Serana

Serana
Tahu Jalan Pulang?


__ADS_3

Pukul sembilan malam. Gavin bergegas keluar dari ruang kerjanya. Berjalan terburu menuju basement hingga tidak memedulikan sapaan beberapa karyawan yang masih lembur. Diabaikannya bisik-bisik samar yang keluar dari mulut beberapa karyawan yang memang sejak awal Gavin tahu tidak menyukai kehadirannya dan caranya memimpin bawahan.


Sampai di basement, Gavin langsung masuk ke dalam mobilnya dan tanpa basa-basi menginjak pedal gas hingga mobil itu melaju ugal-ugalan di dalam basement yang sepi. Dia bahkan tidak berusaha mengenakan seatbelt-nya lebih dulu.


Setelah mobil Gavin keluar dari basement, seseorang muncul dari balik jajaran mobil yang terparkir di seberang mobil Gavin sebelumnya. Orang itu, Claretta, tersenyum miring sembari menatapi layar ponselnya. Di sana ada banyak sekali foto yang dikirimkan melalui e-mail. Foto-foto yang entah dikumpulkan oleh siapa dan apa tujuannya mengirimkan foto-foto itu kepada dirinya. Claretta tidak mau ambil pusing. Yang jelas, dia bersyukur karena orang itu sudah membukakan jalan bagi dirinya untuk menghancurkan Gavin lebih cepat.


Puas memandangi foto-foto di layar ponselnya, Claretta bergerak menuju mobilnya. Dengan senyum yang terkembang sempurna, ia melajukan mobil itu keluar dari basement.


"Mari kita sambut kehancuran lo yang akan datang sebentar lagi, Vin." Gumamnya sembari menggenggam erat kemudi.


...****************...


Tujuan Gavin tentu saja bukan rumah, melainkan apartemen Irina. Walau harus berdebat dulu dengan dirinya sendiri, pada akhirnya Gavin memilih langkah ini. Ia tidak ingin Irina merasa tidak dibutuhkan lagi jika dirinya tidak buru-buru menghampiri perempuan itu dan meminta penjelasan tentang mengapa ponselnya tidak bisa dihubungi.


Sembari menarik dan membuang napas secara teratur, Gavin memasukkan kode keamanan di pintu. Setelah pintu terbuka, ia langsung bergegas masuk dan menerobos ke unit milik Irina melalui pintu penghubung seperti yang biasa dia lakukan.


Gavin berhenti di ambang pintu pembatas saat matanya mendapati sosok Irina tengah terduduk di atas sofa, mengenakan baju tibur yang outernya sedikit turun hingga menampakkan bahunya yang mulus. Perempuan itu menoleh karena menyadari kehadirannya dan melayangkan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.


Gavin membuang napas keras-keras, kemudian berjalan menghampiri Irina dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah perempuan itu ketika Irina menegakkan punggungnya yang semula bersandar di sofa.


"Kamu dari kantor?"


Gavin tidak pernah menyangka pertanyaan itu akan jadi yang pertama kali dia dengar, tapi dia tetap menganggukkan kepala.


"Kok malah ke sini? Kalea pasti udah nunggu kamu, jadi-"


"Nggak usah sebut-sebut Kalea." Gavin secara impulsif mengatakan itu. Ia bahkan tertegun saat menyadari nada suaranya yang teramat tidak bersahabat. Padahal dia tidak pernah berniat untuk bicara dengan nada seperti itu.

__ADS_1


Samar-samar terdengar suara hela napas berat dari Irina. Perempuan itu lalu bangkit dari duduknya. Merapikan outer baju tidurnya hingga bahu mulus itu tak lagi tampak.


Gavin mendongak, mengikuti setiap pergerakan yang dilakukan Irina sebab ia sama sekali tidak ingin kehilangan satu momen pun.


"Kamu udah makan?" tanya Irina dengan pandangan lurus ke depan.


Gavin tidak menjawab. Dia hanya terus memandangi Irina yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Di kulkas aku nggak ada bahan makanan, belum sempat isi. Mau aku bikinin mi instan aja?" tanya Irina lagi, masih dengan pandangan yang lurus ke depan. Seolah terlalu sulit baginya untuk berbicara sambil menatap Gavin.


"Aku ke sini bukan untuk minta makan." Akhirnya Gavin ikutan bangkit. Bertepatan dengan menolehnya Irina sehingga tatapan mereka bertemu.


Tidak seperti Kalea, Irina punya mata yang jauh lebih menyesatkan karena Gavin tahu ada begitu banyak luka yang tersimpan di baliknya. Setiap mata kelabu itu menatapnya dengan cara seperti ini, Gavin selalu merasa ingin merengkuh tubuh Irina dan membasmi semua kekhawatiran yang mendera perempuan itu. Tapi, kini, Gavin tidak lagi memiliki keberanian yang sama karena sumber kekhawatiran itu adalah dirinya.


Maka, alih-alih menarik Irina masuk ke dalam pelukannya, Gavin malah langsung menodong Irina dengan pertanyaan yang seketika membuat raut wajah perempuan itu berubah.


"Kamu dari mana aja? Kenapa nggak bisa dihubungi selama berhari-hari?"


"Rin," panggil Gavin. Tapi Irina masih tidak menyahut. Perempuan itu terus berjalan menuju kamar, dan kembali tak lama kemudian sambil membawa ponselnya.


Gavin termenung menatapi ponsel yang Irina sodorkan kepadanya. Ponsel itu dalam keadaan mati dan layarnya sudah retak. Selain retak di bagian layar, ada beberapa bagian lain yang juga lecet tak karuan.


"Hape kamu kenapa?" tanya Gavin setelah kesadarannya kembali.


"Jatuh pas aku naik ojek online ke lokasi pemotretan." Jelas Irina. Tanpa diduga, cara Irina menanggapi pertanyaan Gavin terlihat jauh lebih tenang ketimbang biasanya. Perempuan itu tidak lagi menggebu-gebu dan menuduh Gavin ini itu.


"Kenapa kamu naik ojek online? Taruna ke mana?"

__ADS_1


"Vin," sela Irina sebelum Gavin bicara lebih banyak. "Selain statusnya sebagai manajer aku, Taruna juga seorang ayah dari anak perempuan berusia empat tahun. Kerjaan dia nggak cuma ngurusin aku, tapi juga Sierra."


"Kamu nggak bisa nuntut dia untuk selalu standby di samping aku." Irina melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Gavin serius. "Lagipula, tempat tinggal aku masih yang sama. Kalau kamu memang mau tahu keadaan aku, kamu pasti akan datang, kan?"


"Dan, ya, kamu datang. Setelah lebih dari 24 jam." Sindir Irina.


Gavin mengusap wajahnya kasar. Membuang napas keras-keras sebelum kembali menatap Irina. "Maaf." Ia tahu satu kata itu tidak akan cukup untuk menyelesaikan apa pun. Hanya saja, tidak ada hal lain yang terlintas di kepalanya selain kata maaf yang sudah basi itu. Irina juga pasti sudah sangat muak dengan kata maaf yang datang bertubi-tubi untuk kesalahan berulang yang dia lakukan.


"Kamu ke sini cuma mau nanya soal kenapa aku nggak bisa dihubungi?"


Mulanya, Gavin pikir Irina akan marah dan mengusirnya seperti tempo hari. Tapi ternyata apa yang terjadi selanjutnya benar-benar tidak pernah ada di dalam kepalanya sebelum ini.


Alih-alih berteriak dan menyuruhnya pergi, Irina malah berjalan mendekat sembari mengatakan sesuatu yang seketika membuat lidah Gavin terasa kelu.


"Nggak kangen aku? Nggak mau peluk?" tanya Irina sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar Gavin bisa masuk ke dalam pelukannya.


Gavin termenung selama beberapa saat. Mempertanyakan kewarasannya sendiri sebelum akhirnya ia rengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukan. Didekapnya Irina erat. Dibauinya aroma sampo yang menguar dari helaian rambut perempuan itu yang dibiarkan tergerai indah.


"I miss you so much, you know it." Bisik Gavin sembari mengendus lekuk leher Irina dalam-dalam. Berusaha memasukkan sebanyak mungkin aroma tubuh perempuan itu ke dalam saluran pernapasannya.


"Aku takut kamu akan ninggalin aku, Rin. Aku..." Gavin tidak melanjutkan kalimatnya karena tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat. Sebagai gantinya, Gavin menarik Irina lebih dekat, menyesapi aroma tubuhnya lebih kuat. "Jangan tinggalin aku. Jangan."


Di dalam pelukan Gavin, Irina tersenyum. Tidak sia-sia dia menekan egonya hingga habis. Karena kini dia tahu bahwa sejauh apa pun Gavin pergi, lelaki ini akan tetap menemukan jalan untuk kembali kepada dirinya.


Persetan dengan Taruna dan segala daya upayanya untuk memisahkannya dengan Gavin, Irina akan tetap berada di tempatnya selama Gavin masih membutuhkan dirinya.


Silahkan katakan dia bodoh, Irina tidak peduli. Dia hanya ingin memiliki Gavin selama masih diberi kesempatan.

__ADS_1


"Aku nggak akan ke mana-mana, Vin. Nggak akan."


Bersambung


__ADS_2