
"Gavin?" panggil Kalea pelan. Lampu tidur sudah menyala sejak satu setengah jam yang lalu, tapi ia masih tidak bisa memejamkan mata. Padahal malam sudah larut dan sejujurnya ia sudah sangat mengantuk.
Beberapa kali Kalea bergerak gelisah dari dalam pelukan Gavin, berusaha meloloskan diri dari dekapan erat lelaki itu namun selalu gagal karena Gavin seolah tidak mengijinkannya untuk lepas barang sedetik pun. Tadi, setelah mengoceh panjang lebar tentang NCT dan segala macam tentang 23 laki-laki itu, Gavin mengajaknya tidur. Tetapi masalahnya adalah Gavin mengungkungnya di dalam pelukan sehingga bukannya tidur, Kalea malah merasa was-was.
"Tidur, Kal." Gavin mengatakan itu sembari memejamkan mata. Lengan kekarnya mendekap Kalea posesif seolah tidak mengijinkan siapapun merenggut perempuan itu dari sisinya.
"Nggak bisa tidur, kamu meluknya kekencengan." Protes Kalea, namun dengan suara yang begitu pelan. Sejujurnya, ia tidak berani melayangkan protes dengan suara lantang sebab Gavin akan selalu punya jawaban untuk membuatnya bungkam.
Tanpa disangka, setelah ia mengatakan itu, Kalea merasakan pelukan Gavin sedikit mengendur. Tapi hal itu tidak banyak berpengaruh bagi detak jantungnya yang masih menggila sebab Gavin masih tidak mau melepaskan dirinya.
"Lepasin aja bisa nggak?" tawarnya lagi.
Dan seharusnya Kalea tidak mengatakan itu, sebab sebelum bibirnya kembali terkatup, Gavin kembali mengeratkan pelukannya.
"Gavin! Nanti aku nggak bisa napas!" keluh Kalea. Namun lagi-lagi Gavin tampak tidak peduli. Lelaki itu tetap memejamkan mata, bernapas dengan teratur seolah tidak sedang terjadi apa-apa.
"Gav- wow!" Kalea memekik saat tubuhnya tahu-tahu dibalikkan. Matanya mengerjap beberapa kali ketika menyadari Gavin sudah berada di atasnya, menggunakan lengan kekarnya sebagai tumpuan agar tubuh besar itu tidak menindihnya.
"M-mau ngapain?" cicit Kalea. Kelabakan mengalihkan pandangan ke arah lain karena tidak tahan beradu tatap dengan Gavin di atasnya.
Perlahan tapi pasti, Gavin mendekatkan wajahnya. Dengan sengaja mengembuskan napasnya keras-keras agar mengenai kulit wajah Kalea hingga dalam sekejap belah pipi itu berubah menjadi merah dan Gavin tersenyum puas dibuatnya.
"Kamu berisik, Kal." Bisik Gavin tepat di telinga Kalea, membuat yang perempuan bergidik ngeri saat suara berat itu terasa begitu menggelitik indera pendengarannya.
Kalea masih melarikan pandangan ke arah lain. Kedua tangannya menyilang di depan dada, entah untuk apa. Barangkali berusaha melindungi aset berharganya? Tidak ada yang tahu.
__ADS_1
"Udah malam, harusnya kamu tidur, bukan malah ngoceh terus."
Sumpah demi Tuhan! Kenapa Gavin harus terus-menerus bicara dengan suara berat itu, plus mengatakannya tepat di telinganya? Itu membuat Kalea semakin merasa tak berdaya.
"Tadi kamu mau ngomong apa, hmm? Sini dong, lihat saya kalau mau ngomong." Gavin bergerak usil meraih dagu Kalea, membuat tatapan mereka kembali bertemu.
Kalea merasakan tubuhnya membeku saat manik kelam itu mengunci tatapan mereka. Tangan Gavin yang semula menarik dagunya mulai bergerak pelan, merayap ke pipi merah merona itu dan mengusapnya beberapa kali. Kemudian, pergerakan itu terus berlanjut hingga akhirnya jemari panjang Gavin sampai di belah bibirnya yang sedikit terbuka. Karena sejujurnya, Kalea sedikit kesulitan bernapas sehingga tanpa sadar sedikit membuka mulutnya. Jemari panjang Gavin kemudian bergerak membelai lembut belah bibir penuh itu.
"Kok diam?" tantang Gavin. Masih enggan menghentikan gerakan tangannya di bibir Kalea. Matanya tampak fokus pada bibir merah alami itu, berbinar penuh damba bagai musafir yang telah lama menanti sumber mata air untuk melegakan dahaganya.
Sementara Kalea cuma bisa merutuk dalam hati. Ada banyak sekali kata-kata umpatan di dalam kepalanya, tapi tidak ada satupun dari gerutuannya itu yang berhasil keluar dari belah bibirnya yang masih dikuasai oleh tangan jahil Gavin. Entah mengapa, Kalea merasa Gavin memiliki sisi menakutkan yang bisa tiba-tiba muncul kapan saja. Seolah laki-laki itu adalah seekor singa buas yang kelaparan dan ia adalah rusa malang yang siap dijadikan santapan.
"Jadi saya harus bertindak seperti ini, biar kamu diam?"
Lalu, Kalea refleks memejamkan mata saat Gavin semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak yang ada di antara mereka sampai akhirnya Kalea merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Hanya sebuah sentuhan singkat, namun efeknya betul-betul bisa membuat Kalea bagai ada di awang-awang. Bahkan, ketika bibir Gavin sudah meninggalkan bibirnya, Kalea masih tidak bisa menarik kembali nyawanya yang setengah melayang pergi.
"Saya suka dengar kamu ngoceh, tapi ini sudah malam, jadi kita harus tidur." Setelah mengatakan itu, Gavin menarik diri dari posisinya. Dengan santai ia melenggang masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Kalea yang sepenuhnya kehilangan kata-kata.
Beberapa saat kemudian, barulah Kalea berani membuka matanya. Dengan tatapan yang mengawang di udara, Kalea menyentuh bibirnya sendiri. Berusaha mencari jejak keberadaan bibir Gavin yang sempat singgah di sana walau hanya selama beberapa detik.
Kemudian, "Mama...Gavin cium bibir Kalea." Kalea bicara dengan suara lirih. Matanya berair, ia ingin menangis.
...****************...
Paginya, Kalea sengaja bangun lebih dulu. Semalam ia kesulitan tidur dan terus merasa was-was sepanjang malam, takut kalau Gavin tiba-tiba akan menerjangnya tanpa aba-aba. Tapi beruntung karena setelah kembali dari kamar mandi, lelaki itu langsung memejamkam mata dan tidak mengusiknya lagi. Gavin bahkan tidak berusaha memeluknya lagi sambil tertidur.
__ADS_1
Dengan gerakan yang teramat pelan, Kalea turun dari kasur. Sebisa mungkin tidak menimbulkan keributan agar tidak membangunkan singa peliharaannya yang sedang tertidur pulas. Tetapi, tidak peduli seberapa pelan ia bergerak, Gavin tetap terusik juga.
Tepat ketika telapak kakinya menyentuh lantai, Kalea merasakan pinggangnya dipeluk erat oleh Gavin dari belakang. Membuatnya sedikit tersentak karena tidak menyangka Gavin bisa merasakan gerakannya yang teramat pelan.
"Mau kemana?" tanya Gavin dengan suara teredam. Kalea bisa merasakan lelaki itu mengecup pinggangnya dua kali. Yang pertama hanya sekilas dan yang ke-dua dibiarkan berlanjut sedikit lebih lama.
"Mau...ke kamar mandi." Kalea menjawab pelan. Takut-takut saat hendak menyingkirkan lengan Gavin dari pinggangnya. Takutnya kalau salah langkah, laki-laki itu malah akan berubah ganas dan menyerang balik dirinya.
"Ikut."
"Hah?!" Kalea menolehkan kepala, melotot pada Gavin yang masih memejamkan matanya.
Ekspresi terkejut Kalea berbanding terbalik dengan Gavin yang malah terkikik geli. Perlahan, Gavin melepaskan pelukannya di pinggang Kalea dan mulai membuka mata.
"Bercanda." Ucapnya dengan suara serak, lengkap dengan seulas senyum tipis yang manis.
"Bercanda kamu nggak lucu!" Kalea memberengut.
"Oh, kalau gitu, serius aja gimana?"
"Nggak!" seru Kalea. Kemudian ia bangkit dari kasur, melotot pada Gavin yang masih rebahan santai di kasur sembari menatapnya dengan tatapan geli. "Nyebelin!" setelah mengomel, Kalea buru-buru berlari menuju kamar mandi.
Gavin cuma bisa tergelak saat pintu kamar mandi sedikit dibanting oleh Kalea. Lalu saat rungunya mulai mendengar suara kucuran air, Gavin bangkit dari kasur. Ia bergerak mendekati nakas, membuka laci paling bawah dan meraih ponsel dari sana. Sementara menunggu ponsel itu kembali menyala, Gavin sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi, memastikan bahwa Kalea tidak akan keluar dari kamar mandi dalam waktu dekat.
Bersambung
__ADS_1