Serana

Serana
Special Guest


__ADS_3

Sebelah alis Karel terangkat naik saat seorang laki-laki seusianya muncul dari balik pintu yang terbuka. Laki-laki itu tersenyum ramah dengan tatapan yang jelas tertuju pada Kalea. Satu tangannya menenteng keranjang berisi buah-buahan, satu tangan yang lain memegang buket bunga Hydrangea warna biru.


Karel tidak ingat siapa nama laki-laki yang kini sudah berdiri di hadapannya itu, dia cuma ingat kalau laki-laki ini pernah datang ke pernikahan Gavin dan Kalea beberapa bulan lalu.


"Halo, Kalea." Sapa lelaki itu sembari tersenyum hangat.


Kalea menoleh ke arah Kalea untuk memeriksa. Tetapi dia justru dibuat kebingungan saat Kalea tak kunjung membalas senyuman itu dan malah menatap laki-laki di hadapan mereka dengan tatapan kebingungan.


"Taruna, ngapain di sini?" tanya Kalea masih dengan kening yang berkerut.


"Menanam padi." Sahut Taruna. Tapi, tidak ada yang tertawa. Padahal dia sedang berusaha melontarkan candaan supaya suasana tidak canggung-canggung amat.


Tahu candaannya berakhir garing, Taruna berdeham beberapa kali untuk melegakan tenggorokan. Kemudian, dia mengulurkan buket bunga yang sedari tadi dia pegang kepada Kalea. Perempuan itu memandangi buket bunga yang dia ulurkan cukup lama, sampai akhirnya buket bunga itu berpindah tangan karena Karel merebutnya.


"Makasih," ucap Karel sembari meletakkan buket bunga itu di atas nakas. Lalu seperti manusia yang tidak punya sopan santun, dia juga merebut keranjang berisi buah-buahan dari tangan Taruna dan meletakkannya di sebelah buket bunga tadi. "Yang ini juga makasih."


Taruna tersenyum tipis. Setidaknya, pemberiannya dihargai. Walaupun kedatangannya menimbulkan kebingungan untuk dua orang di hadapannya ini.


"Saya serius, kamu tahu dari mana saya dirawat di sini?" tuntut Kalea yang masih penasaran dari mana Taruna tahu kalau dirinya dirawat.


"Gavin."


Bertambah kentara kerutan di kening Kalea ketika nama Gavin disebut. Menyadari hal itu, Taruna langsung memberikan penjelasan tambahan.


"Kemarin nggak sengaja ketemu di depan, kebetulan Sierra juga lagi dirawat di rumah sakit ini. Kebetulan lagi, ruang rawat inapnya persis di sebelah." Taruna sambil menunjuk ke arah kiri. Kemudian, laki-laki itu tersenyum. "Kalau kamu sudah boleh jalan-jalan, mungkin bisa mampir ke sebelah buat jengukin Sierra."


"Sierra sakit apa?" Kalea menegakkan punggungnya. Dia melirik Karel sekilas untuk memberi kode agar pemuda itu tidak membuka mulutnya dulu untuk menyela.

__ADS_1


"Bronkitis-nya kambuh." Jelas Taruna.


"Sierra punya bronkitis?"


Taruna cuma mengangguk. Kemudian, laki-laki itu mengalihkan pandangan ke arah Karel dan tersenyum tipis. "Kita belum kenalan, ya?" tanyanya. Lalu saat Karel mengangguk, Taruna segera mengulurkan tangan degan senyum yang kian terkembang. "Kenalkan, saya Taruna, temannya Kalea."


Bukan cuma Karel yang terkejut saat Taruna memperkenalkan diri sebagai teman Kalea, tetapi Kalea sendiri juga terkejut. Karena, sejak kapan dia dan Taruna berteman?


Meskipun demikian, Kalea tidak mengatakan apa-apa dan Karel tetap menerima uluran tangan Taruna dan menjabatnya sebentar.


"Karel." Tidak seperti Taruna yang menyebutkan nama dan statusnya, Karel cuma menyebutkan namanya saja kemudian segera menarik kembali tangannya.


Taruna tidak keberatan akan hal itu. Karena sebenarnya, dia sudah tahu nama pemuda di hadapannya ini. Bukan cuma nama, Taruna bahkan tahu jauh lebih banyak tentang Karel dan hal-hal yang berkaitan dengan pemuda itu. Bahkan sampai hal-hal yang mungkin Kalea, selaku teman baiknya, tidak tahu.


"Sejak kapan Sierra dirawat?" Kalea menyela setelah hening cukup lama melingkupi Karel dan Taruna.


"Bronkitis-nya separah itu?" tanya Kalea lagi. Sepengetahuannya, bronkitis adalah sebuah penyakit yang diakibatkan oleh peradangan atau iritasi di salah satu bagian di paru-paru yang mengakibatkan tersendatnya aliran oksigen ke paru-paru sehingga menyebabkan penderitanya akan kesulitan bernapas. Dia hanya tidak bisa membayangkan betapa kasihannya jika penyakit itu diderita oleh anak seusia Sierra.


"Cukup parah. Tapi sekarang kondisi Sierra sudah oke. Kalau nggak ada kendala lagi, besok siang saya mau bawa dia pulang."


Meskipun Taruna mengatakan itu dengan senyum yang tak luntur, Kalea tetap bisa merasakan kesedihan yang tersembunyi dari suara laki-laki itu. Jelas, ayah mana yang tidak akan sedih melihat putrinya sakit? Meskipun belum pernah menjadi orang tua, tetapi Kalea cukup paham akan perasaan Taruna.


"Ah ... Saya harus kembali ke ruang rawat Sierra, takutnya dia rewel nyariin saya." Ucap Taruna setelah melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


"Setelah makan siang, saya mau jenguk Sierra." Kata Kalea, yang langsung diangguki oleh Taruna.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Semoga kamu juga lekas sembuh, ya, Kalea."

__ADS_1


Kemudian setelah memaku tatap selama beberapa detik dengan Karel, Taruna berlalu dari sana. Di setiap langkah yang dia ambil untuk menjauh dari ruangan itu, senyumnya perlahan-lahan luntur. Otot-otot di sekitar lehernya mulai terlihat dan kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuh.


Sementara itu, Karel dan Kalea cuma bisa terdiam memandangi punggung Taruna sampai akhirnya sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu.


Tidak menunggu lama, tepat ketika pintu kembali ditutup, Karel segera menoleh ke arah Kalea dan melempari perempuan itu tatapan menyelidik.


Merasa sedang dicurigai atas hal yang dia sendiri tidak tahu, Kalea pun cuma bisa menghela napas berkali-kali.


"Apa?" pasrahnya saat Karel tak kunjung mengalihkan pandangannya.


"Gue curiga sama orang tadi."


"Curiga kenapa?"


"Aura-nya aneh."


Kalea terdiam sejenak. Dari awal pertemuan mereka di supermarket berbulan-bulan lalu, Kalea juga sudah merasakan ada yang aneh dengan Taruna. Tetapi, dia berusaha keras mengenyahkan pemikiran itu karena toh dia tidak mengenal baik laki-laki itu dan tidak ada alasan yang cukup masuk akal juga untuknya menaruh curiga.


Tapi sekarang, ketika Karel yang baru pertama kali terlibat percakapan dengan Taruna mengatakan hal yang sama, Kalea tidak mampu lagi menghalau kecurigaannya lebih lanjut.


Meskipun Karel terkesan usil dan jarang sekali bisa bersikap serius, tetapi Kalea jelas tahu bahwa feeling seorang Karelino Gautama itu tidak bisa disepelekan. Dia sudah membuktikan sendiri. Dalam beberapa kesempatan, Karel berhasil menunjukkan bahwa feeling yang dia miliki selalu tepat sasaran.


"Aku juga merasa ada yang aneh sama Taruna, apalagi kalau dia lagi sama Gavin." Kalea berucap dengan tatapan yang tertuju lurus ke pintu, seolah masih ada Taruna di baliknya. "Tapi kita nggak boleh berpikiran buruk sama orang, kan? Lagian, dia juga nggak pernah berbuat yang aneh-aneh."


Walaupun masih ada yang terasa mengganjal di hati, tetapi Karel tetap menganggukkan kepala dan mengamini apa yang Kalea katakan, tanpa sedikitpun berniat untuk menurunkan kewaspadaan.


Mulai sekarang, dia akan mengawasi laki-laki bernama Taruna itu untuk memastikan dia tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan Kalea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2