
"Si goblok!" Karel refleks mengumpat saat tubuh Gavin tiba-tiba terjengkang di depan matanya ketika pintu kamar dibuka. Lelaki itu mengaduh kesakitan, mengusap kepalanya yang membentur lantai marmer.
Di belakang tubuh Karel, Kalea tidak kalah terkejut. Dia buru-buru berlari menghampiri Gavin dan membantu suaminya itu untuk bangkit.
"Sakit..." Rengek Gavin saat sudah berhasil berdiri. Dia menatap Kalea sendu, mengadu bagai bocah berusia lima tahun yang baru saja dijahili oleh temannya.
Melihat tingkah Gavin yang berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya, Kalea cuma bisa memutar bola mata malas. Kemudian, dengan segenap hati dan mementingkan rasa kemanusiaan, Kalea mengusap-usap kepala Gavin. Ternyata hal itu membuat si empunya kepala semakin bertingkah menyebalkan. Bukannya berhenti merengek, Gavin malah menyandarkan kepala di bahu Kalea. Ndusel seperti anak kucing yang sedang mencari kehangatan.
"Najis banget gue lihatnya." Cibir Karel sembari bersedekap. Dia memicingkan mata, menatap Gavin tidak suka yang hanya dibalas oleh Gavin dengan menjulurkan lidahnya.
Oh, mau balas dendam rupanya. Batin Karel. Namun dia tidak punya cukup tenaga untuk meladeni tingkah kekanakan Gavin sekarang. Dia harus mengisi perutnya yang mulai keroncongan karena tadi langsung berlari ke sini tanpa memedulikan teriakan Ibun yang menyuruh sarapan.
Maka, Karel mengalihkan pandangan kepada Kalea. Tatapannya seketika berubah saat netranya bersirobok dengan milik Kalea. Senyum perlahan-lahan tersungging. Senyum yang kelewat manis hingga bisa membuat lawan bicaranya overdosis.
"Kal, mau makan nasi goreng kimchi nggak?" tawarnya.
"Mau. Tapi aku lagi nggak ada stok kimchi."
"Kita order aja." Karel sudah bersiap mengeluarkan ponsel dari saku celana, namun Kalea dengan cepat menyela.
"Ih, tapi enakan buatan kamu."
Karel tampak berpikir sejenak. Kemudian, sebuah ide cemerlang melintas di kepala. Kalau bisa divisualisasikan, sekarang ini sudah ada bohlam yang menyala terang di atas kepala Karel.
"Kalau gitu, kita ke supermarket dulu, beli kimchi."
Kalea mengangguk setuju. Secepat itu, tanpa perlu banyak waktu untuk berpikir. Dalam sekejap, keberadaan Gavin hanya seperti angin lalu. Kalea sama sekali tidak lagi menaruh perhatian pada Gavin yang masih menyadarkan kepala di bahunya, membuat lelaki itu mendengus dan melirik sebal ke arah Karel.
"Kallll...kepala aku masih sakit." Rengeknya lagi demi merebut perhatian Kalea. Namun usahanya gagal karena alih-alih mengusap kepalanya lagi, Kalea justru mendorong kepala pelan agar menjauh dari bahunya.
Gavin menatap tidak percaya kepada Kalea, yang justru dibalas dengan tatapan datar oleh istrinya itu.
"Aku lupa, kamu masih harus jaga jarak dua meter dari aku." Kemudian, Kalea berjalan keluar menerobos pintu. Diikuti Karel yang sempat-sempatnya menjulurkan lidah dengan tampang songong yang membuat Gavin ingin sekali melayangkan tinju.
__ADS_1
"Bajingan." Gavin menggeram pelan setelah sosok Kalea dan Karel menjauh darinya.
...****************...
"Mau tambahin daging, nggak?" tanya Karel saat mereka berjalan melewati rak daging. Troli yang dia dorong sudah setengah penuh, terisi barang belanjaan yang sebagian besar tidak mereka rencanakan sebelumnya.
Awalnya, Karel hanya ingin membeli kimchi dan daun bawang saja. Tetapi setelah mereka berjalan melewati rak buah, Karel langsung kalap dan memasukkan beberapa jenis buah ke dalam troli. Kalea yang sedari tadi berjalan di sisi Karel juga tidak kalah kalap. Ketika mereka berjalan menyusuri lorong makanan ringan, Kalea juga dengan senang hati memasukkan beberapa biskuit rasa manis dan asin ke dalam troli.
"Boleh." Kalea menjawab setelah memasukkan dua pack dada ayam fillet ke dalam troli. Rencananya dia akan memasak dada ayam itu besok.
"Oke." Lalu Karel memasukkan dua pack daging sapi ke dalam troli. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju kasir.
Kalea menilik ponsel yang ada di tangan. Pukul setengah sepuluh. Kalau begini, mereka sudah bukan lagi menyiapkan sarapan, tapi juga sekalian makan siang. Tapi tidak apa-apa, yang penting tetap ada asupan makanan yang masuk ke dalam perut mereka karena hari ini mereka butuh banyak tenaga untuk menjemput Mama dan Papa di bandara.
Sementara Karel mengantre, menunggu giliran untuk membayar, Kalea melipir ke dekat pintu keluar. Dia berdiri di sudut yang tidak menghalangi lalu-lalang orang sembari memainkan ponselnya.
Khidmat sekali Kalea bermain ponsel. Sampai perhatiannya tertarik ketika merasakan ujung kaus yang dia kenakan ditarik beberapa kali.
Kalea mengalihkan pandangan, menunduk untuk memeriksa siapa yang sudah menarik-narik ujung kausya. Dan senyum Kalea terkembang sempurna saat mendapati seorang bocah perempuan berusia empat tahun sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Halo, Sierra." Sapa Kalea sembari berjongkok untuk menyamakan posisi tubuhnya dengan Sierra.
"Halo, Kakak." Sierra balas menyapa. Deretan gigi putihnya yang rapi dipamerkan, membuat Kalea terkekeh saat mendapati sisa cokelat mengotori gigi depan Sierra yang mirip kelinci.
"Kamu habis makan cokelat, ya?" tanya Kalea. Sierra mengangguk semangat.
"Iya! Oma yang kasih. Tapi kalau Ayah tahu, Sierra pasti dimarahi." Sierra menjelaskan dengan rinci. Dari situ, Kalea bisa menangkap bahwa Sierra tidak datang bersama Taruna. Orang yang Sierra panggil Oma itu mungkin adalah ibunya Taruna, atau bisa jadi ibu mertuanya.
"Sierra ke sini cuma berdua sama Oma?" tanyanya lagi sembari merapikan helaian rambut Sierra yang menjuntai menutupi mata.
"Iya. Ayah lagi sibuk kerja."
Kalea manggut-manggut. "Terus, Oma sekarang di mana? Kamu nggak lagi terpisah sama Oma kayak waktu itu pas kamu terpisah sama Ayah kamu, kan?"
__ADS_1
"Oma lagi mengantre untuk bayar belanjaan. Sierra nggak terpisah dari Oma, kok."
"Syukurlah." Kalea menghela napas lega mendengar penuturan bocah di hadapannya itu.
Lalu tak lama kemudian, Kalea mendengar suara perempuan memanggil nama Sierra. Ketika menolehkan kepala, Kalea mendapati seorang wanita paruh baya berambut hitam pendek sebahu tengah berdiri tiga langkah di depan mereka. Wanita yang mengenakan dress batik itu tampak menenteng dua kantung belanjaan dan tengah menatap Sierra dengan sayang.
Kalea pun bangkit. Menyapa wanita itu dengan sopan dan berushaa menyunggingkan senyum ramah.
Wanita itu membalas senyumannya kemudian melangkah lebih dekat ke arah Sierra. "Sierra kenal sama kakak ini?" tanya wanita itu.
Sierra pun mengangguk. "Kenal. Kakak ini teman Sierra."
"Oh, temannnya Sierra, ya. Perkenalkan, saya Dewi, Omanya Sierra."
"Saya Kalea, Tante." Kalea agak ragu-ragu ketika menyebut kata Tante. Entah apakah dia boleh menyebut seseorang yang baru dikenal dengan sebutan itu. Karena sejujurnya Kalea tidak tahu mana sebutan yang sopan untuk digunakan.
"Halo, Kalea. Makasih, ya, sudah mau jadi temannya Sierra." Wanita itu kembali tersenyum ramah. "Tapi kami harus pulang sekarang, Sierra belum saya kasih makan. Kalau ayahnya tahu, nanti saya kena omel. Jadi, kami permisi dulu, ya."
"Oh, iya, Tante. Silahkan." Kalea bergerak cepat membukakan pintu agar Sierra dan omanya bisa keluar. Walaupun sebetulnya sudah ada petugas yang berjaga di depan pintu dan siap untuk membukakannya.
"Hati-hati di jalan, Tante." Kata Kalea sebelum wanita itu membawa Sierra menuju mobil yang baru saja parkir di depan mereka.
"Terimakasih." Ucap si wanita. "Sierra, dada dulu sama kakaknya."
Sierra pun menurut. Dengan semangat yang menggebu, anak itu melambaikan tangan kepada Kalea. "Bye, Kakak!" kemudian Sierra melompat naik ke dalam mobil disusul dengan omanya.
"Bye, Sierra." Balas Kalea. Lalu, mobil itu pun melaju. Meninggalkan Kalea dengan perasaan yang perlahan-lahan menghangat.
Tak lama setelah kepergian mobil Sierra, Karel muncul dan melabuhkan tepukan singkat di bahu Kalea.
"Malah bengong, ayo jalan." Kata Karel kemudian berjalan mendahului menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan.
Kalea mengekor dengan hati yang senang. Ternyata, bertemu dengan Sierra bisa menimbulkan efek yang sehebat ini. Ah, mungkin dia harus meminta ijin pada Gavin dan Taruna untuk sesekali mengajak Sierra main.
__ADS_1
Bersambung