
Saat matahari perlahan turun di sisi barat, Kalea beranjak dari kursi teras belakang. Berniat kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri karena pinggangnya mulai terasa pegal.
Namun, gerakannya terhenti saat ponsel yang dia letakkan di atas meja tiba-tiba menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dinekal.
Kalea menyambar ponselnya, dan segera membuka pesan tersebut untuk mengetahui apa isinya dan siapa pemilik nomor tak dikenal tersebut.
Halo, Kalea. Ini Irina. Maaf mengganggu waktu kamu, tapi bisa nggak kita ketemu sebentar? Ada yang mau aku omongin sama kamu.
Begitulah pesan itu berbunyi.
Perasaan Kalea yang semula sudah membaik berkat kehadiran Karel dan kalimat-kalimat positif yang lelaki itu katakan, dalam sekejap berubah menjadi kelabu hanya dengan satu pesan yang dikirimkan oleh Irina.
Dan seharusnya, Kalea mengabaikan saja pesan tersebut kalau tidak mau perasaannya semakin terluka, bukan malah bergerak secara impulsif mengetikkan pesan balasan untuk perempuan itu.
Di mana.
Hanya itu yang dia katakan. Sebab dia tidak mau berbasa-basi. Lebih cepat dia bertemu dengan Irina sepertinya juga lebih baik. Agar dia juga bisa mendengarkan penjelasan dari sisi Irina, bukan cuma dari sudut pandang Gavin saja.
Tidak sampai satu menit, balasan dari Irina muncul. Kalea segera membukanya.
Amaris Cafe. Aku udah di sini sekarang, kalau kamu mau, kamu bisa langsung datang.
Amaris Cafe. Kenapa lagi-lagi seseorang mengajaknya bertemu di tempat itu. Apakah tempat itu memang diciptakan untuk menjadi tempat bagi dirinya menemui hal-hal menyakitkan dalam hidup?
Oke, aku ke sana sekarang.
Usai mengirimkan balasan, dia segera masuk ke dalam rumah, mengabaikan Karel yang sedang menggoda Bi Imah ketika wanita itu sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak menu makan malam.
"Heh, mau ke mana?!" seru Karel yang melihat Kalea berjalan lurus ke ruang depan.
Karel buru-buru berlari menyusul Kalea sebelum perempuan itu semakin jauh. Segera dicekalnya lengan Kalea ketika perempuan itu hendak menerobos ke ruang tamu.
"Lo mau ke mana?" tanyanya sekali lagi. Membalikkan badan Kalea agar dia bisa menatap lurus ke manik mata perempuan itu.
"Aku mau keluar sebentar, Rel."
"Iye, ke mana?" ulang Karel degan sisa kesabaran yang ada.
__ADS_1
"Mau ketemu sama Irina sebentar, mau ngobrol." Kalea berusaha tetap tenang dan menyembunyikan kegelisahannya rapat-rapat dari Karel.
"Di mana?"
"Rel,"
"Di mana, Kal?" tuntut Karel. "Mau ketemu di mana, biar gue anterin."
"Aku sendiri aja,"
"Lo lagi hamil muda." Sela Karel. "Mau ketemu Irina di mana, gue yang anterin. Kalau nggak mau gue anterin, mending nggak usah pergi." Final Karel, tidak mau lagi menerima penolakan dari Kalea.
"Gavin udah nitipin lo ke gue selama dia kerja, jadi jangan bikin gue nggak bisa memenuhi kepercayaan dia. Atau dia nggak akan ijinin gue jagain lo lagi." Imbuhnya, sengaja membawa nama Gavin karena biasanya Kalea akan lebih menurut saat nama suaminya itu disebut.
Dan benar saja, setelah itu, Kalea menghela napas panjang sebelum menyebutkan tempat di mana dia akan bertemu dengan Irina.
"Amaris Cafe, tolong anterin aku ke sana."
Karel mengangguk, menggandeng Kalea lalu mereka berjalan beriringan.
...****************...
"Gue ikut ke dalam, nggak apa-apa, gue pesan meja terpisah."
Kalea menggeleng pelan. "Kamu tunggu di sini aja, aku cuma sebentar kok."
Kalea tidak memberikan Karel kesempatan untuk bernegosiasi lebih lanjut dan langsung turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu masuk cafe.
Dari pintu masuk, Kalea sudah bisa melihat sosok Irina yang duduk di bangku paling pojok, dengan posisi menghadap ke arah pintu dan pandangan perempuan itu terlempar jauh ke arah jalanan melalui jendela kaca besar.
Setelah menarik dan membuang napas secara perlahan untuk sedikit membantunya meredakan kegelisahan, Kalea bergerak mendorong pintu kaca itu lalu berjalan masuk ke dalam cafe.
Baru saja dia memasuki cafe tersebut, atmosfer di sekitarnya sudah terasa tidak nyaman. Apalagi saat Irina menolehkan kepala dan tatapan mereka bertemu. Rasanya, seperti baru saja ada belasan pisau tajam yang dihujamkan secara bersamaan, tepat mengenai jantungnya dan kini membuatnya seketika sekarat.
Langkah yang Kalea ambil terkesan diseret, susah payah dibawa sampai kini perempuan itu berhasil berdiri di samping meja, masih memaku tatap dengan Irina.
"Silakan duduk," Irina menunjuk kursi di seberangnya.
__ADS_1
Kalea mengambil posisi duduk dengan tatapan yang masih lekat tertuju pada manik kelabu Irina.
"Mau ngomongin soal apa?" todong Kalea langsung, tidak mau membuang-buang waktu lebih lama karena perasaannya benar-benar sudah tidak nyaman sekarang.
"Soal Gavin,"
Kalea meremas kedua tangannya yang ada di atas pangkuan. Sesak kembali terasa memenuhi dadanya, bahkan hanya dengan mendengar nama Gavin disebut oleh Irina.
"Dia kenapa?" meskipun begitu, Kalea masih berusaha tetap tenang. Tidak ingin membuat Irina bisa melihat betapa rapuhnya dia sekarang.
"Aku yakin kamu sekarang udah tahu tentang hubungan aku dan Gavin,"
"Langsung ke intinya aja, jangan basa-basi." Sela Kalea. Tanpa sadar, nada suaranya sedikit meninggi. Lalu dia menarik napas dalam-dalam untuk mengembalikan ketenangannya.
"Aku berniat untuk menyudahi hubungan kami, karena ya ... nggak ada lagi yang bisa diharapkan dari hubungan ini. Tapi ... " Irina memberi jeda, hanya untuk mengintip ke arah tas miliknya yang diletakkan di kursi samping kemudian terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum menarik sesuatu dari sana.
Tubuh Kalea terasa beku ketika tangan Irina membawa benda serupa termometer suhu tubuh itu dan meletakkannya di atas meja. Jelas-jelas ada dua garis merah di sana, yang menandakan bahwa siapapun pemilik benda itu, sedang positif mengandung sekarang.
"Aku nggak bisa melepaskan Gavin, Kal. Karena di dalam perut aku sekarang ini ... ada anak kami."
Mata Kalea memanas, dadanya semakin terasa sesak dan tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat. Ada begitu banyak umpatan yang hendak dia lontarkan, tetapi tidak satu pun yang bisa keluar.
"Kenapa kamu kasih tahu aku soal ini?"
"Karena kamu berhak tahu. Supaya kamu bisa memutuskan, untuk tetap mempertahankan pernikahan kamu dengan Gavin, atau merelakan dia untuk bertanggung jawab atas anak aku."
Kalea terdiam. Sungguh tidak bisa berkata-kata dan cuma bisa terpaku menatapi test pack di atas meja.
Kenapa? Kenapa jalan hidupnya jadi serumit ini? Di saat dia cuma mau bertahan sedikit lebih lama bersama Gavin demi anak yang ada di dalam perutnya, kenapa Tuhan seolah tidak mengijinkan dia melakukan itu, dengan menghadirkan jabang bayi lain di perut Irina.
Kalau sudah begini? Kalea harus bagaimana? Dia benar-benar tidak ingin anaknya lahir tanpa seorang ayah, tapi ...
"Aku rasa, cuma itu yang harus kamu tahu. Sekarang, waktunya kamu memikirkan langkah apa yang sebaiknya kamu ambil, Kal. Be wise, Kal. Demi kebaikan kita bersama."
Lalu, setelah mengatakan kalimat menyebalkan itu, Irina bangkit dari duduknya. Perempuan itu kemudian berjalan mendekati Kalea, membungkukkan badan ke arah Kalea, hanya untuk membisikkan sesuatu yang berhasil membuat emosi Kalea semakin naik.
"Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan berpikir dua kali untuk menceraikan Gavin."
__ADS_1
Kemudian, perempuan itu melenggang pergi. Meninggalkan Kalea dengan hati yang remuk redam.
Bersambung