
Sesampainya di tempat janjian, Taruna langsung menerobos masuk, melewati petugas keamanan dengan mudah sebab mereka juga tahu kalau yang barusan datang itu adalah bos mereka.
Kelab ini tidak digunakan ketika siang hari, sengaja supaya kalau Taruna punya kepentingan untuk mengadakan pertemuan rahasia, dia bisa menggunakan tempat ini dengan leluasa. Padahal kalau dia mau, Taruna bisa mendapatkan lebih banyak pundi-pundi rupiah karena tidak jarang ada beberapa selebritis yang ingin datang ke sini saat hari masih terang.
Iya, Taruna adalah pemilik sebenarnya dari kelab khusus kalangan selebritis yang sering Irina dan teman-teman artisnya kunjungi. Tanpa banyak yang tahu (termasuk Irina dan Gavin) Taruna sebenarnya punya lebih banyak uang dan koneksi ketimbang apa yang dia perlihatkan kepada orang-orang selama ini.
Di sudut kelab, tanpa penerangan apa pun karena lampu-lampu tidak dinyalakan, Raga sudah menunggu dengan berbekal 'amunisi' yang dia janjikan. Pemuda itu mengangkat kepala dan tersenyum lebar kala menemukan Taruna berjalan ke arahnya, membelah kegelapan bagai malaikat yang dikirim Tuhan untuk menariknya keluar dari kubangan hitam kehidupan.
"Sierra udah oke?" menjadi pertanyaan pertama yang Raga lontarkan setibanya Taruna di hadapannya.
Taruna cuma mengangguk dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah Raga. Matanya segera terfokus pada satu kotak berwarna hitam pekat berukuran sedang.
"Semuanya udah ada di sini?" tanyanya dengan tatapan yang masih tidak teralih dari benda tersebut.
"Iya. Semuanya, termasuk yang terakhir kali lo minta." Jelas Raga, dengan senyum bangga atas hasil kerjanya sendiri.
Taruna manggut-manggut kemudian meraih kotak itu dan membuka penutupnya. Bukannya dia tidak percaya pada kemampuan Raga untuk melakukan pekerjaannya, dia cuma mau melihat isi di dalam kotak tersebut sebelum nantinya semua hal yang ada di sana akan dia pindah tangankan.
Satu sudut bibir Taruna terangkat saat matanya menemukan sebuah benda berukuran kecil setara ibu jari orang dewasa yang terletak di atas tumpukan kertas-kertas. Dia ambil benda itu, ditatap lekat-lekat sambil membayangkan betapa menyenangkannya jika dia bisa menggunakan benda itu secepatnya.
Itu adalah sebuah cctv berukuran mini yang dia pasang di kamar apartemen Irina. Di dalamnya, ada banyak sekali adegan panas antara Gavin dan Irina, di mana adegan itu sangat bisa dia gunakan untuk melancarkan misinya.
"Soal Irina, gimana?" tanya Raga setelah membisu cukup lama.
Taruna mengalihkan tatapannya dari benda kecil di tangannya itu kepada Raga. Kemudian dia mendengus dan meletakkan kembali benda kecil itu ke dalam kotak lalu memasang kembali penutup kotaknya.
__ADS_1
"Gue gagal bikin dia ninggalin Gavin secara sukarela." Kata Taruna miris. Namun sedetik kemudian, senyum licik terbit menghiasi wajah tampannya. "Karena gue nggak bisa bikin Irina menjauh dari Gavin dan sekarang gue tahu kalau Kalea juga sama berharganya buat dia, gue bakal bikin Gavin kehilangan Kalea sebagai gantinya."
Ada kilat kebencian yang begitu kentara terpancar jelas dari sorot mata Taruna sekarang. Kedua tangannya terkepal, rahangnya mengeras seiring dengan tekadnya untuk menghancurkan Gavin yang semakin kuat.
"Kenapa lo harus bikin Gavin kehilangan Kalea, kalau lo bisa bikin Gavin kehilangan keduanya?"
Taruna menaikkan sebelah alisnya, tidak menangkap maksud perkataan Raga barusan.
"Lo masih ingat saran gue tempo hari, kan? Just do it, bro. Dengan begitu, lo juga bisa bikin Irina stay di samping lo. Sementara Gavin ... dia nggak akan dapat apa-apa."
Selama beberapa menit setelahnya, Taruna tidak kunjung bersuara. Dia sibuk memikirkan kembali apa yang Raga katakan. Mempertimbangkan secara matang apakah dia betulan harus melakukan apa yang Raga sarankan. Karena ketika dia menutuskan untuk menerima saran itu, kemungkinannya hanya dua : dia akan mendapatkan Irina seutuhnya, atau dia justru akan kehilangan perempuan itu selamanya.
...****************...
Sementara itu, di rumah sakit...
"Terus?" tanya Gavin setelah mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang.
"Aku nggak ada teman main lagi." Adu Kalea. Raut wajahnya sedih sekali, seolah dia dipaksa berpisah jauh dengan teman yang sangat dia sayangi.
"Ada saya, ada Karel juga." Kata Gavin, berusaha tidak terpancing oleh raut wajah melas yang kini Kalea tunjukkan. Karena sebenarnya, dia paham maksud pembicaraan Kalea. Perempuan itu sedang merayunya untuk menyetujui gagasan gila tentang membawa Kalea pulang ke rumah, di saat dokter menyarankannya untuk tetap tinggal di rumah sakit selama beberapa hari ke depan.
Jawaban yang Gavin berikan sama sekali tidak memuaskan, jadi Kalea memberengut lalu kembali menyedot jus jambu yang dibelikan oleh Karel sambil sesekali menggigiti sedotan karena kesal.
"Nggak usah aneh-aneh, diem aja di sini sampai dokter bolehin lo pulang." Sahut Karel dari sofa.
__ADS_1
Kalea melirik Karel sinis, kemudian mendengus sebal. Padahal dia berharap pemuda itu bisa membantunya membujuk Gavin agar mau mengurus kepulangannya secepat mungkin. Tapi yang pemuda itu lakukan justru sebaliknya. Menyebalkan.
"Satu hari lagi." Celetuk Gavin.
Kalea menoleh ke arah lelaki itu dengan tatapan bertanya-tanya. Apanya yang satu hari lagi?
"Bertahan di sini selama satu hari lagi." Gavin menjelaskan karena dia paham bahwa Kalea tidak mengerti ucapannya yang sebelumnya. "Kalau dokter bilang kondisi kamu sudah oke, besok kita pulang."
Bukannya senang diberi tahu seperti itu, Kalea malah semakin memberengut. Sebab itu berarti kepulangannya benar-benar tergantung apa kata dokter. Lebih dari itu, bisa saja Gavin memaksa dokter untuk mengatakan bahwa kondisinya masih belum stabil dan belum boleh pulang, benar? Mengingat Gavin memang selalu punya cara untuk membuatnya mau tidak mau menerima keputusannya.
"Nggak usah cemberut gitu," ucap Gavin. Tiba-tiba saja, dia mengulurkan tangan, menyeka jus jambu yang sedikit meleber ke sudut bibir Kalea menggunakan ibu jarinya.
Karel yang disuguhi pemandangan seperti itu pun merasa kesal. Lagi-lagi, dia dibuat merasa seperti butiran debu yang tidak nampak.
"Terus aja terus, da gue mah apa atuh, cuma butiran debu, nggak keliatan di mata kalian." Sindir Karel.
Gavin cuma terkekeh mendengar Karel yang sewot sendiri. Sementara Kalea malah melempari Karel dengan tatapan tajam sehingga membuat pemuda itu menjadi semakin kesal.
"Apa? Mau gue colok mata lo?" tantang Karel seraya menampakkan raut wajah tengil yang membuat Kalea serasa ingin meraup wajah pemuda itu lalu mencelupkannya ke bak mandi penuh sabun.
"Jangan mulai, ini masih pagi." Lerai Gavin sebelum dua anak manusia itu kembali terlibat pertengkaran yang tidak penting.
Tanpa diduga, Karel dan Kalea menurut. Mereka tidak memperpanjang adu mulut itu. Kalea kembali menyedot jus jambunya dalam diam dan Karel pun kembali asik memainkan game.
Gavin mengulum senyum. Tidak disangka, melihat perdebatan kecil antara Karel dan Kalea pagi ini ternyata cukup ampuh untuk membantunya meredakan kecemasan yang merundungnya semalaman.
__ADS_1
Bersambung