Serana

Serana
Pilihan


__ADS_3

Gavin mengajak Taruna ke taman depan rumah sakit. Mereka duduk di bangku kayu panjang di bawah naungan pepohonan besar nan rindang yang melindungi mereka dari sengatan matahari secara langsung. Tatapan mereka terlempar jauh ke depan, pada hamparan bunga warna-warni yang bergoyang tertiup angin.


"Gimana keadaan Kalea?" tanya Taruna, menjadi orang pertama yang membuka suara karena Gavin tidak kunjung membuka mulutnya sejak bermenit-menit yang lalu.


"Semalam demamnya tinggi lagi, tapi sekarang udah oke." Gavin menjawab dengan tatapan yang masih terlempar jauh ke depan. Di kepalanya kini, ada jauh lebih banyak hal yang berkecamuk. Terlalu rumit, sampai dia sendiri tidak mampu untuk mengurainya satu persatu.


"Kalau Sierra, gimana? Udah membaik?" Gavin bertanya setelah keheningan kembali melingkupi mereka untuk beberapa lama. Kali ini, Gavin menanyakan hal tersebut sembari menolehkan kepala, sedikit terkejut saat menemukan Taruna tampak melamun dengan pandangan kosong.


"Untuk saat ini, baik. Tapi nggak ada yang benar-benar bisa diharapkan, soalnya penyakit Sierra memang begitu, timbul tenggelam."


Ketika Taruna menundukkan kepala dengan senyum miris yang terpatri di wajah tampannya, Gavin tahu lelaki di sampingnya itu sedang berusaha menahan perih di dadanya.


Gavin tidak tahu mengapa dia merasa Taruna seterikat itu dengan Sierra. Seolah gadis kecil itu bukan cuma sekadar anak yang dia adopsi dari seorang kerabat yang meninggal dunia. Seolah hubungan Taruna dan Sierra jauh lebih dekat daripada itu.


Tetapi, Gavin tidak punya hak untuk bertanya lebih lanjut. Dia memang mengenal Taruna untuk waktu yang cukup lama, tetapi tidak banyak yang laki-laki itu mau bagi kepada dirinya. Tidak seperti dirinya yang membagi hampir separuh kisah hidupnya kepada lelaki itu.


"Ah ...." Taruna tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Gavin. "Buket bunga sama keranjang buah yang ada di kamar Kalea itu, gue yang bawa. Yeah, in case you want to know."


Sejenak, Gavin terdiam. Kemudian dia mulai menaruh perhatian lebih banyak kepada Taruna.

__ADS_1


"Dari mana lo tahu kalau Kalea suka bunga Hydrangea warna biru?" sebenarnya, pertanyaan ini telah menggelitik Gavin sejak tadi. Jadi, berhubung Taruna menyinggungnya, dia akan sekalian menguliknya.


"She likes the flower?" Taruna malah balik bertanya, membuat satu alis Gavin terangkat naik. "Tadi gue ke toko bunga, terus florist di sana kasih rekomendasi bunga itu pas gue bilang mau jenguk teman yang sakit. Berhubung gue nggak tahu Kalea suka bunga apa, ya gue ambil aja sesuai rekomendasi."


Penjelasan Taruna terdengar tidak masuk akal. Karena, sejak kapan ada florist yang akan merekomendasikan Hydrangea warna biru untuk dibawa ke rumah sakit?


Tetapi, karena Gavin merasa tidak ada alasan baginya untuk menelisik lebih jauh tentang bunga itu, dia memutuskan untuk hanya menganggukkan kepala dan kembali menutup bibirnya rapat-rapat.


Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara lagi. Baik Gavin maupun Taruna sama-sama terdiam dengan isi kepala yang semrawut. Hanya ada satu persamaan dari banyaknya pemikiran yang ada di kepala mereka, yaitu adanya nama Irina.


Keheningan itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya Taruna mengembuskan napas keras-keras dan kembali menjadi orang pertama yang lagi-lagi berinisiatif membuka suara.


Gavin menoleh sebentar, kemudian kembali melayangkan tatapan ke depan. Dia membuang napas keras-keras, mengempaskan keresahan yang membuatnya tidak tenang akhir-akhir ini.


"Is she okay?" tanya Gavin. Dia kembali menoleh, menemukan Taruna sedang menunduk menatapi ujung-ujung sepatunya.


Taruna tidak lantas menjawab. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menemukan Gavin tengah menatapnya dengan tatapan terlalu sulit untuk diterjemahkan.


"Definisi baik-baik aja menurut lo itu, yang kayak gimana?" Taruna bertanya balik. Satu sudut bibirnya terangkat naik, membentuk sebuah senyum yang terlampau sulit untuk Gavin artikan.

__ADS_1


Gavin tidak punya stok kosakata di dalam kepala untuk menjawab pertanyaan balik Taruna. Sebab, dia sendiri tidak tahu apa yang dia maksud dengan baik-baik saja di saat dirinya sendiri sadar bahwa dia telah menempatkan Irina di dalam situasi tidak nyaman. Seperti tadi, misalnya.


"Gue rasa ... udah saatnya lo mempertimbangkan untuk mulai melepaskan Irina pelan-pelan, Vin." Taruna mengatakan itu setelah berpikir sebanyak ribuan kali.


Setelah melewati malam-malam berisi mimpi buruk dan hari-hari yang serasa menyiksa, hari ini, Taruna akhirnya berani mengatakan itu kepada Gavin. Karena jujur saja, dia sudah muak melihat perempuan yang dia sayangi terjebak di dalam sebuah hubungan sialan semacam ini.


Sekalipun Irina tidak akan berakhir dengan dirinya, Taruna tetap ingin perempuan itu setidaknya bisa bersama dengan laki-laki yang betulan mencintainya, dan tidak akan menduakannya untuk alasan apa pun.


"Nggak semudah itu, Na." Gavin menjawab setelah membisu cukup lama. Sekarang, gantian dia yang menunduk. Menatapi ujung-ujung sepatunya yang seolah sedang menjulurkan lidah, mengejek ketidakmampuannya untuk memilih.


"Udah banyak hal yang kami lewati sama-sama. Nggak semudah itu untuk bisa sampai di kata selesai." Kalimat itu meluncur bersamaan dengan kegetiran yang tercipta dari tiap-tiap kenangannya bersama Irina. Kenangan yang dulu dia pikir akan membuatnya tersenyum lebar saat mengingatnya, namun kini justru membuatnya meringis.


"Tapi selesai jelas lebih mudah ketimbang terus-menerus menempatkan Irina di situasi yang menyakitkan." Taruna, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak melayangkan tinju ke wajah Gavin. Dia masih berusaha mengendalikan diri. Memahami dengan jelas bahwa saat ini dia hanya bisa memosisikan diri sebagai teman yang berdiri di tengah-tengah, tidak memihak siapa-siapa.


"Gue tahu, Na. Demi Tuhan, gue tahu. Gue cuma ... butuh sedikit lebih banyak waktu." Gavin mengangkat wajah. Tatapan mereka pun bertemu, dan Taruna bisa melihat ada begitu banyak percikan berisi begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu keluar dari tatapan mata Gavin.


"Semakin lo menunda, semakin banyak lo menyakiti Irina." Akhirnya, cuma itu yang bisa Taruna katakan. Dia memutuskan untuk bangkit dari kursi dan menyakui kedua tangannya.


Sebelum pergi meninggalkan Gavin, Taruna menunduk sebentar untuk membalas tatapan Gavin. "Bukan cuma Irina, lo juga akan menyakiti Kalea if one day she finally finds out about this." Kemudian, Taruna berlalu dari sana, meninggalkan Gavin dengan perasaan bersalah yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2