
Tengah malam, Kalea terbangun karena merasakan perutnya keroncongan. Sore panas yang mereka lewati beberapa jam yang lalu telah menguras hampir seluruh tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Bukan cuma lapar, Kalea juga merasa tenggorokannya begitu kering dan serak.
Tapi, Kalea tidak berani membalikkan tubuhnya. Di belakangnya, Gavin mungkin masih terjaga dan memandangi punggung telanjangnya. Iya, Kalea masih tidak beranjak dari tempat tidur. Menolak ide untuk mengenakan kembali pakaiannya yang tercecer di lantai karena sumpah demi Tuhan, Kalea merasakan seluruh tubuhnya terasa ngilu, terutama di bagian bawah.
Jadi, untuk menyembunyikan wajahnya yang semerah kepiting rebus, Kalea cuma bisa membalikkan badan sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan berharap Gavin tidak akan tiba-tiba menerjangnya lagi.
"Kal?"
Kalea pura-pura tuli saat Gavin memanggil namanya dengan suara berat nan serak. Karena kalau dia menyahut, laki-laki itu pasti akan menarik tubuhnya dan membuat netra mereka saling bertubrukan di dalam labirin panjang nan gelap. Kalea sudah terlalu tersesat, dia tidak ingin tersesat lebih jauh dan semakin sulit menemukan jalan keluar.
"Saya tahu kamu nggak tidur."
Gavin sialan! Seandainya kalimat itu bisa secara terang-terangan Kalea gaungkan, mungkin perasaannya akan sedikit lebih lega. Tetapi Kalea tetaplah Kalea yang selalu berakhir menjadi penakut saat sedang bersama dengan Gavin.
Terdengar suara hela napas yang sepertinya sengaja dibuang keras-keras. Sebenarnya, Kalea cukup penasaran dengan ekspresi wajah Gavin sekarang. Tapi rasa penasaran itu masih tidak lebih besar ketimbang perasaan takutnya, jadi Kalea tetap keras kepala untuk bertahan di posisinya.
"Kamu nggak mau pakai baju? Dingin, Kal, nanti kamu masuk angin."
Bukannya menjawab, Kalea malah menarik selimut hingga kini seluruh tubuh dan kepalanya tenggelam di dalam selimut tebal itu. Dia berusaha memejamkam mata erat, namun usahanya gagal karena dia justru salah fokus pada tubuh telanjangnya sendiri.
Akhirnya, Kalea kembali menyembulkan kepalanya pelan-pelan. Dengan gerakan teramat hati-hati, ia membalikkan badan. Di sana, Gavin sedang duduk bersandar di headboard ranjang dan telah berpakaian lengkap. Laki-laki itu menatap Kalea lekat.
"Pakai bajunya." Kata Gavin lagi.
Namun sekali lagi Kalea tidak menyahut. Dia malah terdiam untuk waktu yang cukup lama hingga membuat Gavin jengah. Laki-laki itu turun dari ranjang, memunguti pakaian Kalea yang tercecer dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor yang ada di sudut kamar dengan pintu kamar mandi. Lalu Gavin berjalan menuju lemari dan mengambil setelan baju tidur kemudian meletakkannya di tepi kasur.
"Pakai bajunya biar nggak masuk angin." Perintahnya dengan nada suara yang tegas dan tak terbantahkan.
"Saya mau turun dulu buat masak. Kamu nggak perlu ke mana-mana, di sini aja. Nanti saya bawa makanannya ke sini, kita makan di sini."
Kalea masih tidak menjawab. Dia memandangi setelan baju tidur yang Gavin letakkan cukup lama sebelum perhatiannya tercuri karena mendengar derap langkah kaki Gavin yang menjauh.
__ADS_1
Rupanya, laki-laki itu sudah berjalan menuju pintu tanpa menunggu jawaban keluar dari bibirnya. Dalam sekejap tubuh tinggi tegap itu sudah tidak nampak di penglihatan Kalea dan dia cuma bisa menghela napas lega.
Cukup lama bagi Kalea bahkan hanya untuk mengenakan pakaiannya. Ngilu yang terasa di bagian privat tubuhnya benar-benar hampir membuatnya gila.
Lalu saat Kalea menyeret langkahnya menuju meja rias untuk sekadar memeriksa kondisi wajahnya yang habis bermandikan keringat, Kalea justru dibuat tertegun saat menyaksikan ada begitu banyak tanda kemerahan di lehernya yang terbuka.
Kemudian bayang-bayang kejadian beberapa jam lalu kembali terputar di otaknya. Berdatangan satu-persatu bagai kolase foto yang berhamburan keluar dari ruang memori di kepala.
Dengan begitu saja, Kalea kembali merasakan jantungnya berdegup cepat dan rona merah dengan cepat menjalar menghiasi belah pipinya.
Tidak ingin dibuat semakin gila, Kalea berusaha mengenyahkan bayangan-bayangan itu dari kepala. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya menghilang, bayangan-bayangan itu justru semakin terlihat jelas bahkan terasa begitu nyata bila hanya disebut sebagai sebuah bayang semata.
Adegan di mana Gavin menatapnya penuh puja, yang bersambut dengan deru napasnya yang memburu ketika merasakan setiap sentuhan jemari panjang Gavin di permukaan kulitnya membuat Kalea kehilangan lebih banyak kewarasan.
Seumur hidup, dia tidak pernah membayangkan akan berada di situasi semacam ini. Dia tidak pernah menyangka, bahwa setelah mencapai apa yang orang-orang sebut sebagai surga dunia, ia harus melewati fase menyebalkan ini. Fase di mana seluruh bagian di otaknya hanya memutar adegan demi adegan yang membuat setiap sel di tubuhnya kembali melemah.
Kemudian sebelum kepalanya semakin penuh dan kewarasannya direnggut habis, Kalea teringat pada pembicaraannya dengan Karel tempo hari. Laki-laki itu mengajaknya bertemu untuk membahas tentang kelanjutan usaha mereka untuk menemukan Abang. Dan ingatan itu membuat Kalea semakin kalang kabut karena rencana pertemuan itu akan dilakukan besok.
Bagiamana Kalea akan menemui Karel dengan kondisi leher yang penuh bercak kemerahan seperti ini?!
Dasar, Gavin sialan! Kenapa laki-laki itu harus memberikan begitu banyak tanda di lehernya?
Kalea dilanda panik. Dari sekian banyak hal yang bisa saja terpikirkan oleh otaknya, justru seolah menghilang di saat-saat seperti ini. Otaknya seolah mendadak beku dan dia tidak bisa lagi memunculkan ide-ide cemerlang seperti biasanya.
Kesal dan frustasi bercampur menjadi satu. Kalea mengusak rambutnya sambil terus menjerit dalam hati. Apa yang harus dia lakukan? seseorang, tolong beri saran!
...****************...
Gavin kembali ke kamar setelah hampir dua puluh menit berkutat dengan kompor. Ia datang membawa sepiring spaghetti bolognese dan segelas air putih. Diletakkannya dua hal itu di atas nakas sementara netranya mulai berkeliling mencari keberadaan Kalea.
Kemana perempuan itu pergi?
__ADS_1
Padahal Gavin sudah melarangnya untuk meninggalkan kasur, tetapi perempuan itu sama sekali tidak mau mendengar.
"Kal?" panggil Gavin sembari berjalan menuju pintu kamar mandi. Dia pikir, mungkin saja Kalea sedang berada di dalam sana.
"Kal, kamu di dalam?" panggilnya lagi. Kali ini disertai beberapa kali ketukan yang dilabuhkan ke pintu.
Namun sekali lagi tidak ada jawaban. Karena penasaran, Gavin meraih gagang pintu dan membukanya perlahan-lahan. Dan lagi-lagi yang Gavin temui di dalam kamar mandi adalah kekosongan.
Kalea tidak ada di sana. Lalu, ke mana perempuan itu pergi?
Mustahil Kalea mengendap keluar ke halaman belakang karena untuk mencapai ke sana, Kalea harus melewati dapur dan Gavin yakin matanya tidak pernah lepas mengawasi sekitar meski pun dia fokus memasak. Lagipula, Gavin tidak yakin perempuan itu bahkan bisa berjalan sampai sejauh itu.
"Kal, kamu di mana? Jangan bercanda." Gavin panik, tapi dia tetap berusaha tenang.
Dia berjalan kembali ke arah kasur dan berniat memeriksa apakah Kalea pergi membawa ponselnya atau tidak.
Sampai tiba-tiba...
BRAKKK!!!
Terdengar suara gaduh yang seketika membuat kepanikan Gavin naik berkali-kali lipat.
Ada apa? Apa yang terjadi?
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung