Serana

Serana
Sad Night


__ADS_3

Karel sedang mengumpat karena mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan saat perutnya sudah meronta-ronta minta diisi. Setelah mendapatkan penolakan dari Kalea dan gadis itu lebih memilih untuk pergi dengan laki-laki lain yang baru dikenalnya selama beberapa hari ketimbang duduk bersama dengannya untuk membuka oleh-oleh yang sudah ia bawa, Karel berjalan gontai menuju rumahnya. Rumah dalam keadaan sepi dan Karel tidak tahu kemana perginya semua penghuni rumah termasuk Mpok Nuriah yang biasanya nongkrong di dapur sambil nonton sinetron kesukaannya dari layar tv datar yang sengaja di pasang dekat meja makan. 


Perutnya lapar, namun di dapur tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Di kulkas juga tidak ada banyak bahan makanan yang bisa dia masak(lebih dari itu, dia terlalu malas untuk berkutat dengan kompor dan wajan) dan ia tidak mau memesan makanan via aplikasi online karena menunya hanya itu-itu saja. Akhirnya Karel mengeluarkan mobil dari garasi, mengendarainya menuju sebuah rumah makan yang menyediakan menu kesukannya dan Kalea: cumi rica.


Namun belum sampai ia ditujuan, mobilnya tiba-tiba mogok dan suasana jalan sedang sepi sehingga tak ada yang bisa ia mintai bantuan. Lebih buruk lagi, ia tak membawa serta ponselnya. Alhasil, ia hanya bisa berdecak sebal berkali-kali. 


Saat ia sedang begitu emosi dengan mobil yang tak kunjung menyala, Karel mendengar suara teriakan dari seorang perempuan tak jauh dari tempat mobilnya mogok. Karena dasarnya Karel itu manusia kepo, maka ia meninggalkan mobilnya begitu saja demi menghampiri sumber suara.


Tubuh Karel mendadak kaku saat yang ia dapati di seberang jalan adalah sosok yang begitu ia kenal, yang selalu ia jaga segenap jiwa raga. Gadis itu sedang meronta, berusaha melepaskan diri dari dua orang pria yang mencekal lengannya. 


Seharusnya Karel buru-buru berlari ke arah Kalea untuk menolongnya, tapi ia jsutru diam terpaku selama beberapa saat. Sampai akhirnya ada sebuah mobil angkot yang melintas dan Karel bergerak impulsif menyetop angkot tersebut. Ia tidak peduli saat si supir angkot memakinya dengan berbagai kalimat sumpah serapah.


"Woy, mau mati lu ya!" teriak si supir angkot untuk yang kesekian kalinya.


Empat orang penumpang yang ada di dalam angkot (semuanya laki-laki) juga ikut menatap tajam ke arah Karel yang bertindak semaunya sendiri. 


"Minggir, Bang! Kita lagi buru-buru, nih!" Teriak seorang penumpang, melongokkan kepala dari pintu angkot.


Namun Karel tak kunjung menyingkir dari tengah jalan. Sesekali ia melirik gusar ke arah Kalea untuk memeriksa keadaan gadis itu. 


Si supir yang kesal akhirnya turun dari angkot, menghampiri Karel dan sudah siap untuk menyeret lelaki itu untuk menyingkir dari sana. Namun Karel malah menarik lengan si supir angkot dan berkata cepat tentang tujuannya menyetop angkot ini.


"Tolongin saya, Bang! Temen saya lagi dalam bahaya!" katanya panik sembari menunjuk ke arah seberang jalan. 


Si supir yang bingung pun mengikuti arah telunjuk Karel. Dan saat sudah mengerti situasinya, si supir lalu berteriak kepada para penumpang untuk ikut serta membantu Karel. Akhirnya mereka berlarian ke seberang jalan dengan Karel yang memimpin di depan.


Tepat sebelum tangan kotor salah satu pria itu menyentuh bibir Kalea, Karel memukul kepala pria bertindik itu hingga jatuh tersungkur. Satu pria lagi yang bertato di lengan ia tendang di bagian perut. Kemudian Karel menarik tubuh Kalea, memeluknya sangat erat. Karel bisa merasakan tubuh Kalea yang bergetar hebat di dalam pelukannya. Dadanya terasa ngilu, ia ingin sekali menghajar dua pria sialan yang berani menyentuh gadisnya. Namun urung karena dua pria itu kini sudah menjadi bulan-bulanan warga.


Karel mengeratkan pelukan. Tangan besarnya mengusap kepala Kalea pelan demi menenangkan sang gadis.


"It's me, it's okay. You're safe now." Bisiknya pelan.


Saat Kalea mendongak dan tatapan mereka bertemu, tangis gadis itu pecah. 


"It's ok. You can cry." Katanya lagi, membuat Kalea semakin meraung di dalam dekapannya. Pelukan gadis itu kian erat dan Karel bisa merasakan bagian belakang kemejanya diremas. Tak apa, Karel tidak keberatan. Bahkan ketika ia merasakan kemeja bagian depannya basah terkena air mata Kalea, Karel tetap tidak keberatan. Seperti yang sudah Karel katakan dulu, ia akan melakukan apapun, apapun demi memastikan Kalea-nya tetap aman.


"There's nothing you need to worry about, cuz I'm here. And will always be here, by your side." Kata Karel untuk terakhir kalinya bersamaan dengan tubuh dua orang yang diseret menjauh dari hadapan mereka.


*****

__ADS_1


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kalea kembali menangis di pelukan Karel. Terakhir kali ia melakukannya adalah tiga tahun lalu, saat ia sudah begitu frustasi dengan skripsi yang berkali-kali ditolak dan harus direvisi. Seperti biasa, Karel akan ada di sana, menyediakan telinga untuk mendengar segala sumpah serapah yang ia tujukan kepada dosen pembina Dajjal yang senang sekali mempersulit mahasiswanya. Selain telinga, Karel juga selalu menyediakan sebuah peluk yang hangat untuk meredam gejolak perih di dadanya, seperti yang saat ini pemuda itu lakukan.


"Bajingan!" 


Dari dalam pelukan lelaki itu, Kalea bisa mendengar Karel mengumpat dengan emosi yang meluap-luap. Suaranya menggema memenuhi seisi mobil. 


"Nggak boleh ngomong kasar!" masih di dalam pelukan Karel, dengan tangis yang belum reda dan tubuh yang masih bergetar, Kalea menggeplak bahu Karel pelan.


"Tapi dia emang bajingan, Kale! Laki macem apa yang ninggalin perempuan sendirian begini?!" Karel jelas emosi, Kalea paham itu. Karena bukan cuma Karel yang merasa kesal. Kalea juga kesal, tapi dia terlalu syok untuk bisa mengekspresikan kekesalannya terhadap Gavin. Kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu benar-benar membuatnya terguncang.


"Nggak akan lagi gue ijinin dia bawa lo pergi."


Kalea cuma bisa diam. Walaupun tengil dan lebih suka bercanda, tapi kalau sudah marah, Karel itu seram. Apapun yang keluar dari mulutnya akan menyakitkan untuk didengar. Dan sejauh ini, Karel memang selalu menepati apa yang dia katakan. Jadi kalau Karel bilang tidak akan mengijinkan Gavin menemuinya lagi, maka Kalea yakin pemuda ini memang akan melakukan segala cara agar Gavin tidak akan mendapat celah untuk bertemu dengannya.


"Dia bahkan nggak hubungin lo buat memastikan apa lo udah sampai rumah atau belum, kan?"


"Enggak." Kalea menggeleng. 


"Kan, emang bajingan dia tuh!" 


"Relllll."


Kalea menarik diri dari pelukan Karel. Ia menatap mata Karel, begitu lekat hingga rasanya dengan begitu saja ia sudah bisa berkomunikasi dengan lelaki itu. 


"Dari awal waktu gue ketemu dia di depan rumah lo, di hari pertama kalian ketemu, gue emang udah nggak suka sama ini orang. Tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain karena lo bilang dia baik."


"Tapi dia emang beneran baik, Rel. Dia treat aku sebagaimana mestinya. Dia mau caritahu apa yang aku suka, apa yang enggak. Gavin... Gavin--"


"Nggak ada laki-laki baik yang bakal ninggalin perempuan yang lagi dia kencani sendirian kayak gini! Segenting apapun situasinya, dia harus pastiin lo pulang dengan selamat dulu baru dia bisa pergi." 


"Lo bisa bayangin nggak sih apa yang bakal terjadi sama lo kalau gue nggak kebetulan lewat dan ngeliat lo, atau kalau nggak ada angkot tadi yang bisa gue cegat? Lo bisa bayangin? Karena gue sama sekali nggak bisa!" 


Tidak ada satu kata pun yang mau keluar dari mulut Kalea. Ia terdiam. Kepalanya sibuk mencerna kalimat Karel dan sebagian dari dirinya spontan menyetujui. Tapi, ada bagian dari dirinya yang lain yang masih ingin mendengar penjelasan langsung dari Gavin soal apa yang terjadi pada lelaki itu sehingga ia harus meninggalkan Kalea sendirian. Kalea masih mau tau alasannya.


"Jangan ketemu dia lagi. Kalau lo ngerasa nggak bisa bilang ke Mama soal ini, biar gue yang bilang. Apapun akan gue lakuin supaya perjodohan ini batal dan lo nggak harus menikah sama laki-laki bajingan kayak dia."


"Rel.." Kalea menggeleng. "Tolong jangan kasih tahu Mama."


"Kenapa? Mama harus tahu kalau laki-laki yang dia puja-puja itu bukan laki-laki baik! Mama harus tahu kalau Gavin bukan orang yang tepat buat lo!"

__ADS_1


"Aku nggak mau Mama kecewa, Rel."


"Terus lo nggak keberatan diperlakuin kayak gini sama Gavin?"


Ada jeda beberapa saat sebelum Kalea menjawab pertanyaan Karel. Setelah menarik dan mengembuskan napas panjang, Kalea menatap Karel lekat-lekat.


"Aku mau denger dulu alasannya. Aku mau tahu kenapa Gavin ninggalin aku sendirian."


"Biar apa? Biar dia punya kesempatan buat cari-cari alasan dan dapetin maaf dari lo gitu aja? Nggak, gue nggak akan biarin itu terjadi. Gue nggak bisa biarin lo maafin bajingan itu."


"Stop sebut Gavin bajingan, Rel."


"Lo belain dia?"


"Aku nggak belain dia, aku cuma--"


"Cuma apa?!" Karel geram hingga tanpa sadar berteriak di depan wajah Kalea.


Kalea yang terkejut praktis menjauhkan tubuhnya dari Karel. Air mata yang tadi sudah berhenti mengalir kini tampak menggenang, siap untuk kembali ditumpahkan. 


"Sorry, Kale... Gue nggak maksud--" kata Karel panik.


"Aku mau pulang." Kata Kalea dengan suara bergetar. "Aku mau pulang, Rel." Ulangnya.


Karel menghela napas sebelum keluar dari mobil dan menarik tubuh kecil Kalea untuk keluar dari sana. Digenggamnya erat tangan kecil itu seolah tidak ingin dilepaskan sama sekali. 


"Mobil gue mogok. Kita naik taksi aja, ya?" tanyanya dengan pandangan lurus ke depan. Ia tidak sanggup melihat wajah sedih Kalea saat ini karena sadar gadis itu bersedih karena ulahnya. 


Kalea tidak menjawab. Dia pasrah saat Karel menggandengnya menuju persimpangan tempat biasanya orang-orang menyetop taksi. Air mata yang menggenang di pelupuk mata masih ia tahan agar tidak tumpah. Kalea tidak ingin menangis karena Karel. Dia tidak ingin membuat Karel merasa bersalah. 


Namun saat sebuah taksi berhenti di hadapan dan mereka berdua telah duduk di kursi penumpang, tangis Kalea pecah. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis sesenggukan, sedangkan Karel hanya bisa diam sembari menggenggam erat tangan Kalea yang dingin. 


Taksi melaju membawa Kalea yang menangis tersedu dan Karel yang melemparkan pandangan ke jalanan, sibuk merutuki diri sendiri karena gagal menahan diri dan membuat gadisnya menangis.


*****Bersambung*****


Halo halooooo terimakasih sudah mampir!!


Silahkan tinggalkan feedback serta kritik dan saran agar author semakin semangat update yaa

__ADS_1


Sehat selalu kaliaaannn


__ADS_2