Serana

Serana
Taruna Wijaya


__ADS_3

"Sierra!"


"Kalea!"


Keduanya menoleh ketika dua suara dari orang yang berbeda menggema di saat yang bersamaan. Kalea melihat Gavin berjalan cepat ke arahnya dari lorong rak tempat bumbu dapur di pajang, sedangkan dari lorong di sebelahnya, seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan Gavin juga tengah berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang panik bukan main. Kalea kebingungan saat kedua orang itu sampai di hadapannya di saat yang bersamaan dan malah saling tatap untuk waktu yang cukup lama.


"Gavin?" panggil Kalea pelan saat Gavin tak kunjung menarik pandangannya dari laki-laki asing itu.


Gavin pun menoleh, kemudian laki-laki itu langsung mengomelinya tepat ketika tatapan mereka bertemu. "Kamu dari mana aja? Saya nyariin kamu sampe muter-muter keliling supermarket." 


"Tadi aku mau beli es krim, terus-"


"Sierra, kamu dari mana aja? Ayah nyariin kamu dari tadi." Ucapan Kalea terpotong oleh laki-laki asing yang kini berjongkok di hadapannya, memegangi pundak anak perempuan yang masih berada dalam gandengannya itu.


"Sierra cari-cari Ayah, tapi ayah nggak tahu kemanaaa." Kalea terkejut saat anak perempuan itu tiba-tiba menangis. Genggaman tangan mereka terlepas karena anak itu langsung menghambur ke dalam pelukan laki-laki asing di hadapan mereka.


"Ayah kan bilang sama Sierra untuk tunggu sebentar. Kenapa Sierra malah pergi dan bikin Ayah kebingungan?" walau bibirnya mengomel, tapi Kalea bisa melihat betapa leganya laki-laki itu karena akhirnya bisa menemukan putrinya dalam keadaan selamat. Laki-laki itu memeluk putrinya erat dan Kalea cuma bisa diam menyaksikan kejadian itu di depan matanya.


Sedangkan Gavin mulai berdiri tidak tenang di tempatnya saat tatapan matanya dengan laki-laki itu bertemu. Ada begitu banyak kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya ketika laki-laki itu tidak kunjung menarik pandangannya, hingga membuatnya takut kalau-kalau Kalea akan menyadari ada yang tidak beres antara mereka.


Beberapa menit terasa seperti tahunan bagi Gavin. Terlalu banyak pemikiran acak di kepalanya yang membuatnya pusing bukan main. Ada banyak skenario buruk, dan Gavin terlalu takut kalau satu di antaranya akan menjadi kenyataan. Jadi ketika ia punya kesempatan, Gavin segera bergerak mendekati Kalea.


"Ayo kita pulang." Ajaknya. Ia sudah menarik lengan Kalea untuk lebih dekat ke sisinya, namun niatnya untuk segera pergi dari sini urung ketika laki-laki asing itu tiba-tiba berdiri dan mulai berbicara.


"Terimakasih sudah bantu menjaga anak saya." Kata laki-laki asing itu, yang jelas ditujukan kepada Kalea.

__ADS_1


Gavin tersentak saat Kalea bergerak pelan melepaskan tangannya, kemudian perempuan itu berjalan mendekat ke arah laki-laki asing tadi yang kini membawa si anak perempuan bernama Sierra itu di dalam gendongan.


"No prob, tapi lain kali tolong jangan lengah, kasihan Sierra tadi menangis ketakutan." Kata Kalea sembari menatap Sierra lekat. Bocah itu tampak mengalungkan lengan di leher ayahnya, seolah takut kalau mereka akan kembali terpisah jika ia melepaskan lengannya sebentar saja.


Laki-laki itu hanya mengangguk. Kemudian, sebelum Kalea kembali berjalan ke arah Gavin, si laki-laki kembali bersuara.


"Kalau kalian nggak sedang buru-buru, bolehkah saya mentraktir kalian kopi? Sebagai ucapan terimakasih." 


Kalea tampak berpikir sejenak. Ia sama sekali tidak membutuhkan ucapan terimakasih semacam itu karena baginya membantu sesama ketika ia mampu adalah suatu keharusan. Tapi saat matanya bersirobok dengan manik kecoklatan milik Sierra, Kalea tidak kuasa untuk menolak ajakan tersebut. 


Sebelum menganggukkan kepala, Kalea sempat menoleh kepada Gavin untuk meminta persetujuan lelaki itu. Namun sampai belasan detik berlalu, Gavin sama sekali tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng sehingga Kalea akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri.


"Oke, kita ke coffee shop yang di seberang aja. Saya sekalian mau traktir Sierra strawberry cake sebagai salam perkenalan." Kalea tersenyum tipis pada Sierra, yang kemudian ditanggapi oleh gadis kecil itu dengan sebuah anggukan kepala.


Setelahnya, Kalea berjalan lebih dulu, disusul laki-laki asing dan Sierra. Sedangkan Gavin masih terdiam di tempatnya, menatapi punggung Kalea yang semakin menjauh dan menelan lusah susah payah ketika laki-laki asing yang sedang bersama Kalea itu menolehkan kepala sebentar dan tatapan mereka bertemu.


Di luar coffee shop, Gavin duduk di salah satu kursi. Pandangannya terlempar jauh ke arah jalanan di depan yang masih tampak lengang walau matahari sudah naik dan teriknya begitu menyilaukan. Kemudian, setelah mengembuskan napas pelan, Gavin menoleh pada laki-laki di sebelahnya yang tampak menikmati rokok yang terapit di sela-sela jemari panjangnya dengan khidmat. Pandangan lelaki itu terlempar jauh ke arah jalanan, tapi Gavin tahu sedari tadi laki-laki itu terus memerhatikan gerak-geriknya.


"Gue nggak tahu kalau lo punya anak." Kata Gavin, membuat laki-laki di sampingnya itu menolehkan kepala kemudian tersenyum tipis setelah mengembuskan asap rokok melalui belah bibirnya yang merah.


"Gue adopsi dia enam bulan yang lalu." Kata laki-laki itu sembari mematikan rokoknya, membuang puntung ke dalam asbak yang tersedia di meja di depan mereka. "Orangtuanya masih kerabat gue, meninggal kecelakan dan satu-satunya keluarga yang sudi buat bertanggungjawab sama Sierra cuma gue dan nyokap gue." Lanjut laki-laki itu.


Gavin hanya menganggukkan kepala sebagai respon. Kemudian hening cukup lama karena Gavin tidak tahu harus membicarakan apa lagi dengan laki-laki ini di saat mereka bertemu dalam situasi yang tidak terduga seperti sekarang.


Laki-laki ini bernama Taruna Wijaya. Mereka berteman sejak di bangku kuliah dan selama tiga tahun belakangan, Taruna telah bekerja menjadi manajer untuk Irina. Kepada Taruna lah Gavin mempercayakan Irina. Ia sering meminta pada Taruna untuk menjaga Irina ketika ia sedang sibuk dengan pekerjaannya dan tidak punya waktu untuk menemani kekasihnya itu. Gavin percaya pada Taruna karena sebelum ia dan Irina berpacaran, mereka bertiga memang sudah berteman.

__ADS_1


Masalahnya sekarang, Gavin harus menjauhkan Taruna dari Kalea. Karena Taruna berhubungan dengan Irina, dan apapun yang berhubungan dengan perempuan itu sama sekali tidak boleh bersinggungan dengan Kalea. Gavin harus menjaga mereka berdua tetap berjarak dalam batas aman, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Di tengah keheningan, Gavin kembali melirik Taruna yang kini mengalihkan pandangan ke dalam coffee shop yang didominasi kaca. Kemudian ia mengikuti arah pandang lelaki itu hingga ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Kalea dan Sierra begitu asik menikmati strawberry cake sembari saling melemparkan candaan.


"Perempuan yang sama lo tadi..." Taruna menolehkan kepala, hanya untuk mendapati Gavin menatapnya dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.


"Iya." Gavin menjawab cepat. Ia bahkan tidak perlu menunggu sampai Taruna menyelesaikan pertanyaannya.


"Ah...I see. Pantesan lo kayaknya gelisah banget pas ketemu gue." Taruna terkekeh. Niatnya hanya untuk mencairkan suasana dan supaya Gavin berhenti merasa khawatir, tapi kekehan itu ternyata membuat Gavin semakin merasa gelisah, terlihat jelas dari reaksi tubuhnya yang berkali-kali mencuri pandang ke arah Kalea dan Sierra.


"Cantik."


Gavin menoleh ketika Taruna kembali buka suara. Alisnya bertaut saat mendapati senyum tipis tersungging di bibir Taruna. Padahal, ia tidak merasa ada sesuatu yang pantas untuk diberikan sebuah senyuman dalam situasi seperti sekarang.


"Irina gimana?" tanya Gavin, berusaha mengalihkan pembicaraan. Jujur saja, ia tidak ingin Taruna tahu lebih banyak hal tentang Kalea.


Taruna kembali terkekeh melihat sikap Gavin yang terkesan ingin membangun tembok pembatas agar ia tidak menyentuh perempuan bernama Kalea itu. "She's good." Katanya, disertai sebuah senyum simpul tatkala nama Irina berdengung di telinganya.


"Walaupun rumor kencannya sama Gabriel Permana masih jadi perbincangan di mana-mana dan kadang bikin suasana hati dia jadi acak-acakan, tapi sejauh ini dia masih bisa lewatin semuanya." Terangnya. Jelas sekali tahu bahwa Gavin ingin laporan yang terperinci tentang kondisi terkini kekasihnya itu.


"Thanks." Ucap Gavin. "Makasih udah selalu ada dan jagain Irina."


"Nggak perlu bilang makasih, itu udah jadi tugas gue karena gue dibayar untuk itu." Kata Taruna sembari mengeluarkan sebatang lagi rokok dan segera menyalakannya. "Tapi lo better naikin gaji gue sih, soalnya sekarang gue punya anak yang harus dibeliin susu." Candanya setelah menyesap rokok dan mengembuskan asapnya ke udara.


"Sure. Gaji lo gue naikin tiga kali lipat mulai bulan depan." Kata Gavin dengan entengnya, membuat Taruna terkekeh karena sebetulnya jawaban itu sudah ia perkirakan sebelumnya. Karena yang sedang dia ajak bicara sekarang ini adalah seorang Mahesa Gavin Cakraditya, anak pengusaha kaya yang sumber uangnya di mana-mana, jangankan naik gaji, kalau Taruna minta Gavin memberikannya saham di perusahaan, laki-laki ini pasti akan langsung menyetujuinya.

__ADS_1


Tapi Taruna tidak menginginkan uang. Dia tidak butuh kenaikan gaji. Karena kini, ia punya tujuan lain yang harus dicapai secepatnya. Agar jika umurnya tidak panjang, dia bisa mati dengan tenang. Agar saat Sierra tumbuh dewasa nanti, dia akan merasa lega karena orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya menerima balasan yang setimpal. Agar seseorang yang sudah lama mati itu bisa tidur dengan tenang di bawah timbunan tanah setelah bertahun-tahun ditinggalkan dalam kesepian yang panjang. Agar Taruna tidak akan merasakan penyesalan yang lebih dalam dari saat ia memasukkan peti orang itu ke dalam tanah.


Bersambung


__ADS_2