
Setengah tujuh pagi, saat Gavin merasakan tubuh kecil Kalea menggeliat pelan di dalam pelukannya, Gavin mencoba menarik tubuh itu agar lebih dekat dengannya. Kantuk yang menyerang dirinya akibat semalaman tidak tidur demi memastikan Kalea aman sama sekali tidak membuat Gavin terganggu.
"Gavin?" panggil Kalea dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Tidur lagi aja. Baru setengah tujuh." Ucap Gavin tanpa berniat melepaskan Kalea dari dalam pelukannya. Diusapnya pelan lengan Kalea demi menyalurkan sedikit lagi kenyamanan. Atau barangkali, Gavin melakukan itu sebagai upaya untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Aku udah nggak apa-apa, Gavin." Kalea berusaha meloloskan diri dari dekapan Gavin. Beruntungnya, laki-laki itu mau berbaik hati sehingga kini ia bisa memaku tatap pada manik kelam Gavin yang jelas sekali terlihat lelah.
"Semalam cuma sedikit kaget. Sekarang udah nggak apa-apa." Kata Kalea lagi, berusaha meyakinkan Gavin bahwa kondisinya sudah kembali stabil.
"Maaf," ucapan maaf yang tiba-tiba terlontar dari bibir Gavin sontak membuat Kalea menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Jangan minta maaf, ini bukan salah kamu." Kalea menyentuh wajah Gavin, untuk pertama kalinya berani mengusap pipi itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Aku nggak mau ngeliat kamu merasa bersalah untuk sesuatu yang bukan kesalahan kamu."
"Ini jelas salah saya, Kal. Saya gagal melindungi kamu." Kabut bening mulai menyelimuti mata Gavin yang memerah. Suaranya sedikit bergetar, perpaduan antara rasa sedih dan amarah.
"Bukan salah kamu." Tegas Kalea. "Ini bukan salah kamu, tanamkan itu di kepala kamu mulai sekarang."
Gavin membuang napas keras-keras. Direngkuhnya kembali tubuh Kalea. Kepala perempuan itu ia usap beberapa kali. "Saya akan cari pelakunya sampai dapat, Kal. Nggak akan saya biarkan siapa pun menyakiti kamu." Bisik Gavin tepat di telinga Kalea.
Kalea tidak berkata apa-apa, dia cuma menganggukkan kepala dari dalam pelukan Gavin, sesekali kembali menyesapi aroma maskulin yang anehnya seolah melekat sempurna di tubuh Gavin. Aroma khas yang Kalea tahu tidak akan bisa dia temukan di tubuh siapa pun.
Bermenit-menit mereka hanya diam dan saling berpelukan. Sampai akhirnya suara yang muncul dari perut Kalea yang keroncongan membuat keduanya serempak menarik diri dan saling berpandangan selama beberapa saat.
Ledakan tawa tidak dapat dihindarkan. Berkat kejadian mengerikan semalam, Kalea tidak sempat mencicipi masakan yang sudah Gavin siapkan. Dia sibuk menangis dan berusaha menenangkan diri. Jadilah sekarang perutnya benar-benar kosong.
__ADS_1
Gavin, sebagai suami siaga tentu tidak akan membiarkan istri yang dia sayangi kelaparan. Maka, dia buru-buru bangkit dari kasur. Tapi belum sampai kakinya menyentuh lantai, Gavin berhenti. Dia menoleh ke arah Kalea dan diam sebentar, tampak berpikir.
"Kenapa?" tanya Kalea yang sudah dalam posisi duduk. Melihat Gavin hanya terdiam bengong di hadapan tentu memunculkan tanda tanya di kepala.
"Ikut saya ke dapur. Mulai sekarang, saya nggak akan ninggalin kamu sendirian." Bahkan kalau perlu, saya akan bawa kamu ikut saya ke kamar mandi. Gavin hanya mengatakan kalimatnya sebagian, sebaris yang terakhir hanya dia katakan di dalam hati sebab dia tidak ingin membuat suasana menjadi aneh dan canggung.
"Aku di sini aja." Tolak Kalea. Sebenarnya, dia juga takut ditinggal sendirian. Tapi... kalau boleh jujur, dia masih merasakan sakit di tubuhnya dan berjalan menuruni tangga adalah sebuah tantangan tersendiri untuknya. Iya, kalian boleh mengatai Kalea manja, tidak apa-apa. Karena pada kenyataannya dia memang anak Mama yang terpaksa mengambil peran sebagai seorang istri tanpa persiapan apa-apa.
"Nggak, kamu harus ikut saya." Gavin dan keras kepalanya.
Tanpa aba-aba, bahkan tanpa bersusah payah untuk meminta ijin, Gavin langsung mengangkat tubuh Kalea dari kasur dan membopongnya.
Kalea tersentak, tetapi dia seolah tidak punya tenaga untuk melawan ketika manik kelam Gavin menatapnya begitu intens seolah memberinya kode untuk menurut.
"But," Gavin tiba-tiba menghentikan langkahnya di anak tangga ke-tiga. Ia menatap Kalea serius. Tatapannya kemudian turun menuju belah bibir Kalea yang tampak berkali-kali lipat lebih menggoda ketimbang sebelumnya. "Can I get my morning kiss first?"
"Kamu mau masak apa?" tanya Kalea yang tidak bisa diam di tempat duduknya.
Sedari beberapa menit yang lalu, Gavin sudah disibukkan dengan berbagai macam bahan makanan yang dikeluarkannya tanpa ragu dari dalam kulkas. Melihat punggung lebar Gavin terus bergerak ke sana kemari membuat dada Kalea kembali berdebar-debar.
"Kamu nggak punya hak untuk bertanya semenjak kamu menolak memberikan morning kiss yang sudah menjadi hak saya." Gavin menjawab tanpa menolehkan kepala, membuat Kalea mendengus sebal.
Kemudian tidak ada lagi protes yang meluncur dari belah bibirnya. Kalea menggolekkan kepala di atas meja makan, memandangi Gavin yang bergerak cekatan menyiapkan makanan tanpa banyak bicara.
Tidak sampai dua puluh menit kemudian, Gavin berjalan menghampirinya dengan semangkuk sup yang masih mengepulkan asap. Lelaki itu meletakkan mangkuk sup di atas meja dan Kalea praktis mengangkat kepalanya dari sana.
__ADS_1
"Sup ayam?" tanya Kalea. Matanya memandangi sup ayam dan Gavin secara bergantian.
"Iya." Gavin menjawab singkat. Dia melenggang pergi dan kembali tak lama kemudian sambil membawa dua piring nasi untuk dirinya dan Kalea.
"Tahu dari mana kalau aku suka sup ayam?" tanya Kalea setelah Gavin duduk di sebelahnya.
"Harus banget kamu nanya itu?" Gavin menoleh, menampakkan raut kesal yang sejatinya hanya dibuat-buat, dia hanya sedang ingin menggoda Kalea tentang morning kiss yang tidak berhasil dia dapatkan.
Diberi jawaban seperti itu, Kalea memberengut. Dengan gerakan yang sedikit mengentak, Kalea mulai menyendokkan nasi ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan mau tidak mau. Ia tidak menyentuh sup ayam yang sudah Gavin masak dan hanya terus menerus menyuapkan nasi, membuat Gavin tidak kuasa menahan gelak tawa. Sungguh, Kalea tampak sangat lucu kalau sedang merajuk.
Sadar dirinya sedang ditertawakan, Kalea melirik sinis ke arah Gavin. Yang tentu saja membuat gelak tawa lelaki itu semakin menjadi-jadi.
Kesal karena Gavin terus menertawakan dirinya (entah karena apa), Kalea melayangkan pukulan pelan ke bahunya. "Jangan ketawa, nanti keselek!" dalihnya.
Bukannya berhenti, gelak tawa Gavin malah semakin keras. Seolah laki-laki itu memang sengaja ingin menggodanya.
"Gaaaaaviiiinnnn..." rengek Kalea tiba-tiba.
Dan rengekan itu ternyata cukup ampuh untuk membuat Gavin menghentikan gelak tawanya. Laki-laki itu menatap Kalea lekat-lekat.
"Iya, iya. Saya nggak ketawa lagi." Katanya dengan suara super lembut. "Kamu juga jangan ngambek lagi, makan sup ayamnya." Sambungnya sembari mendorong mangkuk sup agar lebih dekat ke arah Kalea.
Salah tingkah karena disodori tatapan dan suara yang selembut itu, Kalea pun menurut saja. Dia mulai menyendok sup ayam buatan Gavin dan menjejalkannya ke dalam mulut. Menelannya dengan susah payah karena koloni kupu-kupu di dalam perutnya kembali membuat ulah.
Sementara itu, di sampingnya, Gavin hanya diam dan memerhatikan bagaimana Kalea makan. Sembari berpikir bagaimana caranya dia menemukan pelaku pengirim teror itu agar dia bisa melihat Kalea makan seperti ini untuk waktu yang lama ke depannya.
__ADS_1
Bersambung