
"Lo masih sibuk compare penampilan lo sama cewek yang tadi?"
Kalea mengangkat kepalanya saat suara Karel menggema. Senja perlahan naik dan kelabu mulai merayap menguasai seisi langit ketika mereka menghabiskan waktu duduk di teras Indomaret, mengunyah es krim dalam kegamangan yang tercipta dari pikiran-pikiran acak di dalam kepala. Di tangan lelaki itu ada sebungkus es krim rasa stroberi yang tinggal setengah dan mulai mencair, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya Karel tidak akan membiarkan es krimnya sampai leleh.
Satu hela napas berat meluncur bebas melalui belah bibir Kalea yang dingin. Kemudian setelah membuang stik es krim di tangannya ke dalam tong sampah besi di dekat mereka, Kalea mulai buka suara.
"Aku nggak lagi banding-bandingin diri aku sama Irina, Rel. Aku cuma--"
"Cuma apa?" sela Karel cepat. Es krim di tangan semakin mencair, maka ia memutuskan untuk membuangnya karena sudah tidak ada lagi nikmat yang bisa dia dapatkan dari sana. Lagipula, itu merepotkan. Lengket dan kotor.
"Heran aja kenapa bisa ada manusia secantik itu. Like, dia nggak perlu banyak berusaha untuk tampil menarik karena dia emang udah terlahir begitu. Sedangkan aku..." Kalea menunduk, menatapi penampilannya yang sama sekali jauh dari kata cantik menurutnya. "You know lah."
"Kalau lo mau, lo juga bisa tampil seperti dia." Kata Karel. Ia kini melayangkan pandangan ke seberang, pada lalu-lalang kendaraan juga beberapa pedagang asongan yang masih berkeliling mencari pelanggan.
"Gue nggak tahu, lo sebenernya lagi khawatirin apa?" tanya Karel kemudian. Ia menoleh demi bisa memeriksa ekspresi Kalea. Namun yang ia temukan justru sebuah ekspresi yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
Kalea menghela napas, kali ini lebih berat. Detik ketika ia menoleh dan mata mereka bertemu, hela napas itu lolos lagi disertai kegelisahan yang teramat kentara.
"Aku tiba-tiba kepikiran Gavin."
Lagi-lagi Gavin. Namun Karel tidak punya keberanian untuk mengucapkannya secara lantang. Setelah diingat kembali, Kalea memang jadi lebih sering mempertanyakan tentang dirinya sendiri sejak mengenal Gavin. Seolah ia merasa rendah, merasa tidak puas pada apa yang telah dimiliki(yang selama ini ia terima dengan penuh rasa syukur). Apa yang salah? Bagian mana dari hubungan mereka yang membuat Kalea jadi kehilangan sebagian kepercayaan dirinya?
Karel ingin menanyakan banyak hal, tapi pada akhirnya hanya satu pertanyaan yang berhasil dia lontarkan. "Gavin kenapa?"
"Aku baru sadar kalau Gavin bekerja di lingkungan yang memungkinkan dia ketemu orang-orang cantik kayak Irina. Selama ini, aku terlalu menutup mata karena sejauh penglihatan aku, nggak pernah aku temui orang-orang yang bekerja di bidang ini ternyata ada yang secantik Irina. Aku bukannya meragukan kecantikan yang lain, tapi Irina...dia seperti punya daya tarik tersendiri yang bikin aku merasa, siapapun bisa jatuh cinta sama dia dengan mudah." Jelas Kalea. Ia sedikit mendongak, menatapi langit kelabu di atas sana yang sudah sepenuhnya menelan jingga hingga tak bersisa.
Angin berembus membawa aroma tanah yang seketika membuat Kalea memejamkan mata. Sebentar lagi, hujan pasti akan turun. Kalea suka hujan, ia suka aroma tanah yang pertama kali tersentuh tetes-tetes air langit. Ia suka desau angin yang berembus pelan menerpa wajahnya selagi ia menghirup aroma petrikor dalam-dalam. Tapi di saat hatinya sedang resah, mendengarkan gemerisik angin yang berpadu dengan suara rintik yang jatuh bukanlah suatu pilihan yang pas. Sebab sendu yang tersimpan rapat bisa jadi makin membiru. Sebab tangis yang semula ditahan bisa saja runtuh.
"Itulah kenapa gue selalu nanya apakah lo udah yakin buat menikah sama Gavin." Kata Karel. Ia memberi jeda sejenak, hanya untuk menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. "Karena gue tahu lo orangnya labil." Ketika menoleh, ia menemukan Kalea tengah menatap jalanan yang mulai sepi dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
"Gue nggak tahu bagian mana dari cewek tadi yang bikin lo jadi merasa rendah diri. She's so pretty, I admit it. Tapi cantik itu relatif, dan setiap orang punya standar cantik mereka masing-masing. Semua yang lihat cewek tadi pasti bilang dia cantik, tapi untuk punya perasaan lebih, nggak akan pernah semudah itu. Perasaan bukan cuma soal visual, tapi juga soal apa yang nggak bisa dilihat dan diraba secara nyata." Karena kalau cuma soal visual dan hal-hal kasat mata yang lainnya, gue pasti udah jatuh cinta berkali-kali dan nggak perlu merasa sesakit ini sewaktu ngeliat lo memutuskan untuk menikah sama laki-laki lain.
"Lagi pula, cantik begitu juga belum tentu isi kepalanya ada."
Kalea menoleh saat statement itu meluncur dengan santainya dari bibir Karel. Ia menemukan lelaki itu tengah tersenyum miring, entah menertawakan apa.
"She's supermodel, Rel. Mustahil isi kepalanya nggak ada. Udah pasti dia smart." Kata Kalea, hanya untuk membuat Karel berdecak. Lelaki itu menoleh, matanya memicing sebagai tanda ketidaksetujuannya atas perkataan Kalea.
"Mau smart atau nggak, sebenernya bukan itu intinya." Ucap Karel pada akhirnya. "Intinya, mau sebagus apapun orang lain di mata lo, kalau Gavin maunya sama lo ya yang lain cuma bakal keliatan burem di mata dia."
"Lagian kalau seleranya emang yang kayak gitu, dia nggak akan nerima perjodohan ini. Orang gila macam apa emangnya yang sudi menghabiskan seumur hidupnya sama orang yang nggak masuk kriterianya sama sekali?" Setelah itu, Karel kembali mengalihkan pandangan.
Kalea mengikuti arah pandang Karel, tepat saat tetes hujan pertama jatuh di hadapan mereka. Disusul rintik-rintik lain yang lama kelamaan berubah menjadi hujan deras disertai embusan angin yang cukup kencang.
Kalea merapatkan jaket milik Karel yang sedari tadi ia pakai, memeluk dirinya sendiri demi meredam dingin yang mulai merayapi.
Kemudian Kalea menolehkan kepala ketika suara Karel kembali mengudara.
"Kalau ragu, jangan maju. Tapi kalau udah maju, jangan pernah ragu-ragu." Ada senyum yang tersungging setelah lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, jenis senyum yang asing, yang terlalu sulit bagi Kalea untuk bisa mengerti artinya.
Hujan kian deras, angin berembus makin keras, dan kepala dua anak manusia itu makin ribut dengan berbagai hal yang terlalu kusut untuk bisa diurai satu persatu. Malam ini, di depan Indomaret yang sepi pelanggan, keduanya tenggelam. Dalam pikirannya masing-masing.
******
Dari sekian banyak hal yang tidak mungkin Kalea lakukan, salah satunya adalah menelepon Gavin lebih dulu. Terlebih ini sudah larut, pukul setengah dua belas malam dan menelepon seseorang jam segini bukanlah sesuatu yang layak untuk dilakukan. Tapi malam ini, Kalea melakukannya. Ia men dial nomor Gavin setelah berdebat dengan dirinya sendiri sebanyak ratusan kali. Hanya untuk dibuat menunggu ditemani nada sambung yang monoton.
Setelah pulang dari Indomaret tadi, ia banyak memikirkan kembali tentang apa yang Karel katakan. Tentang Gavin, tentang keragu-raguan yang tiba-tiba muncul di saat pernikahan mereka tinggal menghitung hari, juga tentang kepercayaan dirinya yang perlahan-lahan terkikis hanya karena beberapa hal sepele yang ia temui belakangan ini.
Dan Kalea merasa, ia tidak akan sampai pada kata tenang sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Jawaban yang seharusnya ia dengar langsung dari orang yang bersangkutan.
Akhirnya, setelah menunggu selama tiga belas detik, telepon tersambung. Dari seberang, Gavin menyapa dengan suara yang serak dan sedikit lebih berat dari biasanya, membuat Kalea menggigit bibir bawahnya seiring tingkat kecemasan yang tiba-tiba naik.
"Halo?"
Hening. Kalea masih belum mampu bersuara. Kini ia sibuk mengatur detak jantungnya yang menggila, entah karena apa.
__ADS_1
"Kalea?"
*Tunggu, Gavin. Biar aku ambil napas dulu. Sebentar aja.
"Halo?"
Sebentar lagi, Gavin. Tiga detik lagi, jangan ngomong terus karena itu bikin jantung aku makin susah diatur.
"Oh, mungkin cuma kepencet kali ya? Yaudah, saya matiin ya, Kalea*."
Jangan.
"Gavin." Akhirnya, suaranya keluar juga.
Gavin tidak menyahut, tapi Kalea bisa mendengar suara kekehan dari seberang.
"Kenapa ketawa? Apa yang lucu?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Kamu."
"Aku nggak lagi ngelucu, tuh?"
"Bagi saya kamu lucu."
"Ugh, gombal." Kalea memutar bola matanya, tapi tak urung ujung-ujung bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyum tipis.
"Ada apa? Tumben kamu telepon saya malem-malem begini?"
"Bukan tumben, emang nggak pernah." Kalea mengoreksi, dan suara gelak tawa kembali terdengar dari seberang. Kali ini lebih renyah dari yang sebelumnya.
"Itu dia, saking nggak pernahnya, saya sampai mikir ponsel kamu ketindihan pas tidur dan nggak sengaja dial nomor saya."
"Gavin."
"Hmmm?"
"Go ahead."
Kalea kembali menggigit bibir bawahnya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan dengan perasaan rendah dirinya yang sekarang. Tapi demi Tuhan, ia betul-betul ingin tahu jawaban Gavin apabila pertanyaan yang telah ia susun dengan rapi di dalam kepala itu betulan ia tanyakan.
"Kalea?"
"Tipe perempuan yang kamu suka itu, yang seperti apa?"
Ada jeda lumayan lama, membuat Kalea berprasangka bahwa Gavin mungkin sedang merangkai kata untuk mengatakan jawabannya agar tidak terlalu menyakitkan untuk di dengar. Tapi, apa yang Kalea dengar sebagai jawaban justru membuatnya terdiam dalam ketidakpuasan.
"Kamu." Kata Gavin.
"Aku serius."
"Saya serius."
"Dulu, sebelum ketemu aku, kamu maunya dapat perempuan yang seperti apa?"
"Kalea,"
"Jawab."
Terdengar suara hela napas dari seberang. Kalea sudah bisa membayangkan raut wajah seperti apa yang kini Gavin tunjukkan. Sebab selama mereka dalam proses perkenalan, Kalea suka sekali memerhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah lelaki itu sekaligus mempelajarinya, berusaha mencari arti dari setiap kerutan yang muncul di dahi atau senyum tipis yang tersungging menghiasi wajah tampannya itu.
Kalea bangkit dadi kasur, ia berjalan ke arah pintu kaca besar yang menghubungkan dengan balkon. Ia sibakkan tirai biru laut yang menghalangi pandangannya, hanya untuk menemukan malam ternyata sudah begitu larut dan langit sepenuhnya berwarna pekat. Jari telunjuknya diangkat perlahan, kemudian bergerak melukiskan sesuatu di pintu kaca yang berembun terkena tampias air hujan. Di sana, ia berusaha melukiskan keresahannya.
"Saya nggak tahu apa yang bikin pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala kamu, tapi yang jelas, jawaban saya tetap sama; kamu."
Gerakan tangan Kalea praktis terhenti. Ia bungkam, tidak tahu harus berkata apa. Karena sejujurnya, bila Gavin mengatakan seperti apa perempuan idamannya, ia mungkin akan mulai merubah dirinya menjadi seseorang yang Gavin inginkan. Tapi jawaban lelaki itu selalu berpihak padanya, membuatnya takut kalau-kalau semua itu cuma akan menyakitinya di kemudian hari. Gavin terlalu berlaku baik, hingga ia merasa, sekali saja lelaki itu menyakitinya, maka ia akan langsung hancur tak bersisa.
__ADS_1
Sadar tidak ada respon darinya, Gavin kembali bersuara. Kali ini suaranya terdengar lebih serius.
"Perempuan seperti apa yang saya mau dulu sudah tidak penting lagi sekarang, karena yang saya tahu, sekarang saya cuma mau kamu."
"Sekarang, ijinkan saya bertanya satu hal juga sama kamu."
"Apa?"
"Kamu ragu?"
Deg
Apa terlalu kentara? Apa keragu-raguan itu terlalu terdengar gamblang dari nada suaranya? Atau jusrtu...Gavin yang terlalu pandai menangkap maksud dari setiap pertanyaan yang ia lontarkan? Sebab lelaki itu selalu tepat sasaran.
"Kalau ragu, jangan maju. Tapi kalau sudah maju, jangan pernah ragu-ragu."
Ah, kalimat itu lagi. Rasanya aneh mendengar kalimat itu keluar dari bibir Gavin sedangkan beberapa saat sebelumnya ia telah mendengar hal yang sama dari Karel. Seolah dua orang itu telah berbagi satu sel otak yang sama, sehingga apa yang mereka pikirkan dan katakan jadi sama.
"Kalau ragu, aku harus apa?"
"Meyakinkan diri."
"Gimana caranya?"
"*Tanyakan sebanyak mungkin pertanyaan yang memenuhi kepala kamu kepada saya. Saya akan jawab semuanya, satu persatu tanpa ada yang terlewat."
"Tanyakan semuanya, dapatkan semua jawaban yang kamu mau dengar selama ini. Kumpulkan semuanya, cerna, sampai akhirnya kamu bisa melenyapkan ragu itu dari benak kamu*."
"Kalau masih tetap ragu, gimana?"
"Jangan diteruskan. Buat apa terus melangkah kalau harus dibayangi keragu-raguan? Saya bisa jadi tameng kalau kamu terlalu takut untuk mengundurkan diri lebih dulu. Saya bersedia jadi brengsek demi kamu, kalau itu perlu."
"Jangan." Kalea memotong cepat.
"Jangan apa?"
"Jangan jadi brengsek." Kata Kalea, ia menarik gorden hingga pintu kaca itu kembali tertutupi. Ia berjalan kembali ke arah kasur, langsung merebahkan diri dengan posisi miring ke kiri, membelakangi pintu kaca besar.
"Jangan jadi brengsek, Gavin." Ulang Kalea lagi, dengan suara yang semakin pelan di akhir kalimat.
"Tidur, udah malam. Simpan pertanyaan lain untuk kamu tanyakan besok waktu kita ketemu."
"Besok kita ketemu? Buat? Ah, emangnya kamu nggak kerja?" Kalea bangkit dari tidurnya, menyandarkan punggung ke headboard kasur.
"Besok waktunya fitting gaun pengantin."
Kalea menepuk dahinya. Saking banyaknya hal yang ia pikirkan, ia sampai lupa hari.
"Besok saya jemput kamu jam sembilan."
"Iya." Jawab Kalea seadanya.
"Yaudah, sekarang kamu tidur. Jangan pikirkan apapun lagi, simpan semuanya untuk besok."
Kalea mengangguk, padahal ia tahu Gavin tidak akan bisa melihatnya.
"Selamat malam, Kalea."
"Malam, Gavin."
Dan telepon terputus. Menyisakan Kalea yang duduk diam di atas kasur dengan pikiran yang kian carut-marut.
Kalau ragu, jangan maju. Tapi kalau sudah maju, jangan pernah ragu-ragu.
Ia mengulangi kalimat itu sebanyak yang ia bisa, sampai akhirnya bising di kepala mengantarkannya jatuh tertidur dengan berbagai pertanyaan yang masih ia simpan rapi di tempatnya.
__ADS_1
Bersambung