Serana

Serana
Gerbang Menuju Masalah Baru


__ADS_3

Untuk beberapa lama, Gavin dan Irina saling berpandangan. Sementara suara dari kode akses pintu sudah berhenti dan Gavin yakin seseorang itu sudah berhasil masuk ke dalam unit apartemen Irina.


Gavin mulai memasang sikap waspada. Khawatir kalau seseorang yang baru saja memasuki apartemen Irina adalah seseorang yang sedang mereka bicarakan. Seseorang yang berusaha ikut campur ke dalam rencana mereka dan berniat mengacaukan segalanya.


Namun, kewaspadaan Gavin perlahan-lahan menguap saat suara Irina mengudara.


"Itu pasti Taruna." Kata Irina setelah kontak mata mereka terputus ketika ia lebih dulu menarik pandangan. Ia kemudian menarik diri dari pangkuan Gavin, menyelipkan helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai ke belakang telinga sebelum berjalan ke arah pintu kamar.


Gavin mengerutkan kening saat nama Taruna disebut. Sejak kapan Taruna diberi akses masuk ke apartemen Irina? Dalam rangka apa? Kenapa Taruna perlu mengetahui kode akses di unit apartemen Irina? Apakah ada keadaan darurat yang mengharuskan Taruna masuk dengan cepat ke sini? Keadaan apa? Mengapa Gavin tidak diberitahu?


Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Gavin saat ini, tapi Gavin memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu dan memilih mengekori Irina yang sudah berjalan keluar kamar.


Ketika Gavin dan Irina sampai di pembatas ruang tamu, Taruna sudah berdiri di sana, menenteng kantung makanan cepat saji di satu tangan sedang satu tangan yang lain memegang ponsel. Pemuda berjaket denim itu tampak sedikit terkejut saat mendapati keberadaan Gavin.


"Oh, gue pikir lo udah balik." Kata Taruna. Sejujurnya tidak menyangka kalau Gavin masih ada di sini. Ia pikir, Gavin sudah kembali ke rumahnya.


"Gue mau tunggu kalian berangkat, baru nanti gue balik." Gavin menjawab seadanya. 


Taruna manggut-manggut. Ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya ia masukkan ke dalam saku celana. Kemudian Taruna melayangkan pandangan ke arah Irina, terdiam sebentar sebelum berkata "Gue bawain lo makanan. Makan dulu aja, baru berangkat." Sembari mengulurkan kantung makanan cepat saji kepada perempuan itu.

__ADS_1


Namun alih-alih menerimanya, Irina justru membiarkan kantung makanan itu menggantung di udara. Taruna mengangkat sebelah alisnya, bertanya-tanya mengapa perempuan di hadapannya ini tidak menerima pemberiannya. Padahal Taruna yakin kalau Irina belum memasukkan apapun ke dalam perutnya. Selama menjadi manajer Irina, Taruna telah hafal kebiasaan perempuan itu yang sering malas makan kalau tidak benar-benar dipaksa. Ia bahkan sudah sering membawa Irina ke rumah sakit karena lambung perempuan itu bermasalah.


"Kita langsung berangkat aja." Kata Irina, seolah menjawab pertanyaan yang belum sempat Taruna lontarkan. Sekilas, Irina melirik pada Gavin kemudian kembali menatap Taruna. "Kasihan Gavin, dia harus buru-buru pulang biar istrinya nggak nyariin." Irina memberikan penekanan lebih pada kata istri. Membuat Gavin yang berdiri di sebelahnya meringis dengan dada yang terasa sesak.


Taruna terdiam sejenak sebelum membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepala. Ia tarik kembali kantung makanan yang disodorkan kepada Irina, menyimpannya di samping tubuh. "Yaudah, ayo." Katanya.


"Aku jalan dulu, ya." Pamit Irina sambil menoleh pada Gavin. "Nanti kita lanjutin obrolannya setelah aku selesai kerja." Lanjut Irina. Sebelum berjalan ke arah pintu, Irina menyempatkan diri mendaratkan kecupan di bibir Gavin. Sama sekali tidak merasa malu walau ada Taruna di sana. Toh, itu hanya sebuah kecupan dan ini juga bukan pertama kalinya Taruna menyaksikan bagaimana ia dan Gavin bercumbu. Irina yakin lelaki itu sudah kebal.


"Kabarin aku kalau udah selesai." Kata Gavin. Mendaratkan satu kecupan lagi di bibir Irina sebelum perempuan itu menarik diri.


Irina menganggukkan kepala, berusaha menyunggingkan senyum tipis walau di dalam hatinya masih terdapat banyak hal yang mengganjal.


Gavin memerhatikan bagaimana tubuh ramping itu perlahan-lahan menjauh dari pandangan sampai akhirnya sosok itu menghilang di balik pintu.


Sementara Taruna masih berdiri di tempat, memerhatikan bagaimana ekspresi wajah Irina dan Gavin yang berbeda dari biasanya. Dari situ saja, Taruna tahu ada yang tidak beres di antara dua temannya itu. Sejak Gavin tiba-tiba menutup teleponnya semalam, Taruna juga sebetulnya sudah menaruh curiga. Sempat terpikir olehnya untuk tidak memberitahu Gavin jadwal Irina hari ini. Tapi sekali lagi, Taruna tahu ia tidak punya hak untuk itu.


"Gue titip Irina." Kata Gavin sambil menatap Taruna lekat.


"Aman." Taruna menjawab cepat. Kemudian, ia labuhkan sebuah tepukan di bahu Gavin lalu berjalan menyusul Irina.

__ADS_1


Sepeninggal Taruna, Gavin tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ada begitu banyak hal yang mengganggu pikirannya. Hal-hal itu terasa begitu kusut hingga sulit untuk ia uraikan satu persatu. Gavin pikir, masalah yang akan ia hadapi hanya sebatas meyakinkan Irina bahwa ia tidak akan kemana-mana dan menjaga Kalea agar tidak pernah mengetahui rahasianya. Tapi ternyata, ada variabel tak terduga yang terus-menerus bermunculan hingga membuatnya sakit kepala.


Jengah mengarungi pikirannya yang rumit, Gavin menarik diri. Awalnya ia berniat untuk kembali ke kamar. Ia ingin berdiam diri sedikit lebih lama di kamar Irina agar dirinya bisa menyesapi aroma mawar yang tertinggal di kasur sedikit lebih banyak karena ia sadar tidak akan bisa sering-sering datang ke sini nanti. Namun, niatnya itu sepenuhnya sirna saat ponsel di saku celana bergetar dan ketika diperiksa, muncul nama Kalea di sana.


Bagai sudah di setting otomatis, ketika nama Kalea muncul, maka semua hal yang semula mengganggu pikirannya seketika itu juga akan enyah. Menguap bagai tidak pernah ada. Dengan gerakan cepat, Gavin menggeser log hijau lalu menempel ponsel ke telinga.


"Gavin, kamu masih lama?" suara Kalea menguadara. Gavin merasa ada yang aneh dengan suara perempuan itu. Terdengar lirih dan sedikit bergetar.


"Kenapa, Kal? Kamu butuh sesuatu?" tanya Gavin, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang mulai memenuhi benaknya.


"Perut aku sakit. Boleh nggak, aku minta tolong beliin obat pereda nyeri di apotek kalau kamu pulang nanti?"


"Sure. Kamu tunggu, ya. Saya pulang sekarang." Setelah mengatakan itu, teleponnya dimatikan. Gavin tidak memberikan Kalea kesempatan untuk bicara lagi karena ia tidak mau perempuan itu semakin kesakitan.


Pikiran Gavin kini mulai dipenuhi dengan Kalea. Ia menjadi tidak fokus dan terlalu termakan oleh rasa khawatirnya hingga tanpa sadar justru berjalan keluar melalui pintu unit milik Irina. Padahal, ia tidak pernah melakukannya. Susah payah ia menyembunyikan diri agar tidak tertangkap mata siapapun keluar-masuk unit milik kekasihnya itu. Dan hari ini, karena Kalea, Gavin telah tanpa sadar menyeret dirinya sendiri ke dalam jurang masalah yang lebih rumit.


Sebab tanpa Gavin sadari, seorang pria misterius yang berdiri di balik belokan lorong telah menunggu momen ini sejak lama. Pria itu tersenyum puas, mengeluarkan kamera profesional dan secepat kilat memotret Gavin yang sedang keluar dari pintu unit apartemen Irina.


Selesai mengambil gambar, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jaket dan langsung menelepon seseorang.

__ADS_1


"Mendapatkan bukti Gavin keluar dari unit apartemen Irina, done."


__ADS_2