Serana

Serana
Pulang


__ADS_3

Setelah melalui banyak pertimbangan, dokter akhirnya memperbolehkan Kalea untuk pulang dua hari kemudian.


Keputusan itu tentu saja disambut oleh Kalea dengan senang hati. Saking senangnya, perempuan itu sampai berjingkrak-jingkrak di depan Gavin dan membuat lelaki itu menggelengkan kepala pelan.


"Jangan lompat-lompat, nanti sakit lagi." Cegah Gavin saat Kalea semakin bersemangat melompat-lompat di atas lantai rumah sakit.


Kalea berhenti melompat-lompat sembari cengengesan. Lalu dia melesat menuju kemari penyimpanan dan segera mengemasi barang-barang miliknya dan Gavin kemudian memasukkannya ke dalam tas.


"Biar saya aja." Gavin hendak mengambil alih pekerjaan Kalea, tetapi perempuan itu ngotot untuk melanjutkan pekerjaannya sendiri tanpa campur tangan Gavin.


"Kamu diam. Duduk aja yang anteng." Perintah Kalea sembari membantu Gavin duduk di atas ranjang rumah sakit.


Karel sudah lebih dulu pulang ke rumah karena ada sedikit masalah di cafe, jadi pemuda itu tidak bisa membantu mereka berkemas.


Tapi tidak apa-apa, Kalea tetap senang karena akhirnya dia bisa terbebas dari rumah sakit yang membosankan ini.


"Kita pulang ke rumah, kan?" tanya Kalea di sela-sela kegiatannya memasukkan baju ke dalam tas.


"Ke rumah Mama." Ralat Gavin.


"Bukan rumah kita?" tanya Kalea, sepenuhnya berhenti dari kegiatannya berkemas dan mulai menatap Gavin serius.


"Bukan. Untuk sementara waktu, kita tetap di rumah Mama dulu."


"Rumah kita masih nggak aman?" tanya Kalea takut-takut. Ingatannya tentang kejadian teror yang terjadi sebelumnya mendadak mencuat lagi memenuhi kepala, membuat perutnya jadi sedikit mual saat mengingat adegan darah yang bercecer di mana-mana setelah kotak berisi bangkai yang dikirimkan kepadanya itu dia lempar ke lantai balkon.

__ADS_1


"Pelakunya belum ketemu, Kal. Jadi, untuk sementara waktu, kamu lebih aman ada di rumah Mama." Jelas Gavin. Sebenarnya, dia agak berat untuk memberi tahu Kalea kalau dia belum juga bisa menemukan pelaku peneroran itu sampai sekarang. Minimnya petunjuk yang dia miliki membuatnya kesulitan, ditambah lagi selama beberapa hari ini dia harus membagi fokus untuk menyelesaikan masalah di kantor sekaligus menunggui Kalea di rumah sakit.


"Tapi kamu tenang aja, saya akan terus cari sampai dapat." Gavin berusaha menyunggingkan senyum untuk membuat Kalea percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun pada kenyataannya, dia jelas tahu tidak ada yang baik-baik saja setelah dia memutuskan untuk menikahi perempuan itu.


Kalea tidak menyahut dan hanya kembali meneruskan kegiatannya berkemas. Dia percaya Gavin akan melakukan yang terbaik untuk menjaganya. Jadi, bukankah dia hanya perlu percaya pada Gavin sekarang?


Setelah berkutat selama beberapa menit, semua barang-barang dari dalam lemari penyimpanan telah selesai dia masukkan ke dalam tas.


Kalea tersenyum senang menatapi hasil kerjanya sendiri. Lalu, dia mengulurkan tangan kepada Gavin, mengajak lelaki itu untuk bangkit supaya mereka bisa segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Gavin menerima uluran tangan Kalea dan mereka berjalan beriringan keluar dari kamar rawat. Tas besar diambil alih oleh Gavin di satu tangan, sedangkan tangan yang satunya menggenggam tangan Kalea erat, sama sekali tidak terlepas selama perjalanan mereka menuju basement rumah sakit.


...****************...


Di rumah, Mama dan Bi Imah sudah menunggu kedatangan Kalea dengan hati yang berdebar-debar. Sedari pagi ketika Gavin memberi tahu bahwa Kalea bisa pulang hari ini, mereka berdua sibuk menyiapkan banyak hal.


Selain membereskan kamar, Bi Imah juga memasak banyak makanan kesukaan Kalea, menyediakan sekotak penuh kinderjoy dan beberapa es krim berbagai rasa di dalam kulkas. Pokoknya, Bi Imah berusaha memberikan sambutan yang sebaik mungkin untuk kepulangan Kalea.


Mama sendiri tidak melakukan banyak hal. Wanita itu cuma jadi pendukung setia yang menemani Bi Imah mempersiapkan sambutan untuk Kalea dan sesekali mengerjakannya bersama-sama.


Setelah menunggu dengan harap-harap cemas, mereka akhirnya bisa tersenyum lega saat menemukan mobil Gavin memasuki pelataran rumah dan tidak lama kemudian sosok Kalea turun dari mobil dan langsung berlarian menghampiri mereka yang memang sudah menunggu di ambang pintu depan.


"Mama! Bi Imah!" sapa Kalea dengan nada super riang. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Mama dan Bi Imah, melupakan Gavin yang cuma bisa tersenyum tipis sembari menyusul berjalan ke arah mereka.


"Bibi masakin kesukaan Neng Kalea. Ada kinderjoy sama es krim juga di kulkas." Kata Bi Imah dengan semangat yang menggebu-gebu setelah adegan berpelukan mereka usai.

__ADS_1


"Mama juga siapin beberapa peralatan melukis baru buat kamu." Mama tidak mau kalah memamerkan apa yang sudah dia persiapkan untuk sang putri tercinta.


Kalea tidak bisa mengatakan yang lain selain kata terima kasih karena dua wanita paling dia sayang di dunia itu sudah mau repot-repot menyiapkan sambutan untuk kepulangannya.


"Ayo, masuk." Ajaknya seraya menarik lengan Bi Imah dan Mama secara bersamaan. Mereka bertiga pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, sedangkan Gavin masih betah mengekor di belakang dengan senyum yang tak kunjung pudar.


Bi Imah dan Mama langsung membawa Kalea ke dapur. Mama menarikkan kursi dan langsung membantu Kalea untuk duduk sementara Bi Imah mulai sibuk menaruh nasi ke atas piring lalu membubuhinya dengan berbagai macam lauk-pauk.


"Makan yang banyak, Neng." Kata Bi Imah setelah menyodorkan piring tersebut ke hadapan Kalea.


Kalea menerimanya dengan senang hati. Dia tersenyum lebar seraya mengangkat sendoknya tinggi-tinggi sebagai pertanda bahwa dia sudah siap membawa butir-butir nasi dan beragam lauk-pauk itu ke dalam mulutnya.


"Mama sama Bi Imah juga harus makan." Kata Kalea sebelum memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.


"Gavin, kamu juga harus makan." Kalea menoleh pada Gavin yang hendak berjalan naik ke lantai dua.


Gavin berhenti sebentar, membalikkan badan menghadap Kalea sebelum menggelengkan kepala pelan.


"Kamu duluan aja, saya mau beresin barang-barang kita dulu." Gavin mengangkat tas yang dia tenteng setara perut.


"Ya udah, tapi habis itu langsung turun buat makan, oke?"


"Iya." Gavin menjawab singkat, kemudian segera membalikkan badan dan melanjutkan langkah yang sempat tertunda.


Di setiap langkah yang dia ambil, di setiap anak tangga yang berhasil dia daki, Gavin masih terus memfokuskan pendengarannya kepada Kalea yang kini tengah berceloteh riang di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan.

__ADS_1


Tanpa sadar, Gavin tersenyum. Mendengar celoteh riang Kalea adalah satu dari sedikit hal sederhana yang mampu membuatnya bahagia. Dan seharusnya, kebahagiaan yang berasal dari hal-hal sederhana ini bisa dia nikmati lebih sering. Kalau saja dia tidak terlahir sebagai anak Papa.


Bersambung


__ADS_2