Serana

Serana
Bleeding


__ADS_3

"Oh my God!" Kalea memekik dengan suara tertahan saat menemukan noda darah mengotori seprai.


Gavin yang semula masih terlelap sontak terbangun karena pekikan Kalea. Dengan wajah panik, ia bangkit dan berniat memeriksa apa yang sedang terjadi. Namun teriakan Kalea yang selanjutnya berhasil membuatnya berhenti bergerak.


"Balik badan!" perintah Kalea.


Walaupun tidak mengerti mengapa Kalea menyuruhnya untuk memunggungi perempuan itu, namun Gavin tetap melakukannya. Dengan sabar ia menunggu sampai Kalea memberikan instruksi selanjutnya.


Namun setelah ditunggu beberapa lama, Kalea tidak kunjung bersuara. Gavin gatal, jadi ia membalikkan badan cepat dan seketika itu juga terdiam saat melihat Kalea tengah berusaha membersihkan noda darah yang menempel di seprai.


"Gavin! Kenapa nengok?! Kan aku udah bilang, balik badan!"


Kalea terlihat panik saat Gavin terus memandanginya.


Berbanding terbalik dengan Kalea yang heboh, reaksi Gavin santai saja. Bahkan lelaki itu sempat tersenyum sebelum bergerak turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari untuk kembali tak lama kemudian membawa sebungkus pembalut yang langsung disodorkan ke arah Kalea.


"Sana ke kamar mandi, seprainya biar saya yang bersihin." Ucapnya santai. Seolah tidak tahu kalau apa yang dia ucapkan itu berhasil membuat belah pipi Kalea memerah. Ia malu, tentu saja. Memangnya siapa yang tidak malu kalau tamu bulanan datang dan merembes kemana-mana seperti ini? Bahkan kalau ini Papa ataupun Karel, Kalea tetap akan merasa malu.


"Kal?"


"Kamu keluar. Biar aku bersihin dulu seprainya." Sahut Kalea. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


"Biar saya yang bersihin, Kalea. Kamu ke kamar mandi aja, bersih-bersih badan." Gavin berjalan lebih dekat, menarik lengan Kalea agar bangkit dari kasur. Namun perempuan itu masih kekeuh tidak mau bangun sehingga membuatnya mendesah pelan.


"Kamu mau saya gendong sampai ke kamar mandi?" tanya Gavin santai yang lagi-lagi berhasil membuat Kalea kehilangan kata-kata.


"Nggak mau, kan? Yaudah, sana buruan ke kamar mandi."


"Tapi--"


"Nurut aja, please?" untuk pertama kalinya, Kalea mendengarkan alpha tone milik Gavin.

__ADS_1


Tubuhnya yang semula menolak keras untuk bangkit dari kasur tiba-tiba bergerak cepat. Secepat kilat, Kalea menyambar pembalut dari tangan Gavin dan berlarian tunggang-langgang menuju kamar mandi.


Sementara Gavin hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh melihat tingkah Kalea. Kemudian setelah kekehannya berhenti, Gavin mulai melepas seprai warna putih yang membalut kasur besarnya. Ia biarkan seprai itu jatuh ke lantai untuk kemudian memeriksa apakah noda darahnya merembes sampai ke kasur. Beruntung kasurnya aman, jadi Gavin hanya perlu mengganti seprai saja.


Gavin pun berjalan ke arah lemari, menarik seprai berwarna biru tua dari tumpukan paling bawah kemudian membawanya ke kasur. Dengan telaten Gavin mulai memasangkan seprai ke kasur, merapikan sudut-sudutnya hingga tak ada yang terlihat semrawut sedikit pun.


Selesai dengan itu, Gavin memungut seprai kotor di atas lantai dan segera membawanya keluar dari kamar. Dengan seprai di dalam pelukan, Gavin berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang cuci di lantai satu.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Kalea tidak kunjung bergerak dari tempatnya. Ia duduk di atas closet dengan pandangan yang menerawang. Setengah nyawanya seolah melayang pergi, membuatnya tidak merasa utuh lagi.


Dari sekian banyak momen memalukan yang pernah ia alami selama hidup, rasanya kejadian kali ini adalah yang membuatnya paling merasa malu hingga nyaris berkeinginan untuk menenggelamkan diri ke lautan.


"Mamaaaaa... malu..." Kalea merengek dengan suara pelan. Kemudian, ia menutupi wajahnya yang sudah sepenuhnya merah padam menggunakan telapak tangan.


Mungkin, Kalea akan butuh waktu seharian sampai ia mendapatkan keberanian untuk menemui Gavin setelah apa yang terjadi.


****************


Gavin bersandar di dinding, memerhatikan bagaimana sprei yang telah bercampur dengan air dan detergen di dalam mesin cuci itu mulai berputar-putar. Setiap putaran serupa potongan-potongan kejadian yang saling menyusul masuk ke dalam kepalanya, membuat senyum perlahan-lahan terbit menghiasi wajahnya.


"Lucu banget, sih." Gumam Gavin saat mengingat kembali semburat merah yang perlahan-lahan muncul di belah pipi Kalea. Berani sumpah, di mata Gavin, perempuan itu terlihat beribu-ribu kali lebih menggemaskan dengan semburat merah itu.


Mungkin akan ada lebih banyak percakapan dengan diri sendiri yang akan Gavin lakukan, kalau saja getar di ponsel dalam saku celananya tidak menginterupsi. Gavin bergerak cepat mengeluarkan ponselnya, hanya untuk menemukan nama Taruna tertera di layar.


Tidak ada alasan bagi Gavin untuk mengacuhkan telepon dari Taruna, jadi tanpa berpikir lama, Gavin segera menggeser log hijau sehingga telepon pun tersambung.


"Halo." Sapanya.


"Irina free sampai jam 12 siang, jadi kalau mau lo bisa datang ke apartemen dia sekarang." Tanpa basa-basi, Taruna menjelaskan sesuatu yang sebelumnya ia minta.


Semalam, saat Kalea tiba-tiba berjalan ke arahnya secara mengendap-endap, Gavin sebetulnya sedang menelepon Taruna untuk menanyakan jadwal Irina hari ini sekaligus memantau perkembangan rumor kencan yang menerpa kekasihnya itu. Semalam Taruna belum sempat menjawab soal jadwal Irina dan baru sedikit memberi informasi tentang rumor kencannya karena Gavin terpaksa memutuskan sambungan telepon agar Kalea tidak mendengar lebih jauh percakapan mereka.

__ADS_1


"Vin?"


"Oke, sebentar lagi gue jalan. Thanks." Ucap Gavin.


"No prob."


Kemudian telepon ditutup, bertepatan dengan putaran mesin cuci yang berhenti. Gavin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan langsung bergerak cepat menyelesaikan pekerjaannya mencuci seprai. Karena dia harus pergi menemui Irina untuk menanyakan soal kiriman paket pagi kemarin. Ia harus memastikan bahwa bukan Irina yang mengirimkan paket itu.


Setelah beberapa lama berkutat dengan air dan deterjen, kegiatan mencuci itu akhrinya selesai. Gavin berjalan ke arah pintu belakang dengan membawa seprai yang sudah bersih dan setengah kering. Dengan cekatan ia bentangkan seprai itu di atas jemuran lalu segera masuk kembali ke dalam rumah.


Gavin melangkah cepat menuju tangga, menapaki anak tangga dengan gerakan terburu hingga nyaris terpeleset saat berusaha melompati satu anak tangga agar bisa memijak langsung ke anak tangga selanjutnya. Beruntung tangannya sigap berpegangan sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sesampainya di depan pintu kamar, Gavin langsung membuka pintu dan menerobos masuk. Hanya untuk dibuat kebingungan karena Kalea tidak ada di sana. Dari arah kamar mandi, terdengar suara gemericik air sehingga Gavin mengasumsikan bahwa Kalea masih ada di dalam sana. Mungkin belum selesai dengan urusannya.


Pelan-pelan Gavin berjalan ke arah kamar mandi. Tangannya terangkat, mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali hanya untuk mendapati pintu itu terbuka sedikit dan Kalea tampak mengintip dari celah yang sempit itu.


"Kamu masih belum selesai?" tanya Gavin.


"Belum. Kenapa? Kamu mau pakai kamar mandi?" suara Kalea terdengar begitu kecil sehingga Gavin harus sedikit mendekatkan telinganya ke arah pintu agar bisa mendengar apa yang Kalea katakan dengan lebih jelas.


"Nggak." Gavin menggelengkan kepala. "Saya cuma mau ijin."


"Ijin?"


"Iya. Saya mau ijin keluar sebentar, ada yang harus saya urus. Boleh?"


"Boleh."


"Oke. Saya usahakan nggak lama. Makasih ya, Kalea. Telepon saya kalau kamu butuh apa-apa. See you." Setelah mengatakan itu, Gavin setengah berlari keluar kamar. Lelaki itu bahkan tidak mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang lebih layak jika memang hendak pergi menemui orang lain.


Setelah Gavin tak lagi nampak dalam pandangannya, Kalea membuka pintu lebar-lebar dan mulai melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Ia bohong soal belum selesai membersihkan diri. Faktanya, ia sudah selesai sejak bermenit-menit yang lalu. Kalea hanya terlalu malu untuk menghadapi Gavin, jadi ia memutuskan untuk mengurung diri sedikit lebih lama di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Huh...untung Gavin pergi, jadi aku nggak perlu ngumpet di kamar mandi lagi." Katanya diiringi hela napas lega.


"Tapi, Gavin mau pergi ke mana, ya kira-kira?" tanyanya entah kepada siapa. Tapi pertanyaan itu tidak terlalu mengganggunya, karena yang terpenting baginya sekarang adalah bisa menghindari Gavin untuk sementara waktu sampai ia berhasil mengenyahkan perasaan malu dalam benaknya.


__ADS_2