Serana

Serana
Jagung Bakar


__ADS_3

Setelah berkeliling selama hampir satu jam, Gavin akhirnya menemukan pedagang jagung bakar, nyelip di antara beberapa pedagang makanan lain. Lokasinya ada di sekitar gedung perkantoran miliknya. Gavin tidak tahu ada tempat nongkrong seperti ini, karena kalau siang hari, tempat ini cuma berupa lapangan kosong.


Gavin menghentikan motornya, menyuruh Kalea turun dengan hati-hati kemudian memarkirkan motornya di tempat yang telah disediakan. Setelah itu, dia berjalan menghampiri gerobak tukang jagung bakar yang mengepulkan asap tebal.


"Mau satu, ya, Bang. Pedas manis." Gavin segera memesan.


Sang penjual yang merupakan laki-laki sekitar usia tiga puluhan mengangguk, mulai mengupas satu jagung untuk kemudian dia olesi mentega dan bumbu pedas manis sebelum dipanggang di atas bara api.


Selagi menunggu jagung pesannya dibuat, Gavin berjalan kembali ke tempat di mana motornya di parkirkan. Sebab di sanalah Kalea menunggunya.


"Sabar, ya." Kata Gavin setelah sampai di depan Kalea.


Perempuan itu tidak menyahut. Hanya meliriknya sekilas kemudian kembali sibuk memandangi beberapa pemuda yang nongkrong di dekat mereka dengan beralaskan terpal warna biru tua.


Gavin mengikuti arah pandang Kalea. Lalu senyumnya terkembang tanpa bisa dihindari. Pemandangan yang tersuguh di depan mereka ini memang bukanlah sesuatu yang spesial. Cuma sekumpulan anak muda yang menghabiskan malam di tempat nongkrong sederhana, bertemankan kopi dan berbagai makanan ringan yang harganya jelas tidak seberapa bila dibandingkan dengan makanan yang disediakan di coffee shop kekinian.


Dalam kesederhanaan ini, Gavin menemukan banyak kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka. Sesuatu yang sudah lama sekali Gavin rindukan, dan harus setengah mati dia perjuangkan. Walaupun kenyataannya kini dia kembali harus menelan kekecewaan karena kebahagiaan yang dia harapkan mungkin tidak akan pernah terkabul. Sebab Kalea, yang menjadi satu-satunya alasannya untuk bertahan kini telah mengibarkan bendera putih tanda menyerah.


Memang belum ada yang pasti dari hubungan pernikahannya dengan Kalea. Masih ada enam hari yang tersisa, dan di dalam enam hari itu, masih banyak kemungkinan yang terjadi.


Hanya saja, lebih daripada kemungkinan bahwa dia bisa kembali rujuk dengan Kalea, Gavin justru merasa kemungkinan bahwa hubungan mereka akan semakin memburuk justru lebih besar dan semakin membuatnya ketakutan.


"Capek, nggak? Mau duduk disitu?" tawar Gavin, sembari menunjuk satu terpal yang masih belum ada penghuninya.


Kalea menoleh sekilas, lagi-lagi tanpa mengatakan apa-apa langsung berjalan menuju terpal itu dan mendudukkan diri di atasnya.


Gavin tidak protes, dia tahu dia tidak berhak. Maka dia segera menyusul Kalea dan duduk di sebelah perempuan itu, dengan menyisakan sedikit jarak karena dia jelas tahu bahwa Kalea masih belum mau berdekatan dengan dirinya.


Beberapa menit hanya saling diam, jagung yang Gavin pesan akhirnya tiba. Gavin meraih jagung yang disodorkan oleh si penjual kemudian mengulurkan uang pecahan lima puluh ribu dan meminta si penjual untuk menyimpan kembaliannya.


Si penjual jelas kegirangan karena mendapatkan rejeki lebih ketika malam telah larut. Kemudian, setelah si penjual berlalu, Gavin membawa jagung itu ke hadapan Kalea.

__ADS_1


"Nih," katanya.


Tapi alih-alih menerima jagung tersebut, Kalea malah mendorong jagungnya ke arah Gavin.


"Kamu yang makan," ucapnya.


Lagi-lagi Gavin dibuat kebingungan. Padahal, tadi Kalea terlihat begitu frustrasi saat mengatakan padanya bahwa dia ingin jagung bakar. Sekarang, saat jagung bakar sudah ada di depan mata, kenapa perempuan itu malah meminta dirinya yang makan?


"Saya yang makan?" Gavin bertanya untuk memastikan, dan Kalea langsung mengangguk.


"Kenapa? Kan, tadi kamu yang pengin."


"Nggak tahu," Kalea menjawab santai, mengendikkan bahu seolah itu bukan masalahnya. "Tiba-tiba aja hilang rasa penginnya. Sekarang, penginnya kamu yang makan jagung itu." Lanjutnya.


...Meskipun bingung, Gavin tetap menurut. Dia membawa jagung itu ke depan mulutnya, lalu mulai mengambil gigitan kecil....


Sambil sesekali melirik ke arah Kalea, Gavin terus menggigiti jagung bakar itu sampai kini habis seperempat.


Rasanya, dia senang sekali ketika melihat Gavin mengunyah biji-biji jagung dengan khidmat. Seperti ada kepuasan tersendiri yang terlalu sulit untuk dia jelaskan. Saking merasa senangnya, Kalea sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari Gavin.


"Kamu mau?" tawar Gavin. Jagung di tangan disodorkan ke arah Kalea, namun perempuan itu menggeleng dengan senyum yang terkembang.


"Buat kamu aja, habisin."


"Harus habis?"


Kalea mengangguk mantap. "Nggak boleh buang-buang makanan." Dia berucap seolah dirinya adalah manusia yang paling menghargai makanan di dunia. Padahal, selama seminggu ini, entah sudah berapa banyak makanan buatan Gavin yang terbuang karena dia enggan menyentuhnya.


Dasar, perempuan memang selalu benar!


Setelah mengerahkan usaha yang lumayan, Gavin akhirnya berhasil mengabiskan jagung bakar tanpa sisa, hanya tinggal bonggolnya saja. Pipinya terasa pegal, karena rupanya mengunyah biji jagung cukup membutuhkan banyak tenaga.

__ADS_1


"Udah habis," adunya, menunjukkan bonggol jagung itu ke hadapan Kalea.


Kalea manggut-manggut. Anehnya, perempuan itu masih terus saja tersenyum. Bahkan, senyumnya terlihat semakin mengembang.


"Kamu nggak mau jajan yang lain? Ada bakso bakar di sana, mau?" tawar Gavin. Mereka sudah jalan sejauh ini, aneh sekali kalau Kalea akhirnya tidak membeli apa-apa padahal perempuan itu yang sedari tadi ngotot ingin keluar.


"Nggak, aku udah kenyang lihat kamu makan."


Wah ... Kalea benar-benar aneh sekarang.


"Terus, sekarang gimana? Mau langsung pulang?"


"Iya. Ayo, pulang." Kalea bangkit dengan semangat. Berjalan menghampiri motor Gavin sambil bersenandung riang. Langkahnya terlihat sangat ringan, membuat Gavin tak henti-hentinya dibuat kebingungan.


Gavin, terdiam sebentar di tempatnya, masih tidak mengerti kenapa sikap Kalea jadi aneh sekali. Apakah ini sebuah bentuk balas dendam, sebelum akhirnya perempuan itu mendepaknya pergi satu minggu kemudian?


"Gavin! Ayo!" Kalea setengah berteriak, mengentak-entakkan kaki seperti bocah umur lima tahun.


Gavin menghela napas, kemudian bangkit dan berjalan menghampiri Kalea. Dia semakin merasa aneh saat Kalea menurut saja ketika dia membantu memakaikan helm. Padahal saat berangkat tadi, Kalea bersikeras melakukannya sendiri.


"Siap?" tanya Gavin setelah nangkring di atas motor dan Kalea menyusul tak lama kemudian.


"Siap!" teriak Kalea semangat.


Gavin masih kebingungan, tetapi dia tetap menyalakan motor dan segera melajukan motor besarnya menyusuri jalanan malam yang lengang.


Kebingungan Gavin tidak hanya berhenti di sana. Ketika motor melaju semakin kencang, Gavin dibuat tersentak saat Kalea tiba-tiba saja melingkarkan lengan di pinggangnya.


Tiba-tiba saja, Gavin merinding. Sikap Kalea terlalu aneh, sampai-sampai dia curiga kalau yang nangkring di jok belakang motornya ini bukanlah Kalea, melainkan makhluk halus yang sedang menyamar menyerupai perempuan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2