
Seminggu kemudian...
Ini adalah hari ke-tujuh sejak Kalea dan Gavin hidup terpisah. Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak lagi saling sapa.
Sejak hari kepulangan mereka, hari di mana Kalea meminta cerai kepada Gavin, Kalea memutuskan untuk menarik diri. Dia pindah ke kamar sebelah, enggan tetap tidur di kamar utama yang menyimpan banyak sekali kenangan mereka berdua.
Di kamar itu, Kalea untuk pertama kalinya merelakan dirinya disentuh oleh orang lain. Di kamar itu, Kalea pertama kalinya tahu apa itu surga dunia yang sering orang-orang sebut. Di kamar itu pulalah Kalea akhirnya menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada Gavin, yang dia sendiri tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu dimulai.
Ada terlalu banyak kenangan baik yang mereka ukir di kamar itu, yang bila sekarang dia ingat kembali, justru membuat dadanya semakin sesak dan perih.
Maka, Kalea memilih untuk tidak lagi memijakkan kaki di sana. Demi menjaga agar suasana hatinya tidak semakin buruk dan dia bisa berpikir dengan lebih rasional.
Selama seminggu penuh, Kalea bukan cuma tidur terpisah dari Gavin, dia juga menarik diri sejauh-jauhnya dan meminimalisir kontak dengan lelaki itu. Salah satu cara yang dia lakukan untuk merealisasikan hal itu adalah dengan menyetok air minum dan beberapa makanan siap makan di dalam kamar yang sekarang dia tiduri, supaya jika dia merasa haus dan lapar di tengah malam, dia tidak harus pergi ke dapur dengan risiko akan bertemu dengan Gavin.
Di kamar ini, Kalea menggunakan waktunya untuk merenung, memikirkan kembali keputusan apa yang benar-benar harus dia ambil. Dia mulai membandingkan, keputusan mana yang akan dia pilih dengan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang akan dia buat.
Sejenak, Kalea bimbang. Apakah dia harus benar-benar mengajukan perceraian padahal pernikahan mereka masih seumur jagung, dengan risiko akan membuat Mama dan Papa kecewa, atau dia harus sedikit berlapang dada untuk memberikan Gavin satu kesempatan lagi, mengingat lelaki itu bilang akan segera menyelesaikan hubungannya dengan Irina?
Lagipula, posisinya sebagai istri Gavin jelas masih lebih tinggi ketimbang Irina yang cuma berstatus sebagai kekasih lelaki itu, benar?
Pemikiran semacam itu sempat terlintas di kepala Kalea, tetapi pada akhirnya dia menggeleng keras ketika tertampar fakta bahwa jauh sebelum pernikahan ini dimulai, Gavin terlihat begitu mencintai Irina.
"Kal?!"
__ADS_1
Kalea menoleh ke arah pintu yang sebelumnya diketuk beberapa kali. Dalam tujuh hari ini, Gavin masih terus berusaha untuk membangun kembali hubungan dengannya. Lelaki itu selalu secara rutin mengiriminya sarapan yang diletakkan di depan pintu kamar sebelum berangkat kerja, mengecek kondisinya di malam hari dan memastikan untuk mengganti makanan yang dia tinggalkan dengan yang baru, meskipun kenyataannya semua makanan yang dia tinggalkan tidak pernah disentuh sedikit pun oleh Kalea.
Bukannya Kalea tidak menghargai makanan, dia hanya tidak bisa lagi menerima segala perlakuan baik Gavin terhadap dirinya dengan cara yang sama seperti dulu. Karena, dia mulai berpikir bahwa Gavin juga melakukan hal yang sama untuk Irina.
"Kal, bisa buka pintunya sebentar? Saya cuma mau tahu kalau kamu baik-baik aja di dalam sana!" teriak Gavin lagi, tetapi Kalea sama sekali tidak berniat untuk menyahut. Rasanya, energinya sudah terkuras habis untuk memikirkan langkah mana yang paling baik diambil saat ini, sehingga dia tidak punya lagi energi yang tersisa untuk menanggapi segala omong kosong Gavin.
"Saya tahu kamu marah dan kecewa sama saya, Kal. Tapi, tolong jangan siksa diri kamu sendiri kayak gini. Kamu nggak pernah makan makanan yang saya siapin, saya khawatir kamu sakit."
Kalea tersenyum miring. Kelaparan selama berhari-hari tentu tidak lebih buruk ketimbang sakit yang dia derita di hatinya sekarang.
Masalahnya, setelah apa yang terjadi, Kalea jadi tidak tahu lagi bagaimana caranya kembali percaya pada Gavin. Karena semua omongan Gavin terdengar seperti kebohongan.
"Apapun, Kal. Apapun keputusan kamu, akan saya terima. Nggak apa-apa. Saya rela kalau memang harus melepaskan kamu, kalau itu demi kebahagian kamu. Tapi .. " Gavin menggantungkan kalimatnya. Meskipun kini mereka tidak saling berhadap-hadapan dan Kalea cuma bisa mendengar suara Gavin dari balik pintu, Kalea yakin lelaki itu sedang menarik napas dalam-dalam sekarang, sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Satu minggu. Tolong kasih saya waktu satu minggu untuk setidaknya mengurus kamu lagi seperti dulu. Setelah satu minggu, kamu boleh putuskan apapun. Saya akan terima keputusan kamu dengan lapang dada, karena memang semua ini adalah kesalahan saya."
Kalea tidak menjawab, malah semakin membisu karena kini, kepalanya semakin ribut dan kebimbangannya semakin menjadi-jadi.
Bagaimana ini? Apa yang harus di lakukan? Apakah dia benar-benar harus memberi Gavin satu minggu yang lelaki itu minta?
Tapi ... bagaimana kalau hal itu semakin membuat Kalea sulit untuk meninggalkan lelaki itu? Bagaimana kalau Kalea justru semakin jatuh, dan dia tidak punya daya lagi untuk bangkit, lalu dia harus terjebak selamanya di dalam perasaan yang menyiksa ini?
...****************...
__ADS_1
Gavin masih enggan beranjak dari tempatnya meskipun sejak hampir satu jam ini, Kalea masih tidak kunjung menyahuti perkataannya.
Kini, Gavin terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya di pintu kamar Kalea dengan posisi satu kaki yang diluruskan dan satu lagi ditekuk, digunakan sebagai tumpuan bagi satu tangannya yang terkulai lemas di atas lutut.
Di samping tubuhnya, tergeletak dua ponsel. Dua ponsel yang selama ini tidak pernah dia bawa di waktu yang sama karena ada begitu banyak kebohongan yang dia simpan di sana. Berhubung sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa dia sembunyikan, keberadaan dua ponsel itu tentu sudah tidak ada artinya lagi.
Gavin melirik satu di antara dua ponsel yang layarnya baru saja menyala. Dari pop up notifikasi yang muncul, dia bisa melihat ada begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk, semuanya dari Irina.
Lalu, Gavin mengembuskan napas keras-keras. Padahal, dia sudah menyusun rencana agar dia bisa terus hidup bersama Kalea di dalam ikatan pernikahan dan melepaskan Irina pelan-pelan tanpa membuat perempuan itu terluka dan tetap bisa menjamin keselamatannya setelah mereka berpisah.
Tetapi, belum juga dia sampai di hari di mana rencana itu mencapai kata sempurna, semuanya sudah diporak-porandakan oleh seseorang yang sampai sekarang, dia masih tidak tahu siapa.
Tidak banyak kandidat pelaku yang ada di kepala Gavin, tapi dari sedikitnya kandidat itu, Gavin tidak mendapatkan bukti yang benar-benar bisa membuatnya yakin pada satu kandidat pelaku yang ada.
Bisa saja itu Claretta, tetapi sangkaan itu seketika sirna karena dia sadar bahwa Claretta tidak sepandai itu. Perempuan itu cuma pandai bicara, menyindirnya dengan berbagai kalimat pedas dan menyakitkan, tetapi untuk seniat itu mengumpulkan bukti hubungannya dengan Irina, Gavin tidak yakin Claretta akan mampu.
Lagipula, perempuan itu kelihatannya juga baru tahu tentang hubungannya dengan Irina akhir-akhir ini, karena kalau perempuan itu sudah tahu dari dulu, dia pasti akan menggunakan hal tersebut untuk menggagalkan perjodohannya dengan Kalea.
Lalu ada juga Om Arya. Tapi lagi-lagi Gavin jelas tahu kalau Om-nya itu juga tidak sepandai putrinya. Om Arya dan Claretta sama-sama cuma pandai bicara.
Untuk kandidat pelaku yang lain, Gavin bahkan menemukan lebih banyak ketidakmungkinan yang akhirnya membawanya pada jalan buntu. Benar-benar tidak bisa menebak siapa bajingan yang sudah mengacaukan hidupnya ini.
"Saya masih tunggu jawaban kamu, Kal. Nggak masalah kalau saya harus menunggu selamanya di sini." Ucapnya, sebelum kembali membisu selama berjam-jam ke depan, karena nyatanya Kalea masih berkeras hati untuk tidak membukakan pintu.
__ADS_1
Bersambung