Serana

Serana
The Power of Kalea Dimitria


__ADS_3

Kalau ada yang lebih aneh dari mendapati Mama mengobrol dengan sukulen yang diletakkan di dekat jendela kaca kamarnya, mungkin itu adalah pemandangan yang saat ini sedang Kalea saksikan. Di mana dua orang yang selalu terlibat dalam perang dingin itu tiba-tiba duduk berdampingan di lantai ruang tengah, asik memainkan video game berdua sambil sesekali melayangkan tinjuan ringan ke bahu satu sama lain disertai kekehan renyah.


Dari tempatnya berdiri kini, Kalea masih tidak bisa mencerna situasi yang sedang ada di depan matanya. Untuk sejenak dia berpikir mungkin ini adalah mimpi, tapi ketika ia mencubit pipinya sendiri, rasanya sakit dan ia sadar bahwa pemandangan yang tersuguh di depan matanya ini adalah sebuah kenyataan. Yang barangkali tidak akan terulang kembali dalam kurun waktu yang lama.


"Ma," panggil Kalea pelan pada Mama yang sedang sibuk memindahkan cumi rica dari wajan ke atas piring besar di meja makan.


"Apa?" Mama menjawab dengan nada yang sedikit galak. Sebab kalau boleh jujur, ia merasa kesal pada putrinya itu karena dari tadi sama sekali tidak membantunya memasak dan malah sibuk mencomoti bakwan goreng yang baru selesai di angkat dari penggorengan dan melahapnya hingga ludes tak bersisa.


Mendengar nada suara Mama yang sewot, Kalea menolehkan kepala. Memicing ke arah ibunya sembari berkomat-kamit tanpa suara sebelum akhirnya melayangkan prosesnya. "Biasa aja dong jawabnya, nggak usah sewto gitu." Yang dibalas Mama dengan sebuah tatapan nyinyir yang kentara.


"Kenapa?" tanya Mama lagi. Kali ini sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada Kalea yang matanya kembali sibuk menatap ke arah Gavin dan Karel.


"Itu manusia dua kok tumben banget akur? Kesambet apaan?" Kalea masih tidak mengalihkan pandangan, jadi dia tidak akan tahu bahwa saat ini Mama sedang tersenyum begitu sumringah sebelum akhirnya ikut-ikutan memandangi Karel dan Gavin dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"The power of Kalea Dimitria." Ucap Mama yang sontak membuat Kalea menoleh dengan kerutan di dahinya.


"Apaansih the power, the power. Dikata aku superhero apa, punya power segala." Ucap Kalea sewot. Ia tidak habis pikir kenapa Mama bisa mengucapkan sesuatu yang begitu tidak masuk akalnya.


"Lah, dibilangin nggak percaya." Balas Mama, tak kalah sewot. "Mereka tuh bisa akur begitu karena Mama habis bilang kalau kamu suka nangis tengah malem cuma gara-gara ngelihat mereka sering berantem."


"Ma? Seriously? Harus banget cerita yang begituan ke mereka? Kenapa nggak sekalian aja Mama cerita kalau aku suka halu jadi pacarnya Jeno NCT?" kesal Kalea. Sungguh, segala tingkah absurd yang selama ini ia lakukan memang sejatinya diturunkan dari Mama. Tapi, tidak harus sampai sejauh ini, kan? Kenapa Mama sampai harus membocorkan terlalu banyak hal pada Karel dan Gavin, yang mana hal itu merupakan aib dari putrinya sendiri yang seharusnya dijaga serapat mungkin.

__ADS_1


"Yang itu Mama juga udah ceritain." Mama berucap dengan entengnya.


Mendengar hal itu, Kalea cuma bisa melongo. Nah, berarti dia sudah tidak punya rahasia lagi sekarang. Sialan. Berarti selama ia pergi jalan dengan Gavin ataupun Karel, dua orang itu sama-sama sudah tahu kalau dia bisa jadi begitu sinting saat sedang mengagumi para idolanya itu. Padahal selama ini, yang Karel tahu cuma sebatas dia suka Jeno NCT dan hobi mengoleksi berbagai hal yang berbau dengan lelaki itu dan anggota grupnya yang lain. Lelaki itu tidak pernah tahu kalau dia bahkan suka halu jadi pacar Jeno, karena bagi Kalea itu memalukan. Sedangkan Gavin, lelaki itu sama sekali tidak tahu kalau dia suka KPop.


"Daripada kamu ngomel-ngomel nggak jelas, mending anterin ini ke mereka." Mama menyodorkan sepiring semangka yang merah merona dan terlihat menggoda. Pas sekali karena di luar cuacanya sedang panas.


Walau sebenarnya ogah-ogahan, Kalea tetap menerima piring itu. Ia mendumal sebentar, masih memprotes kelakuan Mama yang dengan santai membongkar aibnya. Barulah setelah ia puas mendumal, Kalea melangkah ke ruang tengah.


Baru saja ia sampai di dekat sofa dan hendak meletakkan piring berisi semangka ke atas meja di belakang Gavin dan Karel, ia dibuat terkejut dengan teriakan Karel yang menggema tiba-tiba, membuatnya terlonjak dan nyaris menjatuhkan piring di tangannya.


"Ah, brengsek!" seru Karel sembari melirik sinis ke arah Gavin.


Yang dilirik cuma mengangkat bahu santai, kemudian tergelak saat Karel mulai mengoceh dengan kecepatan yang setara dengan rapper kelas atas.


"Ini rumah kayaknya mulai banyak demitnya deh. Hiiii, serem ah." Kalea mengusap tengkuknya yang merinding, kemudian buru-buru membalikkan badan. Ia berniat kabur dari sana karena rasanya sudah tidak bisa lagi dia melihat pemandangan aneh itu.


Tapi baru saja tubuhnya berbalik dan belum sempat melangkah, pergerakannya terhenti saat Gavin memanggil namanya dengan suara yang begitu cerah.


Ketika menoleh, ia mendapati Gavin dan Karel tengah menatapnya dengan mata yang berbinar. Ada senyum yang tersungging di bibir-bibir mereka, menghiasi wajah mereka yang berseri, secerah matahari di luar sana yang teriknya setengah mampus.


"Sini." Gavin menepuk ruang kosong di sebelahnya, dan seperti sudah dikomando, Karel praktis menggeserkan tubuhnya untuk menciptakan ruang yang lebih lebar.

__ADS_1


"Buruan, ah! Bengong mulu kerjaan lo!" sewot Karel.


Maka dengan langkah gontai, Kalea betulan berjalan mendekat. Ia terdiam sebentar di depan dua orang itu, membuat keduanya harus mendongakkan kepala agar pandangan mereka bisa bertemu.


Kalea tersentak saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh Karel. Ia terhuyung, tubuhnya nyaris tersungkur dengan gaya yang sama sekali tidak keren kalau saja tangan besar Gavin tidak dengan cekatan menangkap punggungnya dan membantunya duduk dengan nyaman di tengah-tengah mereka.


"Duduk di sini, gue sama Gavin mau main game, lo yang jadi jurinya." Cerocos Karel bahkan saat Kalea masih belum bisa menenangkan diri dari keterkejutan karena tangannya ditarik tiba-tiba.


"Yang menang dapat apa?" tanya Gavin, membuat Kalea menoleh.


"Dapat kesempatan jalan sama Kalea seharian. Oke? Deal!" Karel berkata dengan semangat yang menggebu-gebu. Gavin juga tidak kalah semangatnya ketika tangan mereka saling menjabat. Lalu kedua orang itu mulai kembali memainkan video game seolah tidak peduli pada keberadaan Kalea di sana.


Saat sadar bahwa dirinya sedang dijadikan bahan taruhan oleh dua orang pria dewasa di samping kanan-kirinya itu, Kalea pun emosi. Ia dengan segenap perasaan kesal mengangkat kedua tangan, menarik telinga Gavin dan Karel secara bersamaan sehingga membuat mereka mengaduh kesakitan.


"Aw! Putus nih kuping gue!"


"Sakit, Kal! Aduh duh, jangan ditarik, eh!"


"BIARIN! SIAPA SURUH KALIAN JADIIN AKU BAHAN TARUHAN, HA?! KALIAN PIKIR AKU BARANG?!"


"Eeeeehhh udah! Sakit anjir!"

__ADS_1


"Kal, ampun, Kal!"


Di dapur, Mama cuma bisa menggelengkan kepala dengan senyum yang terkembang sempurna. Rasanya sudah lama sejak ia mendengar keributan semacam ini di rumah seiring dengan Karel dan Kalea yang beranjak dewasa. Kini, sebelum Kalea menikah dengan Gavin dan putri semata wayangnya itu akan diboyong pergi oleh sang suami, Mama ingin mendengar lebih banyak keributan. Setidaknya agar ketika Kalea sudah tidak tinggal lagi di sini, masih ada jejak keceriaan dari anak itu yang tertinggal di rumah ini untuk ia kenang dan rasakan setiap kali ia merindukan Kalea nanti.


__ADS_2