Serana

Serana
Heartbreak


__ADS_3

Alunan musik yang berdentam-dentam, asap rokok yang menguar berputar-putar di udara, juga aroma alkohol yang menusuk indera penciuman sama sekali tidak menyurutkan niat Irina untuk tetap melangkah, membelah kerumunan manusia yang asik meliukkan badan di lantai dansa. Tujuannya hanya satu, meja bar tempat si bartender tampan sudah menunggunya dengan senyum cerah yang tersungging sempurna.


"Hai," sapa si bartender berusia awal dua puluhan itu. Rambutnya sekarang di cat blonde, menggantikan rambut biru gelap yang minggu lalu menunjang penampilannya.


"Biasa ya, Ga." Ucap Irina setelah membalas senyuman Raga, si bartender tampan yang dielu-elukan para pelanggan.


"As you wish, pretty." Tak lama, Raga mulai asik meracik minuman. Lengan kekarnya yang berotot bergerak lincah menyerut es batu hingga menjadi bentuk bulat sempurna kemudian memasukkannya ke dalam gelas lalu menyiramnya dengan cairan alkohol berwarna kecoklatan.


"Here you go." Irina meraih gelas yang disodorkan ke hadapannya, memandanginya sebentar sebelum menenggak minuman keras itu dalam satu kali tegukan.


"Satu lagi, Ga." Pintanya. Dengan senang hati, Raga membuatkan segelas lagi.


Sementara Raga sibuk meracik minuman, Irina melemparkan pandangan ke arah dance floor, pada belasan manusia yang berdansa dengan bebas, sepenuhnya melepaskan topeng yang selama ini mereka pakai di hadapan publik. Iya, klub ini adalah klub eksklusif khusus kalangan selebritis. Mulai dari selebritis papan atas sampai yang baru debut semuanya berbaur menjadi satu, meniadakan jarak yang biasa dibentangkan saat mereka ada di muka publik. Di sini, semua orang menjadi dirinya sendiri. Keamanan yang tinggi di mana semua orang yang datang tidak diperbolehkan membawa ponsel atau alat perekam apapun membuat orang-orang bisa dengan tenang melakukan semua yang mereka mau. Termasuk menyelundupkan beberapa orang dari kalangan non selebritis yang sedang mereka kencani.


"Si Mahesa Gavin itu bukannya pacar lo ya, Kak? Kok tadi siang gue lihat berita dia nikah sama perempuan lain, sih?"


Irina menoleh, menemukan Gabriel Permana sudah duduk anteng di stool bar, menyunggingkan senyum kurang ajar yang demi Tuhan membuat Irina ingin melayangkan tinju mentah ke wajah tampannya.


"Jadi, Mahesa Gavin itu beneran pacar lo atau bukan?" tanya Gabriel lagi dengan raut wajah yang semakin menyebalkan.


Irina memutuskan untuk tidak menjawab. Ia larikan pandangan ke arah lain, namun seketika itu juga merutuk saat mendapati sepasang selebritis perempuan tengah bercumbu di salah satu meja. Salah satu yang berambut pendek tampak naik ke pangkuan yang berambut pirang sepunggung, mendaratkan kecupan-kecupan ringan sambil tertawa cekikikan. Irina kenal dua selebritis itu, mereka adalah aktris dan penyanyi yang sedang naik daun belakangan ini. Yang membangun image down to eart sehingga orang-orang menyanjung mereka dengan berbagai kalimat pujian. Siapa yang menyangka kalau mereka berdua adalah penyuka sesama jenis? Tidak ada.

__ADS_1


"Kalau tahu begini, mending kita realisasikan aja nggak sih Kak gosip yang lagi santer? Mending kita beneran pacaran, hitung-hitung balas dendam ke Mahesa Gavin?" tawar Gabriel.


Irina masih tidak menghiraukan kicauan Gabriel. Sampai tiba-tiba seorang pria berusia akhir dua puluhan datang menghampiri mereka dan langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibir Gabriel.


Irina sudah tidak terkejut lagi dengan pemandangan semacam ini. Sebab sudah menjadi rahasia umum di kalangan selebritis bahwa bocah ingusan ini adalah seorang pecinta sesama jenis. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang dia kencani di usianya yang terbilang masih muda. Yang jelas, Irina sudah beberapa kali mendapati Gabriel bercumbu dengan beberapa pria yang berbeda setiap kali mereka bertemu di klub ini.


"Kalau mau mesum, minimal lihat situasi. Jangan di depan mata gue." Sindir Irina yang hanya ditanggapi dengan sebuah kekehan oleh Gabriel. Sedangkan kekasih dari pemuda itu tampak tidak peduli sama sekali akan eksistensi Irina di sana. Pria itu terus melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir Gabriel, sesuatu yang membuat perut Irina mendadak terasa mual.


Mulanya Irina berniat untuk bangkit dari tempatnya dan mencari spot lain untuk menghabiskan minumannya yang baru saja diantarkan oleh Raga. Namun niatnya urung saat sebuah American Express mendarat di atas meja bar, membuatnya dan Raga serempak menoleh.


Sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Irina bahwa dia akan menemukan Taruna di sana, berdiri menjulang dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai ke batas siku dan tiga kancing teratasnya terbuka, membuatnya bisa mengintip dada bidang lelaki itu dengan sedikit lebih jelas. Rambut hitam pekat Taruna yang biasa ditata rapi kini tampak sedikit berantakan, tapi anehnya hal itu justru membuat penampilannya menjadi lebih menarik.


"Bukain room buat pasangan mesum ini, gue udah nggak tahan lagi ngeliat kelakuan mereka yang menjijikkan." Kata Taruna dengan suara datar, namun jelas sekali ketidaksukaan itu tampak dari sepasang manik matanya yang melirik sinis pada Gabriel dan kekasihnya yang terpaksa berhenti sejenak dari kegiatan mereka.


Taruna menoleh pada Raga dan menatap lelaki itu tajam. "Mata lo buta? Nggak bisa lihat kalau yang barusan gue lempar itu apa?" tanyanya sinis.


Raga terkeleh mendengar ucapan Taruna. Lelaki itu memang terkenal ramah dan sangat profesional dalam urusan pekerjaan, tapi kalau sudah menyangkut kehidupan pribadi, Taruna akan selalu bertindak tegas bahkan cenderung kasar pada orang-orang yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Satu room VVIP siap ditempati. Follow me." Ucap Raga sembari mengambil American Express milik Taruna.


"Kami bisa bayar room sendiri kalau mau." Sela pria si kekasih Gabriel.

__ADS_1


"Gue lagi nggak berbaik hati bayarin room buat kalian karena gue mau. Ini semua gue lakuin buat melindungi mata gue dari makhluk seperti kalian. Jadi, better kalian pergi sekarang kalau nggak mau ada keributan." Ucap Taruna santai. Ia kemudian duduk di stool bar di samping Irina, merebut gelas whiski dari genggaman perempuan itu kemudian langsung meneguk minuman keras itu sampai tandas.


Irina cuma diam saja saat Taruna melirik ke arahnya sekilas dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diartikan. Kemudian desisan yang keluar dari belah bibir pria yang bersama Gabriel itu menarik perhatiannya. Ia bisa melihat kilat amarah yang kentara di mata pria itu. Mungkin kalau Gabriel tidak menahan lengannya sekuat tenaga, pria itu akan langsung menerjang Taruna saat ini juga.


"Udah, kita pergi aja. Jangan bikin keributan di sini." Cegah Gabriel saat kekasihnya hendak berjalan mendekat ke arah Taruna.


Setelah itu mereka betulan pergi, meninggalkan Irina dan Taruna bersama keheningan yang perlahan-lahan menguasa.


Di tengah keheningan itu, Irina kembali teringat pada ucapan Gabriel beberapa saat lalu. Ia masih bertanya-tanya, dari mana bocah bau kencur itu tahu tentang hubungannya dengan Gavin? Padahal selama ini Irina yakin telah menyembunyikan hubungan mereka dengan baik. Atau jangan-jangan, berita ini memang sudah menyebar di kalangan selebritis? Bagaimana bisa?


"Lo mau lanjut minum di sini, atau di apartemen aja?"


Irina menoleh, hanya untuk menemukan Taruna sedang bermain dengan gelas whiski yang telah kosong, menyisakan sebongkah es batu yang mulai mencair.


"Stok wine di apartemen aku udah habis." Tutur Irina. Ketika matanya menangkap sosok Raga yang baru saja kembali, ia segera membuat gestur untuk mengatakan pada lelaki itu agar membuatkannya minuman baru. Raga memahami kode yang Irina berikan dan langsung meracik minuman setelah mengembalikan American Express milik Taruna.


"Mau habisin berapa gelas?"


Irina mengangkat bahu. Sama sekali tidak terpikir olehnya akan berapa banyak alkohol yang dia tenggak malam ini. Yang jelas Irina cuma mau sedikit melupakan kesedihannya atas pernikahan Gavin.


"Habisin sebanyak yang lo bisa, gue yang bayar." Setelah mengatakan itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara keduanya.

__ADS_1


Gelas demi gelas yang disodorkan oleh Raga langsung disambut dengan senang hati oleh Irina. Perempuan itu meneguk minumannya dengan cepat, mengabaikan perih di tenggorokan karena itu tidak seberapa dibanding perih yang terasa di hatinya. Irina berusaha keras menghilangkan bayangan Gavin yang tersenyum lembut pada Kalea siang tadi. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang Gavin lakukan hanya bagian dari rencana mereka. Agar pernikahan ini lancar dan mereka tetap bisa mempertahankan hubungan.


I'll believe you, Vin. I'll try.


__ADS_2