
"Lo mau cari makan dulu, nggak?" tanya Taruna selesainya ia memasang seatbelt. Ia melirik Irina yang duduk di bangku penumpang belakang melalui kaca spion depan. Perempuan itu sedang memerhatikan Sierra yang tertidur di pangkuannya. Jemari lentiknya menyisir helaian rambut halus Sierra yang sudah mulai memanjang.
Disuguhi pemandangan seperti itu, hati Taruna perlahan-lahan menghangat.
"Nggak usah, Na. Langsung pulang aja, kasihan Sierra." Irina masih tidak mengalihkan perhatian dari Sierra. Samar-samar, Taruna melihat senyum tipis terbit di bibir perempuan itu.
"Tapi lo belum makan apa-apa dari siang."
"It's ok. Cuma nggak makan sehari nggak akan bikin aku mati." Setelah mengatakan itu, barulah Irina mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu melalui pantulan kaca spion depan.
"Besok jadwal lo padat." Taruna memperingatkan. Tidak makan seharian memang tidak akan membuat Irina mati, tapi kalau badan yang dipakai bekerja keras itu tidak diberi asupan, maka perempuan itu harus bersiap menerima konsekuensi datangnya berbagai macam penyakit. Sebagai manajer, Taruna tidak ingin hal itu terjadi.
"Nanti sampai apartemen aku bisa masak mi instan." Irina menjawab enteng.
Taruna berdecak. Dia bisa saja menepikan mobil, melipir ke restoran cepat saji yang buka 24 jam dan memaksa Irina untuk makan. Tetapi karena Taruna telah mengenal Irina dengan baik, ia tidak melakukannya. Memaksa Irina melakukan sesuatu adalah sebuah kesia-siaan yang tidak perlu dicoba.
Maka, usahanya untuk membujuk Irina makan berhenti sampai di situ. Hening kemudian berlangsung jauh lebih lama ketimbang sebelumnya. Bahkan sampai mobil yang ia kendarai tiba di komplek apartemen Irina, masih tidak ada yang mau buka suara.
"Gue nggak bisa anterin lo sampai atas." Taruna menoleh setelah melepaskan seatbelt. Diliriknya Sierra yang masih terlelap sekilas kemudian ia kembali menatap Irina.
"Nggak apa-apa."
Lalu setelah itu, Taruna turun. Ia bergerak cepat ke sisi penumpang. Pelan-pelan ia ambil alih tubuh kecil Sierra, dibawanya ke dalam gendongan.
"Besok gue jemput jam 8. Kalau butuh apa-apa sebelum jam itu, telepon aja." Kata Taruna setelah Irina turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya." Irina menjawab sekenanya. Tangannya kemudian terulur untuk membelai kepala Sierra sementara matanya menatap lekat wajah bocah itu. Entah mengapa, Irina jadi suka memandangi Sierra sedikit lebih lama ketimbang biasanya. Wajah polos itu selalu bisa menenangkan hatinya yang gundah.
"Kamu nggak ada niatan buat berhenti kerja aja, Na?" tanyanya tiba-tiba sembari mengangkat kepala, membuat Taruna yang sedang memandanginya secara diam-diam sedikit gelagapan. "Kasihan Sierra kalau harus pulang-pergi dari rumah Tante Dewi ke apartemen kamu tiap hari."
"Ada." Taruna menjawab cepat, tanpa berpikir karena memang hal itu sudah ia pikirkan sejak lama. "Tapi nggak sekarang. Masih ada yang perlu gue lakuin."
Irina hanya menganggukkan kepala. Sedari dulu, dia tidak terbiasa mengorek apapun dari orang lain. Jadi jika Taruna tidak mengatakan apapun lagi, dia tidak akan pernah menanyakannya.
"Yaudah, aku ke atas, ya."
"Iya."
Irina sudah berjalan sampai pintu masuk, bahkan sempat bertegur sapa dengan petugas keamanan yang baru kembali entah dari mana. Tapi tiba-tiba saja Irina membalikkan badan dan berlari menghampiri Taruna, membuat laki-laki itu mengerutkan kening kebingungan.
"Kenapa?" tanya Taruna begitu Irina sampai di depannya.
Sejenak hening. Taruna memerlukan waktu lebih banyak untuk memproses permintaan Irina. Masalahnya, Taruna tahu Irina bukanlah sosok keibuan yang penuh kasih sayang. Ia tidak pernah mendapatkan figur seorang ibu, jadi bagaimana Taruna bisa berekspektasi kalau Irina akan menyukai anak-anak? Tetapi, melihat mata perempuan itu yang tidak juga bisa lepas dari Sierra, Taruna baru menyadari bahwa dia sepertinya salah. Tidak pernah disayangi oleh seorang ibu bukan berarti membuat Irina menjadi sosok yang sama jahatnya. Maka, Taruna segera mengangguk setelah otaknya selesai memproses segala informasi.
Mendapatkan lampu hijau dari Taruna, Irina segera berjalan mendekat. Dilabuhkan sebuah kecupan di pipi Sierra. Bibirnya dibiarkan diam di sana untuk waktu yang cukup lama, sembari hidungnya mengendus aroma bedak bayi yang menguar dari pipi gembil itu.
Setelah puas, barulah Irina menarik diri. Senyumnya seketika terkembang. Memang benar ternyata, bau bayi adalah sesuatu yang menyenangkan. Obat alami untuk stres yang dia alami.
"Makasih, ya." Ucapnya dengan senyum yang kian terkembang.
"Ayahnya nggak dicium juga?" goda Taruna. Dia bercanda. Demi Tuhan! Taruna hanya bercanda. Walau candaannya kali ini benar-benar lain dari yang biasanya.
__ADS_1
Tetapi siapa sangka, kalau Irina benar-benar mendaratkan sebuah kecupan di pipinya? Taruna nyaris kehilangan kesadaran saat bibir itu menempel di pipinya, meninggalkan jejak kemerahan dari lipstik yang Irina gunakan.
"Makasih, ya, Na. Untuk apapun yang udah dan belum kamu lakukan untuk aku. Makasih."
Sialan. Malam itu, Taruna bahkan sudah menyesap bibir Irina dalam-dalam, merasakan sensasi manis dari setiap belahnya yang memabukkan. Tapi kenapa ketika bibir itu menempel di pipinya, Taruna masih tidak bisa merasa biasa saja? Apa yang salah dengan dirinya?
"Na?"
"Gue pulang. Jaga diri lo baik-baik."
Taruna buru-buru berjalan kembali ke sisi pengemudi. Dengan gerakan serabutan mendudukkan Sierra di kursi penumpang kemudian memosisikan dirinya di balik kemudi. Tanpa basa-basi. Tanpa salam perpisahan yang lebih panjang lagi. Taruna melajukan mobilnya. Meninggalkan Irina tanpa tahu bahwa perempuan itu sedang menertawakan dirinya yang sedang salah tingkah.
"Seorang Taruna Wijaya salah tingkah. Lucunya."
...****************...
Setelah membersihkan diri, Irina berjalan pelan menuju kasur. Ia melompat, merebahkan diri di kasur empuk itu dan langsung memejamkan mata dengan posisi telungkup.
Kemudian, ia teringat masih ada sesuatu yang harus dia lakukan sebelum tidur. Maka, Irina bangun lagi. Ia duduk di atas kasur, tangannya bergerak pelan membuka laci nakas untuk mengambil ponsel yang ia tinggalkan dalam keadaan mati.
Sejenak, Irina memandangi ponsel itu. Ada sedikit dorongan yang menyuruhnya untuk menghidupkan ponsel itu demi memeriksa apakah Gavin menghubunginya atau tidak. Tapi rupanya dorongan itu tidak terlalu kuat sehingga alih-alih menghidupkan ponselnya, Irina malah melemparkan benda persegi panjang itu hingga membentur tembok. Lemparannya sengaja dibuat keras supaya Irina yakin ponsel itu akan langsung rusak dan tidak bisa dinyalakan.
Karena belum yakin bahwa ponsel itu sudah cukup hancur, Irina turun dari kasur. Dipungutnya ponsel yang sudah retak di bagian layarnya itu kemudian dibantingnya lagi ke lantai beberapa kali sampai dia benar-benar yakin ponselnya tidak akan bisa digunakan lagi.
Lalu, setelah yakin, ia pungut ponsel itu dan langsung memasukkannya kembali ke laci nakas. Irina kembali naik ke atas kasur, merebahkan diri seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Maaf, Vin. Tapi aku perlu tahu sejauh mana kamu akan cari aku." Ucapnya pelan. Kemudian ia memejamkan mata. Berusaha mengenyahkan hal apapun yang berkaitan dengan Gavin dari dalam kepalanya.
Bersambung.