
"May I help you?" Kalea bergegas mendekatinya Gavin saat menemukan lelaki itu tengah kesulitan memasangkan dasi.
Gavin menoleh, menemukan Kalea sudah berdiri di sampingnya menunggu jawaban. "Sure." Kata Gavin sembari menggerakkan badannya agar menghadap Kalea demi memudahkan misi perempuan itu membantunya memasang dasi.
Tangan Kalea langsung terulur ke depan, meraih dasi berwana biru tua yang sudah mengalung di leher Gavin dan mulai membantu Gavin mengikatnya. Karena tinggi badan mereka yang cukup jomplang, Kalea terpaksa berjinjit agar lebih mudah melakukan pekerjaannya.
Tapi berjinjit lama-lama tentu akan membuatnya mendapat kesulitan yang lain. Hanya sesaat sebelum dasi itu selesai diikat, tubuh Kalea oleh ke belakang karena pijakan kakinya tiba-tiba terasa lemah.
Kalea sudah pasrah membayangkan dirinya akan jatuh ke lantai yang kesar. Tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh tidak bisa membuat kepala Kalea tetap waras.
Ketika tangan besar Gavin menangkap pinggangnya dan mulai menariknya mendekat, Kalea merasakan dadanya berdesir hebat. Ada jutaan kupu-kupu baru yang menetas serempak dan langsung mengepakkan sayangnya tanpa permisi, membuat perutnya terasa tergelitik dan bulu-bulu halus di sekitar lehernya serempak berdiri.
Ini persis seperti adegan dalam drama Korea yang sering ia tonton. Dan Kalea tidak pernah menyangka dirinya akan berada di situasi serupa di kehidupan nyata.
Sungguh! Setelah bertemu Gavin, jalan hidupnya benar-benar tidak bisa ditebak. Ada saja kejadian yang membuat perasaannya campur aduk.
"Hati-hati, Kal." Kata Gavin tepat di depan wajah Kalea. Membuat lawan bicaranya semakin mengatupkan bibir rapat-rapat dengan jantung yang berdegup kencang bagai genderang perang yang baru saja ditabuh.
Otak Kalea sudah memerintahkan kepada tubuhnya untuk segera menjauhkan diri dari Gavin. Tetapi tubuhnya seakan beku dan yang bisa dia lakukan hanya pasrah saat Gavin mengulurkan tangan ke wajahnya.
Kalea pikir, Gavin akan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga seperti yang laki-laki itu biasa lakukan. Namun ternyata yang Gavin lakukan selanjutnya justru membuatnya semakin kehilangan kata-kata.
Jemari panjang itu bergerak pelan mendekati area matanya, membuatnya secara refleks memejamkan mata. Tak berselang lama, ia kembali membuka mata dan menemukan Gavin sedang tersenyum ke arahnya.
"Bulu mata kamu jatuh." Kata Gavin sembari menunjukkan sehelai bulu mata yang berhasil ia comot dari bawah mata Kalea.
"Boleh saya simpan, nggak?" tanya Gavin tiba-tiba.
"Buat apa?" Kalea balik bertanya dengan raut wajah polosnya.
"Kenang-kenangan." Gavin terkekeh setelah mengatakannya. Padahal, ia hanya bercanda. Tapi apa yang Kalea lakukan selanjutnya justru membuatnya tergelak.
Perempuan itu merebut sehelai bulu mata dari jemarinya dan langsung meniupnya hingga terbang entah ke mana. Entah apa juga yang ada di pikiran Kalea sampai dia melakukan hal tersebut.
"Kok ditiup?"
"Biar hilang."
"Kenapa?"
__ADS_1
Kalea terdiam sebentar. Berdeham sekali untuk melegakan tenggorokan yang tiba-tiba terasa gatal. "Nggak apa-apa. Lagian ngapain nyimpen bulu mata. Aneh."
"Nggak aneh dong, kan saya mau mengabadikan apa pun tentang kamu." Ketika mengatakan itu, Gavin membubuhkan senyum yang semakin membuat Kalea kewalahan.
"Nggak sekalian aja kamu fotokopi itu bulu mata terus simpen di album foto?" cibir Kalea. Tapi siapa sangka, Gavin tetap meladeninya.
"Udah nggak bisa, udah terbang entah ke mana bulu matanya." Gavin berkata santai. "Omong-omong, kamu nggak mau lanjutin masang dasi saya?"
"Nggak." Kalea menjawab cepat. Barulah setelah jawaban itu keluar, tubuhnya bisa bergerak menjauh dari Gavin.
"Kenapa?"
"Kamu ketinggian, aku nggak nyampe!"
"Oh."
Hanya oh? Kalea tidak tahu lagi harus berkata apa setelah jawaban itu keluar dari bibir Gavin. Ia hanya bisa memerhatikan pergerakan Gavin selanjutnya, yang tadinya ia pikir akan berusaha memakai dasinya sendiri, tetapi lelaki itu malah menarik kursi dari meja rias dan langsung duduk di atasnya.
Dengan tampang tak berdosa, Gavin menatap Kalea yang berdiri menjulang di hadapannya dan berkata "Sekarang saya udah lebih pendek. Tolong pasangin dasi saya, ya."
...****************...
Setelah drama pemasangan dasi selesai, Kalea mengantarkan Gavin ke depan rumah. Membawakan tas lelaki itu persis seperti yang sering ia lihat di dalam sinetron yang suka ditonton oleh Bi Imah dulu.
"Kamu jangan kerjain apa-apa di rumah, istirahat aja." Gavin berpesan dengan raut wajah yang serius.
"Kalau bosan, aku ngapain?"
"Nonton pacar-pacar kamu aja." Gavin harus bersusah payah menahan tawa saat mengatakan itu supaya Kalea tidak merasa tersinggung. Karena memang dia tidak sedang meledek perempuan itu.
"Tapi cucian baju udah banyak, Gavin."
"Biarin aja, saya yang akan kerjain sepulang kerja nanti."
"Tapi, kan-"
"Nggak ada tapi-tapi." Sela Gavin. "Saya nggak mau kamu capek. Inget, nggak boleh bantah omongan suami."
Skak mat! Kalea tidak bisa lagi melayangkan protes kalau Gavin sudah membawa-bawa soal status mereka sebagai suami isteri. Kata Mama, dia harus menurut pada apa pun yang Gavin bilang selama itu adalah hal-hal yang baik. Gavin menyuruhnya untuk tidak capek, bukankah itu sesuatu yang baik?
__ADS_1
"Saya pamit." Gavin mengulurkan tangan kepada Kalea, membuat perempuan itu kebingungan.
"Apa?" tanyanya polos.
"Kamu nggak mau cium tangan?"
"Cium tangan?"
"Iya, cium tangan." Gavin menggerak-gerakkan tangannya yang terulur di depan Kalea. "Biar kayak yang di sinetron-sinetron itu loh, Kal."
"Kamu nonton sinetron juga? Kok sama kayak Bi Imah sih, hobinya nonton sinetron?" walau begitu, Kalea tetao menyambut uluran tangan Gavin kemudian menempelkan punggung tangan laki-laki itu ke hidungnya.
"Saya ini anak pemilik stasiun televisi, Kal. Wajar dong kalau saya nonton sinetron sesekali buat mantau kualitas sinetron yang tayang di stasiun televisi milik Papa."
"Iya juga, sih." Kalea tanpa sadar menganggukkan kepalanya. Di mata Gavin, itu terlihat lucu. Jadi dia tidak menahan diri saat tawanya lolos begitu saja.
Kalea yang tidak tahu mengapa Gavin tiba-tiba tertawa langsung menaikkan pandangan, berusaha menelisik lebih jauh ke manik kelam laki-laki di hadapannya ini untuk mencari tahu apa yang membuat laki-laki itu tertawa.
Namun nihil, jadi Kalea memutuskan untuk langsung bertanya. "Kenapa?" masih dengan tampang polosnya yang tak berdosa.
Gavin meredakan tawa perlahan-lahan sampai akhirnya betulan selesai, tergantikan dengan seulas senyum manis madu. "Nggak apa-apa." Katanya sembari mengulurkan tangan ke kepala Kalea dan mengusap kepala perempuan itu pelan.
"Sana masuk, saya mau berangkat sekarang." Kata Gavin setelah menarik kembali tangannya.
"Kamu berangkat dulu, baru nanti aku masuk ke rumah."
"Kal,"
"Udah sana buruan." Kalea membalikkan badan Gavin dan mendorongnya agar segera masuk ke dalam mobil.
Gavin tidak punya pilihan selain menurut. Pasrah saja saat Kalea menuntunnya masuk ke dalam mobil sampai akhirnya dia duduk di balik kemudi.
"Hati-hati, jangan ngebut." Pesan Kalea sembari menutup pintu mobil.
"Iya. Saya jalan, ya. Bye!"
Mobil pun melaju dan dalam sekejap sudah menghilang dari jangkauan pandang. Kalea berjalan masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat terdiam.
Tanpa Kalea tahu, di seberang jalan sana, lagi-lagi seorang pria mengawasi gerak-geriknya dan Gavin sejak tadi. Pria itu tersenyum puas karena sudah berhasil mengabadikan momen kedekatan Kalea dan Gavin.
__ADS_1
"Mission complete." Gumam laki-laki itu sembari menuliskan hal yang sama di ponselnya kemudian mengirimnya kepada seseorang.
Bersambung.