Serana

Serana
Stay


__ADS_3

"Bye, Sierra!" kata Kalea sembari melambaikan tangan kepada Sierra yang sudah duduk anteng di dalam mobil.


"Bye, kakak!" Melalui kaca mobil yang diturunkan, Sierra melongokkan kepala sembari melambaikan tangan dengan semangatnya.


"Sierra, masukin kepalanya. Ayah mau jalanin mobilnya sekarang."


Kalea terkikik geli saat Sierra memberengut kepada ayahnya yang menginterupsi kegiatannya melambaikan tangan.


"Sebentar, Ayah. Sierra masih mau dadah ke kakak!" protes Sierra yang membuat Taruna menghela napas. Kalea melihat lelaki itu melirik ke arah Gavin sebentar sebelum memberikan tanda pada Sierra bahwa bocah itu boleh melambaikan tangannya sedikit lebih lama.


"Nanti kita ketemu lagi ya, kakak!" kata Sierra dengan penuh semangat. Bocah itu tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Helaian rambut berwarna kecoklatan yang beterbangan menutupi wajahnya ketika angin bertiup cukup kencang sama sekali tak membuat antusias anak itu berkurang.


"Iya, nanti kita ketemu lagi." Kalea tersenyum setelah mengatakan itu. Sedetik kemudian ia merasakan tangan Gavin meraih tangannya, menelusupkan jemari panjangnya hingga jari-jari mereka kini saling bertaut sangat erat. Lagi-lagi Kalea menemukan Taruna melirik Gavin. Sebetulnya gerak-gerik dua orang itu memang agak aneh sejak pertama kali bertemu di supermarket tadi. Tapi Kalea berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.


"Saya pamit, ya. Sekali lagi terimakasih karena sudah bantu saya jagain Sierra." Ucap Taruna.


"Iya." Kata Kalea singkat. Kemudian kaca mobil kembali ditutup dan mobil milik Taruna melaju, berlalu dari hadapannya dan Gavin.


"Ayo, Mama pasti udah nungguin kita." Kalea agak tidak siap saat Gavin tiba-tiba menarik tangannya yang masih dalam genggaman. Mau tidak mau ia pun mengikuti langkah Gavin yang diambil lebar-lebar dan terkesan terburu-buru, seolah mereka memang sedang berlomba dengan waktu.


"Loh, ini kita mau kemana? Motor kamu kan parkirnya di sana." tanya Kalea kebingungan karena Gavin membawanya berjalan ke arah yang berlawanan dengan tempat lelaki itu memarkirkan motornya.


"Udah panas, kita naik mobil aja." Gavin berucap enteng. Sama sekali tidak peduli pada Kalea yang kini melongo dan masih tidak bisa menangkap ucapan Gavin barusan.


"Mobil siapa yang mau kita naikin? Terus itu motor kamu gimana?"


"Mobil saya."


"Hah?"


"Masuk." Kata Gavin tiba-tiba, mendorong pelan kepalanya agar masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dibukakan.


Kalea menurut saja, ia masuk ke dalam mobil dan segera memasang seatbelt walau ekspresi wajahnya masih tampak kebingungan.


Selagi Kalea belum berhasil mencerna situasinya, Gavin berjalan ke sisi pengemudi setelah memasukkan kantung belanjaan ke jok belakang.

__ADS_1


"Mobil kamu kok bisa di sini? Terus, motor kamu gimana? Mau ditinggalin gitu aja?" Kalea nyerocos, membuat Gavin menggelengkan kepala pelan.


"Kamu kalau lagi cerewet bikin kuping pengang, ya." Ledeknya, membuat Kalea seketika mengatupkan bibir rapat-rapat.


Menyadari Kalea yang tiba-tiba diam, Gavin pun menolehkan kepala. Dan ia nyaris menyemburkan tawa saat mendapati Kalea sedang menatapnya tajam dengan bibir yang memberengut.


"Bercandaaaaa." Kata Gavin, kemudian ia mencubit pipi Kalea dengan gemas, membuat si empunya semakin cemberut.


"Sakit!" protes Kalea sembari menepis tangan Gavin dari pipinya. Kemudian ia mengusap pipinya yang panas, masih dengan bibir yang cemberut.


Seandainya Kalea tahu kalau hal itu membuat Gavin semakin merasa gemas, dia mungkin akan berhenti bertingkah seperti ini.


Sejenak, setelah gerakannya mengusap pipi berhenti, Kalea melirik ke arah Gavin yang sudah siap menyalakan mesin mobil.


"Gavin." Panggilnya pelan.


Gavin hanya berdeham, kemudian mobil mulai melaju, meninggalkan area parkiran.


"Kamu kenal sama ayahnya Sierra?" tanyanya. Ada perubahan ekspresi yang cukup kentara di wajah Gavin. Bahkan senyum yang semula tersungging di bibir laki-laki itu pun perlahan pudar. Terkadang Kalea itu lemot dan lama dalam mencerna situasi, tapi kalau soal menangkap perubahan ekspresi di wajah lawan bicaranya, Kalea sudah ahli.


"Kenal." Kata Gavin dengan pandangan yang lurus ke arah jalanan. "Saya dan Taruna teman sewaktu kuliah."


"Hubungan kalian nggak baik?"


Ketika Gavin menoleh, ada keterkejutan yang berusaha disembunyikan mati-matian.


"Kami baik." Kata Gavin lalu kembali fokus ke jalanan. "Kenapa kamu mikir begitu?"


"Kamu kelihatan nggak nyaman tadi."


Terdengar hela napas berat yang keluar dari belah bibir Gavin. Kalea menangkapnya sebagai sebuah pertanda bahwa tebakannya tidak sepenuhnya salah.


"Saya cuma kaget aja karena udah lama nggak ketemu sama dia, dan tiba-tiba aja dia udah punya anak." Kata Gavin. Tapi jawaban itu sama sekali tidak membuat Kalea puas.


"Cuma karena itu?"

__ADS_1


"Kal," Gavin membanting setirnya secara tiba-tiba yang membuat tubuh Kalea sedikit terhuyung. Lelaki itu menepikan mobilnya di jalanan yang sepi dan Kalea cuma bisa diam dengan berbagai pertanyaan yang mulai ramai mengerubungi kepala.


Gavin melepas seatbelt yang melilit tubuhnya kemudian bergerak mendekat ke arahnya. Lelaki itu menatapnya lekat, menyuguhinya sepasang manik kelam yang kini menampakkan kilat asing yang terlalu sulit untuk dibaca. Ada percampuran antara kemarahan, kekhawatiran dan beberapa perasaan yang tidak bisa ia definisikan.


"Kamu...jangan terlalu banyak overthinking." Kalea merasakan tangannya digenggam erat. Tidak cuma digenggam, Gavin juga meremas tangannya pelan seolah sedang berusaha megenyahkan kecemasannya.


"Punya hati yang sensitif itu bagus, bisa membantu kamu untuk lebih peka pada keadaan sekitar." Suara Gavin mengalun lembut, serupa lullaby yang ia dengarkan tiap malam ketika gangguan tidurnya kambuh.


"Tapi, kalau dikit-dikit kamu pikirin, yang ada kamu bakal capek sendiri." Gavin berhenti meremas tangannya, kali ini gantian mengusap punggung tangannya lembut. "Spekulasi-spekulasi yang ada di kepala kamu itu cuma akan bikin kamu kelelahan. Dan saya nggak mau itu terjadi. Saya maunya kamu full senyum tiap hari, karena senyum kamu cantik."


Entah kapan terakhir kali Kalea mendengar suara seseorang yang mengalun selembut ini. Bahkan ketika apa yang Gavin sampaikan kepadanya sudah sering dia dengar dari bibir Mama dan Karel, lelaki ini tetap bisa menyampaikannya dengan cara yang lain.


Kalea tidak tahu berapa lama ia terdiam, mencerna apa yang Gavin sampaikan selagi tangan besar lelaki itu sudah beralih ke kepalanya, mengusak rambutnya dengan gerakan pelan dan sarat akan kasih sayang.


"Saya dan Taruna baik. Kalau nggak baik, saya nggak akan bilang sama kamu kalau kami kenal." Ucap Gavin kemudian, beralih mengusap belah pipinya yang sedikit memerah karena terik matahari yang menerpa kulitnya sebelum masuk ke dalam mobil tadi.


"Tempo hari juga kamu overthinking gara-gara perempuan asing yang nggak sengaja ketemu sama kita di hotel. Cuma gara-gara saya diam habis pertemuan itu, kamu jadi mikir yang macam-macam soal saya." Kalea bisa mendengar ada kekecewaan yang tersirat dalam suara Gavin. Dan entah mengapa hal itu membuatnya seketika merasa bersalah.


"Kalau semua hal kamu jadikan bahan overthinking, saya takutnya kamu nggak akan punya alasan yang cukup untuk percaya sama saya." Gavin berkata lirih.


"Nggak gitu, Gavin. Aku cuma...cuma..."


"Cuma?"


"Aku cuma khawatir sama kamu."


"Khawatir soal apa?"


Kalea menggelengkan kepala. Karena ia memang tidak tahu kenapa ia terus merasa khawatir pada laki-laki ini. Seolah laki-laki ini menyimpan begitu banyak luka yang tersembunyi di balik manik kelamnya itu dan membuat Kalea terus merasa gelisah.


Gavin menghela napas. "Saya baik-baik aja, nggak ada yang perlu kamu kahawatirkan."


"Selama kamu masih ada di sisi saya, semuanya akan baik-baik aja. Jadi tolong, stay sama saya. Kamu nggak perlu melakukan apa-apa, cukup di sini aja sama saya. Bisa?"


Bagai telah di setting otomatis, Kalea menganggukkan kepala. Kemudian dalam sekejap tubunya telah berada di dalam pelukan Gavin yang hangat. Lelaki itu tidak memeluknya cukup erat, tapi pelukan yang Gavin berikan terasa nyaman, cukup untuk membuat keresahannya perlahan-lahan menguap.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2