Serana

Serana
Her Beloved Boyfriends


__ADS_3

"Yang ini namanya Taeyong, leadernya. Cantik ya, kayak anime."


"Nah, kalau yang ini namanya Johnny, bule Chicago nih. Bahasa inggrisnya fluent banget, keren. Dia ini anak tunggal kaya raya, sayang orangtua, pokoknya kriteria suami idaman banget."


"Yang ini namanya Mark, bule juga tapi asalnya dari Kanada. Kalau pas ngomong bahasa inggris, anak-anak gadis bisa pada pingsan dibuatnya. Selain terkenal rajin, Mark ini religius loh, Gavin. Dia selalu berdoa sebelum melakukan apapun. Di Korea itu termasuk sesuatu yang spesial, soalnya di sana jarang ada yang punya agama."


"Kalau yang ini namanya Jeno, ganteng ya kayak bule, padahal 100 persen Korea loh. Lucu deh, dia kalau senyum matanya ngilang. Fans suka nyamain dia sama Samoyed (salah satu ras anjing), soalnya sama-sama lucu dan gemesin."


"Yang ini namanya Jaemin, tapi lebih sering dipanggil Nana. Lucu ya, kayak kelinci. Dia sama Jeno suka dikatain Upin-Ipin nya Korea, soalnya kemana-mana berdua udah kayak anak kembar. Kalau lagi mode introvert, anak ini bakal dieeeeem terus sepanjang hari. Tapi kalau udah mode baterai full, udah deh nggak akan bisa diem. Ada aja tingkahnya sampai bikin anggota yang lain geleng-geleng kepala. Nana suka banget sama kopi, es americano sih lebih tepatnya. Dulu dia sering dimarahin sama fans karena kebanyakan minum kopi, sekarang udah nggak lagi."


Gavin hanya bisa diam mendengarkan celotehan Kalea yang sedari tadi mengalir terus tanpa henti. Seolah perempuan ini sama sekali tidak merasa lelah padahal sudah berpuluh-puluh menit ia mengoceh sejak sambungan telepon dengan Mama terputus.


Dari cara perempuan itu menjelaskan satu-persatu anggota boyband kesayangannya, Gavin tahu perempuan itu menaruh kekaguman yang teramat dalam. Sebab bukan cuma fisik saja yang perempuan itu ceritakan, melainkan hal-hal lain seperti kerja keras dan bagaimana sekumpulan laki-laki itu bisa sampai ke titik yang mereka pijak sekarang.


Sejujurnya, melihat Kalea begitu bersemangat terhadap sesuatu membuat Gavin merasa senang. Setidaknya, ini lebih baik ketimbang harus melihat perempuan yang dia sayangi ini menangis sesenggukan.


Hanya saja, Gavin sama sekali tidak tahu mengenai dunia KPop, sehingga yang bisa ia lakukan hanya mendengarkan cerita Kalea tanpa banyak berkomentar ataupun memberikan reaksi. Takutnya dia salah memberikan reaksi dan malah akan membuat Kalea kembali mereog.


"Ini si bungsu kesayangan semua fans nih, namanya Park Ji Sung. Dia itu lucu, Gavin, suka ngobrol sama pohon." Kalea terkikik geli setelah mengatakan itu. Dalam kepalanya saat ini, terputar kembali adegan di mana magnae (anggota termuda) grup NCT itu sedang mengobrol dengan pohon dalam salah satu acara sehingga membuat orang-orang di sekitarnya geleng-geleng kepala.


"Kalau yang ini, namanya siapa?" tanya Gavin pada akhirnya. Setelah sekian lama hanya diam, akhirnya dia punya satu hal yang begitu menarik perhatiannya. Itu adalah salah satu anggota yang terlihat lebih mencolok ketimbang yang lainnya. Kenapa? Karena warna kulitnya yang cenderung lebih gelap dan pipinya yang melebar kemana-mana, mirip chocoball.

__ADS_1


"Ini namanya Haechan, ganteng ya." Jelas Kalea dengan senyum yang semakin melebar.


"Ganteng sih, tapi kok kulit dia lebih gelap dibanding yang lain? Suka main layangan di lapangan, ya?" tanya Gavin tanpa banyak berpikir.


"Ngaco kamu!"


"Aw!" Gavin meringis karena Kalea tahu-tahu memukul bahunya.


"Emang tone kulitnya begini. Nggak apa-apa dong, eksotis."


"Saya juga nggak bilang kalau warna kulit dia jelek. Saya cuma nanya, kok bisa beda sendiri warna kulit dia, apa karena sering main panas-panas atau bukan." Gavin mengatakannya dengan bibir memberengut, tangannya bergerak pelan mengusap bahunya yang terasa panas akibat pukulan Kalea.


Apa perempuan memang cenderung jadi manja kalau sedang datang bulan? Batin Gavin. Karena selama ini, Irina juga cenderung menjadi lebih manja ketika sedang datang bulan. Awalnya Gavin pikir itu cuma terjadi pada Irina saja, tapi melihat Kalea yang bersikap sama sekarang, mungkin teori itu memang benar adanya.


"Kamu tahu, nggak, Gavin?" tanya Kalea.


Gavin tidak menyahut karena ia tahu perempuan itu akan melanjutkan kalimatnya.


"Aku sayaaaaaang banget sama mereka." Saat mengatakan itu, entah mengapa suara Kalea terdengar sedikit bergetar, seperti seseorang yang hendak menangis.


Gavin hendak menarik diri untuk memeriksa apakah Kalea memang betulan akan menangis, tapi niatnya urung saat Kalea lebih dulu menarik diri dari pelukan sepihak itu. Perempuan itu menegakkan punggung, hanya untuk mencari posisi nyaman sebelum kembali bersabar di headboard ranjang. Kedua tangan Kalea kini menyilang di depan dada, pandangannya lurus ke depan, pada layar televisi yang kini tampak redup.

__ADS_1


"Pertama kali aku tahu soal mereka itu, pas aku lagi pusing-pusingnya mikirin skripsi yang nggak kelar-kelar. Waktu itu aku sering sedih karena teman-teman yang lain udah pada di acc skripsinya sedangkan punya aku disuruh revisi terus." Ucap Kalea sambil mengenang kembali masa-masa sulit itu.


"Memang ada Karel sih yang selalu bantuin dan hibur aku supaya nggak menyerah. Tapi Karel kan juga punya kehidupan dia sendiri dan nggak bisa 24 jam sama aku. Jadi, pas Karel nggak ada di samping aku, aku ngerasa sendirian lagi." Ada kabut bening melingkupi manik boba Kalea. Namun ia tidak sedang ingin menangis sekarang. Jadi, sekuat tenaga ia tahan agar kabut bening itu tidak luruh menjadi air mata.


"Terus aku nggak sengaja ngeliat video mereka pas lagi iseng buka YouTube. Mereka berhasil bikin aku ketawa sama tingkah mereka yang absurd tapi menyenangkan." Seulas senyum terbit di bibir tipis Kalea. Entah mengapa, senyum itu berhasil menghantarkan kehangatan sendiri di dada Gavin.


Kemudian saat Kalea menolehkan kepala dan tatapan mereka bertemu, Gavin tahu dan secara sadar mengakui bahwa ia telah jatuh sedalam itu untuk perempuan ini. Jarak dan waktu yang telah memisahkan mereka selama ini nyatanya memang tidak bisa mengenyahkan perasaan yang ia simpan di dalam dada sejak belasan tahun lalu.


"Gavin," panggil Kalea pelan.


Gavin berdeham sebagai jawaban. Tatapannya masih terpaku pada Kalea yang kini memutar badan sepenuhnya menghadap dirinya.


"Nggak apa-apa, ya, kalau aku masih suka sama mereka." Kata Kalea dengan suara pelan, penuh penghayatan. "Nggak apa-apa, ya, kalau aku masih sayang sama mereka walaupun aku udah punya kamu sekarang. Walaupun aku suka halu sebut mereka sebagai pacar aku, tapi itu cuma untuk senang-senang aja kok. Aslinya, aku cuma anggap mereka sebagai mood booster pas aku lagi down."


Gavin sepenuhnya kehilangan kata-kata, jadi alih-alih menjawab pertanyaan Kalea, ia malah menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukan. Ia labuhkan sebuah kecupan di puncak kepala perempuan itu.


"Gavin? Pertanyaan aku belum dijawab." Desak Kalea dari dalam pelukan Gavin. Ia tidak berusaha melepaskan diri, tapi paling tidak ia harus mendapatkan jawaban terlebih dahulu. Kalea harus tahu bahwa Gavin tidak akan keberatan denga hobinya yang satu ini, barulah ia bisa menjalani hobi ini dengan tenang dan tanpa perasaan bersalah.


"Iya." Gavin berucap pelan. "Kamu boleh tetap suka dan sayang sama mereka. Asal, rasa sayangnya nggak lebih banyak dari rasa sayang kamu ke saya."


Setelah kalimat itu selesai, gantian Kalea yang kehilangan kata-kata. Ia merasakan belah pipinya mulai memanas. Jadi untuk menyembunyikan rona merah itu, Kalea membenamkan wajah ke dada bidang Gavin. Sepenuhnya menulikan telinga ketika Gavin terkekeh sebelum mendaratkan satu kecupan lagi di puncak kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2