agak tidak percaya.


"Ada, Kal. Kalau kamu yang minta, saya akan keliling Jakarta buat nyari."


Kalea memutar bola mata jengah, diam-diam mencibir kelakuan Gavin yang seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk di antara mereka.


Tetapi berhubung keinginannya untuk makan jagung bakar begitu besar sekarang, Kalea berusaha menekan perasaannya agar mereka tidak terlibat perdebatan lain malam ini.


"Ya udah, saya jalan sekarang ya." Gavin bangkit, sudah akan berjalan menuju lemari untuk mengambil jaketnya ketika Kalea tiba-tiba menarik lengannya.


"Kenapa?"


"Aku ikut," cicitnya.

__ADS_1


"Nggak usah, saya aja. Kamu tunggu aja di rumah." Gavin berusaha memberi pengertian. Namun Kalea malah menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Pokoknya aku mau ikut," Kalea si keras kepala.


Akhirnya, Gavin mengalah dengan menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan ke lemari dan mengambil dua jaket, untuknya dan untuk Kalea.


"Pakai jaketnya," Gavin menyodorkan jaket milik Kalea.


Kalea meraih jaket itu, kemudian segera mengenakannya lalu turun dari kasur.


Saat Gavin hendak mengambil kunci mobil dari atas nakas, lagi-lagi Kalea menahan tangannya.


"Apa lagi, Kal?"


"Naik motor,"


Gavin jelas melotot dibuatnya. Ini jam setengah satu dini hari. Catat baik-baik, jam setengah satu dini hari! Gila saja kalau Kalea meminta dirinya untuk berkeliaran di jalan naik motor!


"Nggak." Tolaknya mentah-mentah.


"Maunya naik motor," rengek Kalea, menggoyang-goyangkan lengan Gavin sambil memasang wajah memelas.


"Kamu baru sembuh, Kal. Saya nggak mau kamu sakit lagi."


Mendengar itu, Kalea langsung mengempaskan tangan Gavin lalu duduk di tepian kasur dan melipat tangan di depan dada.


"Kalau nggak naik motor, mending nggak usah!" rajuknya.


Selama beberapa detik, Gavin cuma bisa terdiam sambil menatap Kalea kebingungan. Sebenarnya, Kalea ini sedang kenapa? Tingkahnya benar-benar aneh.


Oke, Gavin senang-senang saja kalau perempuan itu mau merajuk lagi padanya, karena itu artinya masih tersisa setidaknya sedikit kesempatan untuknya dimaafkan atas kesalahan yang telah dia perbuat. Tetapi kalau seperti ini, dia juga jadi bingung sendiri.


"Mau naik motor atau nggak?!" tanya Kalea agak ngegas.


Enggan memulai keributan di hari pertama dari tujuh hari yang singkat, Gavin pun menganggukkan kepala lalu meletakkan kembali kunci mobil dan beralih mengambil kunci motor.


"Ayo," Gavin mengulurkan tangan kepada Kalea, tapi perempuan itu tidak menghiraukan uluran tangannya dan malah melenggang pergi lebih dulu.

__ADS_1


"Kenapa perempuan begitu susah dimengerti, Tuhan?" gumam Gavin sebelum menyusul Kalea yang sudah menghilang di balik pintu.


Bersambung


__ADS_2