
"Gue menang!" teriak Karel kegirangan saat dia berhasil sampai di depan Kalea lebih dulu ketimbang Gavin.
Sementara Kalea yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap Karel dan Gavin kebingungan secara bergantian. Saat ini, dia sedang duduk santai di ruang tengah sembari memakan buah semangka yang Mama sediakan. Dan tiba-tiba saja dua pria dewasa itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.
"Nggak! Saya nggak mau kalah dari kamu!" elak Gavin yang masih tidak terima telah dikalahkan oleh Karel.
"Yeu, nggak bisa gitu, lah! Jadi laki-laki tuh harus bisa menerima kekalahan!" oceh Karel sembari mengambil posisi duduk di sebelah kanan Kalea. Kemudian, dengan santainya dia mencomot potongan buah semangka dari piring dan melahapnya.
Gavin mengembuskan napas kasar sebelum mendudukkan diri si sebelah kiri Kalea. Sama seperti Karel, dia juga ikut-ikutan mencomot buah semangka dari piring yang Kalea pegang lalu melahapnya dengan sewot.
Kalea yang berada di tengah-tengah dua laki-laki yang sedang berdebat entah tentang apa sontak menghela napas panjang. Sehari saja, setidaknya sehari saja, bisakah dia melihat Gavin dan Karel akur tanpa harus melewati drama seperti sekarang ini?
"Kalian habis taruhan apa lagi?" selidik Kalea yang sontak membuat Gavin dan Karel yang sedang serempak hendak mencomot semangka dari piring menghentikan pergerakan mereka.
Keduanya menoleh ke arah Kalea, sedangkan Kalea mulai menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa ekspresi mereka satu persatu.
"Jawab." Tuntut Kalea saat dua laki-laki itu tak kunjung bersuara.
"Dia yang mulai." Kata Gavin sembari menunjuk Karel menggunakan dagunya.
"Rel?" desak Kalea sembari menatap Karel serius.
"Lah, gue cuma iseng ngomong, siapa suruh dia ladenin." Ucap Karel dengan entengnya sehingga membuat Gavin kesal.
"Tapi, kan, saya nggak akan kepancing kalau kamu nggak mulai!"
"Ya salah lo sendiri, lah! Kenapa gampang kepancing?!"
"Kamu tuh, ya! Kenapa sih selalu nyari gara-gara sama saya?!"
"Dih, lo nya aja yang terlalu serius jadi orang, nggak bisa diajak bercanda! Payah!"
"Saya nggak akan begini kalau kamu nggak mulai!"
Ya Tuhan... kapan dua laki-laki ini akan bersikap dewasa sesuai dengan umurnya? Kalea memejamkan mata sejenak saat perdebatan Gavin dan Karel semakin memanas.
Kemudian, saat dia merasakan telinganya terasa pengang karena baik Gavin maupun Karel sama sekali tidak yang mau mengalah, Kalea menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya bersamaan dengan sebuah teriakan yang membahana.
"Diam!"
__ADS_1
Gavin dan Karel sontak mengatupkan bibir rapat-rapat. Keduanya saling lirik sebentar sebelum serempak mengalihkan pandangan ke arah Kalea yang sekarang mukanya sudah merah padam menahan amarah. Bahu perempuan itu naik turun dan napasnya agak ngos-ngosan.
"Jangan suka berantem!" omelnya. Tidak cuma sampai di situ saja, Kalea juga mengerakkan tangannya untuk menarik telinga Gavin dan Karel secara serempak sehingga membuat dua laki-laki itu berteriak kesakitan.
"Kal, ampun, Kal!" Gavin berusaha melepaskan jeweran Kalea dengan menepuk-nepuk pelan tangan istrinya itu.
"Sakit, woy! Lepasin!" teriak Karel sembari berusaha menjauhkan diri. Tapi hal itu tentu saja membuat telinganya semakin sakit, karena semakin kepalanya menjauh, semakin kencang juga jeweran Kalea.
"Kalian tuh kayak bocah! Dikit-dikit berantem, dikit-dikit taruhan! Aku capek ngeliatnya!" oceh Kalea dengan emosi yang meluap-luap. "Bisa nggak, sih, kalian itu akur? Adem aja gitu, nggak usah ribut mulu!"
Tidak ada yang menjawab. Lebih tepatnya, tidak ada yang berani. Jadi yang bisa mereka berdua lakukan hanya diam sembari masih berusaha melepaskan diri dari jeweran Kalea.
Puas menjewer dua orang itu, Kalea melepaskan jewerannya secara bersamaan. Lenguhan lega lolos dari bibir Gavin dan Karel secara serempak.
Tapi masalah tentu tidak akan selesai hanya sampai di situ saja. Karena kalau Kalea sudah berhenti melakukan kekerasan fisik terhadap mereka, itu artinya mereka harus menyiapkan telinga untuk mendengar ocehan yang tidak ada hentinya.
Dan benar saja, belum sampai mereka selesai menghilangkan nyeri di telinga akibat jeweran Kalea, perempuan itu sudah kembali membuka mulutnya dan mengoceh panjang lebar.
Gavin dan Karel tidak punya pilihan selain mendengarkan. Sambil diam-diam saling lirik seolah memberi kode bahwa mulai sekarang, mereka betulan harus berbaikan.
...****************...
"Kalea suruh merenung, biar nggak ribut mulu kerjaannya." Sahut Kalea yang sedari tadi berdiri di ambang pintu belakang untuk memastikan bahwa dua orang itu tidak akan kembali terlibat pertengkaran.
Papa cuma bisa terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Batinnya, ada-ada saja tingkah putrinya ini. Lebih heran lagi karena Gavin dan Karel seolah tidak pernah kapok mencari gara-gara.
"Terus, kamu mau nungguin mereka di sini sampai selesai?" tanya Papa lagi.
Kalea cuma menganggukkan kepala. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah Gavin dan Karel yang tampak saling berbicara. Entah apa yang tengah mereka bicarakan.
"Ya udah, Papa mau balik ke depan. Jangan lama-lama, makin malam makin dingin udaranya."
"Iya."
Kemudian Papa betulan berlalu. Tinggallah Kalea sendiri yang entah mengapa masih betah berdiri di ambang pintu. Padahal, bisa saja dia mengambil posisi duduk di kursi.
Sementara itu, dari sisi Gavin dan Karel, alih-alih merenung seperti yang Kalea suruh, dua orang itu malah terlibat percakapan absurd yang kalau Kalea dengar, perempuan itu pasti akan tertawa terbahak-bahak.
Tentu saja percakapan absurd ini dimulai oleh seorang Karel, meskipun pada kenyataannya, Gavin juga menanggapi percakapan tersebut dengan pemikiran yang tak kalah absurd.
__ADS_1
"Nih, ya, bokong tuh cuma ada satu." Karel kekeuh pada pendiriannya. Iya, sedari tadi yang mereka sedang obrolkan adalah topik perdebatan tentang berapa jumlah bokong manusia.
"Ada dua." Gavin tidak kalah kekeuh.
"Satu."
"Dua."
"Satu, Gavin."
"Kenapa bisa satu?"
"Karena nggak ada tuh yang namanya bokong kanan sama bokong kiri."
Gavin terdiam sejenak. Berusaha mencerna maksud perkataan Karel. Tapi belum selesai dia menganalisa, Karel sudah kembali bersuara.
"Emang lo pernah lihat orang lahir cuma dengan satu bokong? Nggak, kan?" Karel masih berusaha memengaruhi Gavin agar setuju dengan pendapatnya bahwa bokong itu hanya ada satu. "Ada orang yang lahir cuma dengan satu tangan, satu kaki, satu mata, bahkan satu ginjal. Tapi nggak ada yang lahir dengan satu bokong. Kenapa? Ya karena bokong memang cuma ada satu."
"Iya, sih." Gavin mulai terpengaruh.
Karel menjentikkan jarinya sembari tersenyum senang. Merasa bangga karena sedikit lagi, dia akan berhasil membuat Gavin setuju pada terorinya.
"Tapi, tetap aja, bokong itu ada dua. Karena mereka terpisah, Karel. Ada pemisah di antara keduanya." Celetuk Gavin tiba-tiba sehingga membuat Karel membuang napas keras-keras.
"Satu."
"Dua, Karel."
"Satu. Titik."
"Saya tetap yakin ada dua."
"Gue yakin yang benar itu cuma ada satu!"
Ha... apa yang bisa Kaela harapkan dari dua orang pria dewasa yang bahkan mendebatkan soal berapa jumlah bokong manusia?
Bersambung
wkwkwk absurd banget, kek otak penulisnya.
__ADS_1
Dah, bye!