
Selesai menyantap makan malam, Taruna mengangkut semua piring kotor ke wastafel. Tangannya yang sudah terbiasa mengerjakan berbagai pekerjaan rumah bergerak lincah mencuci piring-piring kotor itu, memastikan tidak ada lemak dari minyak yang tersisa agar Irina bisa dengan nyaman menggunakannya kembali esok hari.
Di meja makan, Irina tampak memerhatikan bagaimana Taruna bergerak gesit dari satu tempat ke tempat lain. Cara lelaki itu menangani pekerjaan rumah selalu membuatnya terpesona. Gavin juga andal dalam hal-hal seperti ini, hanya saja, intensitas lelaki itu melakukan pekerjaan rumah yang sama untuk dirinya masih tidak lebih banyak ketimbang Taruna. Gavin laki-laki sibuk, posisinya di perusahaan yang tidak bisa dibilang remeh membuatnya tidak punya sebanyak itu waktu luang untuk dihabiskan bersama.
"Na," panggilnya pelan setelah melihat Taruna selesai menaruh piring terakhir ke rak. Lelaki itu menolehkan kepala sembari mengelap tangannya menggunakan tisu yang tersedia kemudian berjalan mendekat dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk dibaca. Irina tidak tahu apakah Taruna masih menyimpan marah padanya atau tidak. Yang jelas, ketika laki-laki itu sampai di hadapannya dan duduk santai di atas meja makan, Irina cuma bisa terdiam menanti apa yang akan keluar dari belah bibir itu.
Namun alih-alih berbicara, Taruna malah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu, ia menarik pandangan, menatap Irina lekat selama beberapa saat sebelum berucap, "Jam sembilan lewat dua puluh enam, waktunya tidur."
Irina tidak mengatakan apa-apa. Sebab ia tahu, Taruna masih ingin bicara banyak hal. Karena kalau laki-laki itu sudah bicara soal waktu, maka itu artinya ia sedang berada dalam mode manajer, bukan lagi sebagai seorang teman.
"Besok ada jadwal pertemuan dengan klien dari brand komestik A jam 9. Ini jadwal penting, jadi lo nggak boleh telat." Sembari mengatakan itu, Taruna mengeluarkan ponsel dari saku ******. ***** sekejap, mata elang itu telah sepenuhnya fokus pada layar yang menampilkan deretan tulisan. Sementara Irina hanya bisa diam mendengarkan kalimat-kalimat lain yang menyusul setelahnya.
"Jam 1 nya lo ada pemotretan sama brand pakaian B, jam 7 acara makan malam perusahaan sampai jam 9 dan..." Taruna menggantungkan kalimatnya, memberi jeda sebentar untuk meletakkan ponsel ke atas meja dan menatap Irina dengan tangan yang menyilang di depan dada. "Jam 10 temenin gue ke makam."
Persis setelah Taruna mengatupkan bibir, Irina dapat merasakan kepedihan yang terpancar dari sepasang mata elang milik lelaki itu. Saat menyebutkan kata makam, nada suara Taruna berubah drastis. Lelaki itu jelas benci untuk menyebut satu kata itu. Karena dalam banyak kesempatan, Irina lebih sering mendengar Taruna mengganti kata itu dengan sebutan rumah baru.
Walau begitu, Irina tetap menganggukkan kepala. Tidak masalah kalau ia harus menemani Taruna pergi ke sana. Toh, ini bukan yang pertama. Terhitung sudah tiga kali Taruna mengajaknya pergi ke sana dan dalam tiga kali kesempatan itu juga, Irina akhirnya bisa menyaksikan sosok Taruna yang lain. Sosok yang rapuh, yang tidak pernah ditunjukkan di hadapan siapapun juga.
__ADS_1
"Ada lagi?" tanya Irina kemudian.
"Nggak ada. Cuma itu aja." Taruna bangkit, menyambar ponselnya dan sudah bersiap untuk pamit undur diri ketika tangan Irina tiba-tiba menyentuh tangannya. Dengan gerak pelan, perempuan itu membawa tangannya ke dalam sebuah genggaman yang hangat.
Taruna menundukkan kepala, menatap perempuan yang duduk di hadapannya itu lekat.
"Makasih ya, Na." Ucap Irina tiba-tiba, membuat Taruna menaikkan sebelah alisnya dalam kebingungan. Irina jarang mengatakan hal-hal semacam ini. Boleh dibilang perempuan itu bukan tipikal yang suka menunjukkan perasaannya dengan kata-kata. Bukankah wajar jika Taruna merasa keheranan?
"Makasih buat apa?" tanya Taruna. Masih tetap menatap lekat perempuan itu. Berusaha mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mengerubungi kepala.
Hampir tidak terpikirkan oleh Taruna bahwa Irina akan mengatakan itu. Jadi, yang bisa Taruna katakan hanya "Gue manajer lo dan gue dibayar untuk itu, jadi-"
"Bukan sebagai manajer." Sela Irina cepat, membuat Taruna mengatupkan bibir rapat-rapat. "Aku berterimakasih sama kamu sebagai teman."
Tidak ada yang bisa Taruna katakan karena lidahnya mendadak terasa kelu. Dalam tahun-tahun yang ia habiskan untuk berada di sisi perempuan ini, tidak pernah terpikirkan olehnya akan mendapatkan afirmasi semacam ini. Karena memang sejak awal kedatangannya, tujuan Taruna bukanlah perempuan ini. Tapi seperti perkataan bahwa Tuhan senantiasa membolak-balikkan hati manusia, hati Taruna sepertinya juga telah berjalan sedikit jauh dari rencana awal.
"Tetap jadi teman aku ya, Na? Jangan tinggalin aku."
__ADS_1
Taruna tidak punya kalimat untuk menjawab pertanyaan itu. Jadi yang bisa dia lakukan hanya menganggukkan kepala, lalu memeluk perempuan ini seerat yang ia bisa.
Pelukan itu berlalu selama bermenit-menit tanpa diiringi obrolan lain. Sampai akhirnya, pelukan itu terlepas saat dering ponsel milik Irina menginterupsi.
Di layar ponsel yang tergeletak di atas meja itu muncul nama Gavin. Yang seharusnya membuat Irina buru-buru meraih dan menjawab panggilan itu sebelum deringnya berhenti. Sebab ia tahu Gavin tidak punya banyak waktu untuk menghubungi dirinya sesering dulu. Namun alih-alih melakukannya, Irina justru menolehkan kepala kepada Taruna, seperti meminta sebuah saran.
"Na," panggilnya pelan. Taruna tidak menyahut, tapi Irina tahu lelaki itu sepenuhnya menaruh atensi kepadanya. Jadi, ia melanjutkan, "Tolong bilang sama aku untuk nggak angkat telepon ini."
Taruna kehilangan sebagian besar kemampuan bicara saat Irina tanpa diduga memintanya untuk mengatakan hal itu. Padahal seperti yang semua orang tahu, Irina begitu terikat pada Gavin dan perempuan itu tidak pernah mau melewatkan satu detik pun momen bersama lelaki itu. Tapi kini, apa yang barusan Taruna dengar? Irina ingin ia melarangnya mengangkat telepon dari Gavin? Ini pertanda apa? Haruskah Taruna merasa senang, atau justru sebaliknya?
"Na?" panggil Irina lagi saat Taruna tak kunjung mengatakan apa-apa. Sementara ponsel itu terus meraung-raung meminta perhatian.
"Jangan di angkat." Ucap Taruna pelan. Kemudian, saat mata mereka bertemu dalam satu garis lurus yang nyata, Taruna mengulangi kalimatnya. "Untuk sekali ini aja, jangan angkat telepon dari Gavin. Supaya dia tahu, lo nggak akan selalu ada di sana kalau suatu saat dia berbalik mencari lo setelah apa yang terjadi. Supaya dia tahu, dunia ini nggak berporos ke dia."
Tepat setelah Taruna selesai mengatakan itu, dering ponsel berhenti. Irina merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Bukankah seharusnya ia merasa kecewa karena telah melewatkan satu kesempatan untuk bersapa dengan kekasih yang dicintainya? Tapi kenapa ia justru merasa sedikit lega?
Akhirnya, tanpa apa-apa, Irina kembali ke dalam pelukan Taruna. "Makasih, Na. Makasih."
__ADS_1