
Seisi rumah heboh karena kedatangan Kalea dan Gavin yang tiba-tiba. Papa yang semula menghabiskan minggu di halaman belakang sembari memberi makan ikan di kolam langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri putri tercintanya. Pria paruh baya itu datang dalam balutan kaus dalam tanpa lengan warna putih dan celana pendek berlogo klub sepak bola Inggris, Manchester City. Pemandangan itu tentu membuat Kalea tergelak. Sebab dia tahu betul kalau celana pendek itu adalah milik Karel.
"Papa ngapain pake celana Karel?" tanya Kalea setelah tawanya sedikit mereda. Dia kini berdiri di ambang pintu belakang sembari melipat tangan di depan dada. Ada Gavin di belakangnya, namun laki-laki itu tak banyak bicara dan hanya diam dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana.
"Biarin, orang Karel juga suka pakai celana punya Papa."
Kalea terbahak lagi. Memang sudah tidak aneh melihat tingkah dua pria beda usia itu yang gemar bertukar pakaian. Mungkin karena Karel merindukan sosok ayah yang asik (mengingat ayahnya terlalu serius dan sibuk bekerja) sedangkan Papa sendiri selalu mengatakan ingin memiliki anak laki-laki yang bisa diajak main bola.
Tapi tetap saja Kalea merasa lucu setiap kali melihat Papa dan Karel memakai celana atau baju yang bukan ukurannya.
"Anaknya tahu nggak kalau kamu ke sini?" tanya Papa kemudian.
"Nggak tahu deh kayaknya. Kalau tahu, dia pasti udah berisik manggil-manggil nama Kalea dari tadi."
"Kalau gitu, Papa mau kasih tahu."
Saat Papa mengatakan beliau hendak memberitahu Karel soal kedatangannya, Kalea pikir Papa akan masuk ke dalam rumah dan menelepon Karel. Atau setidaknya, pria itu mungkin akan berlari ke rumah Karel untuk memberitahukan kabar ini secara langsung.
Tetapi yang Papa lakukan sungguh tidak wajar.
Papa berlarian menuju tembok pembatas samping yang menjadi satu dengan tembok pembatas di rumah Karel. Dengan bermodal tangga yang biasa dipakai Pak Dadang untuk menurunkan kucing milik tetangga yang nyasar ke pohon mangga di halaman belakang, Papa memanjat hingga ke atas tembok pembatas. Kemudian, dengan sekuat tenaga, Papa berteriak memanggil-manggil nama Karel.
Melihat tingkah konyol Papa membuat Kalea tertawa sampai perutnya terasa keram. Sementara Gavin hanya tersenyum tipis melihat istrinya bisa tertawa lepas seperti sekarang. Sepertinya, membawa Kalea mengungsi ke sini memang keputusan yang paling tepat.
Di seberang, Papa masih berusaha memanggil-manggil nama Karel. Sampai kemudian kepala Karel muncul dari sisi tembok yang satunya. Bocah itu melongokkan kepala dengan tampang tak berdosa sebelum akhirnya memekik kegirangan karena matanya berhasil menangkap eksistensi Kalea.
Tak lama setelah itu, kepala Karel menghilang dan Papa sudah berjalan kembali ke arahnya dengan senyum yang terkembang sempurna. Kalea yakin Papa telah berhasil menyampaikan informasi dengan baik dan saat ini Karel pasti sedang berlari tergopoh-gopoh untuk menemuinya.
...****************...
__ADS_1
Karel sedang memandikan Mumu di halaman belakang ketika tiba-tiba terdengar suara Papa yang berteriak memanggil namanya beberapa kali.
Dengan Mumu yang masih berlumuran sabun, Karel bangkit dan menoleh ke arah tembok pembatas yang memisahkan rumahnya dengan rumah Kalea. Di sana, Papa masih berteriak sambil melambaikan tangan kepadanya.
"Kenapa?!" Karel balas berteriak. Padahal dia bisa saja langsung berjalan menghampiri Papa agar tidak perlu berteriak dan mengeluarkan otot-otot di sekitar lehernya.
"Ada Kalea!!!" seru Papa dari seberang.
"Ha?" Karel berusaha menajamkan pendengaran. Entah kenapa, dia seakan mendadak tuli.
"Ada Kalea di sini!!!" seru Papa lagi.
Kali ini, yang Karel dengar cuma nama Kalea saja. Jadi untuk memastikan apa yang sedang Papa ingin sampaikan, Karel berjalan menghampiri Papa. Mumu yang tubuhnya mulai mengering dengan busa sabun yang masih menempel dia turunkan. Bocah berbulu itu langsung berguling-guling di tanah sehingga membuat Karel berdecak sebal karena usahanya memandikan bocah itu berakhir sia-sia.
Setelah mengomeli Mumu sebentar, Karel pun memanjat tembok pembatas menggunakan tangga yang memang selalu ada di sana. Dia biasa menggunakan tangga itu untuk menyelinap ke halaman belakang rumah Kalea untuk memberi makan ikan ketika dirinya terlalu malas lewat gerbang depan.
"Kenapa?" tanya Karel lagi begitu dirinya sudah berhadap-hadapan dengan Papa.
"Di mana?" tanya Karel dengan polosnya.
Kemudian, saat dia mengedarkan pandangan dan matanya berhasil menangkap keberadaan Kalea di ambang pintu belakang rumahnya, Karel berseru kegirangan. Persis seperti bocah yang baru saja dibelikan mainan baru yang sudah lama diidam-idamkan.
"Pelan-pelan!" tegur Papa saat Karel tiba-tiba menuruni tangga dengan gerakan serabutan.
Karel cuma nyengir kuda dan melanjutkan perjalanan menuruni tangga. Setelah kakinya kembali memijak tanah, Karel berkata "Suruh Kalea tunggu, Karel mau ke sana!" lalu dia segera mencomot Mumu yang sedang memakan rumput dan membawa bocah bulu itu berlarian.
Di atas, Papa cuma bisa geleng-geleng kepala. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama beberapa hari, tetapi dari cara Karel menanggapi kedatangan Kalea, bocah itu seolah sudah tidak bertemu Kalea selama bertahun-tahun.
...****************...
__ADS_1
"Mumu kamu apain?" tanya Kalea saat melihat tubuh Mumu penuh busa sabun yang bercampur dengan tanah yang telah mengering. Anehnya, di dalam dekapan Karel, bocah itu anteng-anteng saja
"Tadi gue lagi mandiin si bocah bulu, terus Papa manggil-manggil. Jadinya gue tinggalin dia, eh bocahnya malah guling-gulingan di tanah. Emang bandel ni bocah bulu." Karel mengomel sambil menoyor pelan kepala Mumu.
Kalea yang melihat Karel sedang melakukan kekerasan terhadap makhluk kecil tak berdosa itu pun sontak melotot dan langsung merebut Mumu dari dekapan Karel.
Gerakan tiba-tiba Kalea bukan cuma mengejutkan Karel, tetapi juga Gavin. Lelaki itu refleks mundur tiga langkah setelah Mumu berada di gendongan Kalea.
"Laki lo tuh takut kucing, Kaleeeooooo. Kenapa malah lo deketin ke sana si Mumu." Oceh Karel hendak merebut Mumu kembali.
Kalea menoleh ke belakang dan menemukan Gavin sudah berjarak lima langkah dari posisinya berdiri. Lalu yang Kalea bisa lakukan cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Hehe, maaf, aku lupa." Sembari menyerahkan Mumu kembali kepada Karel.
"Nih, kamu mandiin dulu Mumu yang benar. Baru nanti kita main." Titah Kalea yang langsung dilaksanakan oleh Karel tanpa banyak bertanya.
Berhubung saat ini mereka masih berada di halaman belakang rumah Kalea, Karel berinisiatif untuk membilas tubuh Mumu di keran air yang biasa Mama gunakan untuk menyiram tanaman di halaman belakang.
Selagi Karel memandikan Mumu, Kalea kembali mencurahkan perhatiannya kepada Gavin. Dia hendak berjalan mendekat, tetapi laki-laki itu malah bergerak mundur lagi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Cuci tangan dulu. Saya takut bulunya Mumu nempel di tangan kamu."
Kalea refleks memandangi kedua tangannya sendiri. Benar saja, ada beberapa helai bulu milik Mumu yang menempel di telapak tangannya. Mungkin karena kondisi bulu Mumu yang setengah basah, jadinya bulu-bulu halus itu jadi lebih mudah menempel di tubuhnya.
"Oke!" seru Kalea. Dia kemudian berjalan menghampiri Karel dengan niat untuk mencuci tangan di keran yang sama dengan tempat Mumu mandi.
Namun, Gavin justru menyesali keputusannya untuk menyuruh Kalea mencuci tangan karena kini perempuan itu justru ikut-ikutan memandikan Mumu.
__ADS_1
"Kan, kalau udah sama Karel, pasti saya dilupain."
Bersambung