Serana

Serana
There's Something in Your Tummy


__ADS_3

Hari ke-enam, mual yang Kalea makin parah. Sekarang, bukan cuma di pagi hari saja dia merasakan mual yang menyiksa, tetapi sepanjang hari. Hampir tidak ada waktu di mana dia bisa menjalani harinya dengan tenang.


Akhirnya, dia menyerah. Menerima keputusan Gavin untuk menyeretnya ke ruma sakit dengan lapang dada. Hanya saja, dia mengajukan syarat agar Gavin tidak memberitahu orang tua mereka soal ini. Kalea tidak ingin membuat para orang tua khawatir.


Gavin dan Kalea saling diam, menunggu dokter menyampaikan analisanya terkait penyakit apa yang diderita oleh Kalea. Beberapa kali Kalea melirik ke arah Gavin yang tidak bisa diam. Terlihat gelisah di dalam duduknya, seolah lelaki itu lah yang sedang sakit dan gelisah menunggu vonis yang akan disampaikan oleh dokter.


Setelah bermenit-menit menunggu, si dokter perempuan yang ada di depan mereka akhirnya mengalihkan pandangan dari kertas-kertas yang dia pegang, kemudian menatap mereka secara bergantian. Raut wajahnya cerah, senyumnya merekah. Terlihat aneh untuk ukuran seorang dokter yang akan menyampaikan hasil pemeriksaan kepada pasiennya.


"Gimana, dok? Istri saya sakit apa?" tanya Gavin, karena sang dokter tak kunjung buka suara.


"Bu Kalea tidak sakit, Pak Gavin," ucap si dokter sambil tersenyum.


Dahi Gavin berkerut mendengar jawaban itu. Kalau tidak sakit, kenapa Kalea mual-mual terus dan bahkan tidak bisa makan apapun selama beberapa hari terakhir?


Melihat kebingungan Gavin, dokter itu semakin tersenyum. Lalu, tiba-tiba saja dia mengulurkan tangan ke arah Gavin, membuat lelaki itu semakin tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Gavin terpaku cukup lama memandangi uluran tangan dokter itu, semakin bertanya-tanya karena senyum sang dokter tak kunjung luntur dan uluran tangannya juga tidak segera ditarik kembali meskipun dia tidak menyambutnya.


"Selamat, Pak Gavin, istri bapak positif hamil. Sekarang, usia kandungannya sudah masuk enam minggu." Kata si dokter.


Gavin masih membisu, otaknya masih belum selesai memproses informasi. Entah kenapa, kerja otaknya menjadi lebih lambat akhir-akhir ini.


Tahu bahwa uluran tangannya tidak akan disambut, dokter itu menarik kembali tangannya, namun senyumnya masih tersinggung sempurna. Dia menoleh ke arah Kalea, tersenyum geli saat menemukan perempuan itu terlihat tak kalah bingung dengan Gavin.

__ADS_1


Mereka berdua masih terlihat muda, barangkali kabar kehamilan ini memang cukup membuat mereka terkejut karena ini tidak ada di dalam rencana mereka.


Puas memandangi Kalea, dokter itu kembali menatap Gavin.


"Mual-mual yang dialami oleh Bu Kalea itu hal yang wajar untuk wanita hamil di trimester pertama kehamilan, Pak. Saya akan resepkan vitamin untuk membantu Bu Kalea melewati fase ini, ya." Jelas si dokter, kemudian dia mulai menggerakkan jemarinya menuliskan sesuatu di atas kertas.


Sementara Gavin dan Kalea masih terdiam karena mereka masih sama-sama belum selesai memproses informasi yang mereka terima.


Lalu, ketika otak mereka selesai menyelesaikan tugasnya, mereka serempak menoleh dan saling berpandangan. Seolah sedang mengobrol melalui tatapan mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua saja.


...****************...


"Aku hamil?" tanya Kalea ketika mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


"Iya, kamu hamil."


Seolah masih tidak percaya, Kalea menurunkan pandangan, memandangi perutnya sendiri. Masalahnya, perutnya masih terlihat rata, jadi rasanya sedikit aneh ketika dia diberitahu bahwa ada satu nyawa yang sedang tumbuh di dalam sana.


"Maksudnya, di dalam sini, ada yang hidup?" Kalea menanyakan itu sambil terus memandangi perutnya. Bukan cuma dipandangi saja, sekarang dia juga mengusap perutnya sendiri dengan gerakan yang teramat pelan.


"Iya, Boo. Our baby lives there, you carry our baby in your tummy." Gavin ikut-ikutan menatap perut Kalea.


Saat ini, perasaannya sungguh tidak bisa didefinisikan. Dia bahagia, bahagia sekali. Karena dia akan menjadi seorang ayah, terlebih lagi, dia akan menjadi ayah untuk anak dari perempuan yang begitu dia cintai. Entah bagaimana caranya Gavin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena bersedia memberinya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini, di saat rumah tangga mereka sedang terombang-ambing di tengah badai.

__ADS_1


Memang masih belum ada yang pasti, tetapi berkat adanya anak di dalam perut Kalea sekarang ini, setidaknya harapan Gavin untuk bisa mempertahankan pernikahannya dengan Kalea meningkat lebih banyak.


Sementara Kalea sendiri justru merasa kebingungan. Terlalu banyak perasaan yang berkecamuk di dadanya, sehingga dia tidak tahu mana yang harus dia validasi.


Dia tidak pernah membayangkan untuk menikah muda, tetapi sedari dulu, dia selalu ingin menjadi seorang ibu. Jadi, kabar ini tentu membuatnya senang, karena pada akhirnya dia bisa merasakan bagaimana seorang makhluk kecil mulai tumbuh sedikit demi sedikit di dalam perutnya.


Akhirnya, dia bisa merasakan apa yang selalu Mama ceritakan, tentang bagaimana bahagianya ketika menyadari bahwa kini dia harus melakukan segala sesuatu untuk dua orang yang hidup di dalam satu tubuh selama sembilan bulan ke depan.


Tapi di sisi lain, dia merasa sedih. Rasanya, kedatangan bayi ini tidak tepat waktu. Kenapa dia harus datang di saat hubungan pernikahannya dengan Gavin sedang di ujung tanduk, dan dia sudah hampir yakin pada keputusannya untuk meninggalkan Gavin?


Atau ... memang beginilah cara Tuhan bekerja? Mungkinkah ini adalah jawaban dari Tuhan, untuk setiap pertanyaan yang dia lontarkan di tengah malam selama beberapa hari ini? Mungkinkah Tuhan sengaja menghadirkan anak ini, agar dia mau berlapang dada memberi Gavin kesempatan ke-dua setelah apa yang terjadi?


"So, I'll become a mother?" gumamnya. Itu tidak ditujukan kepada Gavin, tetapi lelaki itu menyahut dengan suara lembut yang secara ajaib membuat Kalea dengan sukarela menolehkan kepala.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kalea menemukan dirinya kembali tersesat di dalam manik kelam Gavin yang kini menatapnya lekat. Di mana dari sana, Kalea melihat ada secercah harapan baru, yang seolah mengatakan kepada dirinya bahwa hidup masih baik-baik saja dan dia masih bisa memulai semuanya kembali.


Lalu tanpa sadar, Kalea meneteskan air mata. Entah air mata bahagia atau justru air mata kesedihan, karena sampai ketika tubuhnya diraih oleh Gavin dan dipeluk erat-erat, Kalea masih tidak bisa mem-validasi perasaan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan sekarang.


Kepalanya kembali ribut, hatinya carut-marut. Maka yang bisa Kalea lakukan cuma pasrah ketika pelukan Gavin semakin erat, dan aroma parfum lelaki itu menerobos indera penciumannya makin kuat sehingga mulai menampilkan satu persatu kenangan manis yang terjadi di antara mereka dalam kurun waktu beberapa bulan.


Kenangan-kenangan itu telah berhasil menginvasi kepala Kalea hanya dalam waktu singkat, membuatnya terbuai, dan seolah lupa bahwa hatinya pernah begitu hancur karena ulah laki-laki yang kini memeluknya erat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2