
"Malam ini kita nginep, ya?"
Kalea muncul dari pintu dapur, membawa sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Ia berjalan menghampiri Gavin yang sedang duduk sendirian di halaman belakang, menikmati semilir angin yang menerpa tubuh besarnya dengan sebatang rokok yang sudah tinggal setengah.
Kalea tidak kuasa menahan senyum saat Gavin langsung memberikan rokoknya begitu mendengar suaranya. Jaraknya bahkan masih jauh, tapi lelaki itu sudah bergerak heboh mengibaskan tangan untuk mengusir asap yang beterbangan di sekitar tubuhnya.
Malam belum terlalu larut, baru pukul setengah delapan. Karel baru saja pamit pulang untuk mandi dan berjanji akan kembali lagi untuk menemaninya mengobrol satu atau dua jam lagi. Selama menunggu Karel kembali, Kalea pikir tidak ada salahnya untuk memberi makan bayi besar ini agar tidurnya nyenyak nanti. Sejak meninggalkan meja makan dengan nasi goreng yang masih tersisa banyak siang tadi, Gavin belum memasukkan makanan apapun ke dalam mulutnya selain apel yang dia bawakan.
"Kenapa?" tanya Gavin setelah memastikan tidak ada lagi asap yang bisa Kalea hirup . Ketika ia menoleh, Kalea sudah berada di sampingnya, mengambil posisi duduk setelah meletakkan nasi goreng dan air putih di atas meja.
"Aku masih kangen sama Mama." Jelas Kalea.
Untuk beberapa saat, Gavin terdiam. Sebenarnya tidak masalah kalau Kalea masih ingin melepas rindu dengan ibunya. Hanya saja, Gavin tidak suka Kalea berlama-lama di sini karena ada si kampret Karel. Sejak insiden nasi goreng kimchi siang tadi, bocah tengik itu terus saja mencari gara-gara dengannya. Saat hendak berangkat ke bandara misalnya, Karel sengaja menyeret Kalea untuk duduk di bangku penumpang belakang padahal Gavin sudah membukakan pintu agar Kalea duduk di kursi penumpang depan supaya bisa menemaninya mengobrol selama perjalanan.
Tidak cuma saat perjalanan menuju bandara saja, Gavin juga dibuat kesal oleh Karel karena lelaki itu mencuri tempat duduk di sampingnya saat perjalanan pulang. Alasannya agar Kalea bisa mengobrol dengan Mama dan Papa, padahal Gavin tahu kalau Karel sebenarnya hanya berniat untuk membuatnya kesal.
Kalau kalian pikir ulah Karel cuma sampai di situ, kalian salah. Bahkan ketika sampai di rumah orangtua Kalea, Karel masih juga berulah. Lelaki itu sengaja mengajak Kalea mengobrol banyak tentang pacar-pacar kesayangan perempuan itu hingga Kalea tanpa sadar kembali mengabaikan Gavin.
Pokoknya, Gavin kesal sekali dengan Karel hari ini.
"Gavin?"
"Yaudah." Setelah menimang beberapa saat, Gavin akhirnya pasrah. Memangnya kalau dia berkata tidak boleh, Kalea akan mengurungkan niat untuk menginap? Gavin rasa tidak.
__ADS_1
"Yang ikhlas dong jawabnya."
Gavin menghela napas berat. "Memangnya kalau saya bilang nggak boleh, kamu bakal nggak jadi nginep?" tanyanya sambil melirik ke arah Kalea.
Tanpa diduga, Kalea menganggukkan kepala. "Kalau kamu bilang nggak boleh, kita nggak jadi nginep."
"Kenapa?" tanya Gavin bingung.
"Kok kenapa, sih? Ya karena kamu nggak ijinin." Kalea menjawab santai. Kemudian, dia meraih piring nasi goreng dari atas meja dan mulai menyendoknya. "Buka mulutnya." Perintahnya sembari menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Gavin.
Alih-alih membuka mulutnya, Gavin malah bertanya, "Iya, kenapa begitu? Kenapa harus dengan ijin saya?"
Sendok yang sudah diangkat tinggi-tinggi terpaksa diturunkan kembali. Kalea menatap Gavin sebentar, mengembuskan napas pelan saat lelaki di sampingnya itu ikut-ikutan menatapnya serius. "Soalnya kata Mama, harus nurut apa kata suami. Supaya hidupnya aman, damai dan bahagia." Ada senyum di akhir kalimat itu, yang membuat Gavin seketika terdiam.
Selama hidup, pernahkah kalian merasakan seluruh tubuh kalian terasa beku hingga tak satu pun bagiannya bisa digerakkan? Kalau iya, itulah yang saat ini Gavin rasakan. Setelah kalimat itu terlontar dari bibir Kalea, Gavin menemukan dirinya benar-benar kehilangan daya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain memaku tatap dengan perempuan di sampingnya itu.
Bersamaan dengan pertanyaan itu yang mulai bergaung keras di kepala, Gavin membuka mulutnya. Menerima suapan yang Kalea sodorkan dan mengunyah butir-butir nasi itu dengan gerak lambat. Tapi meskipun dia sudah mengunyah sebanyak puluhan kali, bulir-bulir nasi itu seolah tidak hancur dan sulit untuk ditelan.
Ya Tuhan... dosa saya banyak sekali terhadap perempuan ini.
...****************...
Jam menunjukkan pukul satu lewat lima belas dini hari. Seharusnya, Gavin sudah terlelap, menyusul Kalea yang sudah lebih dulu jatuh tertidur setelah puas memandangi foto pacar-pacar kesayangan. Tapi sudah berpuluh-puluh menit Gavin membaringkan diri, ia tidak kunjung bisa memejamkan mata.
__ADS_1
Kali ini, fokusnya sudah tidak lagi tersita oleh pertanyaan tentang ke mana perginya Irina dan Taruna. Karena dia akan mencari tahu tentang hal itu besok. Kini, Gavin justru sibuk memikirkan tentang Kalea. Tentang bagaimana nasib pernikahan mereka kalau suatu saat ini, bangkai yang dia simpan rapat-rapat mulai mengeluarkan bau yang menyengat. Dari skala satu sampai sepuluh, Gavin tidak yakin bahwa kemungkinan Kalea masih akan tetap bisa menerima dirinya bisa mencapai setidaknya angka satu.
Tentu saja. Perempuan mana memangnya yang masih akan bertahan dengan laki-laki penuh kebohongan seperti dirinya? Bahkan Irina yang sudah mengetahui segala kebusukan yang dia punya dan mulai terbiasa dengan hal itu pun kini telah sedikit demi sedikit membentangkan jarak.
"Maafin saya, Kal." Bisiknya pada Kalea. Dipandanginya wajah damai Kalea yang tertidur pulas di sampingnya. Menyelami setiap fitur di wajah perempuan itu. Mengaguminya seolah itu adalah pahatan paling sempurna yang Tuhan pernah ciptakan dalam bentuk manusia.
Kemudian, tangannya terulur. Diusapnya pelan pipi pualam yang membuatnya mabuk kepayang setiap kali muncul semburat merah di sana. Pipi ini... seharusnya dimiliki oleh laki-laki yang lebih baik dari dirinya. Begitu juga dengan belah bibir merah ini. Seharusnya Kalea memberikan ciuman pertamanya kepada laki-laki baik yang tidak akan menyakiti hatinya. Tapi ia sudah dengan tidak tahu diri mencuri ciuman pertama yang berharga itu.
"Kamu seharusnya menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari saya." Gavin merasa dia sudah mengerahkan banyak tenaga untuk mengucapkan kalimat itu. Tapi kenyataannya, yang keluar hanyalah sebuah suara yang nyaris seperti berbisik.
"Maafin saya, Kal." Lirihnya sekali lagi, sebelum ia rengkuh tubuh Kalea ke dalam pelukan bersama perasaannya yang kian carut-marut.
Andai. Mari sekali lagi berandai-andai. Andai Gavin bukanlah seseorang yang lahir dari sebuah kekacauan, apakah dia bisa merengkuh tubuh kecil di hadapannya ini dengan leluasa, tanpa rasa bersalah yang terus membelenggu jiwanya? Andai Gavin adalah orang biasa, yang bukan berasal dari keluarga terpandang dan dia tidak harus berjuang untuk mempertahankan posisinya di dalam keluarga, apakah dia bisa hidup bahagia bersama Kalea?
Bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be honestly, ini part yang paling nggak dapet feel nya. 😔😔