Serana

Serana
Rencana


__ADS_3

Sesuai rencana, Taruna memutuskan untuk membawa pulang Sierra setelah dokter mengatakan bahwa keadaan anak itu sudah stabil dan tidak perlu lagi mendapatkan perawatan medis.


Setelah mengurus segala administrasi untuk kepulangan Sierra, Taruna segera mengemasi barang-barang milik Sierra yang ada di lemari penyimpanan dan langsung memasukkannya ke dalam tas besar yang sudah disiapkan.


"Na,"


Taruna menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah sofa, di mana Irina sedang menemani Sierra bermain di sana.


"Sierra beneran mau dibawa pulang hari ini? Nggak mau nunggu sehari lagi, buat mastiin Sierra beneran udah sembuh?"


"Sierra udah sembuh." Kata Taruna, agak ketus karena sejujurnya dia masih menyimpan kekesalan terhadap Irina. Lalu Taruna kembali melanjutkan aktivitasnya mengemasi barang-barang.


"Tapi kan nggak ada salahnya buat nunggu sehari lagi." Irina masih kekeuh.


Taruna mendengus. Pakaian milik Sierra yang sudah ada di tangannya dan hendak dimasukkan ke dalam tas dibanting ke atas kasur. Lalu, dia membalikkan badan, memicing ke arah Irina sembari berkacak pinggang.


"Biar apa? Biar lo punya alasan buat ketemu lagi sama Gavin?" sindir Taruna. Sepertinya, Irina benar-benar menganggap dirinya bodoh. Apakah Irina mengganggap dia tidak tahu kalau alasan sebenarnya mengapa perempuan itu menolak untuk pulang ke apartemen adalah karena Gavin, bukannya karena dia ingin menemani Sierra?


"Gue tahu lo udah cinta mati sama Gavin, tapi tolong otaknya tetap dipakai."


Taruna yang terlanjur emosi akhirnya mempercepat gerakannya mengemasi barang-barang. Setelah selesai, dia berjalan cepat menghampiri Sierra dan langsung membawa bocah itu ke dalam gendongannya.


"Buruan berdiri, kamarnya mau diberesin buat pasien lain." Ketus Taruna ketika Irina tidak kunjung bangkit dari sofa.


Irina yang diperlakukan seperti itu cuma bisa mendengus sebal. Karena dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal di sini, Irina akhirnya menurut saja pada Taruna. Dia seret langkahnya keluar dari ruang rawat Sierra, membuntuti Taruna yang mengayunkan langkahnya lebar-lebar.


"Tungguin!" teriak Irina saat Taruna sudah berada di dalam lift dan pemuda itu terlihat enggan menahan pintu lift untuk dirinya.


"Lari! Tangan gue penuh, nggak bisa mencet tombol buat lo!" Taruna setengah berteriak. Sesuatu yang jarang terjadi karena dia sebenarnya adalah penganut sekte yang meyakini bahwa diam adalah emas.


Irina berlarian menuju lift sambil menggerutu. Akhirnya, dia berhasil masuk ke dalam lift tepat sebelum pintu lift tertutup dan benda itu segera membawa mereka turun.

__ADS_1


"Sini, biar aku yang gendong Sierra." Irina mengulurkan tangan, secara sukarela menawarkan bantuan karena dia lihat Taruna sepertinya kerepotan dengan tas besar yang ditenteng di satu tangan.


"Nggak usah." Taruna menolak mentah-mentah bantuan dari Irina. Setelah dia sadar Irina hanya menjadikan Sierra sebagai alasan supaya dia bisa tetap berada di rumah sakit agar bisa bertemu Gavin, dia menjadi kesal. Sungguh, dia tidak rela anaknya dijadikan tameng untuk hal-hal semacam itu.


"Kamu kenapa, sih? Aku cuma mau bantu karena kamu kelihatannya repot banget sama tas bawaan kamu itu." Irina mulai terpancing dan ikut-ikutan kesal. Padahal, kalau dia mau berkaca, sikap menyebalkan yang Taruna tunjukkan sekarang ini bersumber dari dirinya.


"Diem." Perintah Taruna, dengan alpha tone yang sama sekali tak terbantahkan. Terbukti ketika Irina langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan kembali anteng di posisinya sembari menunggu sampai lift berenti bergerak.


Ting!


Saat pintu lift terbuka, Taruna buru-buru keluar dari sana, tanpa mau repot-repot untuk mengajak Irina keluar bersama. Saking besarnya perasaan kesal di dalam dadanya sekarang, Taruna bahkan seolah tidak peduli kalau Irina terjebak di dalam lift dan tiba-tiba terjadi kebakaran.


Iya, dia sekesal itu sekarang.


"Na, tungguin!"


Taruna mengabaikan teriakan Irina dan malah semakin memperlebar langkahnya. Sampai akhirnya dia tiba di tempat di mana mobilnya diparkirkan dan dia segera membuka pintu mobil lalu mendudukkan Sierra di kursi penumpang bagian belakang.


Sierra sudah aman, tasnya juga sudah diletakkan di tempat yang semestinya, maka Taruna segera berjalan ke depan lalu buru-buru masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu.


Semua itu dia lakukan dengan gerakan cepat dan dalam durasi yang singkat, membuat Irina yang sebelumnya tertinggal jauh di belakang tidak punya kesempatan untuk ikut masuk ke dalam mobil yang sudah terlanjur dikunci oleh sang empunya.


"Na! Buka!" Irina menggedor kaca mobil karena sadar pintu mobil tidak bisa dibuka.


Taruna mengabaikan teriakan Irina dan malah menyalakan mesin lalu langsung tancap gas. Mobil pun melesat pergi, meninggalkan basement rumah sakit, juga Irina yang cuma bisa diam mematung memandangi kepergiannya.


...****************...


Di tengah perjalanan, Taruna mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Sesekali dia melirik ke arah Sierra melalui kaca spion tengah. Bocah itu terlihat asik menatap ke luar jendela. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada yang menarik dari hal-hal yang mereka temui di sepanjang perjalanan.


"Sierra mau makan es krim, nggak?" tanya Taruna sembari meletakkan ponselnya ke dashboard setelah memasang wireless earphone ke telinga sebelah kiri.

__ADS_1


Sierra yang semula asik memandangi jalanan pun menoleh ke arah sang ayah. Tatapan mereka bertemu melalui pantulan kaca spion.


"Emangnya boleh?" tanya Sierra dengan tatapan polos yang membuat Taruna tidak kuasa menahan senyum.


"Boleh, tapi satu aja."


"Mau. Yang rasa coklat, ya, Ayah."


"Siap, Sayang."


Senyum Taruna melebar kala mendapati Sierra tersenyum sumringah. Dari tatapan matanya yang berbinar, Taruna menebak kalau saat ini Sierra pasti sedang membayangkan es krim coklat meleleh di lidah kecilnya.


Selagi dia menikmati perasaan senangnya melihat senyum sumringah Sierra, telepon yang sedari tadi dia tunggu akhirnya tersambung.


Taruna segera melenyapkan senyumnya, kembali masuk ke mode serius ketika seseorang di seberang sana menyapanya.


"Gue lagi dalam perjalanan pulang dari rumah sakit." Taruna mengawali pembicaraan mereka dengan memberi informasi tentang keberadaan dirinya sekarang.


"Sierra udah boleh dibawa pulang?" tanya suara di seberang.


"Udah. Nanti, setelah gue antar Sierra ke rumah Mama, kita ketemu di tempat biasa. Gue mau bahas soal rencana kita."


"Oke, gue siapin dulu 'amunisi' buat kita."


"Ya, lo siapin semuanya, jangan sampai ada yang terlewat. Gue mau masalah ini cepat selesai, karena gue udah muak."


"Aman, Na. Lo tenang aja."


Taruna tidak menyahut lagi. Dia segera memutus sambungan telepon kemudian sedikit menambah kecepatan mobilnya. Dia ingin segera sampai ke rumah ibunya agar lebih cepat baginya untuk melakukan eksekusi atas rencana yang sudah dia susun dengan rapi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2