Serana

Serana
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Tadinya Kalea pikir hubungan Gavin dengan Karel akan berangsur membaik sejak insiden berpelukan dua minggu yang lalu, ternyata dia salah. Bukannya membaik, dua orang itu malah lebih gencar melakukan serangan tak kasat mata yang mereka layangkan dari tatapan-tatapan tidak suka setiap kali mereka tanpa sengaja berkunjung ke rumah Kalea di saat yang bersamaan. Kalea merasa dirinya seperti seorang tawanan perang yang tengah diperebutkan oleh dua kubu yang saling berlawanan, dan dia tidak tahu harus memihak kepada siapa sebab rasanya serba salah.


Tapi, dari sekian banyak hal tak terduga yang terjadi selama dua minggu ini, salah satu yang paling tidak pernah terbayangkan oleh Kalea adalah mendapati Gavin dan Karel duduk bersebelahan di meja makan. Dalam sebuah pertemuan keluarga yang sejatinya hanya diperuntukan bagi keluarga Kalea dan keluarga Gavin karena tujuan diadakannya pertemuan keluarga ini adalah untuk membahas perjodohan mereka lebih lanjut. Entah bagaimana si kunyuk Karel bisa berakhir ikut terlibat dalam pertemuan malam ini.


"Ini siapa?" tanya wanita paruh baya yang tampil cantik dalam balutan dress brukat warna abu-abu. Wanita yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai bunda Gavin itu tampak terheran-heran dengan kehadiran Karel.


"Anak sulung aku." Jawab Mama dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.


"Kamu punya anak laki-laki? Kok aku nggak pernah tahu?" Bunda Gavin tampak terkejut mendengar penuturan Mama yang duduk di seberangnya, tepat di sisi kiri Kalea.


"Boleh nemu di pinggir jalan, malem-malem abis pulang dari jajan martabak depan komplek." Mama terkikik geli setelahnya, melirik Karel yang kini sudah memasang wajah kesal karena secara tidak langsung telah dikatai anak pungut oleh Mama.


"Bercanda." Kata Mama setelah tawanya reda. "Panjang sejarahnya. Kalau diceritain, nggak akan cukup waktu satu malam. Pokoknya Karel ini anak sulung aku." Lanjutnya yang seketika membuat raut cemberut Karel lenyap begitu saja.


Tak lama setelah Bunda menganggukkan kepala, pelayan datang menyuguhkan berbagai macam menu yang telah dipesan sebelumnya. Kemudian tidak ada lagi yang bersuara. Semua orang sibuk menyantap makanan masing-masing dalam mode hening. Hanya terdengar suara denting yang tercipta dari benturan sendok dengan piring. Tapi di tengah-tengah hening itu, Kalea sempat mencuri pandang ke arah Gavin yang sedari tadi duduk dengan gelisah. Setelah adegan perang tatapannya dengan Karel selesai, Gavin terlihat beberapa kali memeriksa ponselnya. Dan sejujurnya itu cukup menganggu pikiran Kalea. Apakah Gavin sedang menunggu pesan dari seseorang? Siapa? Seseorang yang Gavin bilang ingin dia lindungi malam itu?


Pertanyaan itu tidak pernah punya kesempatan untuk ditanyakan sebab setelah menandaskan makanan di piringnya, Gavin pamit undur diri. Lelaki itu bangkit dari kursinya dengan membawa serta ponsel yang sedari tadi menyita seluruh perhatiannya. Gavin bilang mau ke toilet, tapi Kalea yakin lelaki itu hanya ingin mencari waktu untuk menghubungi seseorang yang Kalea sendiri tidak tahu siapa.


Selepas kepergian Gavin, para orangtua mulai sibuk dengan obrolannya sendiri. Mama dan Bunda tampak asik mengobrol tentang koleksi tanaman hias di rumah Bunda, juga gagasan untuk membangun toko bunga berdua di kemudian hari setelah serangkaian persiapan pernikahan Kalea dan Gavin selesai. Sementara Papa dan Papa Gavin serius mengobrol tentang bisnis, yang sekali lagi tidak satupun di antara topik pembahasan mereka yang Kalea mengerti.


Di seberang, Karel hanya diam. Memerhatikan bagaimana Kalea duduk dengan tidak tenang, matanya berkali-kali melirik ke arah pintu masuk cafe, barangkali mulai gelisah karena Gavin tak kunjung kembali.


"Kale," Karel memanggil pelan, mencondongkan tubuhnya ke arah Kalea yang duduk di seberang.


"Apa?" tanya Kalea. Sama sekali tidak terkejut saat wajah Karel tahu-tahu sudah berada di jarak dekat dari wajahnya.


Para orangtua sibuk mengobrol, hingga saat Karel bangkit dan menarik lengan Kalea untuk pergi dari meja makan, mereka tidak menyadarinya.


Kalea menurut saja, mengikuti kemana langkah kaki Karel membawanya pergi. Rupanya, bocah tengil itu membawanya ke bagian belakang cafe, mengajaknya duduk di sebuah bangku kosong dekat pepohonan yang ditanam rindang.


"Gue mau nanya sekali lagi sama lo," kata Karel, memegang bahu Kalea dengan kedua tangannya. Matanya menatap serius.


"Lo yakin mau nikah sama Gavin?" tanyanya.


Kalea menghela napas jengah. Entah sudah berapa kali Karel menanyakan hal ini sejak seminggu yang lalu. Padahal, Kalea selalu memberikan jawaban yang sama, tapi Karel agaknya tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang ia berikan.


"Kamu udah sering nanya ini."


"Jawab. Lo yakin?"


Kalea mendesah sebal. "Yakin, Karel."

__ADS_1


"Seberapa yakin? Berapa persen lo yakin sama Gavin?"


"Rel,"


"Berapa persen?" Karel belum menyerah.


"Ternyata kamu di sini, saya cari kamu dari tadi."


Tiba-tiba suara Gavin menginterupsi, membuat Karel dan Kalea serempak menoleh.


"Kamu cari aku?" tanya Kalea.


Mendengar Kalea sudah mengubah caranya menyebut dirinya di depan Gavin sontak membuat Karel mengalihkan pandangan pada gadis itu. Sejak kapan Kalea dan Gavin menjadi begitu akrab hingga Kalea bisa menyebut dirinya dengan aku?


Belum juga terjawab pertanyaannya itu, Karel harus dibuat geram karena Gavin tiba-tiba menarik tangan Kalea hingga membuat gadis itu bangkit dari duduknya. Dengan gerakan pelan tapi pasti, Gavin membawa tubuh kecil Kalea ke sisinya, merangkul pundaknya santai.


"Gue lagi ngomong sama Kalea." Karel ikut bangkit, menatap nyalang ke arah Gavin yang hanya menampakkan ekspresi wajah datar.


"Mama suruh saya bawa Kalea masuk, ada pembicaraan penting yang harus kami bahas." Kata Gavin sembari menyunggingkan senyum yang tampak menyebalkan di mata Karel.


Gavin sudah berbalik, membawa serta Kalea yang masih dia rangkul. Namun langkahnya urung dan dia kembali memutar tubuh menghadap Karel. "Dan saya rasa, kamu tidak perlu terlibat ke dalam pembicaraan penting ini karena kamu bukan siapa-siapa." Lanjutnya kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Karel.


Rahang Karel mengeras. Kedua tangannya mengepal di samping tubuh dan dia nyaris menerjang Gavin kalau saja Kalea tidak menoleh di tengah-tengah langkahnya yang semakin jauh sambil menggelengkan kepala, memberi isyarat kepadanya untuk tidak membuat masalah.


********


Setelah membahas beberapa hal mengenai persiapan pernikahan yang telah disepakati untuk diadakan dua minggu dari sekarang, Gavin meminta ijin kepada Mama untuk membawa Kalea jalan-jalan naik mobil sebelum mengantarkan gadis itu pulang. Mama tentu tidak keberatan, wanita itu justru senang karena Gavin punya inisiatif untuk lebih mendekatkan diri dengan Kalea.


Di dalam mobil, selama perjalanan yang mereka tempuh, Kalea lebih banyak diam. Dia banyak memikirkan tentang Karel dan pertanyaan yang sama yang lelaki itu selalu tanyakan kepada dirinya. Kemudian, seperti racun yang meresap dalam tubuh secara perlahan, pertanyaan itu mulai merayap memasuki kepalanya hingga membuatnya terasa sesak dan penuh.


Saat Kalea menoleh, memerhatikan bagaimana Gavin fokus pada jalanan di depan dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca, pertanyaan itu seolah menggema begitu nyaring di kepala. Apakah dia yakin dengan Gavin? Apakah Kalea yakin dengan pernikahan yang akan digelar setelah proses perkenalan yang hanya berlangsung tidak sampai dua bulan? Kalea masih buta. Dia masih tidak bisa meraba seperti apa sosok Gavin yang sebenernya. Di banyak kesempatan, dia merasa Gavin adalah seseorang yang hangat, terbukti dari bagaimana laki-laki itu memperlakukannya dengan baik selama mereka pergi berdua beberapa kali. Tapi, di beberapa kesempatan lain, Kalea merasa seolah manik kelam Gavin yang sekarang sudah menjadi salah satu hal favoritnya itu menyimpan banyak rahasia yang terlalu rapat disimpan hingga sulit untuk dikuak. Kalea sering merasa jiwa Gavin tidak berada di tempatnya ketika mereka sedang berdua. Ada waktu di mana Kalea merasa Gavin sedang memikirkan orang lain di saat mereka sedang terlibat dalam sebuah percakapan.


"Lain kali, saya ajak kamu night ride naik motor sport saya. Mau?"


Kalea berusaha untuk terlihat biasa saja saat Gavin tiba-tiba menolehkan kepala. Lampu lalu lintas di depan sana sedang menyala merah. Jalanan tampak lengang dan beberapa kendaraan roda dua yang tak sabar tampak menerobos lampu merah hingga menimbulkan suara klakson dari kendaraan lain yang hendak menyeberang.


"Kalea?"


"Boleh."


"Oke." Gavin tersenyum senang. Tapi entah kenapa, senyum itu terasa tidak sampai ke matanya. Seolah senyum itu sengaja dilatih sedemikian rupa agar terlihat asli, padahal sebenarnya penuh kepura-puraan.

__ADS_1


Ah...mungkin ini efek dari pertanyaan yang Karel lontarkan berulang-ulang kali, Kalea jadi banyak mempertanyakan tentang Gavin. Padahal sebelum bocah itu banyak bertanya, Kalea merasa oke oke saja dengan semua yang Gavin lakukan.


Mobil kembali melaju dan hening kembali menjadi penguasa. Ada satu hal lagi dari Gavin yang Kalea sadari. Lelaki itu tidak pernah mengajaknya bicara saat tengah fokus menyetir. Entah karena Gavin ingin memastikan mereka sampai di tujuan dengan selamat, atau Kalea memang tidak lebih menarik dari jalanan dan lampu-lampu lalulintas yang mereka lalui.


Setengah jam perjalanan yang mereka lalui membawa Pajero milik Gavin sampai di sebuah rumah yang terletak agak jauh dari keramaian kota. Sebuah rumah berlantai tiga yang di beberapa bagian didominasi kaca. Rumah itu dikelilingi pagar yang tinggi, seolah penghuninya memang sengaja ingin mengisolasikan diri dari lingkungan sekitar. Jarak antar rumah di daerah itu juga terhitung jauh. Ada lahan kosong yang lumayan luas sebagai pembatas antara satu rumah dengan rumah yang lain.


Kalea tersentak saat Gavin tiba-tiba saja melepaskan seatbelt yang melilit tubuhnya. Dia terlalu fokus memerhatikan sekitar sampai-sampai tidak menyadari pergerakan Gavin dan tahu-tahu wajah lelaki itu sudah berada tepat di depan wajahnya. Mungkin jaraknya hanya selebar lima jari. Karena kini, Kalea bisa merasakan embusan napas Gavin menerpa wajahnya.


"Jangan melamun, ayo turun." Kata Gavin dengan suara rendah sebelum menjauhkan wajahnya dan lebih dulu turun dari mobil.


Sedangkan Kalea butuh lebih banyak waktu untuk menetralkan degup jantungnya yang mulai menggila. Sudah berkali-kali Gavin melakukan hal ini kepadanya (bergerak secara tiba-tiba dan menyodorkan wajahnya dalam jarak dekat ke hadapan Kalea) tapi dia masih tidak terbiasa.


"Kalea?" Gavin memanggil dari luar. Pintu di sisi Kalea sudah dibukakan, maka Kalea dengan segera turun dari mobil. Dia tidak ingin Gavin yang sudah berjalan lebih dulu itu berbalik menghampirinya dan kembali membuatnya menahan napas dengan gerakannya yang tiba-tiba.


"Ini rumah siapa?" Kalea bertanya saat mereka berjalan beriringan memasuki halaman rumah yang luas.


"Rumah kita." Jawab Gavin enteng.


Langkah Kalea yang semula ringan praktis terhenti. Dia menoleh pada Gavin, hanya untuk menemukan lelaki itu sedang tersenyum begitu manisnya.


"Ini rumah yang saya siapkan untuk kita tinggali setelah menikah nanti." Katanya, membuat Kalea mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Apa yang masih aku ragukan dari orang seperti Gavin? tanyanya kepada diri sendiri. Hanya karena Karel terus bertanya seberapa yakin dia kepada Gavin, pantaskah Kalea merasa ragu pada lelaki ini tanpa dasar yang jelas? Kalea rasa tidak.


"Ayo, kita lihat bagian dalam." Gavin meraih tangan Kalea.


Hangat seketika terasa saat tangan besar itu menggenggam tangannya begitu erat. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah. Kalea langsung dibuat takjub dengan interior rumah yang simpel tapi tetap terkesan elegan dan mewah. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut rumah tanpa sedikitpun yang terlewat.


"Rumah ini saya sendiri yang desain. Dulu, saya kuliah jurusan arsitektur, jadi sedari saya masih mahasiswa, saya udah punya desain rumah impian saya sendiri."


Kalea menghentikan langkah, begitu juga dengan Gavin yang masih menggenggam tangannya erat.


"Kamu siapin rumah ini dari kapan?" tanya Kalea. Mulai penasaran dengan sejarah dibangunnya rumah ini.


"Sejak dua tahun yang lalu."


"Selama itu? Di saat kamu bahkan belum tahu dengan siapa kamu akan tinggal di rumah ini?" tanyanya, sedikit terkejut mendengar penuturan Gavin.


Gavin mengangguk. Senyum masih tersungging di bibirnya. Matanya beradu dengan sepasang boba milik Kalea untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, dia mengatakan sesuatu yang akan membuat Kalea tidak bisa tidur hingga beberapa malam dari sekarang.


Katanya, "Dan saya bersyukur kamulah orang yang akan tinggal bersama saya di rumah ini, Kalea."

__ADS_1


Sial. Mahesa Gavin sialan.


__ADS_2