
Gavin menatap Karel dan Kalea bergantian dengan tangan yang terlipat di depan dada. Dua orang itu kini sedang duduk bersebelahan, kepala mereka menunduk dan Gavin bisa melihat mereka beberapa kali saling senggol seakan memberi kode tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Kini, di dalam kepalanya, Gavin kembali teringat pada adegan yang sampai membuatnya harus berteriak kesetanan saat pertama kali membuka pintu kamar rawat Kalea beberapa menit yang lalu.
Tadinya, dia sedang beristirahat di kursi tunggu di depan kamar rawat Kalea. Dia menolak ajakan anggota keluarga yang lain untuk beristirahat di ruang istirahat yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Letaknya juga tidak terlalu jauh, hanya di ujung koridor. Gavin pikir, akan lebih mudah untuk memantau keadaan Kalea kalau dia tetap berada di jarak yang dekat.
Namun baru saja dia akan memejamkan mata dengan kepala yang bersandar di kursi, Gavin terpaksa menarik kembali seluruh kesadarannya saat rungunya menangkap suara gaduh yang berasal dari dalam kamar rawat Kalea.
Tanpa pikir panjang, Gavin langsung bangkit dan membuka pintu untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
Dan... walaaaa! Dia menemukan Karel dan Kalea sedang berpelukan (ini yang awalnya dia pikirkan sebelum mengetahui yang sebenarnya terjadi), ranjang pasien sudah dalam keadaan tidak keruan dan bantal yang seharusnya Kalea gunakan untuk tidur sudah teronggok tak berdaya di lantai.
Gavin benar-benar kehilangan akal, jadi dia berteriak dan segera menghampiri Kalea lalu menyeret perempuan itu menjauh dari pelukan Karel.
Dan di sinilah dia sekarang, hendak melakukan ekseskusi terhadap dua manusia yang berhasil membangunkan singa lapar yang telah bersemayam di tubuhnya sejak lama.
Satu tarikan napas diambil. Dalam. Dalam sekali seolah Gavin ingin meraup sebanyak-banyaknya oksigen sebagai bekal kalau-kalau setelah ini dia akan kehabisan napas karena mengoceh panjang lebar kepada dua anak manusia di hadapannya ini.
"Kal," panggilnya pelan setelah mengembuskan napas keras-keras.
Butuh lebih dari tiga detik sampai Kalea berani mengangkat kepalanya sehingga tatapan mereka bisa bertemu. Melihat ketakutan yang terpancar di kedua manik boba Kalea membuat Gavin sempat goyah. Tetapi akhirnya dia berhasil menguatkan diri untuk tetap teguh pada tujuan utamanya.
"Tadi Dokter suruh kamu ngapain?" tanyanya sembari menatap Kalea serius.
"Tidur siang." Kalea menjawab dengan suara yang teramat pelan, kemudian perempuan itu kembali menundukkan kepala dalam-dalam.
"Terus kenapa nggak dilakukan? Kenapa malah bercanda sama Karel?"
Hening. Kalea tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Perempuan itu bahkan semakin menundukkan kepala. Dan dari tempatnya berdiri yang hanya berjarak dua langkah di depan tempat Kalea dan Karel duduk, Gavin bisa melihat tangan Kalea yang meremas celana yang sedang dia kenakan.
"Jawab, Kal." Desak Gavin saat kesabarannya sudah semakin menipis.
"Maaf," cicit Kalea.
"Saya nggak butuh kata maaf. Saya maunya kamu jelasin, kenapa kamu nggak tidur siang dan malah bercanda sama Karel?"
__ADS_1
"Gue yang salah." Sela Karel tiba-tiba, membuat Gavin terpaksa mengalihkan tatapan ke arah pemuda itu.
"Gue yang jahilin Kalea." Sambung Karel dengan kepala yang mulai berani ditegakkan.
"Saya nggak nanya sama kamu, Karel." Kata Gavin dengan penuh penekanan saat menyebutkan nama Karel. "Saya nanya sama Kalea, jadi biar dia yang jawab. Nanti kamu juga kebagian giliran untuk jawab pertanyaan saya, jadi sabar aja dulu."
Biasanya, Karel akan punya seribu satu kata untuk mendebat Gavin. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, seorang Azerya Karelino Gautama adalah tipikal manusia yang sama sekali tidak mau mengalah. Tapi kali ini, entah mengapa dia seolah kehilangan semua stok kosakata yang ada di dalam kepala.
Karel belum pernah melihat Gavin terlihat semarah ini. Dan jujur saja, sisi Gavin yang saat ini ditunjukkan berhasil membuatnya merinding ketakutan. Dari tatapan matanya saja, Karel merasa seolah Gavin bisa menelannya hidup-hidup.
Maka, yang bisa Karel lakukan setelahnya adalah kembali diam dan menundukkan kepala semakin dalam.
"Jawab, Kal. Kenapa kamu nggak tidur siang sesuai arahan Dokter?" tanya Gavin lagi kepada Kalea.
Karena Kalea tak kunjung mengangkat wajahnya, Gavin berinisiatif maju satu langkah dan mengulurkan tangan lalu menarik pelan dagu Kalea agar dia bisa melihat wajah perempuan itu dengan lebih jelas.
Tapi sialnya, dia justru menemukan sepasang mata Kalea berair. Perempuan itu menangis.
Gavin menghela napas. Kemarahan dan kekesalan yang sejak tadi bercokol di hatinya perlahan-lahan tergusur dan tergantikan dengan perasaan bersalah yang setiap detiknya semakin menjadi-jadi.
"K-kamu... kamu seram kalau lagi ma-marah..." ucap Kalea terbata-bata karena berusaha menahan isakan. "Aku takut, Gavin."
Ya Tuhan... kalau sudah begini, apa yang harus Gavin lakukan? Niatnya ingin memarahi Kalea karena perempuan itu berbuat bandel, sekarang malah dirinya yang dilanda rasa bersalah yang berkepanjangan.
Sekali lagi, Gavin menghela napas. Detik ketika dia meraih tubuh Kalea dan memeluknya erat, Gavin sepenuhnya lupa pada kemarahannya. Dia tepuk-tepuk pelan punggung Kalea demi membantu perempuan itu menyelesaikan isakannya.
Sementara itu, di sebelahnya, Karel cuma berani mengintip sedikit dan mulai merutuk dalam hati. Menyalahkan diri sendiri karena dia sudah membangunkan singa lapar yang bersemayam di dalam diri seorang Mahesa Gavin.
...****************...
"Tidur, Karel." Perintah Gavin saat menemukan Karel masih berusaha membuka matanya.
Meskipun jarak antara ranjang dengan sofa lumayan jauh, tetapi Gavin bisa melihat dengan jelas kalau Karel masih berusaha mengintip apa yang sedang dia dan Kalea lakukan di atas ranjang.
"Ini mau tidur!" gerutu Karel sembari berusaha memejamkan matanya erat-erat. Padahal dia sama sekali tidak mengantuk. Tapi Gavin bersikeras memaksanya untuk tidur dengan dalih supaya Kalea juga bisa tidur siang dengan nyenyak tanpa diganggu.
__ADS_1
"Kamu juga tidur." Kata Gavin kepada Kalea yang kini menyembunyikan wajah di pelukannya.
"Kamu jangan ngomong terus, aku jadi nggak bisa tidur." Sahut Kalea dengan suara teredam.
"Gimana saya nggak mau ngomong terus kalau kamu bandel?"
Hening. Kalea tidak menyahut. Sebagai gantinya, perempuan itu malah mengeratkan pelukan dan semakin dalam menyembunyikan wajah di dada bidangnya.
Gavin menghela napas panjang. Sekali lagi Kalea menang. Perempuan ini memang akan selalu menang, entah dengan siapa dia disandingkan.
"Saya nggak marah sama kamu. Cuma sedikit kesal aja karena kamu bandel." Kata Gavin dengan suara selembut mungkin. Tangannya juga bergerak pelan mengusap lengan Kalea, demi menyalurkan keyakinan bahwa dia memang tidak sedang marah pada perempuan itu.
"Semalam waktu kamu demam tinggi dan nggak berhenti meracau, saya benar-benar merasa hampir gila, Kal. Rasanya napas saya sesak, kepala saya berat dan saya benar-benar nggak tahu harus gimana." Gavin mulai mencurahkan semua isi hatinya, berharap dari situ Kalea bisa paham mengapa dia bersikap seperti tadi. "Makanya, pas saya tahu kamu bandel nggak mau tidur siang dan malah bercanda sama Karel, saya kesal. Saya takut kondisi kamu memburuk lagi kayak semalam."
Untuk beberapa saat, Gavin tidak lagi bersuara. Dia juga tidak menuntut Kalea untuk menyahuti ucapannya. Dia biarkan keheningan merayap sesuka hati, berteriak jemawa atas keberhasilannya berkuasa.
Lalu, saat suara ketukan jarum jam terasa lebih nyaring ketimbang deru napas mereka masing-masing, Gavin merasakan Kalea bergerak pelan menjauhkan wajah dari dadanya.
Gavin menduduk, hanya untuk menemukan sepasang mata boba milik Kalea kembali berair. Tapi perempuan itu jelas berusaha keras untuk tidak menangis. Sebab alih-alih membiarkan kabut bening itu menguasai, Kalea malah bergerak pelan mendekatkan wajahnya.
Tidak pernah terbayang di dalam kepala Gavin, bahwa Kalea akan mendaratkan sebuah kecupan di pipinya. Sebuah kecupan hangat yang Gavin sendiri tidak tahu apa maknanya.
Bahkan sampai bibir itu telah menjauh, Gavin masih merasakan kehangatan itu menjalar sampai ke seluruh tubuhnya.
"Maaf udah bikin kamu khawatir." Kalea berucap pelan. Lalu, satu tangannya terulur mengusap pipi Gavin yang tadi dia beri sebuah kecupan. "Dan, terimakasih karena kamu selalu mengusahakan yang terbaik buat menjaga aku. Aku janji nggak akan bandel lagi."
Gavin merasa, dia tidak perlu membalas kalimat itu dengan kata-kata. Jadi, dia menarik tubuh Kalea mendekat. Satu tangannya berada di pinggang perempuan itu, satu lagi memegang lembut tengkuknya sebelum sebuah kecupan mendarat sempurna di bibirnya yang pucat.
Kecupan demi kecupan berlabuh. Lama kelamaan berubah menjadi sesapan-sesapan halus, menimbulkan suara decapan nyaring yang memenuhi ruangan yang sunyi.
Mereka terus saling mencumbu, menyentuh setiap inci permukaan bibir yang saling bertemu itu seolah lupa kalau mereka tidak sedang berada di ruangan ini hanya berdua.
Ada Karel di sana, di atas sofa, sedang merutuki keberadaan dirinya sendiri yang terjebak di tengah-tengah sepasang manusia yang sedang jatuh cinta.
Bajingan! Orang kalau lagi jatuh cinta mah otaknya suka nggak dipake! Ada gue di sini, anjir! Batinnya sembari menahan diri untuk tidak membuka mata. Dia kemudian bergerak memiringkan badan memunggungi ranjang Kalea. Dengan kedua tangan, dia tutup telinganya sendiri berharap suara decapan laknat itu tidak semakin menginvasi otaknya.
__ADS_1
Bersambung