Serana

Serana
The Guardians


__ADS_3

Menjelang malam, suhu tubuh Kalea naik lagi. Perempuan itu mengeluh sakit kepala dan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Dia juga merasakan mual yang lumayan mengganggu, sehingga apa pun yang masuk ke dalam perutnya terpaksa dikeluarkan lagi tidak lama kemudian.


Gavin dan Karel secara sigap menjaga Kalea, memenuhi setiap hal yang perempuan itu butuhkan secara bergantian. Para orang tua, termasuk Bi Imah, sudah kembali ke rumah sebelum maghrib. Jadi sekarang cuma ada Karel dan Gavin yang menjaga Kalea.


"Masih nggak bisa tidur?" tanya Gavin yang sedari tadi mengusap pelan kening Kalea untuk membantu perempuan itu meredakan pening yang terasa.


Kalea menggeleng. Pusing di kepalanya memang sudah tidak terlalu terasa setelah dia meminum obat, tetapi dia masih belum juga bisa memejamkan mata meksipun sudah berusaha.


"Nggak apa-apa, nggak usah dipaksa." Gavin mengulaskan senyum dengan kepala yang mengangguk samar. "Nanti lama kelamaan juga tidur sendiri kok." Lanjutnya sembari mengusap pipi tirus Kalea.


"Kalau aku masih nggak bisa tidur juga sampai pagi, gimana?" tanya Kalea dengan suara teramat pelan.


"Ya nggak apa-apa, emangnya kenapa?" Gavin bertanya balik dengan satu alis yang terangkat naik.


"Kalau aku nggak tidur, kamu sama Karel juga pasti nggak akan tidur. Makanya aku mau cepetan tidur, Gavin."


"Gue udah biasa bergadang." Sahut Karel yang kini berbaring di atas sofa, asik memainkan game dari ponselnya.


"Kamu udah biasa, tapi Gavin enggak!" ketus Kalea yang membuat Karel mendengus sebal.


Lagi-lagi Gavin. Batinnya.


"Udah, nggak usah berantem." Lerai Gavin sebelum perdebatan kembali dimulai. "Saya nggak apa-apa, nggak usah khawatir."


"Tapi kamu belum tidur dari kemarin." Rengek Kalea, seolah-olah dirinya lah yang tidak tidur sejak kemarin.


Muak mendengar ocehan Kalea yang semakin mengada-ada, Karel log out dari game yang sedang dimainkan dan segera bangkit dari sofa. Dengan langkah mengentak-entak, Karel berjalan menuju ranjang pasien.


Sampai di samping ranjang pasien, Karel langsung menarik lengan Gavin kemudian menyeret laki-laki itu dan mendudukkannya di sofa. Gerakannya terlampau cepat, sampai Gavin tidak punya kesempatan untuk melayangkan protes.


Sebelum mulut Gavin terbuka, Karel segera balik badan dan setengah berlari ke arah Kalea dan langsung mendudukkan dirinya di kursi.

__ADS_1


"Lo tidur, biar gue yang jagain si burung beo ini." Kata Karel setelah bokongnya mendarat sempurna di atas kursi. Dia mengatakan itu dengan tatapan yang lurus tertuju ke arah Kalea.


"Saya nggak apa-"


"Gue yang apa-apa!" Karel membalikkan badan. Entah mendapat kekuatan dari mana, dia melotot ke arah Gavin. "Ini burung beo nggak akan diem kalau lo nggak tidur. Kalau begitu caranya, yang ada kita bertiga nggak akan tidur sampai pagi."


Gavin menatap Karel dan Kalea secara bergantian, kemudian dia mengembuskan napas keras-keras sebelum membaringkan tubuhnya di sofa. Ukuran sofa ini besar, jadi dia tidak perlu menekuk kakinya dan membuatnya tidak nyaman.


"Merem." Perintah Karel lagi.


Entah bagaimana, Gavin menurut. Dia segera memejamkan mata dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas perut.


Selama hampir satu menit setelahnya, Karel masih memandangi Gavin, seolah ingin memastikan bahwa laki-laki itu betulan tidur, tidak hanya sedang berpura-pura untuk membuatnya berhenti mengomel.


Setelah melihat sendiri bagaimana napas Gavin mulai teratur (meskipun dia tahu Gavin belum sepenuhnya terlelap), Karel menarik pandangan dari laki-laki itu dan beralih menatap Kalea. Pas sekali, perempuan itu juga sedang menatapnya dengan sepasang mata boba yang binarnya agak redup sejak kemarin.


"Lo juga harus tidur," ucap Karel dengan suara pelan.


"Nyanyi apa?" tanya Karel. Mulanya dia sudah akan memulai kembali game yang sempat dia tinggalkan, namun segera dia urungkan niat itu dan ponsel miliknya dia lempar begitu saja ke atas nakas. "Cucak rowo?" sambungnya asal. Padahal, dia sendiri tidak tahu apakah ada lagu yang berjudul cucak rowo.


"Itu lagu kebangsaan negara mana?" tanya Kalea dengan polosnya.


"Swedia." Jawab Karel asal.


"Masa?" Kalea masih dengan polosnya.


Karel mengangguk mantap sambil menunjukkan gestur untuk membuat Kalea percaya bahwa dia tidak salah memberikan informasi.


Tetapi, Kalea malah menghadiahinya sebuah sentilan yang cukup keras di dahi.


"Sakit!" pekiknya sembari mengusap dahinya yang terasa panas. "Lagi sakit juga masih demen KDRT aja, heran."

__ADS_1


"Lagian kamu ngawur."


"Udah tahu gue ngawur, kenapa diladenin?" cibir Karel. Kemudian, dia membenarkan posisi duduknya dan mulai menatap Kalea serius. "Jadi, mau dinyanyikan lagu apa, Tuan Putri Kalea Dimitria?"


Kalea terkekeh mendengar panggilan itu akhirnya keluar juga. Rasanya sudah lama sekali sejak Karel memanggilnya begitu.


"Malah cengengesan! Buruan, mau dinyanyiin lagu apa?!"


"Galak banget, heran." Kalea mencebik. Namun sedetik kemudian, senyumnya kembali terbit. "Mau dinyanyiin Good Person-nya Lee Haechan."


"Oke." Karel menjawab tanpa ragu.


Alih-alih senang, Kalea malah menaikkan sebelah alisnya dan melemparkan tatapan menghakimi ke arah Karel.


"Kenapa?" tanya Karel bingung.


"Emang kamu tahu lagunya yang kayak gimana?"


Merasa sedang diremehkan, Karel berdecak. "Jangan meragukan kemampuan seorang Karelino Gautama." Katanya sembari menyentuh dada kirinya. "You know, I'm the best." Lanjutnya, membanggakan diri sendiri.


Kalea memutar bola mata jengah, tapi tetap menyediakan telinga ketika Karel mulai berdeham sebagai ciri khas saat pemuda itu akan mulai bernyanyi.


Kemudian, ketika suara merdu Karel mulai mengalun memenuhi seisi ruangan yang semula hening, Kalea menarik ujung-ujung bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman yang cantik.


Kalea menatap kagum pada sosok Karel yang masih terus bernyanyi. Sesekali pemuda itu menyentuh dadanya sendiri sembari memejamkan mata, terlihat begitu menghayati setiap bait yang keluar dari belah bibirnya.


Sedari dulu, Karel memang berbakat dalam bidang seni musik. Pemuda itu sudah banyak melahirkan karya yang hanya diperdengarkan kepada sebagian orang, termasuk Kalea. Karel mencintai musik seperti musik adalah bagian dari dirinya sendiri. Tapi karena suatu hal, Karel sempat menyerah pada mimpinya untuk menjadi musisi dan malah banting setir menjadi owner cafe kekinian.


Mengingat itu, Kalea diam-diam meringis. Padahal waktu sudah lama berlalu, tetapi Karel masih belum bisa berdamai dengan luka yang dimilikinya. Tapi Kalea juga tidak bisa membantu banyak. Melihat Karel masih mau bernyanyi dan bermain beberapa alat musik yang memang sudah laki-laki itu ahli saja, sudah membuat Kalea lega. Karena selama bertahun-tahun sejak kejadian itu, Karel pernah menarik diri sejauh-jauhnya dari musik dan segala hal yang berhubungan dengannya.


Selagi Kalea tenggelam dalam lagu yang Karel nyanyikan, Gavin yang memang belum tidur diam-diam ikut menarik sudut-sudut bibirnya ke atas. Semakin hari, dia semakin menyadari bahwa ada perasaan lain yang mulai tumbuh untuk Karel. Mungkin tidak sebesar rasa sayang kepada seorang teman, tetapi perasaan itu cukup mampu untuk membuat Gavin dengan yakin mengatakan bahwa jika suatu hari nanti dia menghilang, Karel akan jadi orang pertama yang dia percaya untuk menggantikan dirinya di sisi Kalea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2