Serana

Serana
Amaris Cafe


__ADS_3

Tahu apa yang lebih menyakitkan ketimbang mengetahui orang yang kita percaya menyembunyikan kebohongan? Itu adalah ketika kita tahu kebenarannya dari orang lain, bukan langsung dari dia yang bersangkutan.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kalea kembali merasakan sensasi di mana kepalanya terasa berat dan dadanya berangsur sesak padahal oksigen di sekitarnya jelas masih tersedia melimpah dan dia bisa menghirupnya secara cuma-cuma.


Setelah menghabiskan hampir lima belas menit hanya untuk memutuskan apakah dia harus membuka amplop coklat yang diberikan kepadanya atau tidak, Kalea akhirnya dibuat menyesal atas keputusan yang telah dia buat.


Seharusnya, dia segera membuang amplop itu ke tong sampah dan menganggap benda itu tidak pernah ada.


Karena sekarang, ketika semua isi di dalam amplop itu berhasil dia keluarkan, Kalea merasa tubuhnya bagai dihantam dengan palu godam raksasa. Pusing, mual dan sesak menjadi satu, membuatnya tidak tahu harus mengurus yang mana dulu.


Di atas meja, telah berjajar beberapa lembar foto yang memperlihatkan sosok Gavin sedang bersama dengan seorang perempuan, yang sialnya Kalea kenal.


Kalau mereka berdua tertangkap kamera sedang berduaan di tempat-tempat yang umum seperti kantor Papa ataupun kantor Papa Jonathan, Kalea mungkin akan berpikir kalau si pengirim dokumen ini cuma orang iseng yang sedang berusaha mengusik kehidupan rumah tangganya dengan Gavin.


Tetapi karena Gavin dan Irina tertangkap kamera sedang berada di dalam satu mobil yang sama dan terlihat sedang mengobrol serius, Kalea tidak bisa berpikir bahwa tidak pernah ada apa-apa di antara keduanya.


Selain foto di dalam mobil, ada juga dua foto yang masih-masing memperlihatkan Gavin dan Irina baru saja keluar dari sebuah unit apartemen, yang ketika dia perhatikan dengan baik ternyata merupakan unit apartemen yang sama.


Perasaan Kalea campur aduk sekarang. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap foto-foto yang terpampang nyata di depan matanya. Keberadaan sticky notes yang tertempel di salah satu foto yang berisi catatan berbunyi : 'Amaris Cafe, jam 4 sore meja paling ujung dekat jendela kaca, kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang Gavin dan rahasianya' itu juga semakin memperparah kondisi hatinya.


Kalea ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Gavin dan Irina, serta alasan mengapa Gavin bersikeras bahwa mereka berdua tidak saling mengenal di awal-awal pertemuan mereka di tangan kesibukan mengurus pernikahan.


Tetapi, Kalea takut. Bagaimana jika informasi yang akan dia terima nanti adalah sesuatu yang buruk dan bisa menyakiti hatinya?


Lebih dari itu, Kalea berharap bisa mendengar penjelasan apa pun itu langsung dari bibir Gavin, bukan dari bibir orang lain.


Tapi ... Ah, Kalea benar-benar merasa bingung sekarang.


Haruskah dia datang? Atau tidak?


...****************...


Matahari masih bersinar cukup terik di atas kepala ketika Kalea menapakkan kakinya di depan sebuah cafe yang terlihat cukup ramai. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Kalea akhirnya memutuskan untuk datang, dengan sebuah rencana yang tersusun apik di kepala.


Dia hanya akan sekadar mendengarkan apa pun yang pengirim dokumen tadi ingin sampaikan, untuk kemudian dia tanyakan secara langsung kepada Gavin supaya dia tahu mana yang benar. Karena, dia sudah bertekad untuk memberi Gavin kesempatan menjelaskan nanti, untuk kemudian dia pertimbangkan ucapan siapa yang lebih bisa dia percaya.


Setelah menarik dan membuang napas beberapa kali, Kalea akhirnya mengayunkan langkah memasuki cafe. Pintu kaca didorong pelan dan dia langsung melayangkan pandangan ke meja paling ujung dekat jendela kaca, seperti yang telah diinstruksikan di dalam notes yang dia terima.


Di sana, sudah ada seorang perempuan yang duduk memunggungi dirinya. Perempuan itu melemparkan tatapan ke luar jendela.


Keraguan kembali menghampiri Kalea seiring dengan langkahnya yang terayun takut-takut ke arah perempuan itu. Sebab, dari postur tubuhnya saja, Kalea sudah mengenali siapa perempuan itu. Dan, perempuan itu sama sekali tidak masuk ke dalam kategori seseorang yang hanya iseng seperti dugaannya sebelumnya.

__ADS_1


Ketakutan Kalea semakin menjadi-jadi ketika dia menghentikan langkah tepat di samping meja, di mana perempuan itu menyadari kehadirannya lebih cepat bahkan sebelumnya dia sempat menyapa. Perempuan itu, Claretta, menoleh padanya dan menyunggingkan senyum lebar yang justru terasa menakutkan bagi Kalea.


"Selamat datang, Kalea." Sapa Claretta sembari menegakkan punggungnya yang semula bersandar di kursi. Kakinya yang semula menyilang diturunkan dan dia bergerak pelan bangkir dari kursi, hanya untuk menunjukkan gestur mempersilakan Kalea duduk di kursi seberang.


"Silakan duduk," ucap Claretta saat Kalea tak kunjung menggerakkan tubuhnya.


Kalea membutuhkan lebih banyak waktu hanya untuk menyeret kakinya menuju kursi yang Claretta tunjuk kemudian duduk di atasnya. Perasaannya semakin tidak keruan dan mulai gelisah saat matanya menemukan ada amplop coklat lain yang tersimpan di kursi sebelah Claretta. Firasatnya mengatakan kalau isi di dalam amplop itu mungkin lebih mengerikan ketimbang yang dikirimkan kepadanya tadi.


"Mau minum apa?" tawar Claretta sembari melambaikan tanga kepada seorang pelayan untuk meminta dibawakan buku menu.


"Nggak usah, saya ke sini cuma mau dengar apa yang mau kamu kasih tahu." Kata Kalea.


Claretta cuma menanggapi penolakan itu dengan sebuah senyum, karena toh pelayan yang dia panggil sudah berdiri di samping meja mereka dan menyodorkan buku menu yang dia minta. Di momen ini, dia lah pemegang kendali. Jadi, dia bisa membuat Kalea duduk lebih lama, selama yang dia mau.


"Tolong kasih kami menu yang paling recommended di sini." Kata Claretta sambil menyodorkan kembali buku menu yang sama sekali tidak dia baca.


Si pelayan laki-laki mengangguk dan segera berlalu untuk menyiapkan apa yang Claretta minta.


Sementara itu, Kalea masih sibuk menenangkan degup jantungnya yang menggila. Meremas kedua tangannya yang berada di atas pangkuan dalam upaya untuk meredakan kecemasan.


"Kamu mau kasih tahu saya apa?" tuntutnya tepat ketika Claretta kembali menatapnya.


Claretta malah terkekeh, membuat Kalea bertanya-tanya, apa yang lucu? Lalu, perempuan itu meraih amplop coklat di sampingnya, membawanya ke atas meja kemudian menyurukkannya ke hadapan Kalea.


"Sama seperti yang kamu terima siang tadi. Just a little wilder, I guess." Lagi-lagi Claretta mengakhiri ucapannya dengan sebuah kekehan yang sangat mengganggu.


"Ah, ada satu lagi," ucap Claretta tiba-tiba dan langsung merogoh tas kecil yang ada di sampingnya. Dari dalam sana, dia mengeluarkan sebuah benda kecil seukuran ibu jari dan langsung meletakkannya di atas amplop coklat sebelumnya. "Bonus," katanya sambil menyeringai.


"Saya nggak butuh barang-barang ini," ucap Kalea. Dia menyodorkan kembali amplop dan benda kecil (yang Kalea tahu adalah sebuah flashdisk) itu ke hadapan Claretta.


"Just tell me, kenapa kamu kirim foto-foto itu ke saya tadi?"


Tiba-tiba saja, Claretta terbahak. Punggungnya terhempas keras ke kursi dan perempuan itu mulai bertepuk tangan.


Kalea menatapnya bingung dan sekali lagi bertanya apa yang lucu sampai perempuan itu bisa tertawa terbahak-bahak dan sama sekali tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe yang lain.


"Kamu ini polos atau bodoh, Kal?" tanya Claretta setelah tawanya mereda. Punggungnya kembali ditegakkan, dan dia bergerak mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Kalea. Kedua tangannya saling tertaut dan diletakkan di atas meja, matanya menatap Kalea serius.


"Bahkan setelah kamu lihat foto-foto yang aku kirim tadi, kamu masih bisa nanya untuk apa aku kirim itu semua ke kamu? Seriously?" tatapan Claretta mulai berubah menjadi sedikit mengejek.


Kalea tidak menjawab. Dia hanya terus menatap Claretta yang masih menyeringai ke arahnya sampai akhirnya perempuan itu jengah dan seketika merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.

__ADS_1


"Reaksi kamu nggak asik," ucap Claretta, kembali ke posisi duduk yang semula.


"Kamu sepupunya, Gavin." Kata Kalea tiba-tiba, membuat Claretta yang semula asik memainkan nail art sontak mengangkat kembali wajahnya dan menatap Kalea tidak suka.


"Kenapa kamu berusaha merusak rumah tangga sepupu kamu sendiri? Karena uang? Jabatan? Atau-"


"Dia bukan sepupu aku." Sela Claretta sebelum Kalea sampai di ujung kalimatnya.


Mendengar itu, Kalea tentu kebingungan. Dia jelas tahu kalau Claretta adalah anak dari Om Arya, yang merupakan kakak kandung Bunda. Lalu, kenapa Claretta bisa dengan lantang mengakui kalau dirinya bukanlah sepupu Gavin? Kalea tahu Claretta dan Gavin tidak terlalu dekat. Tetapi bukan berarti Claretta harus denial terhadap status mereka berdua, kan? Sebenarnya ada apa?


"Laki-laki yang kamu nikahi itu bukan sepupu aku, Kal. Dia bahkan bukan bagian dari keluarga Cakraditya."


Kalea semakin dibuat kebingungan. Banyaknya kosakata di dalam kepala yang siap dia lontarkan mendadak hilang, dan dia cuma bisa terdiam menunggu sampai Claretta melanjutkan ucapannya.


"Tante Ara nggak pernah melahirkan Gavin. Dia itu cuma anak haram hasil perbuatan biadab Jonathan dengan perempuan murahan yang dia temui entah di mana."


Gavin bukan anak Bunda? Batin Kalea.


"Kamu pikir, dia menikahi kamu karena apa? Ya supaya dia bisa tetap diakui sebagai anggota keluarga Cakraditya, lah. Karena dia tahu, nggak akan ada yang berani mengusik dia selama dia adalah menantu keluarga Pradipta. Dia cuma manfaatin kamu, Kal."


Tapi, Kalea yakin perasaannya tidak salah. Dulu, mereka mungkin menikah karena dijodohkan. Tetapi akhir-akhir ini, Kalea yakin kalau mereka sudah saling jatuh cinta. Atau ... dia salah? Apakah dia ternyata jatuh cinta sendirian selama ini?


"Perempuan yang ada di foto sama Gavin itu adalah pacarnya."


Kalea kembali menatap Claretta, dengan bibir yang masih terkatup rapat dan jantung yang semakin berdebar hebat.


"Dia nikahin kamu sewaktu dia masih punya pacar, cuma demi mempertahankan posisinya di dalam keluarga. Don't you think how fcking bastard he is?"


Claretta menjeda kalimatnya ketika pelayan datang membawa nampan berisi dua gelas minuman dan meminta ijin untuk meletakkannya di atas meja. Barulah setelah pelayan itu pergi, Claretta melanjutkan ocehannya.


"Dia bisa ninggalin perempuan yang dia cintai cuma demi kekuasaan, apa kamu pikir dia nggak bisa melakukan hal yang sama ke kamu, yang dari awal cuma orang asing bagi dia?" Claretta tersenyum mengejek.


Remasan di tangan Kalea semakin kuat seiring dengan kepalanya semakin terasa berat. Di tengah perasaan yang kian carut-marut, dia berharap bahwa apa yang dia dengar dari bibir Claretta hanyalah bualan semata. Kalea ingin menganggap bahwa Claretta hanya sekadar itu terhadap Gavin dan ingin menghancurkan lelaki itu karena masalah yang tidak dia ketahui.


Tetapi, saat Claretta bangkit dari duduknya, menumpukan kedua lengan di atas meja dan kembali mencondongkan tubuh ke arahnya, Kalea seolah tidak tahu lagi bagaimana caranya bernapas.


"Aku cuma mau kasih tahu kamu kebenarannya, sebagai bentuk rasa peduli terhadap sesama perempuan. Mumpung pernikahan kalian juga masih seumur jagung dan belum banyak hal yang Gavin dapatkan dari keluarga kamu."


Setelah mengatakan itu, Claretta menegakkan punggungnya, menyambar tas dari kursi dan hendak bergegas pergi. Tapi sebelum itu, dia melabuhkan tepukan pelan di pundak Kalea seolah dia benar-benar peduli pada keadaan perempuan itu.


"Pesan apa pun yang kamu mau setelah ini, aku yang bayar." Kemudian dia berlalu dari sana, meninggalkan Kalea seorang diri dengan perasaan hancur yang terlalu sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2