
Tengah malam, ketika Kalea sudah terlelap di atas ranjang dan Karel baru saja jatuh tertidur setelah bermain game melalui ponselnya, Gavin menyelinap keluar. Langkah yang dia ambil terkesan hati-hati dan setiap gerakan yang dia ambil sebisa mungkin dia usahakan untuk tidak menimbulkan kegaduhan.
Mulanya, Gavin berniat untuk pergi ke taman depan untuk menyalakan rokoknya. Kepalanya terasa berat dan ribut, dan tidak ada lagi yang bisa membantunya meredakan pening itu selain asupan nikotin dari rokok yang kini berdiam di saku celananya.
Tetapi, niat itu sepenuhnya urung saat dia justru menemukan Irina sedang terduduk sendirian di kursi tunggu depan kamar rawat Sierra.
Lorong sudah terlihat sepi dan beberapa lampu tampak padam. Gavin menjadi bertanya-tanya, apa kiranya yang perempuan itu lakukan di sini sendirian? Ah, lebih dari itu, Gavin merasa heran karena Irina masih belum juga pulang.
"Rin," panggilnya dengan suara pelan sambil sesekali memeriksa keadaan sekitar. Takut tiba-tiba ada yang memergoki mereka di sini.
Irina mengangkat kepala. Senyum seketika terkembang menghiasi wajahnya yang kali ini tampak bersih, sama sekali tidak terpulas make up.
"Hai," sapanya. Dia hendak bangkit, tetapi Gavin memberi isyarat agar dia tetap berada di posisinya dan lelaki itu yang akan menghampiri.
Maka, Irina menurut. Dia menyamankan posisi duduknya dan menunggu sampai Gavin tiba kemudian mendudukkan diri di sebelahnya.
"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Gavin. Dia masih sesekali memeriksa keadaan sekitar. "Udah malam, kenapa nggak pulang?" lanjutnya.
"Aku nggak mau di apartemen sendirian." Irina menjawab dengan nada suara yang tidak biasa. Terkesan sedikit manja dan ... agak dilebih-lebihkan.
"Kenapa? Ada masalah lagi? Terornya mulai muncul lagi?" tanya Gavin yang sudah panik sendiri. Sebab, Irina tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Jadi, Gavin berpikir bahwa alasan Irina tidak ingin menghabiskan waktu di apartemen sendirian adalah karena adanya gangguan dari luar.
"Nope." Kata Irina.
Gavin harus kembali memasang sikap waspada saat tahu-tahu Irina beringsut ke arahnya dan tanpa aba-aba menyandarkan kepala di bahunya.
"I just ... missing you," gumam Irina. Matanya terpejam, seolah sudah tidak peduli lagi kalau-kalau akan ada yang menangkap basah mereka sedang berduaan. Dia mulai berpikir bahwa ada bagusnya juga kalau hubungan mereka ini segera ketahuan, supaya dia tahu, mana yang akan lebih Gavin pertahanankan kalau dirinya dan Kalea sedang sama-sama ada di situasi yang berbahaya.
__ADS_1
Tadinya, Irina sudah hampir menyerah pada hubunga mereka. Dia sudah hampir merelakan Gavin untuk menjalani pernikahan yang tenang dengan Kalea dan dia juga bisa menjalani kehidupannya sendiri tanpa dibayangi perasaan takut kehilangan yang menyiksa.
Tetapi, setelah dia tahu bahwa ternyata Gavin menikahi Kalea bukan semata-mata karena ingin menyelamatkan posisinya di keluarga Cakraditya, dan fakta bahwa Kalea ternyata adalah teman masa kecil yang memang sudah Gavin cari-cari sejak lama, perasaan tidak rela itu menyembur keluar bagai luapan air laut yang sedang diguncang tsunami.
Kerelaan yang sudah Irina susun sedemikian rupa seketika sirna, tergantikan dengan obsesi untuk mendapatkan kembali apa yang dia pikir telah menjadi miliknya jauh sebelum Kalea datang ke dalam hidup mereka.
Irina kembali menjadi serakah, dan sepenuhnya mengabaikan permintaan Taruna untuk mulai melepaskan Gavin pelan-pelan.
"I said I miss you, why don't you answer me?" tuntut Irina sembari menjauhkan kepalanya dari bahu Gavin. Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Irina tidak bisa menerjemahkan apa arti tatapan Gavin sekarang.
"Kamu nggak kangen sama aku, ya? Udah mulai kehilangan perasaan terhadap aku?" kabut bening mulai merambati bola matanya, siap untuk disulap menjadi tetesan air mata yang dalam sekejap akan membasahi wajahnya.
"Rin,"
"You love her, don't you?" tantangnya.
"It's not about her, it's all about us." Kata Gavin. Entah sudah yang ke-berapa kali.
Irina mulai merasa ini tidak adil. Padahal, dia adalah kekasih Gavin jauh sebelum perjodohan sialan ini dibicarakan. Tetapi tiba-tiba saja, dia berada di posisi yang tampak seperti seorang pengganggu rumah tangga orang lain.
Lucu sekali.
"Why don't we end this relationship, Vin? You do love her, am I wrong?" Irina semakin semangat untuk memprovokasi. Sekalian menguji seberapa keras Gavin masih akan mempertahankan dirinya di sini.
"Stop it." Kata Gavin dengan bibir yang nyaris terkatup rapat. Otot-otot di sekitar lehernya tiba-tiba saja menegang dan tatapannya perlahan berubah. "Don't you dare to say that fuckin' words again." Imbuhnya dengan penuh penekanan.
"Well, I'm just saying." Irina mengempaskan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada dan melemparkan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
"Padahal kamu tinggal bilang enggak kalau memang kamu nggak ada perasaan apa-apa sama Kalea." Irina menoleh, menarik satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian mengejek yang kentara. "Kamu selalu berkilah dan mencoba membungkam mulut aku dengan kalimat andalan kamu. Bahwa ini tentang kita, bahwa tidak boleh ada orang lain di dalam pembicaraan kita, bahwa-"
"Rin!" Gavin menyela dengan nada suara meninggi.
Irina seketika terdiam. Dia menatap Gavin lekat-lekat kemudian mengembuskan napas keras-keras ketika sudah mulai merasa muak pada sikap Gavin.
"You've never raised your voice when we're talking, Vin. But you just did it now."
"Nggak gitu maksud aku, Rin. Aku ..." Gavin menggantungkan kalimatnya. Kemudian, dia menghela napas panjang dan mulai mengusap wajahnya kasar.
Niatnya pergi keluar untuk merokok supaya kepalanya sedikit terasa ringan, tapi nyatanya dia malah berakhir menimbulkan masalah baru.
"Maaf, aku nggak bermaksud untuk bentak kamu." Ucapnya pelan. Dia kembali menatap Irina, dengan mata yang sendu.
"Di sini rasanya ribut banget, Rin." Gavin menunjuk kepalanya sendiri. "Aku nggak tahu harus gimana, maafin aku."
Sudah pernah Irina bilang kalau salah satu kelemahan terbesarnya adalah laki-laki bernama Mahesa Gavin ini? Kalau belum, sekaranglah saatnya kalian tahu.
Sebab, meskipun perasaannya sendiri sedang tidak keruan dan dia merasa marah terhadap banyak hal, Irina tetap mengulurkan tangan untuk menepuk-nepuk punggung Gavin ketika laki-laki itu mulai menundukkan kepala dan menjambaki rambutnya sendiri.
Sementara itu, mereka berdua tidak akan pernah tahu bahwa kini, beberapa meter dari empat mereka duduk, Taruna sedang berdiri dengan tatapan dingin yang ditujukan ke arah mereka. Tangan lelaki itu mengepal kuat, meremas minuman kaleng yang barusan dia beli hingga penyok tak berbentuk.
Dan di satu sisi yang lain, ada Karel yang diam-diam mengintip dari balik pintu kamar rawat Kalea dan sibuk bertanya-tanya, sedang apa Gavin tengah malam begini dan ... bersama Irina?
Bersambung
Kata gue mending lo nikah aja sama Taruna, Rin. Sumpah, gue capek dengan drama ini Ya Tuhan ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1