Serana

Serana
Nothing Happened That Night


__ADS_3

Bising kendaraan dan bunyi klakson yang bersahutan-sahutan di bawah sana sama sekali tidak membuat Taruna terusik. Kepulan asap terus keluar dari belah bibirnya ketika rokok yang ada di sela jemarinya akhirnya menyala setelah dibiarkan diam selama bermenit-menit. Di sini, di atap gedung tempat Irina tadi melakukan pemotretan, Taruna memilih menghabiskan waktu untuk memikirkan banyak hal. Sejenak menarik diri dari orang-orang yang berpotensi menambah keramaian di kepalanya.


Ketika rokok yang ia hisap mulai habis terbakar, Taruna berbalik. Ia menyandarkan punggung di tembok pembatas selagi pandangannya melayang jauh ke depan, pada sosok Irina yang terduduk di depan pintu sambil menyesap rokok miliknya sendiri. Perempuan itu terlihat khidmat menikmati asap yang keluar-masuk saluran pernapasannya sementara matanya asik menjelajah layar ponsel yang entah sedang menampilkan apa. Mungkin berita kencannya dengan Gabriel Pernama? Ah, menyebut nama itu membuat Taruna kembali merasa kesal. Entah bagaimana mulanya, bocah itu tiba-tiba saja hadir ke dalam hidup Irina dan menimbulkan masalah. Tentu saja Taruna menjadi kesal karena dirinya lah yang harus membereskan masalah tersebut. Tapi lebih dari itu, Taruna merasa kesal pada Gabriel karena sudah mengusik seseorang yang berharga untuknya.


Taruna tidak terlalu ingat sejak kapan perasaannya ini dimulai. Tapi yang jelas, ketika sadar, ia sudah terlalu jauh jatuh untuk Irina. Dalam beberapa kesempatan, perempuan itu telah berhasil memadamkan api amarah yang nyaris membakar habis dirinya. Dengan tangan lembutnya, Irina seolah mampu merawat luka yang menganga di dalam hati Taruna, memastikan luka itu mengering dan perlahan-lahan sembuh. Suara jernih Irina yang serupa mata air di pegunungan selalu mampu menenangkan segala keresahan yang mendera dirinya. Bahkan di satu titik ketika Taruna merasa ia akan kehilangan dirinya sendiri, sosok Irina berhasil membawanya kembali.


Ini salah. Taruna tahu, tidak perlu mengingatkannya sebanyak itu. Taruna tahu bahwa perasaan yang ia miliki untuk Irina tidak seharusnya berlanjut. Bahkan jika perempuan itu bukanlah kekasih dari temannya sekali pun, Taruna tetap tidak boleh meneruskan perasaannya. Karena Irina terlalu sempurna untuk seseorang yang tidak utuh seperti dirinya. Pikiran-pikiran semacam itu lah yang akhirnya berhasil menahan dirinya untuk berhenti malam itu. Beruntung, pikir Taruna. Karena kalau malam itu dia betulan menyentuh Irina, maka hari ini ia pasti sedang menangis meraung-raung meratapi kebodohannya.


"Lo masih punya rokok, nggak? Gue mau." Taruna setengah berteriak. Ia masih enggan beranjak dari tempatnya. Karena menurutnya, posisinya saat ini sudah paling tepat. Ia tidak boleh berjalan lebih dekat ke arah Irina, tidak boleh juga menjauh.


Irina yang merasa dirinya sedang diajak bicara pun mengangkat kepala. Sejenak melupakan layar ponsel dan juga rokok yang terapit di sela jemari lentiknya. Netranya menatap Taruna lekat selama beberapa detik. Kemudian, alih-alih menjawab pertanyaan Taruna ataupun menyodorkan rokok yang diminta oleh lelaki itu, Irina malah menyodorkan rokok miliknya.


"Punya aku masih setengah. Kamu mau?"


Satu sudut bibir Taruna terangkat, jenis senyum yang terlalu asing untuk bisa Irina definisikan. Lagipula, ia tidak sedang dalam mode rajin untuk menerjemahkan kode-kode semacam itu. Jadi, ketika Taruna tak kunjung menjawab pertanyaannya atau berjalan mendekat, Irina menarik tangannya, membawa rokok itu kembali ke depan mulut sebelum mengisapnya perlahan.

__ADS_1


"Kalau Gavin tahu lo ngerokok, dia pasti bakal marahin gue habis-habisan." Keluh Taruna. Tapi keluhan itu tidak terdengar serius karena setelahnya, lelaki itu tersenyum. Kali ini sebuah senyum yang lebih sederhana sehingga Irina tidak perlu berpikir keras untuk mengartikannya.


"Dia nggak akan punya waktu untuk tahu kalau aku mulai merokok." Irina mengatakan itu setelah mengembuskan asap rokok yang tertahan di rongga dadanya selama beberapa detik. Kegetiran jelas terlihat nyata melalui manik kelamnya yang kalau diperhatikan lebih teliti, mulai kehilangan binarnya. "Kita tahu semua hal sudah berubah sekarang. Gavin bukan sepenuhnya punya aku sekarang. So, yeah..."


"Why don't you just let him go? Sejujurnya gue capek ngeliat betapa plin-plan nya seorang Gavin ketika dihadapkan pada pilihan antara lo atau pernikahannya dengan Kalea. I mean..." Taruna menegakkan punggung. Setelah menaruh puntung rokok miliknya di atas tembok pembatas, Taruna berjalan mendekat ke arah Irina dengan satu tangan yang masuk ke dalam saku celana. "Kita bertiga tahu nggak akan semudah itu untuk menjaga rahasia ini."


Irina menganggukkan kepala. Sepenuhnya sadar kalau Kalea bukanlah perempuan bodoh yang tidak akan mencium gelagat mencurigakan Gavin. Sejak pertemuan pertama mereka di lobby hotel saja, Irina sudah bisa tahu kalau Kalea punya kepekaan dan rasa ingin tahu yang tinggi. Cepat atau lambat, Gavin dan segala rencana di balik pernikahan ini pasti akan terkuak. Dan ketika itu terjadi, Irina tahu dirinya lah yang akan jadi pihak paling dirugikan. Kenapa? Karena orang-orang akan berpikir bahwa dirinya adalah perempuan murahan yang mau jadi selingkuhan pria beristri. Tidak akan ada yang mau tahu meskipun ia menjelaskan seperti apa hubungannya dengan Gavin jauh sebelum pernikahan ini digelar.


Tapi sekali lagi, melepaskan Gavin tidak pernah semudah itu.


"Na," panggilnya pelan setelah berada tepat di depan Taruna. "Jangan suruh aku untuk tinggalin Gavin lagi, ya?"


Apa yang harus Taruna katakan ketika perempuan yang ia sayangi memintanya untuk berhenti berusaha menyelamatkan mereka semua dari kehancuran? Tidak ada. Jadi yang bisa Taruna lakukan cuma diam, menunggu sampai kalimat lain keluar dari belah bibir yang sempat ia sesap rasa manisnya malam itu.


"Sampai Gavin sendiri yang minta aku untuk pergi, aku nggak akan kemana-mana."

__ADS_1


Bajingan. Andai Taruna bisa meneriakkan satu kata itu dengan lantang, ia pasti akan melakukannya tepat di depan wajah Gavin untuk membuat lelaki itu sadar bahwa dia baru saja menyia-nyiakan seseorang yang begitu berharga seperti Irina. Persetan dengan alasan mempertahankan posisi di keluarga Cakraditya, kalau Gavin memang mencintai Irina, bukankah setidaknya ia akan berusaha mencari cara lain untuk mempertahankan hubungan mereka?


"Kalau gue tahu kalimat ini akan keluar dari mulut lo, mungkin malam itu gue nggak akan menahan diri, Rin." Taruna mengembuskan napas berat setelahnya. Mungkin seharusnya malam itu dia memang tidak menahan diri. Bukankah lebih baik jika dia bisa membuat Irina hamil anaknya supaya perempuan itu bisa melepaskan diri dari Gavin?


"Na, please. Jangan bahas soal malam itu lagi. Kamu tahu waktu itu aku mabuk berat, jadi-"


"Segitu jijiknya lo sama sentuhan gue?" sela Taruna cepat, membuat Irina seketika terdiam.


Taruna tersenyum sinis saat Irina tak kunjung mengatakan apa-apa setelah hampir satu menit setelahnya. Perempuan itu mulai terlihat gusar. Tak lagi mampu menetapkan tatapannya dan memilih untuk membuang pandangan ke sembarang arah.


"Gue minta lo lepasin Gavin bukan supaya gue jadi punya kesempatan buat dapetin hati lo." Kata Taruna. Untuk pertama kalinya, ia akan jujur pada perempuan ini. Agar Irina mengerti bahwa apa yang ia lakukan bukan semata-mata untuk mencari kesempatan menguntungkan diri sendiri melainkan untuk menyelamatkan perempuan ini dari kehancuran. Sebab cepat atau lambat, ia dan Gavin akan hancur, dan Irina tidak boleh terseret di dalamnya. Tapi apa daya kalau perempuan ini terlalu keras kepala? Sebagai seseorang yang tidak memiliki tempat spesial apapun di hati Irina, Taruna tahu tidak banyak yang bisa dia lakukan.


"Aku tahu." Suara Irina terdengar kecil. "It's just...never been easy for me to do that."


"Susah bukan berarti nggak bisa." Sergah Taruna. "Kamu cuma nggak mau berusaha lebih." Itu kalimat terakhir yang Taruna ucapkan sebelum beranjak dari sana.

__ADS_1


Bertepatan dengan semburat oranye yang mulai muncul menghiasi langit di atas sana, Irina merasakan perih yang lebih parah ketimbang sebelumnya. Hanya sedetik setelah punggung lebar Taruna menghilang di balik pintu, air mata Irina menetes. Ia menangis dalam diam dan mulai menyesali banyak hal.


__ADS_2