Serana

Serana
Day One


__ADS_3

Matahari menelusup masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, menghantarkan kehangatan yang menyentuh kulit wajah Kalea sehingga membuat perempuan itu mengernyit dan mulai mengerjapkan matanya pelan.


Hal pertama yang Kalea lihat setelah matanya berhasil terbuka adalah wajah tampan Gavin yang tersaji begitu indah di depannya. Raut wajah lelaki itu tampak tenang dan begitu polos bagai bayi baru lahir. Sangat berbeda dengan raut wajah serius yang biasa Gavin tampakkan sehari-hari. Sekarang ini, di hadapannya, Gavin terlibat seperti seorang anak tak berdosa yang begitu damai mengarungi alam mimpinya. Meninggalkan segala beban dan keresahan duniawi yang selama ini menghantui.


Kalea terdiam selama beberapa saat, menikmati pahatan indah yang Tuhan ciptakan dalam bentuk anak manusia bernama Mahesa Gavin ini. Alis tebal yang tercetak rapih dan berpadu apik dengan kelopak mata ganda yang melingkupi sepasang manik kelam yang memabukkan. Buku mata lentik yang terlihat alami. Hidung mancung serta bibir merah tebal milik lelaki itu benar-benar sempurna. Seolah semua fitur di wajahnya memang diciptakan oleh Tuhan untuk berpadu dalam satu kesatuan, menciptakan sebuah karya yang begitu indah nan memesona.


"So cute, like a baby." gumam Kalea tanpa sadar. Tangannya terulur ke depan, menyentuh rambut Gavin yang menjuntai menutupi dahinya kemudian menyingkirkan helaian rambut itu agar bisa melihat wajah Gavin dengan lebih jelas.


Tangan yang semula hanya sekadar menyentuh rambut Gavin itu kembali bergerak turun, menyentuh pipi Gavin dan mengusapnya pelan. Lembut. Hanya satu kata itu yang bisa Kalea gumamkan dalam hati saat telapak tangannya yang menjelajah di pipi Gavin yang halus untuk ukuran seorang laki-laki.


Kemudian tangan itu terus bergerak, semakin turun sampai akhirnya menyentuh bibir tebal Gavin. Entah darimana datangnya keberanian itu ketika ibu jari Kalea bergerak pelan mengusap belah bibir penuh itu. Tidak ada pikiran macam-macam yang melintas di kepala Kalea ketika ibu jarinya menyentuh benda kenyal tersebut. Ia hanya terus merasa kagum karena lagi-lagi bibir Gavin terasa halus dan terlihat sehat untuk ukuran seorang pria. Dan walaupun Gavin merokok, Kalea sama sekali tidak melihat jejak hitam di bibir lelaki ini. Membuatnya bertanya-tanya perawatan semacam apa yang telah lelaki itu lakukan untuk menjaga bibirnya tetap sehat.


Puas menjelajah bibir Gavin, Kalea menarik tangannya. Mulanya ia berniat untuk bangkit dari kasur dan segera membasuh wajahnya di kamar mandi. Entah sekarang sudah jam berapa, tapi melihat matahari yang terlihat terik di luar sana membuat Kalea yakin kalau ini sudah waktunya untuk bangun dan memulai aktivitas.


Tetapi niatnya tidak pernah terlaksana karena tangan besar Gavin tiba-tiba bergerak meraih pinggangnya, membawa tubuhnya mendekat ke arah laki-laki yang masih memejamkan matanya ini.


"Morning, Kalea."

__ADS_1


Kalea tersentak saat Gavin tiba-tiba bicara dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bulu-bulu halus di sekitar leher Kalea serempak berdiri saat menyadari betapa dekat jarak antara wajah mereka sekarang.


Kalea agak tidak siap saat mata Gavin terbuka secara perlahan, seiring dengan senyum yang terbit menghiasi wajah tampannya. "Tidur kamu nyenyak?" tanya lelaki itu.


Kalea tidak bisa mengatakan apa-apa. Jantungnya yang semula berdetak damai tiba-tiba berdebar-debar. Ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya, menimbulkan rasa geli yang berpadu dengan perasaan-perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kalea tahu oksigen di sekitarnya begitu melimpah, tapi anehnya ia merasa kesulitan bernapas sekarang. Embusan napas hangat Gavin yang menerpa wajahnya juga semakin memperparah keadaan. Kalea merasa pipinya panas dan ia berharap bisa memiliki kemampuan untuk menghilang dari pandangan Gavin saat senyumnya semakin lebar.


"So cute." Sial. Kenapa Gavin mengatakannya dengan ekspresi wajah seperti itu? Dan lagi, ada apa dengan suaranya yang tiba-tiba menjadi lebih deep ketimbang biasanya? Arggghhhh...Kalea rasanya bisa gila.


Kalea refleks memundurkan wajahnya saat Gavin tiba-tiba bergerak maju. Padahal wajah mereka sudah sedekat ini, tapi kenapa Gavin seolah ingin memangkas lebih banyak jarak di antara mereka?


Ledakkan tawa yang selanjutnya menggema memenuhi seisi kamar membuat Kalea mematung di tempat dengan kebingungan yang kentara. Gavin perlahan-lahan menjauhkan diri walau tangan besarnya masih enggan meninggalkan pinggang Kalea.


"Kamu lucu, Kal." Kata Gavin disela tawanya yang masih belum sepenuhnya mereda.


"Apanya yang lucu?!" kesal Kalea. Ia memberontak, berusaha melepaskan diri dari lengan Gavin. Namun usahanya berakhir sia-sia karena lelaki itu justru kembali menariknya mendekat. Kali ini, Kalea dibuat bungkam saat Gavin mendekapnya begitu erat, mengusap kepalanya pelan selagi telinganya dibiarkan mendengarkan detak jantung Gavin yang teratur.


"Sebentar aja." Kata Gavin. Kalea tidak menjawab karena merasa Gavin masih ingin melanjutkan ucapannya. "Biarin saya meluk kamu kayak gini."

__ADS_1


Kalea merasakan pelukan Gavin semakin mengerat. Seolah mereka sedang dikejar waktu dan Gavin tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun untuk melepaskan dirinya. Seolah tubuhnya memang diciptakan untuk berada pas di dalam dekapan Gavin. Seolah mereka memang ditakdirkan untuk bertemu dan bersama mengarungi waktu. Seolah, tidak akan apapun yang bisa membuat pelukan ini terlepas.


"Saya masih ngantuk." Celetuk Gavin tiba-tiba. Suaranya agak terdiam dan Kalea yakin hal itu dikarenakan bibir lelaki itu pasti sednag bersentuhan dengan puncak kepalanya.


"Tidur lagi aja." Sahut Kalea. Tanpa sadar lengannya sudah melingkar di pinggang Gavin, membalas pelukan lelaki itu.


"Kalau tidurnya sambil pelukan kayak gini, boleh?" saat bertanya seperti itu, Gavin sedikit menjauhkan wajahnya. Tidak terlalu jauh, hanya sampai ia bisa melihat wajah Kalea dan tatapan mereka bertemu.


Alih-alih menjawab, Kalea malah menarik tubuh Gavin untuk lebih dekat. Ia benamkan wajahnya di dada bidang Gavin selagi tangannya memeluk pinggang lelaki itu semakin erat. Diendusnya aroma pewangi pakaian yang menguar dari kaus yang Gavin kenakan. Kalea memejamkan mata, menikmati aroma lembut itu dan membiarkannya memenuhi rongga dada sebelum ia embuskan lagi kemudian berkata, "Boleh."


Tidak ada lagi suara yang terdengar selain deru napas mereka yang bersahutan-sahutan. Matahari boleh saja semakin merangkak naik, tapi bagi dua anak manusia yang sedang menikmati erat pelukan dari lengan masing-masing ini, waktu tidak lagi berarti. Sebab di dalam kepala mereka saat ini, waktu yang mereka jalani telah berhenti sejak lengan mereka saling mendekap satu sama lain. Menenangkan keresahan masing-masing walau tanpa memberikan penjelasan apa-apa.


"Whenever you need it, just tell me." Kata Kalea setelah menjauhkan wajahnya dari dada Gavin.


"*Need what?"


"This*." Kalea kembali memeluk Gavin. Kali ini lebih erat dari yang sebelumnya. "Aku akan peluk kamu seerat ini, kapanpun kamu butuh."

__ADS_1


"I will." Kata Gavin sembari membalas pelukan Kalea tak kalah eratnya.


Hari pertama membuka mata di satu ranjang yang sama setelah resmi menikah, Gavin dan Kalea memutuskan untuk terlelap sedikit lebih lama. Karena barang kali, mereka akan membutuhkan energi ekstra untuk menghadapi kenyataan tak terduga di hari-hari selanjutnya.


__ADS_2