Serana

Serana
Another Priority


__ADS_3

"Bukan aku." Irina berkata tegas sembari meletakkan kotak beludru berisi satu set perhiasan limited edition ke atas meja di hadapan Gavin. Emosinya perlahan-lahan terasa naik sampai ke ubun-ubun hingga membuat kepala belakangnya terasa berat. Ia baru bangun ketika mendapati Gavin menerobos masuk ke dalam unit apartemen miliknya dengan raut wajah yang serius. Tanpa basa-basi ataupun kalimat sapaan yang biasa Gavin layangkan padanya, lelaki itu langsung menodongnya dengan pertanyaan yang terasa mencabik-cabik hatinya.


Irina sudah terbiasa dicibir dan dicurigai, dan ia sama sekali tidak merasa keberatan karena biar bagaimanapun, sebagai manusia kita tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain. Tapi hal itu hanya boleh dilakukan oleh orang lain, selain Gavin. Karena kalau lelaki itu sampai tidak memercayainya, maka Irina rasa ia sendiri pun tidak akan punya kemampuan untuk percaya kepada dirinya sendiri.


"Perhiasan itu aku simpan di lemari, nggak pernah aku sentuh karena itu terlalu berharga dan aku takut bakal ngerusak pemberian kamu." Tutur Irina. Walau sudah mati-matian berusaha menetralkan kembali perasannya, namun kabut bening tetap mulai menyelimuti kedua manik kelabunya. "Aku jaga hadiah dari kamu dengan baik, Vin. Dan sekarang apa? Kamu nuduh aku kirim hadiah ini ke rumah kamu? Buat apa? Kamu pikir aku punya waktu selonggar itu untuk memikirkan rencana nggak masuk akal kayak gitu?"


Gavin hanya terdiam memandangi kotak di hadapannya. Dari awal, ia memang tidak ingin menaruh curiga kepada Irina. Hanya saja, mungkin caranya menanyakan perihal ini ke Irina lah yang salah sehingga perempuan itu kini merasa dicurigai.


Setelah satu hela napas berat lolos dari belah bibirnya, Gavin bangkit dari sofa. Ia berjalan ke arah Irina yang kini sudah berdiri di dekat pembatas ruang tengah dan dapur dengan punggung menyandar di dinding dan kedua tangan terlipat di depan dada. Tanpa berkata apa-apa, Gavin meraih tubuh ramping itu, membawanya ke dalam pelukan.


"Aku percaya sama kamu. I'm sorry, kepanikan aku yang berlebihan udah bikin kamu jadi merasa nggak dipercaya sama aku." Gavin membisikkan kalimat itu tepat di telinga Irina. Kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kekasihnya itu, menyesapi aroma mawar yang menjadi candunya. "So sorry." Ucapnya lagi.


Irina tidak membalas pelukan Gavin. Perempuan itu malah mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya. Pelukan ini memang sudah ia rindukan setengah mati, tapi suasana hatinya kini sedang tidak baik dan pelukan Gavin sama sekali tidak berhasil membantunya merasa lebih baik.


"Kalau udah nggak ada yang mau kamu tanyakan lagi, mendingan kamu pulang. Aku mau istirahat karena setelah jam makan siang nanti aku ada pemotretan." Irina berjalan lebih dulu ke arah kamar, membiarkan Gavin memandangi punggung sempitnya sampai tubuhnya hilang di balik pintu kamar yang tertutup.


Alih-alih menuruti kemauan Irina, Gavin malah melangkahkan kaki menyusul ke kamar. Ketika pintu terbuka, Gavin menemukan Irina sedang tertelungkup di atas ranjang. Perlahan Gavin berjalan mendekat, mendudukkan diri di sisi ranjang kemudian mengusap kepala Irina pelan.


"Maaf, Rin. Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Aku nanya sama kamu bukan karena aku menuduh kamu, tapi untuk membuktikan bahwa kamu memang sepantas itu untuk dipercaya." Katanya. Namun Irina masih tidak menyahuti. Perempuan itu menyembunyikan wajahnya di bantal, terlalu erat pelukan lengannya di bantal itu hingga membuat Gavin khawatir kalau-kalau Irina akan kehabisan napas.


"Rin?"

__ADS_1


"You've changed a lot." Kata Irina dengan suara teredam. Lalu setelah beberapa lama, ia menarik diri dari kasur.


Gavin merasakan dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang terasa menekan dadanya hingga membuatnya kesulitan bernapas ketika mendapati wajah Irina sudah berhiaskan air mata. Perempuan itu menangis, dan lagi-lagi dirinya lah yang menjadi penyebabnya.


"I have a question." Kata Irina dengan suara serak. Air mata yang masih mengalir membasahi wajah cantiknya telah berhasil menelan suara jernih yang biasa Gavin nikmati setiap hati.


Gavin tidak bersuara. Dengan sabar menunggu sampai Irina menyelesaikan isakannya. Perempuan itu mengusap air mata yang mengalir menggunakan punggung tangan, menyekanya kasar hingga beberapa bulu mata yang lentik alami itu ikut rontok bersama dengan usapannya.


"Jawab jujur, kamu mulai ada rasa sama Kalea, kan?"


Bukan mulai ada. Perasaan ini udah aja sejak lama, Rin. Jauh sebelum kita ketemu dan aku jatuh cinta sama kamu. Gavin meratap dalam hati. Ia terdiam selama beberapa saat, menyelami manik kelabu Irina yang menatapnya lekat menuntut jawaban. Kemudian, Gavin meraih tangan Irina, menggenggamnya erat seolah begitu takut kehilangan.


"Ini masih awal, Rin. Aku nggak bisa biarin apapun mengusik Kalea sebelum posisi kita benar-benar aman. Om Arya lagi semangat-semangatnya nyari celah buat mendepak aku dari perusahaan, jadi aku butuh Kalea supaya Om Arya nggak bisa macam-macam. Dia nggak akan berani mengusik aku selama aku masih menjadi menantu Pradipta."


Irina bungkam. Demi Tuhan dia tahu. Gavin tidak perlu menjelaskan semuanya dari awal karena mereka sudah sering membahas soal ini. Yang menjadi masalah bagi Irina adalah bagaimana Gavin bersikap terhadap hal-hal yang bersinggungan dengan Kalea. Bagaimana lelaki ini selalu bereaksi berlebihan bahkan untuk hal-hal yang sebetulnya bukan merupakan sebuah ancaman. Seolah Gavin tidak ingin Kalea terluka. Seolah apa yang Gavin lakukan bukanlah untuk melindungi hubungannya dengan Irina, melainkan untuk melindungi Kalea. Irina merasa perempuan bernama Kalea itu punya tempat yang derajatnya lebih tinggi ketimbang dirinya di dalam hati Gavin.


Kenapa Irina bisa berpikir demikian? Karena ia pernah ada di posisi itu. Irina pernah merasakan bagaimana menjadi seseorang yang begitu Gavin perhatikan. Seseorang yang selalu ingin Gavin lindungi dan jauhkan dari hal-hal yang tak menyenangkan. Irina pernah menjadi prioritas nomor satu bagi Gavin, jadi ia bisa merasakan ketika Gavin melakukan hal yang sama untuk orang lain.


Setelah berdiam cukup lama, Irina tetap tidak bisa memutuskan apa-apa. Ia tidak tahu apakah dirinya bisa mempercayai Gavin atau tidak. Suasana hatinya benar-benar buruk dan isi kepalanya begitu semrawut. Irina menarik tangannya dari genggaman Gavin, membiarkan kehampaan memenuhi rongga dadanya ketika tangan besar itu tidak lagi menyalurkan kehangatan.


"Aku harus siap-siap buat pemotretan, jadi mendingan kamu pulang sekarang."

__ADS_1


"Nggak. Aku masih mau di sini." Gavin bersikeras. Ia menarik lengan Irina agar perempuan itu kembali duduk di kasur.


Irina memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan-lahan sambil membuka kembali matanya. "Nanti Kalea curiga kalau kamu perginya terlalu lama." Sejujurnya, Irina benci mengatakan itu. Ia benci menyebut nama Kalea di saat-saat seperti ini. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Keras hatinya tidak boleh menang, sebab biar bagaimanapun, ia masih tidak sanggup kalau harus kehilangan Gavin. Kalau dengan sedikit mengalah bisa membuatnya tetap mempertahankan Gavin di sisinya, Irina rasa dia masih bisa menahannya dan sedikit lagi.


"Aku nggak mau ninggalin kamu dalam keadaan masih marah sama aku."


"Aku nggak marah."


"Kamu iya."


"Vin,"


"Mau tampar muka aku, nggak? Barangkali bisa bikin kamu lega?" Gavin menarik tangan Irina, membawa telapak tangan perempuan itu ke depan wajahnya.


"Apa-apaan sih, Vin. Nggak usah aneh-aneh." Irina menarik kembali tangannya. "Awas, aku mau mandi."


"Pukul aku dulu biar kamu lega."


Irina menghela napas. Karena tidak ingin memperpanjang berdebatan ini, Irina akhirnya melayangkan sebuah pukulan pelan di bahu Gavin. "Udah, sana pulang."


Tanpa menunggu jawaban Gavin, Irina melompat turun dari kasur dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi, tubuh Irina luruh. Ia duduk bersandar di pintu kamar mandi dengan air mata yang kembali menetes. Dipukul-pukulnya dadanya sendiri berharap sesak yang ia rasakan bisa sedikit berkurang, tapi nyatanya sesak itu semakin menjadi-jadi saat sadar bahwa tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini. Dan barangkali, ia memang akan lebih banyak mengalah dan berpasrah untuk hal-hal lain di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2