
Gavin cuma bisa menghela napas berkali-kali saat mendapati Karel terus-menerus menempel pada Kalea. Laki-laki itu tidak membiarkan Kalea lepas sedikit pun dari sisinya. Terus mengikuti ke mana langkah kaki kecil Kalea pergi persis seperti anak itik yang terus mengekori induknya.
Di sebelahnya, Mama yang melihat raut wajah masam Gavin hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia jelas paham kalau menantunya ini sedang merasa cemburu, sekaligus kesal karena Kalea lebih asik bermain dengan Karel sejak pagi.
"Mereka memang udah dekat banget, Vin. Udah seperti saudara kandung." Kata Mama pada akhirnya. Sejak tadi ia sudah gatal ingin mengatakan itu kepada Gavin, tetapi masih ditahan. Dan saat melihat Gavin mulai duduk dengan tidak tenang, barulah Mama angkat bicara.
Gavin menoleh, menatap Mama sebentar sebelum mengembuskan napas berat sekali lagi dan kembali mengalihkan pandangan pada Karel dan Kalea yang kini sedang berbincang asik di ruang tamu. Entah apa yang dua orang itu bicarakan.
"Maaf, ya, kalau Kalea belum bisa menjaga jarak dengan Karel."
Mendengar Mama mengatakan itu, Gavin kembali menolehkan kepala. Wanita itu tersenyum padanya, senyum keibuan yang seketika membuatnya merasa bersalah. Kalau Mama tahu manusia seperti apa dirinya ini, apakah Mama masih akan bisa bersikap baik?
"Pelan-pelan, ya, Vin. Mama yakin Kalea juga sedang berusaha untuk membatasi diri." Sembari mengatakan itu, Mama mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Gavin dan mengusapnya pelan.
Gavin memandangi tangannya yang sedang diusap oleh Mama dengan perasaan yang carut-marut. Rasa bersalah ini, barangkali akan terus Gavin bawa sampai akhir hidupnya nanti.
"Gavin!"
Gavin dan Mama serempak menoleh ke arah ruang tamu. Kalea berlarian dari sana, tergopoh-gopoh sambil menenteng anak kucing yang seluruh tubuhnya penuh lumpur. Gavin mengerutkan kening, dari mana asalnya anak kucing itu? Dan... bukankah tadi Kalea masih asik bersama Karel di ruang tamu? Kenapa dalam sekejap perempuan itu sudah menenteng makhluk kecil berbulu ini?
"Kal, itu kamu dapat anak kucing dari mana?" Mama bangkit dari duduknya. Bergerak panik menghampiri Kalea yang anteng-anteng saja menenteng si anak kucing tak berdosa.
"Tadi Kalea dengar suara meong dari kolong mobil Gavin, pas Kalea cek ternyata ada si manis ini." Kalea menjelaskan dengan senyum yang mulai tersungging.
Sementara itu, tidak seperti Mama yang berani dekat-dekat dengan anak kucing dalam tentengan Kalea dan bahkan mengusap kepala anak kucing itu pelan, Gavin malah bergerak menjauh. Ia bangkit dari duduknya, mengambil langkah mundur demi menghindari makhluk berbulu itu.
Pergerakan Gavin itu rupanya tertangkap oleh mata Kalea sehingga perempuan itu malah bergerak maju masih dengan menenteng anak kucing di tangannya.
__ADS_1
"Kal, stop!" cegah Gavin saat Kalea hendak berjalan ke arahnya. Ia menyodorkan kedua tangannya ke depan sebagai pertanda agar perempuan itu berhenti melangkah.
Kalea betulan berhenti melangkah. Tapi kerutan mulai muncul di keningnya tanpa bisa dihindari.
"Kenapa? Kamu nggak suka kucing?" raut wajah Kalea tampak muram. Padahal, dia berniat untuk meminta ijin Gavin supaya bisa memelihara bocah lucu ini. Tapi kalau ternyata Gavin tidak suka kucing, Kalea harus bagaimana?
"Bukan gitu," sela Gavin cepat.
"Terus apa?"
"Saya..." Gavin berhenti sejenak. Melarikan pandangan pada Mama, Kalea dan Karel yang baru saja muncul di belakang tubuh Kalea. Ketiga orang itu sedang menatapnya, menunggu jawaban. Hela napas lolos sebelum Gavin melanjutkan kalimatnya. "Saya alergi bulu kucing."
Refleks, setelah kepalanya berhasil mencerna informasi yang Gavin berikan, Kalea menyembunyikan anak kucing itu di belakang tubuhnya. Secepat yang dibisa, Kalea mundur empat langkah.
"Maaf, aku nggak tahu." Kata Kalea penuh penyesalan. Ternyata, dia tidak tahu apa-apa soal Gavin. Bagaimana kalau Gavin sempat celaka karena kecerobohannya? Kalea tahu reaksi alergi orang terhadap sesuatu itu berbeda-beda. Bagaimana jika reaksi alergi Gavin terhadap bulu kucing cukup berat? Kalea dengar efeknya bisa sampai menyebabkan sesak napas.
"Nggak apa-apa, Kal." Gavin berusaha menenangkan saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Kalea. Ia menegakkan badan, berusaha meyakinkan Kalea bahwa dia baik-baik saja. "It's ok."
Kalea hendak menyusul Karel. Ia juga ingin membantu memandikan anak kucing lucu itu. Tetapi ia ingat bahwa kini Gavin jauh lebih penting untuk diurusi. Dia sudah bermain dengan Karel sejak pagi, jadi sedikit banyak Kalea merasa bersalah pada Gavin karena sekali lagi telah mengabaikan keberadaan suaminya itu walau dia tidak pernah benar-benar berniat untuk melakukannya.
"Kamu udah lapar belum?" tanya Kalea tiba-tiba, membuat Gavin dan Mama saling pandang selama beberapa saat.
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" tanya Gavin kemudian. Alisnya bertaut saat matanya bersirobok dengan milik Kalea.
"Aku temenin kamu makan, ya? Tadi pagi kamu cuma makan sedikit."
Gavin masih tidak menjawab. Kepalanya terlalu sibuk menerjemahkan sikap Kalea yang menurutnya aneh.
__ADS_1
"Gavin?"
"Iya." Gavin menjawab cepat setelah kesadarannya kembali.
Setelah mendapat jawaban, Kalea pun bergegas berjalan ke dapur. Ia harus lebih dulu mencuci tangan. Jadi hal pertama yang dia lakukan ketika mencapai wastafel adalah menghidupkan keran dan segera membasuh tangannya hingga bersih menggunakan sabun dan air mengalir.
Selesai dengan urusan cuci tangan, Kalea kembali menghampiri Gavin yang masih berdiri di ruang tengah. Segera Kalea menggamit lengan Gavin dan menyeret laki-laki itu menuju dapur.
Gavin menurut saja. Ia biarkan tubuhnya dituntun oleh Kalea dan diarahkan untuk duduk di salah satu kursi. Kemudian, Kalea bergerak cepat mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi serta berbagai macam lauk pauk.
"Ayo, buka mulutnya." Perintah Kalea sembari menyodorkan satu sendok makanan ke depan mulut Gavin.
Lagi-lagi Gavin menurut dan langsung membuka mulutnya tanpa banyak protes. Dalam gerak lambat, ia mulai mengunyah makanan itu sembari terus menatap Kalea kebingungan.
"Gavin," panggil Kalea pelan.
"Hmm?" Gavin hanya berdeham karena ia masih sibuk mengunyah. Tatapannya masih tidak lepas dari Kalea.
"Selain bulu kucing, kamu alergi apa lagi?"
Kunyahan itu praktis terhenti. Ada yang terasa mengganjal di tenggorokannya saat pertanyaan itu sampai ke otaknya dan berhasil ia cerna.
"Aku merasa bersalah karena nggak tahu banyak soal kamu." Kalea berucap sedih. Sedikit menundukkan kepala, menatapi piring berisi makanan di hadapannya. "Padahal kamu udah berusaha buat cari tahu soal aku sejak kita masih masa pendekatan. Tapi aku malah nggak tahu apa-apa. Sesepele kamu alergi bulu kucing pun aku nggak tahu." Senyum miris tersungging. Sebuah senyum yang bukan cuma menyiratkan kesedihan di hati Kalea, tetapi juga di hati Gavin.
Gavin berusaha menelan makanan yang tertahan di rongga mulutnya itu dengan susah payah. Kemudian, ia meraih tangan Kalea yang tidak memegang sendok dan menggenggamnya erat.
Kalea menaikkan pandangan dan tatapan mereka kembali bertemu. Untuk beberapa saat, hanya ada suara deru napas mereka yang saling bersahutan-sahutan. Tatapan mata mereka terpaku untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Gavin mengembuskan napasnya keras-keras seolah ingin menghempaskan seluruh beban yang memenuhi rongga dadanya bersama karbon dioksida yang keluar dari lubang hidungnya.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu merasa bersalah." Kata Gavin mengawali kalimatnya. "Ini kesalahan saya karena nggak pernah memberitahu kamu apapun." Karena saya memang menyimpan banyak hal dari kamu. Sebanyak itu yang saya sembunyikan karena saya terlalu takut kehilangan kamu lagi, Kal.
"Nggak apa-apa, Kal. Mulai hari ini, saya akan kasih tahu kamu apa pun yang mau kamu tahu." Kecuali soal Irina.