Serana

Serana
We All Cry Differently


__ADS_3

Angin dingin yang menabrak permukaan kulit tak menyurutkan niat Taruna untuk tetap berjalan menyusuri area komplek pemakaman dengan sebuket bunga Lily di tangan.


Di belakangnya, Irina berjalan hati-hati, melangkah pelan-pelan agar tidak menginjak makam-makam yang ia lewati. Ada Sierra di dalam gendongannya. Gadis kecil itu jatuh terlelap selama perjalanan pulang dari rumah Omanya. Sebelum ke sini, mereka memang lebih dulu menjemput Sierra yang biasa Taruna titipkan di rumah ibunya selama dia bekerja.


Setelah berjalan di tengah kegelapan malam, Taruna akhirnya menghentikan langkah di depan sebuah makam yang terletak di blok paling ujung. Hanya ada empat atau lima makam lain di sekitarnya karena memang masih tersisa banyak lahan di blok ini. Di samping makam itu, Taruna telah memesan tempat untuk dirinya sendiri. Agar kelak ketika ia mati, setidaknya dia bisa bersemayam di sebelah orang yang dia sayangi.


Untuk beberapa lama, Taruna terdiam. Berdiri mematung memandangi nisan bertuliskan Dyandra Wijaya beserta dengan tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Setelah puas, Taruna berjongkok. Diletakkannya buket bunga Lily yang ia bawa di atas makam. Diusapnya pelan nisan itu sembari membayangkan jika ia tengah mengusap wajah ayu Dyandra. Membayangkan senyumnya tersungging sempurna seperti hari-hari lalu ketika hidup mereka masih baik-baik saja.


"Kita ketemu lagi." Sapanya pada sosok yang telah lama bersemayam di bawah tanah itu. Ia tahu, seberapa banyak pun sapaan yang dilontarkan, tidak akan pernah ada jawaban. Tetapi, Taruna tetap akan melakukannya. Dia tetap akan menyapa dan berbagi beberapa kata sampai tahu-tahu air matanya menetes tanpa sadar.


"How have you been? Apa surga menyenangkan?"


"Di sini nggak terlalu menyenangkan." Adunya. Tersenyum miris pada kenyataan bahwa hidupnya tidak pernah baik-baik saja sejak kematian perempuan itu.


"Tapi terimakasih, karena setidaknya kamu meninggalkan Sierra di sini bersama aku. Kalau bukan karena Sierra, aku mungkin udah lama mati."


"Sierra udah tumbuh besar sekarang. Jadi anak gadis cantik yang ceria dan nggak banyak tingkah. Dia suka makan cokelat, tapi aku selalu batasi karena itu bisa bikin gigi dia berlubang." Kenangnya dengan senyum yang sedikit terkembang. "Tapi, tahu, nggak? Mama suka diam-diam kasih cokelat ke Sierra pas aku nggak ada. Tapi nggak apa-apa, aku bakal pura-pura nggak tahu biar Sierra senang."


"Kemarin, dia minta aku untuk beliin sepeda. Tapi aku nggak kasih dulu karena aku masih belum punya cukup waktu untuk nemenin dia belajar naik sepeda. Aku mau ada di samping dia untuk setiap hal yang pertama kali dia bisa, Kak."


Taruna menarik dan membuang napas secara perlahan. Sesak di dadanya perlahan-lahan naik hingga ke tenggorokan, membuatnya merasa tercekik dan nyaris mati mengenaskan.


Ada begitu banyak yang ingin Taruna katakan, tapi semua itu dia tahan karena ada Irina yang datang ke sini bersamanya. Perempuan itu tidak boleh mendengar kalimat-kalimat buruk yang telah ia simpan rapat di dalam kepala, menunggu waktu yang tepat untuk diledakkan.

__ADS_1


Sementara di belakangnya, Irina cuma diam. Menyaksikan bagaimana laki-laki yang selama ini tampak tegar itu kini berubah menjadi serapuh-rapuhnya manusia. Taruna memang tidak menangis, tapi Irina tahu jauh di dalam sana, laki-laki itu terluka begitu banyak. Taruna yang tangguh juga bisa terluka. Sama seperti dirinya dan Gavin. Sama seperti manusia-manusia lain di luaran sana.


Irina ingin membantu. Sebagai seorang teman yang telah banyak merepotkan Taruna, Irina ingin sekali membantu laki-laki itu merawat lukanya. Tapi, bagaimana bisa Irina membantu jika sumber lukanya saja ia tidak tahu? Taruna tidak banyak menceritakan tentang dirinya sendiri. Boleh dibilang laki-laki itu malah tidak pernah berusaha menunjukkan kepada siapapun tentang bagaimana kehidupan yang selama ini dia jalani.


Tidak banyak yang Irina tahu tentang Taruna. Soal sosok perempuan bernama Dyandra yang bersemayam di makam ini, Irina hanya tahu sebatas fakta bahwa perempuan itu adalah kakak kandung Taruna sekaligus ibu dari Sierra. Taruna hanya pernah bercerita bahwa Dyandra meninggal seminggu setelah melahirkan Sierra. Tapi laki-laki itu tidak pernah mengatakan apa penyebabnya. Dan Irina cukup tahu diri untuk tidak bertanya sampai ke sana.


Angin semakin kencang menabrak tubuh mereka. Irina mengeratkan pelukan kepada Sierra, merapatkan jaket tebal miliknya yang ia relakan untuk membalut tubuh kecil tak berdosa itu. Ditepuk-tepuknya pelan punggung Sierra saat bocah itu menggeliat pelan di dalam gendongannya.


"Na," panggilnya pelan saat tak mendengar suara apapun dari laki-laki yang berjongkok di depannya itu.


Taruna geming. Tidak menyahuti pun tidak menolehkan kepala. Membuat Irina yakin bahwa laki-laki itu tidak sedang baik-baik saja.


"Na, udah malam." Katanya lagi. Berharap Taruna mengerti bahwa sebaris kalimat itu adalah sinyal yang dia berikan untuk memberitahu bahwa sudah waktunya mereka pulang.


Bertepatan dengan bibir Taruna yang terkatup, satu bunga Kamboja jatuh ke atas makam, tepat di depan matanya. Taruna tersenyum sumir, memungut bunga Kamboja berwarna putih kekuningan itu dan menatapnya untuk waktu yang cukup lama.


Dulu, dia pernah bercanda dengan Dyandra, bahwa suatu hari jika salah satu dari mereka mati, mereka tidak ingin ada bunga Kamboja yang ditanam di sekitar makam karena Dyandra tidak suka aromanya.


Tapi lihatlah sekarang, pohon Kamboja itu tumbuh subur di dekat makam Dyandra dan selalu menggugurkan bunganya hingga jatuh tepat di atas tempat peristirahatan terakhir perempuan itu.


Taruna terkekeh. Kalau Dyandra bisa bicara dari dalam kubur sana, perempuan itu pasti akan mengomel panjang lebar. Memaki pengelola makam yang sudah membiarkan pohon Kamboja tumbuh di dekat rumah nya.


Andai itu betulan terjadi, Taruna akan dengan senang hati mendengarkan setiap ocehan Dyandra. Dia tidak akan menyelanya seperti dulu.

__ADS_1


Sayangnya, semua itu hanya ada di dalam imajinasi Taruna saja. Dyandra yang sudah lama mati tidak akan bisa berbicara seperti itu lagi.


Puas bernostalgia tentang bunga Kamboja, ia letakkan bunga itu di atas makam Dyandra. Sengaja, ia ingin membuat Dyandra kesal di alam sana. Siapa tahu saja kalau Dyandra kesal, perempuan itu akan mengajaknya untuk bergabung dengannya, kan?


Lalu setelah mengucapkan salam perpisahan, Taruna bangkit. Dipandanginya sekali lagi makan Dyandra sebelum ia membalikkan badan.


"Rin," panggil Taruna pelan. Ia menoleh, mendapati Irina masih berdiri menjulang di belakangnya. Kemudian, saat mata Taruna menangkap wajah polos Sierra yang tertidur lelap di dalam gendongan, perih di dadanya semakin menjadi-jadi.


Sabar ya, Sierra. Sebentar lagi, semuanya selesai. Kita nggak harus hidup di dalam penderitaan ini lagi. Sebentar lagi, sayang. Ayah janji.


"Ayo kita pulang."


Pada dasarnya, kita semua terluka dan menangis dengan cara yang berbeda.


Malam itu, bersama bunga-bunga Kamboja lain yang berguguran di atas makam Dyandra, Taruna telah bertekad untuk menyelesaikan semua secepatnya.


Agar tangisnya tak perlu lagi ditahan. Agar ia lebih leluasa mencurahkan kasih sayangnya kepada Sierra, sebelum ajal menjemput dan membawanya pergi bertemu Dyandra.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2