Serana

Serana
Just The Way You Are


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Kalea berdiri di depan pintu lift yang tak kunjung terbuka. Beberapa kali ia mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai demi mengusir kebosanan yang merundung. Siang ini, ia ditugaskan oleh Mama untuk mengantarkan bekal makan siang dan beberapa vitamin milik Papa yang tertinggal karena pria itu terburu-buru berangkat ke kantor pagi tadi.


Di sepanjang jalan menuju lift tadi, beberapa orang melemparkan tatapan heran kepadanya. Mungkin sibuk bertanya-tanya, siapa gadis dalam setelan kaus oblong dan celana training yang berani masuk ke kantor besar ini? Mengapa security di depan tidak menyeretnya keluar karena penampilannya yang lebih mirip gembel ketimbang seorang tamu? Dan berbagai pertanyaan lain yang serupa.


Setelah menunggu, lift di hadapan akhirnya terbuka, menampakkan seorang gadis bertubuh tinggi semampai yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Dengan terburu-buru, Kalea melangkah masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol ke lantai di mana ruangan Papa berada.


Selama benda besi itu membawanya naik, beberapa kali Kalea melirik ke arah gadis cantik di sampingnya. Ia seolah tersihir akan kecantikan gadis itu, hingga tanpa sadar mulai meneliti penampilan gadis itu dengan sangat detail. Mulai dari rambut hitam sepunggungnya yang kontras dengan kulitnya yang putih pucat, bibir tebal yang dipoles dengan lipstik merah terang, hingga hidung mancung yang terlihat pas menyempurnakan fitur wajahnya yang nyaris sempurna.


"Am I that pretty?"


Kalea tersentak saat suara jernih gadis itu menginterupsi. Ia menggaruk kepala yang tak gatal dalam usahanya meredam kecanggungan karena ia baru saja ketahuan memandangi seseorang yang baru ditemui sampai sebegitunya.


"Sorry." Ucapnya pelan sembari menyunggingkan senyum canggung.


Tanpa diduga, gadis di sampingnya itu terkekeh. Tatapannya yang semula terpaku pada ponsel di tangan seketika beralih ke arah Kalea. Dan ketika manik kelabu itu bertemu dengan mata bobanya, Kalea benar-benar kehilangan kemampuan berbicara.


Gadis ini cantik. Teramat cantik. Semua fitur di wajahnya terlihat pas untuk saling melengkapi satu sama lain. Nyaris tidak ada cacat yang Kalea temukan di wajah gadis ini, membuatnya seketika merasa kecil. Ia pandangi penampilan dirinya sendiri, mulai membandingkan penampilan gembelnya dengan penampilan gadis di sampingnya yang terlihat anggun dan berkelas.


"Kamu kenal saya, nggak?" tanya gadis itu tiba-tiba. Dan Kalea dengan polosnya menggelengkan kepala.


Gadis itu kembali tergelak. Ponsel di tangan sudah sepenuhnya terlupakan. Kalea melihat gadis itu melipat kedua tangan di depan dada, menatapnya dengan manik kelabu yang dalam sekejap telah berhasil membuatnya merasa candu.


"Kamu nggak pernah nonton tv, ya?" tanya gadis itu lagi.


Kalea kembali menggeleng. Karena kenyataannya dia memang tidak pernah menonton televisi. Entah sudah berapa lama, ia sudah tidak ingat lagi.


"Pantes." Kata gadis itu diiringi anggukan kepala.


"Kalau kamu sering nonton tv, kamu pasti kenal siapa saya."


Apa yang gadis itu katakan mungkin terkesan seperti ingin menyombongkan diri, tapi entah kenapa, Kalea sama sekali tidak merasakan adanya keangkuhan di dalam nada suara gadis itu. Malahan, Kalea merasa gadis itu begitu ramah kepadanya.


"Irina." Si gadis menyodorkan tangan kepadanya.


Kalea terdiam sejenak, memandangi uluran tangan itu cukup lama sebelum menyambutnya. "Kalea." Katanya ikut memperkenalkan diri.


"You're so cute." Puji si gadis bernama Irina itu hingga membuatnya tersipu malu.


Kalea ingin melontarkan banyak pujian untuk membalas pujian yang Irina katakan kepadanya barusan. Namun keinginan itu tak pernah sampai karena sebelum mulutnya sempat berucap apa-apa, pintu lift lebih dulu terbuka.


Kalea melihat Irina berjalan keluar dari dalam lift. Lalu sebelum pintu besi itu kembali tertutup, gadis cantik itu sempat berkata padanya. "Irina Ayu. In case you wanna know more about me, you can use your browser to find everything about me. Semua informasi tentang saya ada di sana." Kemudian pintu lift tertutup dan benda besi itu kembali bergerak.


Irina Ayu. Irina Ayu. Remember that, Kalea. Namanya Irina Ayu. Kalea mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya. Sampai beberapa saat kemudian, pintu lift kembali terbuka dan Kalea segera bergegas keluar dari sana.


Kakinya terayun ringan menyusuri koridor menuju ruangan Papa. Di sepanjang jalan, ia kembali mengulangi kalimat yang ia ucapkan di dalam hati sejak tadi. Tentang nama gadis cantik yang dia temui di lift tadi.


Sampai di depan ruang kerja Papa, Kalea berhenti sejenak, hanya untuk membenahi beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan. Kemudian ia melayangkan ketukan ke pintu berwarna cokelat tua itu.


Tak menunggu lama, pintu di hadapan terbuka, menampilkan sosok Papa yang berdiri menyambutnya dengan senyum yang mengembang. Pria paruh baya itu langsung menarik lengannya, mengajaknya masuk ke dalam ruang kerja lalu menutup pintu kembali.


Awalnya Kalea merasa heran karena Papa tampak begitu girang hanya karena menemukan sosoknya berdiri di depan pintu. Dan keheranannya seketika terjawab ketika matanya menangkap sosok Gavin yang tengah duduk di sofa panjang dekat meja kerja Papa. Lelaki itu sedang menyantap makan siangnya, tampak terkejut saat mendapati Kalea tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan penampilan yang...ah, Kalea bahkan tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan penampilannya sendiri.

__ADS_1


Sialan. Kalau tahu Gavin akan ada di sini, ia akan berusaha untuk berpenampilan lebih baik. Paling tidak, dia bisa memakai setelan yang lebih pantas dan sedikit memoleskan bedak ke wajahnya yang kini pucat mirip mayat hidup. Tapi lebih dari itu, bagaimana bisa Mama tidak mencegahnya untuk pergi ke kantor Papa dengan pakaian gembel ini kalau tahu Gavin akan ada di sini? Ia yakin Mama tahu soal keberadaan Gavin, karena setelah ia ingat-ingat lagi, Mama begitu bersemangat saat menyuruhnya ke sini tadi.


"Kal, ngapain? Sini duduk."


Kalea mendengus sebal. Mau tidak mau ia berjalan mendekat ketika Papa melambaikan tangan lalu menepuk ruang kosong di sofa, tepat di antara Papa dan Gavin.


"Halo, Kalea." Gavin sempat-sempatnya menyapanya di saat mulut lelaki itu masih terisi makanan yang belum selesai dikunyah.


Kalea hanya menanggapinya dengan senyum kecut sebelum mendudukkan dirinya di tengah-tengah, mengabaikan Papa yang mulai mengocehkan hal-hal random yang anehnya bisa disahuti oleh Gavin. Agaknya, dua orang pria dewasa itu memang sudah menemukan kemistri satu sama lain.


"Kamu udah makan siang?" tanya Gavin setelah menelan makanannya.


Kalea menggeleng. Sejujurnya sudah beberapa hari terakhir ia tidak makan siang secara teratur. Mama bahkan jadi lebih sering mengoceh untuk mengingatkannya makan siang dan Karel berkali-kali meneleponnya atas suruhan Mama. Tapi tetap saja, hal itu tidak cukup mampu untuk membangkitkan kembali nafsu makannya.


"Buka mulutnya." Kata Gavin sembari menyodorkan sendok ke depan mulut Kalea.


Sejenak, Kalea terdiam. Ia menatap Gavin sangsi. Gavin tidak sedang berusaha membuatnya makan dengan satu sendok yang sama dengan lelaki itu, benar? Tidak. Kalea bukannya jijik. Hanya saja, apakah mereka memang sudah sedekat itu untuk bisa menggunakan satu sendok yang sama untuk makan?


"Buka mulutnya, Kalea." Ulang Gavin dan Kalea tidak punya pilihan selain membuka mulutnya lebar-lebar.


Satu suap berhasil masuk ke dalam mulutnya dan ia mengunyah makanan itu dengan gerak lambat. Matanya kembali melirik ke arah Gavin yang kini menyuapkan satu sendok lain ke dalam mulutnya sendiri.


"Buka lagi."


Kalea menurut saja. Ia abaikan kekehan ringan yang lolos dari bibir Papa dan berusaha hanya fokus pada Gavin dan makanan yang terus disuapkan ke dalam mulutnya.


Suap demi suap terus berdatangan, sampai akhirnya makanan di kotak makan siang itu habis tak bersisa. Gavin bergerak cekatan membereskan bekas makan mereka. Lelaki itu berjalan ke pojok ruangan untuk membuang sampah dan kembali ke sofa dengan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya lalu menyodorkannya kepada Kalea.


Kalea menerimanya dengan senang hati. Air di dalam botol plastik itu diteguk dengan rakus hingga setengah habis, kemudian sisanya, seperti yang sudah bisa diduga, ditandaskan oleh Gavin.


******


Angin berembus menerpa wajah Kalea, membuat helaian rambutnya yang keluar dari ikatan beterbangan hingga menutupi wajahnya. Ia menyingkirkan helaian rambut dari wajahnya dengan gerakan sewot, membuat Gavin yang berdiri di sampingnya terkekeh pelan.


Saat ini, mereka sedang berada di rooftop kantor Papa. Tadi, setelah menyelesaikan makan siang, Gavin berinisiatif mengajaknya pergi ke sini dengan dalih untuk mendapatkan udara segar. Padahal matahari sedang bersinar begitu terik di atas kepala, dan Kalea tidak mengerti mengapa ia menyetujui ajakan Gavin tanpa banyak bertanya.


"Kamu janjian buat makan siang bareng Papa?" tanya Kalea. Ia menoleh ke arah Gavin, hanya untuk menemukan lelaki itu tengah memaku tatap ke arahnya.


"Iya. Papa minta ditemani makan. Karena kebetulan saya juga habis ada meeting dengan klien, jadinya saya iyakan saja ajakan beliau." Jelas Gavin dengan senyum yang merekah.


Berbanding terbalik dengan Gavin yang terlihat girang, Kalea justru mendengus sebal. Mengundang kerutan di dahi Gavin yang teramat kentara.


"Kenapa?" tanya lelaki itu.


"Aku tuh kesel sama Mama." Adunya.


"Kesel kenapa?"


"Mama tahu kamu bakal ke kantor Papa, tapi sama sekali nggak kasih tahu aku." Kalea mencurahkan seluruh kekesalannya.


"Kenapa harus kasih tahu kamu?" tanya Gavin dengan polosnya, membuat Kalea kembali mendengus.

__ADS_1


"Kalau aku tahu kamu bakal kesini, paling nggak aku bisa pakai baju yang lebih rapi, Gavin." Kalea menjelaskan dengan suara jengkel yang kentara.


"Emang baju kamu yang sekarang kenapa?"


"Jelek, Gavin. Kayak gembel." Kalea cemberut. Kembali dipandanginya penampilannya sendiri yang berbanding terbalik dengan penampilan Gavin yang rapi dalam balutan kemeja warna biru muda dan celana bahan warna hitam. Sepatu pantofel lelaki itu tampak mengkilat, jauh berbeda dengan sendal jepit buluk yang kini ia gunakan sebagai alas kaki.


"Kamu nggak illfeel lihat calon istri kamu penampilannya kayak gembel gini?" Ia menatap Gavin serius, berharap jawaban yang akan keluar dari bibir laki-laki itu tidak akan berupa kalimat klise semacam kamu cantik apa adanya dan lain sebagainya.


"Kalau itu orang lain, iya, saya pasti illfeel. Tapi karena ini kamu, Kalea Dimitria, maka nggak ada alasan buat saya untuk merasa illfeel."


Hah...percuma memang berharap untuk mendengar jawaban jujur dari Gavin. Entah sudah berapa lama lelaki itu berlatih sampai akhirnya bibirnya jadi lihai sekali untuk mengucapkan berbagai kalimat manis dan gombal. Awalnya Kalea senang-senang saja. Karena sejujurnya kalimat semacam itu berhasil membuat jantungnya berdebar dan ia menjadi antusias. Tapi lama-kelamaan kalimat semacam itu jadi terdengar agak tidak masuk akal. Kadang kala, ia ingin mendengar kalimat yang rasional, untuk menyakinkannya bahwa hubungannya dengan Gavin adalah nyata. Bahwa ia tidak sedang berkhayal menjadi Cinderella, si upik abu yang beruntung bisa menikah dengan pangeran tampan yang digilai banyak perempuan.


"Saya nggak lagi gombal. Ini serius." Kata Gavin, hanya untuk membuat Kalea memutar bola mata jengah.


"Kamu nggak percaya?"


Kalea jelas menggelengkan kepala. "Mana ada laki-laki yang nggak illfeel lihat penampilan perempuan yang kayak gini. Laki-laki kan makhluk visual, Gavin. Kamu kalau mau gombal tuh yang masuk akal dikit." Omelnya.


Akan tetapi, walau Kalea sudah mengomel seperti itu, Gavin tidak berniat untuk merubah pernyataannya. Ia tetap kukuh pada pernyataan awal bahwa tidak masalah bagaimana penampilan Kalea karena dia akan tetap jadi Kalea entah bagaimanapun penampilannya.


Alih-alih menanggapi omelan Kalea dengan kalimat lain, Gavin justru mengeluarkan ponselnya. Tanpa aba-aba, ia mengarahkan ponsel itu kepada Kalea, memotret gadis itu tanpa seijin yang bersangkutan.


Kalea jelas kesal karena Gavin memfoto dirinya tanpa ijin, ia memukul lengan Gavin beberapa kali hingga membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Udah tahu penampilan aku lagi kayak gembel, malah difoto!" geramnya.


"Hapus!" perintahnya kemudian, tapi Gavin dengan tegas menggelengkan kepala. Buru-buru lelaki itu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana demi menghindari ulah anarkis Kalea yang bisa saja merebut paksa ponselnya demi bisa menghapus foto yang sudah ia ambil itu.


"Gavin! Siniin hapenya!"


"Nggak. Mau saya simpan, atau sekalian saya jadikan wallpaper kalau perlu."


"Jangan gila!" Kalea makin sewot. Tangannya bergerak anarkis, berusaha mengeluarkan ponsel dari saku celana Gavin.


"Biar seluruh dunia tahu kalau calon istri saya itu cantik, bahkan walaupun tanpa make up."


Kata Gavin dengan entengnya. Kedua tangan besarnya mencekal tangan Kalea, memblokir seluruh pergerakannya.


"Yang ada kamu diledek sama semesta dan seluruh isinya." Kalea masih meronta minta dilepaskan, tapi Gavin tentu tidak akan mengabulkan keinginannya.


"Nggak akan."


"Gavin," panggilnya dengan penuh penekanan.


"Kamu takut apa sih, Kalea? Toh kalau kita udah nikah nanti, saya juga bakal sering lihat penampilan kamu yang kayak gini." Kata Gavin pada akhirnya, hanya untuk membuat Kalea berhenti berontak dan terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Emang kalau bangun tidur, penampilan kamu bakalan rapi? Nggak, kan? Terus masalahnya di mana? Toh kamu juga bakal liat muka bantal saya nanti, yang saya jamin juga beda jauh sama muka saya yang kamu lihat selama ini." Kata Gavin setelah terdiam cukup lama dan Kalea juga tak kunjung menanggapi ucapannya.


"Saya nggak peduli kamu mau mikir saya lagi gombal atau apalah itu. Yang jelas, kamu cantik. Kamu cantik di mata saya, karena kamu adalah kamu. Titik. Udah, jangan bantah saya lagi, oke?"


Kalea tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat kalimat itu sampai di indera pendengarannya. Ia seolah kehilangan kemampuan untuk mencerna informasi dan mengubahnya menjadi sebuah tindakan ketika tangan Gavin yang semula mencekal kedua tangannya erat kini beralih menggenggamnya erat. Manik kelam lelaki itu menatapnya dalam, teramat dalam hingga Kalea merasa ia sedang terjebak dalam labirin panjang yang tak memiliki jalan keluar.

__ADS_1


Lalu, saat Gavin membawa tubuhnya lebih dekat, Kalea sepenuhnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri seiring dengan suara berat Gavin yang menggelitik indera pendengarannya.


Katanya, "You're beautiful, just the way you are, Kalea Dimitria."


__ADS_2