Serana

Serana
What's In The Folder


__ADS_3

Selama makan malam berlangsung, Kalea masih tidak membuka mulutnya kecuali untuk memasukkan makanan. Dia makan dalam diam, sama sekali tidak tertarik untuk ikut dalam perbincangan yang terjadi di sekitarnya.


Makanan yang ada di dalam mulut dikunyah dengan hitungan lebih banyak ketimbang biasanya, karena entah mengapa butir-butir nasi itu seolah menolak hancur dan begitu sulit untuk melewati tenggorokannya. Seolah ada hal lain yang nyangkut di sana, yang dia sendiri tidak tahu apa.


Setelah bersusah payah menelan makanannya, Kalea akhirnya menyerah di suapan ke-lima. Dia meletakkan sendok, menggeser piring menjauh dari hadapannya lalu menyambar gelas berisi air putih dan langsung menenggaknya hingga tandas.


Kalea jelas tahu bahwa gerakannya itu membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Namun, dia tidak punya cukup waktu untuk peduli pada apa yang mungkin melekat di kepala masih-masing anggota keluarga.


"Papa," panggil pelan, mulai mengangkat pandangan untuk menatap Papa yang duduk di seberangnya.


Yang dipanggil sudah lebih dulu menatapnya, jadi tidak butuh waktu lama bagi lelaki itu untuk menyahut.


"Kalea boleh pinjam ruang kerjanya sebentar? Ada yang harus Kalea kerjain sekarang."


Papa jelas keheranan. Sebab, seumur hidup, Kalea tidak pernah meminjam ruang kerjanya. Anak itu akan lebih senang mengerjakan segala sesuatu di studio pribadinya di lantai tiga.


Meskipun begitu, Papa tetap menganggukkan kepala setelah terdiam cukup lama.


Sudah diberi ijin, Kalea tidak mau menyia-nyiakan waktu. Dia bergegas bangkit dari kursi, sepenuhnya mengabaikan Gavin yang duduk di sampingnya dan kini tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan Karel yang duduk di sebelah kiri Papa, pemuda itu juga menatapnya serius, bahkan terlihat mulai menganalisia setiap gerakan yang dia buat.


"Kalau gitu, Kalea naik duluan." Pamitnya, lalu segera beranjak naik ke lantai dua.


Sebelum menuju ke ruang kerja Papa, Kalea lebih dulu melipir ke kamarnya, hanya untuk kembali tak lama kemudian sambil membawa amplop coklat dan flashdisk yang dia terima tadi sore.


Di dalam ruangan Papa, Kalea sama sekali tidak menyalakan lampu. Setelah memutar kunci sebanyak dua kali (untuk memastikan pintu benar-benar terkunci rapat), Kalea segera berjalan menuju kursi.


Dia meletakkan amplop coklat dan flashdisk di atas meja, kemudian segera menyalakan laptop milik Papa yang memang selalu ditinggalkan di sana.

__ADS_1


Selagi menunggu laptop menyala, Kalea kembali melirik amplop dan flashdisk di atas meja, dan perasaannya kembali tidak enak.


Tidak sampai setengah menit kemudian, laptop sudah menyala, Kalea meraih flashdisk lalu mencolokkannya ke slot yang tersedia, menunggu sampai perangkat laptop selesai membaca data dengan perasaan yang was-was.


Ketika data di dalam flashdisk sudah semuanya terbaca oleh sistem di laptop, Kalea dibuat terperangah kala menemukan ada puluhan video yang nampaknya diambil secara diam-diam. Tidak ada judul di setiap viedo, video-video itu hanya diberi nama dengan beberapa digit angka, yang Kalea sendiri tidak tahu apa maksudnya.


Sejujurnya, Kalea takut. Dia tidak siap untuk melihat isi di dalam video-video itu karena khawatir apa yang ada di sana akan membuatnya semakin tersakiti. Tetapi, tangan sialannya seolah bergerak semaunya sendiri, mengklik salah satu video dengan durasi paling panjang di antara yang lain.


Dan ... Kalea tidak tahu lagi bagaimana harus mendeskripsikan perasaanya sendiri ketika matanya melihat adegan apa yang terputar di dalam video tersebut.


Di sana, di sebuah kamar apartemen dengan pencahayaan yang remang, Gavin sedang bercumbu dengan seorang perempuan, yang meskipun pencahayaan di sana buruk, Kalea bisa dengan yakin mengatakan bahwa perempuan itu adalah Irina.


Kalea merasakan sesak yang terlalu sulit untuk didefinisikan kala dia menyadari bahwa bibir yang selama ini menjamah miliknya, mengambil ciuman pertamanya dan bahkan menjelajah dengan berani itu ternyata pernah bersentuhan dengan bibir perempuan lain. Yang lebih parahnya, terjadi ketika mereka sudah menikah.


Dari keterangan waktu yang ada, video itu jelas diambil ketika dia dan Gavin resmi menikah, dan fakta itu menampar Kalea lebih keras ketimbang sebelumnya, seolah hendak mengatakan dengan lantang bahwa segala perlakuan yang selama ini Gavin berikan kepada dirinya, ternyata juga diberikan kepada perempuan lain.


Kalea sendiri tidak tahu sejak kapan, tetapi air matanya telah merembes membasahi seluruh permukaan pipinya. Napasnya terasa sesak, seolah dia sedang berada di ruang hampa udara dan ajalnya akan tiba sebentar lagi.


Kalea menangis sejadi-jadinya, menikmati sesak yang terasa di dalam dada selagi kepalanya kembali penuh dengan berbagai pertanyaan tentang mengapa semua ini bisa terjadi kepada dirinya.


...****************...


Gavin mulai cemas ketika Kalea tak kunjung keluar dari ruang kerja Papa setelah dua jam lamanya. Berkali-kali dia mondar-mandir di dalam kamar, berpikir ribuan kali tentang apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menyusul Kalea ke ruang kerja Papa, atau membiarkan perempuan itu menikmati waktunya sedikit lebih kama, mengingat perempuan itu terlihat sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


Akhirnya, karena cemas semakin terasa mengganggu, Gavin bergegas keluar dari kamar dan pergi ke ruang kerja Papa. Dia berdiri cukup lama di depan pintu, sebelum melabuhkan tiga kali ketukan yang ketiganya sama sekali tidak mendapatkan sahutan.


Semakin khawatir, Gavin melabuhkan ketukan lagi, kali ini lebih keras dan cepat. Tetapi lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam.

__ADS_1


"Kal?!" panggilnya, sekuat tenaga berteriak sembari masih terus menggedor pintu di hadapan.


"Kal, you okay?!" teriaknya lagi.


"Kal, kalau kamu nggak jawab, saya akan dobrak pintunya!" Gavin berusaha menggerakkan handle pintu, yang tentu saja sia-sia karena Kalea sudah menguncinya dari dalam.


"Kalea, you hear me?! Jangan bikin saya panik, Kal!"


"Okay, I'm gonna break the door. Kalau kamu lagi berdiri di depan pintu, mundur, ya. Saya mau dobrak pintunya!" Gavin sudah mengambil ancang-ancang, mengambil langkah mundur sebanyak tiga kali, kemudian bersiap untuk menabraknya dirinya ke pintu agar pintu itu bisa terbuka.


Tetapi sebelum kakinya terayun ke depan, pintu itu terbuka, menampilkan sosok Kalea yang keluar dari dalam ruangan dalam keadaan yang berantakan. Mata dan hidungnga memerah, ramburnya yang dibiarkan terurai tampak berantakan, dan Gavin jelas bisa melihat bahwa tubuh Kalea bergetar.


Gavin melangkah maju, meraih kedua bahu Kalea, mencengkeramnya erat. Ditatapnya manik boba yang kini tampak redup itu dalam-dalam, berharap bisa menemukan jawaban mengapa perempuan tercintanya ini menangis.


"Hey, what happened?" tanyanya, sembari mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi Kalea.


"Kamu kenapa, Boo? Tell me, hmm?" bujuknya dengan suara super lembut.


Tetapi, alih-alih menjawab pertanyaannya, Kalea malah bergerak pelan melepaskan cengkeraman di bahunya. Lalu perempuan itu berjalan melewatinya begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Gavin tertegun sesaat, menatapi punggung Kalea yang bergerak menjauh dengan perih yang tiba-tiba datang menyerbu. Kepala kembali terasa penuh dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang terjadi pada Kalea, dan apakah ini ada hubungannya dengan dirinya.


Tapi ... soal apa? Bukankah mereka masih baik-baik saja sampai pagi tadi sebelum dia berangkat kerja? Mereka bahkan menghabiskan malam yang panjang dan menyenangkan sebelumnya.


"Kamu kenapa, Kal?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2