Serana

Serana
Dia Tidak Suka Diabaikan


__ADS_3

Gavin memicingkan mata, menatap sebal pada sosok Karel yang duduk anteng di sebelah Kalea. Menikmati nasi goreng kimchi buatannya sambil sesekali bercanda dengan Kalea yang dengan senang hati menanggapinya.


Kemudian, Gavin beralih pada Kalea. Tidak kalah kesal saat mendapati istrinya itu sedang tertawa atas lelucon yang barusan Karel lontarkan. Tadi, setelah Karel berteriak bahwa makanan mereka sudah selesai dimasak, Kalea langsung mengambil posisi duduk di seberangnya, menolak keras ide yang dia sodorkan untuk duduk berdampingan dan malah memilih untuk duduk di sebelah si kampret Karel. Nah, saking kesalnya, Gavin bahkan sampai punya julukan baru untuk Karel.


"Mama bilang aku dibeliin album NCT, 2 versi sekaligus." Kata Kalea dengan nada riang. Mulutnya masih penuh dengan nasi goreng kimchi, tapi hal itu tidak membuat perempuan itu kehilangan tekad untuk menceritakan kabar gembira tersebut.


Di sampingnya, Karel tampak tersenyum lebar. Bertepuk tangan dua kali kemudian meneguk air putih dari dalam gelas setelah menelan nasi goreng di dalam mulut. Kemudian, lelaki itu berkata. "Ini album pacar lo yang pertama, kan? Si Bulan?"


Kalea mengangguk. "Iya, albumnya Mas Bulan." Jawabnya dengan senyum yang mengembang sempurna. "Tahun ini kayaknya mau ada konser deh, nanti kalau tanggalnya udah fix, kamu bantuin aku war ya?"


"Siap!" Karel memasang sikap hormat. Tersenyum cerah kepada Kalea kemudian melirik Gavin dan tersenyum mengejek. Bocah itu seolah ingin menunjukkan pada Gavin bahwa dia lah yang masih selalu diandalkan oleh Kalea. "Nanti nontonnya sama gue, ya?"


"Kamu mau ikut?"


"Iya, gue mau ketemu sama Jono."


"Jeno!" Kalea membenarkan.


Melihat ekspresi Kalea yang seketika berubah kesal membuat Karel tergelak. Sebenarnya dia sengaja mengganti nama Jeno menjadi Jono karena suka melihat reaksi Kalea yang begini. Itu tampak lucu di matanya.


"Iya, iya. Jeno. Jeno-nya Kalea yang paling ganteng sejagad raya."


Kalimat itu bagai mantra ajaib yang berhasil mengubah ekspresi wajah Kalea dari cemberut menjadi sumringah. Bukan cuma sumringah, belah pipi Kalea bahkan sudah mulai memerah.


"Jeno memang ganteng, sih." Gumam Kalea. Kemudian, ia mulai menyendokkan lagi makanan ke dalam mulut.


"Tapi masih gantengan gue."


"Mana ada." Cibir Kalea dengan mulut setengah penuh.


"Dih, nggak percaya. Nanti lo tanya aja sama Mama, siapa yang lebih ganteng antara gue sama Jeno. Pasti Mama bakal bilang kalau gue yang lebih ganteng." Ucap Karel dengan penuh percaya diri.


Kalea tidak menanggapi. Malas. Tingkat kepercayaan diri Karel memang tinggi. Dan mendebat lelaki itu sama sekali tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi Kalea membiarkan saja Karel menang dan menganggap dirinya lebih tampan ketimbang Jeno. Kalea tidak terlalu peduli dan memutuskan untuk melanjutkan acara makannya.

__ADS_1


Sementara itu, Gavin mulai kesal karena dirinya seolah tidak dilibatkan dalam obrolan. Gavin menaruh sendok yang ia pegang dengan gerakan agak membanting. Membuat Karel dan Kalea serempak menoleh ke arahnya dengan alis yang bertaut.


Tanpa mengatakan apa-apa, Gavin bangkit dari kursinya. Nasi goreng di atas piring bahkan baru berkurang dua atau tiga sendok, tapi Gavin sudah tidak berselera lagi untuk memakannya. Jadi dia memutuskan untuk meninggalkan meja makan, mengabaikan bisik-bisik samar yang keluar dari bibir julid Karel.


"Idih, laki lo kenapa?"


"Nggak tahu. Kesambet kali."


"Kurang sesajen sih gue rasa."


"Bisa jadi."


"Hati-hati aja sih kata gue, takutnya setannya galak, ntar lo dimakan lagi."


"Nggak akan, setannya takut sama aku."


Ke mana lagi Gavin akan pergi kalau bukan ke halaman belakang. Kini, dia mendudukkan diri di ayunan kayu. Tubuhnya bergerak maju mundur agar ayunan itu bisa bergerak mengayun tubuh bongsornya.


Sembari mengayunkan tubuh, pikirannya kembali melayang. Ia kembali terpikirkan Irina. Tadi dia sempat mengecek kembali ponsel untuk melihat apakah perempuan itu sudah membalas pesan-pesan yang dia kirimkan atau belum, dan ternyata ia masih tidak mendapatkan apa-apa.


Gavin menghela napas. Ini sangat tidak wajar. Tidak pernah dalam seumur hidupnya Irina bersikap seperti ini. Lebih dari kesal, Gavin mulai merasa khawatir. Takut kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya. Terlebih lagi Taruna yang biasa ia mintai informasi juga ikut-ikutan tidak bisa dihubungi.


Kalau sudah begini, ke mana lagi Gavin harus mencari?


"Gavin." Suara Kalea yang mengalun merdu berhasil membuyarkan pikiran Gavin. Ia menoleh, menemukan Kalea sudah berdiri tiga langkah dari ayunan tempatnya duduk. Perempuan itu datang dengan membawa sepiring apel yang telah dipotong-potong menjadi bagian yang kecil.


"Udahan ngobrol sama sahabat kamu?" tanya Gavin dengan menekankan pada kata sahabat. Tidak bisa dipungkiri, ia masih merasa kesal karena Kalea sampai mengabaikan dirinya karena Karel.


"Belum."


Gavin melongo saat Kalea menjawab demikian. Ia menatap Kalea tak percaya. Bibirnya setengah terbuka dan sepenuhnya kehilangan kata-kata.


Kalea berjalan mendekat sambil mengulum senyum. Menikmati ekspresi yang tampak di wajah Gavin saat ini. Setelah ia sampai di sisi Gavin, Kalea langsung duduk di ayunan yang satunya. Kemudian, "Buka mulutnya." Kalea menyodorkan sepotong apel ke depan mulut Gavin.

__ADS_1


Bukannya segera membuka mulut seperti yang Kalea perintahkan, Gavin malah membuang muka. Bibir bawahnya maju beberapa senti, cemberut dengan cara yang begitu lucu di mata Kalea.


Kalea ingin tertawa terbahak-bahak. Menertawakan bagaimana Gavin mulai terang-terangan menunjukkan sikap kekanakan yang selama ini tertutupi wajah garang dan raut seriusnya. Tapi tentu saja Kalea tidak melakukannya. Karena tujuannya datang ke sini adalah membujuk Gavin agar berhenti merajuk. Kalau dia tertawa, yang ada Gavin akan semakin kesal.


"Buka mulutnya, Gavin. Kamu tadi cuma makan dua sendok, paling nggak makan dulu apel ini biar perut kamu nggak terlalu kosong." Bujuk Kalea. Namun sekali lagi, Gavin masih geming.


Kesal karena Gavin tidak kunjung merespon dirinya, Kalea bangkit dari ayunan. Dengan langkah menghentak-hentak, ia berjalan ke hadapan Gavin. Sampai di depan lelaki itu, Kalea langsung menyodorkan sepotong apel dan menjejalkannya ke dalam mulut Gavin tanpa menunggunya membuka mulut terlebih dahulu.


Kaget karena mulutnya tiba-tiba dijejali potongan apel, Gavin refleks membuka mulutnya lebar-lebar agar potongan apel itu bisa masuk ke dalam mulutnya.


"Anak pintar." Puji Kalea. Kemudian, ia mendaratkan sebuah tepukan di kepala Gavin. Sebuah tepukan yang berhasil membuat si empunya kepala berhenti mengunyah dan melayangkan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.


"Kal," panggil Gavin pelan setelah keheningan yang cukup lama.


"Apa?"


"Jangan cuekin saya."


Kalea mengurungkan niat untuk menyodorkan sepotong apel lagi. Kekesalan di raut wajah Gavin sudah sepenuhnya menguap, entah ke mana, entah sejak kapan. Kini, manik kelam itu tampak sayu. Seolah ada banyak kesedihan yang sudah tertimbun sejak lama di sana. Kesedihan yang begitu menyakitkan dan terlalu sulit untuk dienyahkan begitu saja.


"Saya... nggak suka diabaikan."


Alih-alih menjawab, Kalea malah bergerak pelan meletakkan piring ke atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia kemudian maju satu langkah, mendekatkan diri kepada Gavin sebelum merengkuh tubuh lelaki itu ke dalam pelukannya.


"Ini sebagai permintaan maaf karena aku udah nyuekin kamu." Kata Kalea sembari mengusap pelan kepala Gavin. "Tapi setelah ini, kamu masih harus jaga jarak dua meter dari aku."


"Kaalll."


Kalea terkekeh. "Dua meter nggak sejauh itu, Gavin." Ucapnya. Kemudian tidak ada lagi protes yang keluar dari mulut Gavin saat Kalea menarik kepala lelaki itu sehingga tatapan mereka bertemu. "Kamu tetap harus jaga jarak. Tapi kalau aku yang berjalan lebih dulu ke arah kamu, nggak masalah, kan?"


"Aku yang akan mendekat ke arah kamu, Gavin. Pelan-pelan."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2